SEKALI LAGI SOAL MEMAAFKAN PENISTA AGAMA

SEKALI LAGI SOAL MEMAAFKAN PENISTA AGAMA

Membaca cuitan Guru kami Al-Faadhil Ustadz Abdul Wahid Alwi (salahsatu da’i senior Dewan Da’wah, murid Ustadz Abdul Qadir Hassan Bangil yang dikirim Allaahu yarhamh Mohammad Natsir ke Jaami’atul Imam Su’ud Riyadh KSA) terkait sikap seorang Muslim terhadap siapa pun orangnya yang dengan sengaja menista agama sebagaimana tertulis:

بسم اللّٰه الرحمن الرحيم

الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله، وعلى اله و اصحابه ومن والاه ولا حول ولا قوة الا بالله

PELECEHAN AGAMA ISLAM TIDAK HANYA TERBATAS SEBAGAI URUSAN PRIBADI. NAMUN TERKAIT HAK ALLAH YANG MAHA SUCI, HAK RASUL ALLAH, HAK MUSLIMIIN SELURUH DUNIA, HAK NEGARA

Anda mungkin me-maaf kan orang yang meleceh kan Agama Islam secara pribadi, di saat yang sama anda boleh tidak me-maaf-kannya karena cinta anda kepada ALLAH YANG MAHA SUCI, hormat anda kepada Rasul ALLAH
صلى الله عليه و سلم،
dan solidaritas anda terhadap Ummat Islam di seluruh dunia, serta kepedulian anda terhadap negara. Apalagi bila yang dilecehkan adalah (di antaranya) Adzan, sedangkan anda faham isi yang terkandung dalam Adzan الله اعلم بالصواب

Abdul Wahid Alwi
Jakarta, Al-Jum’ah al-Mubaarakah, 20 Rajab 1439/ 6 April 2018.

Demikian tulisan itu digoreskan, menghiasi semangat pembelaan kaum Muslimin di pagi jum’ah cerah yang penuh berkah ini atas penistaan dan penodaan syi’ar-syi’ar agama Islam.

Sekalipun berbeda konteks, semua itu mengingatkan pikiran akan sebuah ungkapan emas (kalimah dzahabiyah) yang pernah terlontar dari lisan seorang Syaikhul Islaam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah ketika para pembeci dakwah tauhid yang dikumandangkannya datang menjenguk di penjara Qal’ah hanya untuk meminta maaf atas kezhaliman, penghinaan dan penodaan yang selama itu dilakukannya.

Rombongan yang dipimpin Sulthan Nashir Qalawun itu berkata: “Kami mohon maaf atas perlakuan kami kepadamu wahai Abil ‘Abbas (Ibnu Taimiyyah) …”. Syaikhul Islam pun menjawab dengan penuh makna dan berwibawa: “Pada prinsipnya, aku sudah mema’afkan semua orang yang pernah memusuhi pribadiku, kecuali bagi mereka orang-orang yang memusuhi Allah dan rasulNya”.

Sedemikian mulia dan berharganya syi’ar-syi’ar agama Allah dijunjung tinggi, dan sedemikian wibawanya ulama waratsatul anbiyaa dalam memelihara dan membela ajaran agamaNya.

Semoga kita termasuk barisan orang-orang yang membela ajaran agamaNya itu, yaitu barisan yang tidak rela (mengabaikan begitu saja) apabila agamanya dihina, dinista dan dinodai. Rabbanaa tsabbit quluubanaa ‘alaa dienik …”
_______

✍ Disadur kembali oleh TenRomlyQ sebagai rasa simpatik bagi kaum Muslimin atas responnya terhadap berbagai kasus penistaan agama

Print Friendly, PDF & Email
News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com