Kamis, Juni 17MAU INSTITUTE
Shadow

GEBYAR MUHARRAM; Dari Shaum Sunnah, Budaya Syi’ah, Hingga Local Wisdom

GEBYAR MUHARRAM; Dari Shaum Sunnah, Budaya Syi’ah, Hingga Local Wisdom
Oleh:
H.T. Romly Qomaruddien, MA.

Shaum Sunnah

Telah dimaklumi dalam Kitabullah, bahwa dalam satu tahun ada 12 bulan, di antaranya ada empat bulan mulia (QS. At-Taubah/9: 36). Imam Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, Al-Bazzar dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan, empat bulan (arba’atun hurum) yang dimaksud adalah: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. (Ibnu Katsier, Tafsierul Qur’aanil ‘Azhiem/2, hlm. 322).

Kaitannya dengan shaum sunnah Muharram, di dalamnya ada hari kesembilan (tasu’a) dan hari kesepuluh (‘asyura) yang hakikatnya semua bulan memiliki nama kedua hari tersebut. Namun yang dimaksud di sini adalah hari kesembilan dan kesepuluh di bulan Muharram saja. Sejak kapan penamaan itu populer?, tentunya perlu merujuk pada sumber-sumber periwayatan yang jelas dan bisa dipertanggung jawabkan.

Pertama; ‘Asyura telah populer sejak zaman Arab jahiliyyah Quraisy, di mana mereka sudah terbiasa melakukan shaum di hari itu. Ketika Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wasallam berada di Madinah, beliau pun shaum dan menyerukan kepada yang lainnya. Setelah datangnya kewajiban shaum ramadhan, para shahabat diberikan pilihan. Bagi yang mau shaum dipersilahkan, bagi yang meninggalkannya tidak apa-apa. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anh).

Muhammad bin ‘ Ali as- Syaukani berkomentar, orang-orang Quraisy melaksanakan shaum, bersandar pada tradisi pendahulu mereka dalam pengagungan kiswah ka’bah. (As-Syaukani, Nailul Authaar/2, hlm. 321).

Kedua; ‘Asyura merupakan hari yang sangat agung bagi kaum Yahudi, sebahagian mereka shaum dan sebahagian lagi menjadikannya hari raya. Mereka meyakini, hari tersebut adalah hari kemenangan, di mana Allah ‘azza wa jalla menyelamatkan nabi Musa ‘alahis salaam dan Bani Israil dari musuh-musuhnya. Hal serupa, dilakukan pula oleh kaum Nashrani. (HR. Muslim dan Ahmad dari shahabat Abu Musa al-Asy’ari dan Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhumaa).

Para mufassir menyebutkan, pelaksanaan ibadah mereka ini, lebih disandarkan pada peringatan keselamatan atau hari kemerdekaan mereka setelah diselamatkannya dari kejahatan rezim Fir’aun sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah/2: 49-50. (As-Syaukani, Fathul Qadier/ 1, hlm. 109).

Ketiga; Shaumnya Rasulullaah di hari kesepuluh bulan muharram, merupakan haknya sebagai Nabi dan Rasul (bukan karena mengikuti Yahudi), karena sebelum mereka melakukannya, beliau sudah lebih dulu menunaikan. Perkataan “Anaa ahaqqu bi Muusa minkum; aku lebih berhak ketimbang Musa dalam menentukan shaum untuk kalian”. Rasul pun shaum dan memerintahkan para shahabatnya untuk shaum pula. (HR. Muslim).

Namun demikian, para shahabat mengajukan keberatan, sehubungan ada nilai kesamaan (tasyabbuh) dengan orang-orang Yahudi dan Nashrani, sehingga beliau menambahkan hari kesembilan-nya (yaumut taasi’). Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anh menjelaskan: “Ketika Rasulullaah menunaikan shaum ‘asyura, beliau memerintahkan agar orang-orang pun menunaikannya. Para shahabat bertanya: wahai Rasulullaah, sesungguhnya hari ini adalah hari yang diagungkan kaum Yahudi dan Nashrani. Rasul pun menjawab: Jika tahun yang akan datang ada kesempatan, kita akan shaum di hari kesembilannya juga”. Ibnu ‘Abbas menambahkan: “Tahun depan yang disebut-sebut tadi belum tiba, Rasulullaah telah berpulang keharibaanNya lebih dulu” (HR. Muslim/7-8, hlm. 254 no. 2661).

Adapun untuk mengukur sejauhmana nilai keutamaan ibadah ini, shahabat Abu Qatadah al-Anshary radhiyallaahu ‘anh menjelaskan: “Bahwa Rasulullaah ditanya tentang keutamaan shaum ‘asyura, beliau menjawab: shaum ‘asyura dapat menghapus dosa satu tahun yang lalu” (HR. Muslim no. 2740).

Budaya Syi’ah Hingga Local Wisdom

Di antara yang paling menonjol dalam merayakan tradisi ‘asyura adalah kaum Syi’ah dan di antara yang paling berjasa melestarikan upacara-upacara Syi’ah adalah Dinasti Buwaihiyyah (321-447 H.). Di samping memperingati hari Ghadir Khum tanggal 18 Dzulhijjah sebagai hari pengangkatan ‘Ali radhiyallaahu ‘anh menjadi penerima wasiat (waashiy) dan khalifah sesudahnya, juga menjadikan 10 Muharram sebagai hari berkabung untuk meratapi wafatnya Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anh. Bahkan pada masa Muiz ad-Daulah Ahmad bin Buwaih, pernah diperintahkan agar seluruh rakyatnya (termasuk penganut Sunni) menutup toko, tidak melakukan transaksi di pasar-pasar, mengenakan pakaian berkabung dan wanitanya meratapi Husein. ‘Abdullah bin Sa’ied al-Junaid dalam bukunya Hiwaarun Haadi Bainas Sunnah was Syi’ah menuturkan: “Perayaan sepuluh Muharram yang disandarkan kepada tanah Karbala (tempat Husein meninggal) dijadikan tanah suci yang disebut turbah husainiyyah, di mana rumah-rumah penganut Syi’ah diletakkan turbah (tanah) tersebut untuk dijadikan perantara dalam bersujud, bahkan mereka menciumnya dan mengambil berkahnya” (Al-Junaid, tp tahun: 111).

Lebih tragis lagi, Mamduh Farhan al-Buhairy dalam bukunya As-Syi’ah Minhum ‘Alaihim , membawakan fakta-fakta keji perayaan mawaakib husainiyyah itu, di antaranya; dengan pakaian serba hitam mereka merobek-robek baju, menampar-nampar pipi, memukul-mukul dada dan punggung, sambil menggotong keranda (tabut) yang disebut kubah Husein seraya mereka berteriak: “yaa Husaiin …”. Di sela-sela ritus Yahudiyyah, mereka mendidik agar anak mereka membiasakan menangis agar nanti terbiasa dalam meratap, bahkan di antara mereka ada yang memaksakan memukul kepala dengan pedang dan rantai besi ke dada mereka hingga berlumuran darah. Semua itu dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa (qurbah). (Al-Buhairy, 2001: hlm. 232).

Untuk menjawab berbagai pihak yang dianggapnya sebagai fitnah dan tuduhan terkait semangat ‘asyura, seorang penulis Syi’ah Ali Ashgar Ridhwani menyusun sebuah buku dengan judul ‘Asyura dan Kebangkitan Imam Husain; Menjawab Fitnah dan Tuduhan . Buku ini diterbitkan Nur Al-Huda, IIC Jakarta.

Dengan keyakinan seperti itu, jelas mereka telah menyalahi ajaran shabar dan ihtisaab, yaitu pencarian pahala sabar dan ridha Allah. Dalam waktu yang sama, ajaran ini pun sangat bertentangan dengan sabda Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam: “Bukanlah golongan kami, orang yang suka menampar-nampar pipi dan merobek-robek baju dan berseru dengan seruan jahiliyyah.” (HR. Al-Bukhari dari shahabat Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anh, Mukhtashar Shahieh al-Bukhari no. 621, hlm.199).

Pada fase berikutnya, kini budaya tersebut mengalami perubahan dalam bentuknya yang berbeda pula, di samping masih banyak yang mempertahankan keasliannya (walau hanya memukul-mukul dada dan kepala dengan tangan). Seiring perkembangannya, dengan alasan kearifan lokal (local wisdom), tradisi bubur suro di Tatar Pasundan sempat membudaya, tabot di Bengkulu, tabuik di Pariaman dan tarian seudati (disandarkan pada kata sayyidah Fathimah az-Zahra) di Aceh sampai kini masih lestari. Bahkan yang lebih familiar seperti pencucian barang pusaka dan grebeg muharram di tempat-tempat tertentu di tanah Jawa ini menjadi pesona wisata tersendiri. Demikian pula yang terkait dengan ibadah-ibadah sosial, tidak luput dari irisan yang dikaitkan dengan sepuluh Muharram seperti halnya istilah populer lebaran anak yatim yang dihubung-hubungkan dengan keutamaan sedekah (shadaqah) di bulan ini di mana Sayyidina Husein wafat. Artinya, istilah yang disematkan kepada keutamaan sedekah dan memelihara anak yatim, tidak mesti dihubungkan dengan keutamaan bulan Muharram yang sudah jelas tuntunannya.

Kembali ke hari ‘asyura, Syaikh ‘Ali Mahfuzh (Guru Besar Al-Azhar Mesir) dalam kitabnya Al-Ibdaa’ Fie Madhaaril Ibtidaa’ memberikan pandangan singkatnya dengan menukil pendapat ‘Allaamah Ibnu al-‘Izz al-Hanafi sebagai berikut: “Tidak ada keterangan yang shahieh dari Nabi mengenai ‘asyura melainkan shaumnya saja.” (Lihat ‘Ali Mahfuzh, 1985: hlm. 330-337).

Semoga Rabbul ‘Aalamien memberikan keberkahan seberkah bulan Muharram yang dianugerahkanNya dan menghindarkan kita dari segala bentuk pengingkaran dan penyimpangan yang terjadi di dalamnya. Aamiin yaa Rabbal ‘Aalamiin … Wallaahul musta’aan.
__________________

Penulis adalah: Anggota Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam (Komisi ‘Aqiedah), Anggota Fatwa MIUMI Pusat (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris KDK MUI Pusat, Ketua Bidang Ghazwul Fikri & Harakah Haddaamah Pusat Kajian Dewan Da’wah dan Ketua Prodi KPI STAIPI-UBA Jakarta.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!