IKHTIYAAR SIYAASI KEPEMIMPINAN PRO UMMAT (Dari Ijtima’ Ulama Jakarta Hingga Mudzakarah 1000 Ulama Tasikmalaya)

IKHTIYAAR SIYAASI KEPEMIMPINAN PRO UMMAT (Dari Ijtima’ Ulama Jakarta Hingga Mudzakarah 1000 Ulama Tasikmalaya)
Oleh:
H.T. Romly Qomaruddien, MA.

Kembali ke kaidah awal, peran ulama sebagai garamnya negara (milhul bilaad) dan mercusuar pemerintahan (manaaratul hukkaam) kini diuji. Sejauh mana perannya dapat berfungsi dalam menegakkan agama dan mengawal negara dalam bingkai keummatan dan kebangsaan.

Para pendahulu Republik ini, wa bil khushus “Bapak-bapak Muslim” telah menorehkan tinta sejarahnya, terlepas dari seberapa berhasil atau tidaknya sebuah perjuangan. Setidaknya, kini semangat itu masih menyala dan gayung sejarah pun masih bersambut dan seruan juangnya masih menyapa setiap elemen anak bangsa.

A. Ijtima’ GNPF Ulama

Setelah berjuang tiga hari dua malam (27 – 29 Juli 2018), berbagai rekomendasi keummatan berhasil dilahirkan di Jakarta;

1) Mulai dari kriteria ideal pemimpin dan pejabat publik hingga karakteristik sosok pemimpin negara pilihan Ijtima’ Ulama untuk 2019 mendatang.
2) Dari gerakan moral ummat semisal shalat shubuh berjama’ah hingga menyikapi pemurtadan dan membentengi ummat dari ajaran-ajaran menyimpang.
3) Dari pentingnya menyemarakkan pemberdayaan ekonomi ummat hingga revitalisasi Dewan Ekonomi Syari’ah yang berfungsi sebagai Komite Nasional Ekonomi Ummat.
4) Dari pentingnya membentuk Majlis Permusyawaratan Ummai Islam Indonesia (MPUI-I) hingga pencalonan kepemimpan nasional yang memunculkan nama PS – SSJ dan PS – UAS.

Semua itu, merupakan bagian ikhtiar yang tidak bisa diabaikan, di mana amanah tersebut tengah dijalankan.

B. Mudzakarah 1000 Ulama

Mudzakarah ini digelar di Tasikmalaya Jawa Barat (tanggal 5 Agustus 2018), atas prakarsa Majlis Mujahidin Indonesia dalam mengawali kongresnya yang ke-5 . Dengan mengusung tema: “Peran Ummat Islam Dalam Menjaga Kedaulatan NKRI dan Meneguhkan Kepemimpinan Negara” cukup menyedot perhatian para ulama dan para aktivis muda Islam dari berbagai pelosok tanah air. Tidak kurang dari 1.600 peserta mudzakarah yang melakukan registrasi dan diiringi ribuan ummat Islam Tasikmalaya yang menghadiri acara tabligh akbar pembukaan kongres.

Di antara tokoh ulama ummat yang berkesempatan memberikan orasi berikut paparan pesannya adalah:

1. Ustadz Irfan S. Awwas (Ketua Tanfiezhiyah MMI)

Menurut Ustadz Irfan dalam sambutannya, “Indonesia merupakan negara agama, anti agama berarti anti NKRI dan Pancasila, karena keduanya menjunjung tinggi Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dirinya menegaskan, salah satu tujuan mudzakarah adalah “Ingin menghadirkan pemimpin yang mencintai syari’ah”. Oleh karenanya, yang pantas diajak bicara adalah para ulama.

2. Ustadz Muhammad Thalib (Amir Majlis Mujahidin)

Ustadz Thalib menegaskan dengan penuh kharisma, “Sebenarnya kita ini antek siapa? Kalau kita mengaku antek (pengikut) Nabi Muhammad shalallaahu ‘alaihi wa sallam harus dibuktikan”. Beliau menguatkan, “Seorang Muslim, berarti otomatis pembela Islam (mujaahidin)”. Lalu beliau menanyakan, “Apakah kita rela Islam lenyap dari bumi Indonesia?”. Menurutnya, “Negri ini jangan sampai seperti Singapura nasibnya, dulu mereka mayoritas Muslim, kini Islam lenyap dari negrinya sendiri”, kenangnya.

3. KH. Cholil Ridhwan, LC. (BKSPP Pusat dan Anggota Pembina Dewan Da’wah)

Kyai Cholil dalam orasinya yang menggelegar menandaskan, “Ummat Islam harus berpolitik, dan gerakan politik pertama dalam sejarah adalah hijrahnya Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam”, ungkapnya. Ketika shalat diserukan hayya ‘alas shalaat … kita sambut. Demikian pula, ketika hayya ‘alal falaah … dikumandangkan, maka wajib kita sambut pula. Kemudian beliau melanjutkan, “Al-Falaah wajib kita rebut; menjadi presiden, menjadi mentri, menjadi gubernur, menjadi bupati, menjadi camat, kepala desa dan lain-lain. Semua itu merupakan al-falaah yang menjanjikan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi ummat”, tegasnya.

Kyai yang dijuluki “kyai politik” ini, memberikan saran dan jalan keluar agar ummat faham dan sadar politik. Menurutnya, belajar ilmu politik itu fardhu kifayah. Dengan kaidah “Berbeda dalam madzhab Bersatu dalam Politik”, dirinya dan kawan-kawan seperjuangan telah merintis Pengajian Politik Islam dengan.menjadikan masjid sebagai markaznya.

4. Ustadz Bachtiar Nasir, LC. MM. (Tokoh GNPF-MUI untuk 212 dan Sekjen MIUMI Pusat)

Ustadz Bachtiar mengajak para peserta, untuk banyak belajar pada peristiwa kejatuhan Khilaafah Islaamiyah Turki Utsmaniyah tahun 1924. Bagaimana segala daya dikerahkan agar Turki dapat bangkit kembali dan keluar dari cengkraman sekularisme menuju pangkuan Islam. Menurutnya, “Yang bisa membangkitkan negri ini adalah kekuatan da’wah ilallaah”. Oleh karenanya, dirinya mengingatkan agar ummat Islam jangan mau terjebak dengan diksi-diksi penjajah, dan yang harus diutamakan itu adalah bagaimana mengawal kebangkitan (shahwah) ketimbang yang lainnya. Beliau pun berharap, mudzakarah yang digelar dapat menghasilkan “sesuatu yang besar”, terutama melahirkan sosok pemimpin yang bukan hanya popularitas, melainkan juga berkwalitas, imbuhnya.

5. KH. Dr. Teungku Zulkarnaen (Wakil Sekjen MUI Pusat)

Teungku Zulkarnaen meyakinkan para peserta, bahwa ummat Islam sangat mencintai NKRI. Menurutnya, bagaimana tokoh-tokoh ulama Islam terdahulu telah menunjukkan dedikasinya untuk bangsa walaupun dikhianati. “Masyumi dibubarkan karena menolak Nasakom, NU disembelih Komunisme”, kenangnya. Walau sudah berjuang, era-era berikutnya Islam pun tidak mendapatkan apa-apa.

Beliau pun mengingatkan, belakangan ini muncul keganjilan-keganjilan; mulai banyaknya larangan memakai simbol-simbol agama (seperti larangan jilbab, cadar di kampus), sampai tuduhan anti kebinekaan dan intoleran. Di sisi lain, beliau pun mengkritik keras istilah Islam Nusantara yang dibenturkan dengan segala sesuatu yang dinilai berbau Arab. Dengan gaya selorohnya, Teungku Zul mencontohkan Pangeran Diponegoro dan Tuanku Imam Bonjol, keduanya dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional (keduanya memakai sorban dan jubah Arab). Bahkan beliau menunjuk dirinya, “Sayalah contoh Bhineka Tunggal Ika; orang Medan yang lahir dari seorang ibu turunan Cina Riau dan bapak orang Aceh, pake gamis pula”, akunya.

6. Dr. Egie Sujana, SH. (Tokoh GNPF Ulama)

Bang Egie dalam paparannya, dirinya meyakinkan peserta bahwa “Amanah kepeminpinan itu wajib disyukuri, menolaknya berarti kufur nikmat”. Lalu beliau mengingatkan dan mengajak para peserta mudzakarah agar menguatkan apa yang telah menjadi hasil Ijtima Ulama di Jakarta.

7. Berikutnya Gus Nur dari Jawa Timur dan Ustadz Fadhlan Garamatan Papua,

Keduanya mengingatkan bahwa dalam kondisi suasana bangsa yang “seperti ini” banyak sekali ujian yang bisa jadi merubah pendirian seseorang. Gus Nur menyebut, “Bisa jadi seseorang yang tadinya seperti singa berubah menjadi yang lain”. Sedangkan Ustadz Fadhlan menyebutkan, godaan harta bisa membuat segalanya porak poranda. Timur Tengah bergolak salah satunya karena itu. Demikian tokoh yang diberi gelar “ustadz sabun” (meng-Islamkan ribuan masyarakat Papua dengan perantara sabun mandi) ini mencontohkan.

C. Manifesto Ulama dan Ummat

Setelah mendengarkan prolog para pemateri dan dialog terbuka terkait perjalanan UUD 1945, Piagam Jakarta, perjuangan politik Masyumi, serta perkembangan politik nasional dan harapan ummat akan lahirnya pemimpin yang pro ummat bersama para peserta, maka mudzakarah yang dipandu oleh Drs. H. Nashruddin Salim, SH., MH. (Katib ‘Am Ahlul Halli wal ‘Aqdi [AHWA] Majlis Mujahidin) ini, melahirkan “Manifesto Ulama dan ummat” sebagai berikut:

1. Menetapkan Resolusi Konstitusional Pemerintah RI untuk kembali kepada Undang-undang Dasar (UUD) 1945 sesuai penetapan Keppres Nomor 150 tahun 1959, LNRI tahun 1959 Nomor 75, Dekrit Presiden Soekarno 5 Juli 1959 dan
2. Mengundangkan Syari’at Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bagi ummat Islam bangsa lndonesia, serta
3. Mudzakarah Seribu Ulama di Tasikmalaya mengukuhkan Keputusan ijtima’ Ulama dan Tokoh Nasional di Jakarta tentang pencalonan presiden dan wakil npresiden 2019. Namun jika terjadi deadlock politik, maka harus ada calon alternatif yang sesuai dengan Syari’at Islam secara utuh.

Demikian bunyi manifesto tersebut, sebagaimana dibacakan di hadapan peserta mudzakarah di Gedung Aisyah Jl. Ir. H. Juanda Kota Tasikmalaya Jawa Barat di hari Ahad, 23 Dzulqa’dah 1439 H./ bertepatan dengan 05 Agustus 2018.

Dengan adanya Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional, serta Mudzakarah Seribu Ulama ini, semoga Rabbul ‘Aalamien memberikan keberkahan dengan curahan Rahmat-Nya demi lahirnya kepemimpinan yang membawa kemashlahatan ummat serta ‘izzul Islaam wal Muslimiin. Aamiin yaa Mujiebas saailien …

________

Penulis adalah: Peserta Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional GNPF Ulama di Menara Peninsula Jakarta (Mewakili PP. Persatuan Islam bersama Ustadz A.M. Furqon, M.Si) dan Mudzakarah Seribu Ulama di Gedung Aisyah Kota Tasikmalaya (Mewakili Pusat Kajian Dewan Da’wah dan MIUMI Jawa Barat)

Print Friendly, PDF & Email

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*