KASYFUS SYUBUHAAT; MENYINGKAP KEBATILAN PENENTANG TAUHID

KASYFUS SYUBUHAAT; MENYINGKAP KEBATILAN PENENTANG TAUHID
Oleh:

H.T. Romly Qomaruddien, MA.

Setiap kali da’wah dikumandangkan, maka saat itu pula rintangan datang menghadang.Tidak terkecuali da’wah tauhid, yang setiap zaman senantiasa ada. Penentangan dan pengingkaran telah ditunjukkan dengan berbagai cara, mulai dari yang ringan sampai yang berat. Dari sekedar mencibir, menghina dan membuat luka sampai kepada hilangnya nyawa. Semua merupakan ujian yang sudah pasti adanya bagi siapa saja yang menegakkan kebenaran, di mana pertarungan antara haq dan bathil selalu meramaikan jagat raya ini. Di antara manusia ada yang berpihak kepada kemungkaran, namun ada pula yang senantiasa berpihak kepada kebenaran. Itulah dinamika hidup yang selalu menghiasi kehidupan da’wah dan para penyerunya (tahadiyyaat fîe hayaatid da’wah wad daa’iyah).

Kenyataan ini merupakan sunnatullah yang telah berlaku semenjak para penyeru ummat terdahulu, yakni para Nabi dan Rasul hingga da’i agung Khaatamul anbiyaa wa sayyidul mursalien, yakni Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula penolakan benar-benar ditampakkan oleh para penentang tauhid dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari populis ‘awami hingga para tokoh masyarakatnya. Berbagai cara diupayakan, beragam strategi diuji cobakan. Kekuatan logika dipelihara dan logika kekuatan dipertaruhkan.

Al-Haq versus Al-Baathil

Sebagaimana isyarat Allah ‘azza wa jalla dalam ayat-Nya (QS. Al-Baqarah/2: 257), ada dua kekuatan yang saling berseteru; kekuatan yang mengajak kepada jalan yang terang (an-nuur) dan ada pula kekuatan yang mengajak kepada jalan yang gelap (az-zhulumaat). Golongan yang pertama walinya adalah Allah, sedangkan yang kedua walinya adalah thaaghuut (biasa diartikan syetan, para normal, tukang sihir, penguasa zhalim atau pun sistem yang anti syari’ah). Golongan pertama senantiasa mengajak manusia untuk menuju kebaikan dunia dan akhirat, sedangkan golongan kedua mengajak manusia berbuat kerusakan di dunia dan menanggalkan akhirat. Karena itulah para Nabi diutus dan Kitab suci diturunkan dalam rangka membimbing, mengayomi dan meluruskan ummat manusia. Allah ‘azza wa jalla anugerahkan untuk orang-orang beriman berupa Rasul yang membacakan ayat-ayatNya (tilaawah), mengikis nilai-nilai jahiliyah (tazkiyah) dan mengajarkan kitabullah dan hikmah atau sunnahNya (ta’limul kitaab wal hikmah). Tiga anugerah inilah yang merubah mereka menjadi orang-orang yang beriman, padahal sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata. (Lihat QS. Ali Imrân/3: 164).

Selain itu, dibalik anugerah yang mulia, Allah jadikan ujian berupa musuh-musuh dari kalangan syetan, baik bangsa jin atau pun manusia (syayaathienul insi wal jinni). Dalam hal ini, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab at-Tamimi menjelaskan dalam risalahnya Kasyfus Syubuhaat fit Tauhîed sebagai kekuatan pro dan kontra yang saling berhadapan.
Dengan bersandar ayat Allah, “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syetan-syetan dari jenis manusia dan dari jenis jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu” (QS. Al-An’am/6: 112), maka Muhammad bin Abdil Wahhab mengatakan: “Terkadang musuh-musuh tauhid itu memiliki banyak ilmu, macam-macam pustaka dan berbagai argumentasi (sebagaimana dikatakan dalam QS. Al-Mu’min/40: 83), maka wajib menghadapi mereka (ahli orasi, kaum intelektual dan ahli debat dari orang-orang musyrik) dengan memahami agama Allah dan menjadikan hujjah-hujjah Allah serta berbagai keterangannya dalam mengalahkan mereka. Sesungguhnya tipu daya syetan itu adalah lemah dan seorang awam dari ahli tauhid dapat mengalahkan seribu intelektual orang-orang musyrik.” (At-Tamîmi, tp. thn: hlm. 9).

Syaikh Muhammad Shaalih al-Utsaimin menambahkan dalam Syarh Kasyfus Syubuhaat dengan menukil pandangan Ibnu Taimiyah dalam Dar’ut Ta’ârudhin Naqli wal ‘Aqli sebagai berikut: “Sesungguhnya setiap kali seseorang mendatangkan hujjah untuk menguatkan kebatilan mereka, maka hujjah tersebut justeru akan berbalik membantah dirinya. Maka dalam menghadapi mereka (ahlul baathil), harus memperhatikan dua perkara:1) memiliki ilmu yang mereka miliki sehingga dapat digunakan untuk menghadapi mereka, 2) memahami hujjah-hujjah syar’iyyah dan ‘aqliyyah yang digunakan untuk mematahkan serangan mereka.” (Al-Utsaimin, 2004: hlm. 80).

Sungguh hujjah Allah itu sangatlah kuat, sedangkan tipu daya dan hujjah ahlul bathil itu sangat lemah. Ungkapan ini selaras dengan firman Allah sebagai berikut: “Inna kaidas syaithaani Kaana Dhaîfan”, karena sesungguhnya tipu daya syetan itu adalah lemah. (QS. An-Nisâ`/4: 76).

Demikian pula ayat yang menegaskan: “Wa inna jundana lahumul ghaalibuuna”, dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang. (QS. Ash-Shaffaat/ 37 : 173).

Ahlus Syubuhaat adalah Ahlud Dhalaal

Firman Allah ‘azza wa jalla yang mengatakan: “Dan sesungguhnya inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah mengikuti jalan-jalan lain (selain jalanku ini).” (QS. Al-An’âm/6:153), menunjukkan bahwa selain jalan yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya adalah jalan kesesatan. Maka para mufassir mengatakan (salah satunya Imam as-Suyuuthi dalam Ad-Durul Mantsuur fit Tafsîr bil Ma’tsuur sebagaimana dinukilkan Muhammad bin Abdil Wahhab dalam Kitâb Fadhlul Islaam dengan mengambil pandangan Imam Mujâhid (seorang ahli tafsir kalangan Tabi’in) yang menyebutkan bahwa “jalan-jalanlain” yang dimaksud adalah jalan-jalan yang ditempuh ahli bid’ah dan ahli syubhat, yakni pembuat kesesatan. (Abdul Wahhab, 1422: hlm. 10).

Dikarenakan pelaku kesesatan ini lebih mengedepankan hawa nafsu dari pada wahyu, maka mereka disebut sebagai pengumbar nafsu (ahlul ahwaa), di mana karakteristik hawa nafsu ini menurut As-Syaathibi: “Innamaa sammuuhu ashhaabal ahwaa liannahum yahwûna ilan nâr”, hanya saja mereka (para ulama) menamakannya dengan ahlul ahwaa, dikarenakan mereka menggiring dirinya sendiri ke neraka. (dinukil Ad-Daarimi, tp. thn: 1, 110).

Lebih jauh Imam As-Syaathibi mengingatkan dalam Al-Muwaafaqaat sebagai berikut: “Apabila hawa nafsu telah masuk, maka pelaku cenderung mengikuti sesuatu yang meragukan (mutasyaabih) dikarenakan dorongan untuk mengalahkan dan menampakkan alasan dalam berbeda pendapat, juga cenderung terjadinya perpecahan, putus hubungan, permusuhan dan kebencian disebabkan perbedaan dan tidak adanya kesepakatan.” (As-Syaathibi, 1999: 4, hlm. 576)

Semua ini menunjukkan, betapa bahayanya mengikuti kehendak nafsu dalam memutuskan segala macam perkara, terlebih dalam masalah pokok-pokok agama (ushuuluddîn): yang sangat memerlukan landasan-landasan wahyu. Apabila dilanggar, maka disitulah kesesatan.

Pengingkaran Tauhid; Dahulu dan Sekarang

Para pengingkar tauhid zaman dahulu, mereka meyakini bahwa para malaikat, para Nabi, para wali, pohon-pohonan, kuburan-kuburan atau jin yang diminta bantuan bukanlah dzat yang mencipta, memberi rezki dan mengatur alam semesta, melainkan sebagai perantara dalam taqarrub kepada hakikat pencipta. Kalau demikian, apa bedanya dengan kesyirikan-kesyirikan zaman sekarang, di mana Malaikat dan Nabi sudah disamakan dengan titisan wali yang dianggap sakti dan dapat menurunkan wangsit, pohon-pohon yang dianggap keramat dan dijadikan cagar budhaya, kuburan-kuburan yang dibangun megah dan dilestarikan sebagai objek ziyaarah secara berlebihan, dunia ghaib menjadi mainan dan kerap kali diadakan pegelaran makhluk-makhluk aneh. Bahkan untuk mengokohkan ikatan sesama mereka, mereka pun membuat perkumpulan atau organisasi yang dapat mewadahi alam pikiran yang mereka inginkan.
Banyak dalih (bukan dalil) yang mereka kemukakan untuk menguatkan argumennya sekalipun dengan memutar balikkan dalil agama atau mencari-cari pembenaran dengan mengambil dalil secara keliru (dalam bahasa para ulama: “Dalilnya benar, namun penggunaan dalilnya atau istidlalnya keliru)”.

Tidak kalah hebatnya, kekuatan gerakan kesesatan semakin mendapatkan tempat ketika arus secularisme kian berhembus dahsyat dan masuk ke semua persoalan keagamaan. Pengingkarannya sangat nyata, baik bersifat mulhidah atau ghair mulhidah. Mulhidah adalah mengingkari agama secara total; mereka mengingkari wujud Allah, mengingkari bahwa Allah adalah Pencipta dan Pengatur serta lainnya, juga memerangi setiap orang yang menyerukan keimanan hanya kepada Allah semata. Sedangkan Ghair Mulhidah adalah, mereka tidak mengingkari Allah, secara teori mereka beriman. Namun mereka menolak apabila agama (ad-dîn) masuk dalam urusan-urusan dunia, mereka sangat bersemangat apabila agama dan dunia itu benar-benar terpisah. (Muhammad Syakir Syarif, Al-‘Ilmaaniyyat wa Tsamaaruhal Khabîtsat, 1411: hlm. 15-16, Lihat pula Muhammad Abdul Hadi al-Mishri dalam Mauqif ahlus sunnah wal Jamâ’ah minal ‘Ilmaaniyyat: 1412).

Karena itu, ‘ilmaaniyyah (secularisme) merupakan madzhab kufur di antara madzhab-madzhab kufur lainnya, di mana segala urusan (baik ekonomi, sosial, politik, etika, perundang-undangan dan lain-lainnya) ditimbang berdasarkan takaran dunia saja. Menurut Muhammad Syakir Syarif, sebahagian penyeru faham ini, menyandarkan ‘ilmaaniyyah dengan ilmu. Disebut ‘ilmaaniyyah berarti madzhab keilmuan, di mana di dalamnya berkumpul orang-orang yang sangat perhatian terhadap ilmu. Menurutnya, ini merupakan kedustaan yang sengaja dimunculkan untuk mengelabui orang banyak. Maka yang lebih tepat untuk menyebut mereka adalah Al-Ladîniyyah, yaitu faham yang menjauhkan diri dari agama. (Syakir Syarif, 1411: hlm. 8, Lihat pula Mohammad Natsir, Ikhtaaru Ihdaa as-Sabîlaini; ad-Dien auw al-Laadîniyyah: 1972).

Dengan kran laadîniyyah ini, air kesesatan pun makin mengalir kemana-mana hingga melahirkan petaka, yaitu munculnya orang-orang yang menyerukan hukum Allah tidak lebih baik dari undang-undang manusia, syari’ah Islam tidak cocok bila diterapkan di abad ini, syari’ah Islam menjadi penyebab mundurnya kaum muslimin atau syari’ah Islam terlalu membatasi kehidupan dan lain-lainnya. Sikap seperti ini bukan sekedar penistaan terhadap agama, lebih dari itu dapat membatalkan keislaman pelakunya. (‘Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Al-‘Aqedah as-Shahihah wa Nawaaqidhul Islam, 2003: 36). Mereka hendak menipu Allah, padahal Allah lebih pandai dari mereka. Wallaahul musta’aan
________________

Penulis adalah: Anggota Dewan Hisbah (Komisi ‘Aqiedah), Anggota Fatwa MIUMI Pusat (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris KDK MUI Pusat, Ketua Bidang Ghazwul Fikri & Harakah Haddaamah Pusat Kajian Dewan Da’wah dan Ketua Prodi KPI STAIPI-UBA Jakarta

Print Friendly, PDF & Email
News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com