“REVITALISASI DA’WAH ILALLOOH” (Ikhtiar Menemukan Khashaaish dan Dhawaabith Da’wah Kekinian di Era Proxy War)

“REVITALISASI DA’WAH ILALLOOH” (Ikhtiar Menemukan Khashaaish dan Dhawaabith Da’wah Kekinian di Era Proxy War)

Moderator:

H.T. Romly Qomaruddien, MA.

 

Dalam agenda rutinnya Risalah Peradaban bersama Pusat Kajian Dewan Da’wah Bidang Ghazwul Fikri melanjutkan halaqah ilmiahnya yang ke-5; Pertama, Diskusi Pra Penyusunan Modul Kaderisasi Ummat dan Bangsa di Lantai 2 Menara Da’wah, Kedua, Diskusi Launching Buku Panduan Kaderisasi Ummat dan Bangsa di ruang rapat Kantor DMI, Ketiga Training of Trainer ke-1 (Sosialisasi Buku Panduan) di Lantai 6 Menara Da’wah dan Keempat Respon Risalah Peradaban Terhadap Problematika Ummat di Lantai 6 Menara Da’wah, dan Kelima tentang “Revitalisasi Da’wah ilallooh; Ikhtiar Menemukan Khashaaish dan Dhawaabith Da’wah Kekinian di Era Proxy War” yang diselenggarakan hari Selasa, 12 September 2017 di ruang diskusi Majelis Fatwa dan Pusat Kajian Lantai 6 Menara Da’wah Kramat Raya 45 Jakarta.

 

Didampingi H.T. Romly Qomaruddien, MA. sebagai Moderator (Pusat Kajian Bidang Ghazwul Fikri) dan H. Nasir Zubaidi (sesepuh Risalah Peradaban), tampil sebagai pembicara utama Dr. Sohirin Muhammad Solihin (Dosen senior IIUM Kuala Lumpur) yang banyak  mensyarah buku-buku Pak Natsir dengan pendekatan ilmiah-akademis. Penulis buku Mohammad Natsir; Intellectualism and Activism in Modern Age dan Islamic Da’wah; Theory and Practice (akan diberikan pengantar Syaikh Prof. Dr. Yusuf Qaradhawy) ini menuturkan paparan, temuan, harapan, serta sekaligus kritikkannya.

 

Di antara paparan kuncinya adalah, da’wah menurutnya tidak bisa lepas dari dua pola yang wajib diperhatikan; pembentukkan peribadi manusianya dengan nilai-nilai Islam (takwienus syakhshiyyah al-Islaamiyyah) dan pikiran-pikiran umum (tau’iyyat ‘aammah). Dalam telaah literatur, menurut kandidat Profesor ini, ia menemukan bahwa karya-karya Pak Natsir lebih bersifat kaidah-kaidah umum (qawaaid ‘aammah) yang memerlukan tafsiran-tafsiran rinci yang harus dituangkan dalam bentuk silabus-silabus. Masih menurutnya, kejelasan tujuan (ahdaaf) merupakan point penting dalam mengejawantahkan amal da’wah, dan kekuatan sebuah gerakan da’wah sangat ditentukan pula oleh sejauhmana para aktivisnya memahami tujuan tersebut.

 

Menyinggung bentuk gerakan da’wah, ia pun menyebut, ada yang bersifat lokal (haaliyah) dan bersifat global (‘aalamiyah) Ada pula gerakan da’wah yang bersifat lokal, namun berwawasan global. Mengapa Ikhwaanul Muslimien dengan tokohnya Syaikh Hassan al-Bana berkembang dan mendunia? Mengapa belakangan Jamaa’at Islaamy dengan tokohnya Sayyid Abul A’la al-Maududy yang dulu populer, sekarang menjadi redup? Mengapa Masyumi dengan tokohnya Dr. Mohammad Natsir dulu kuat, lalu berlanjut dengan Dewan Da’wah yang dulu diperhitungkan (termasuk dalam percaturan global). Jawabannya adalah kembali kepada sejauh mana para aktivisnya memahami ahdaaf, yaitu tujuan. Fa aina tadzhabuun??. Kemana hendak pergi, dan apa yang sedang diperjuangkan.

 

Perkembangan belakangan ini, di satu sisi gerakan Islam menyeruak dengan luasnya dan bersifat global. Ada Hizbut Tahrier, ada Jamaa’ah Tabliegh, ada yang mengusung nama Salafy. Dalam konteks tanah air, semuanya itu hidup subur. Menurutnya, Pak Natsir mampu memainkan perannya. Sebagai seorang ideolog dengan keluasan ilmu dan pengalamannya (belajar agama kepada Tuan A. Hassan dan bersentuhan dengan beragam tokoh lainnya), membuat beliau mampu berhadapan dengan tokoh-tokoh Muslim dunia. Bagaimana bisa seorang Natsir disegani tokoh-tokoh Ikhwan, dihormati ulama-ulama bermanhaj Salaf di Saudi Arabia (terutama Syaikh ‘Abdul ‘Aziez bin ‘Abdullah bin Baz) dan ulama-ulama Timur Tengah dan benua lainnya. Begitu pula kepiawaiannya berdiplomasi dan pendekatan-pendekatannya yang penuh familiar, bukan hanya dapat duduk bergandengan dengan tokoh-tokoh modernis, beliau pun mampu duduk bergandengan dengan tokoh-tokoh tradisional dan tokoh-tokoh nasional untuk membicarakan hal-hal besar tanpa kehilangan jati dirinya. Itu semua, karena beliau seorang tokoh yang mutafaqqih fied diin (artinya: berwawasan luas pandangan agamanya). Layaklah disebut mujaddid, karena kemunculannya di tengah-tengah ummat merupakan kehendak Alloh ‘azza wa jalla (iraadah Ilaahiyyah). Karena itu, pola-pola beliau banyak dipake, diterapkan dan dijadikan soko guru oleh gerakan lain, salah satunya Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM), kenang dosen tetap negeri jiran tersebut.

 

Dengan memetik QS. Al-Fath/48 : 29 tentang sifat Muhammad Rasulullah dan para pengikutnya (tegas terhadap orang-orang kafir, kasih sayang sesama Mukmin, senantiasa ruku’ dan sujud, senantiasa mengharap keutamaan dan keridhoanNya), juga apa yang diupayaka dari aùal dakwahnya membuat senang dan kagum para penggiatnya (artinya: dapat disyukuri bersama), dan sekaligus menyebabkan orang-orang kafir itu, dibuat kesal/ jengkel karenanya (dikarenakan sulitnya melakukan tipu daya).  Ayat ini pula, yang sering dijadikan Allaahu yarhamh Dr. Mohammad Natsir sebagai landasan ideologis dalam perjuangan da’wah.

 

Hadir dalam forum diskusi tersebut, di antaranya: Al-Ustadz Syamsul Bahri, MH. (Sekretaris Majelis Fatwa dan Pusat Kajian), Ir. Ahmad Nurhono, M.Sc. (Trainer Petronas Malaysia), Dr. Mashuri (KB PII), Wildan Hassan, M.Pd.I ( Anggota Majelis Tafkir PP. Persatuan Islam dan Pemuda Dewan Da’wah), Hadi Nur Ramadhan (Pusat Dokumentasi Tamaddun dan Pusat Kajian), Miftah (Staff sekretariat MUI dan DMI), juga diikuti oleh sebahagian alumni Kuliah Mujahid Da’wah (KMD) Dewan Da’wah DKI Jakarta.

 

Dalam menghadapi berbagai tantangan da’wah, dengan segala problematikanya, semoga makhrajan (solution) itu tetap ada. Pekatnya kabut dunia dan redupnya pelita, tidak serta merta menghalangi pantikkan cahayanya. Mudah-mudahan harapan itu masih ada … Aamiin. Wallaahul musta’aan

Print Friendly, PDF & Email
News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com