BERDAMAI DENGAN ALAM (Renungan Seorang Huijatul Islaam Abu Hamid Al-Ghazaly)

BERDAMAI DENGAN ALAM (Renungan Seorang Huijatul Islaam Abu Hamid Al-Ghazaly)

Diadaftasi kembali oleh:

H.T. Romly Qomaruddien, MA.

Alam menyatukan semua makhluq. Mereka bercengkerama, berinteraksi, dengan memanfaatkan apa yang ada di dalamnya. Meski ada banyak makhluq berbeda, mereka tetap ada dalam kesatuan. Semuanya menggambarkan kehidupan yang tidak berjalan otomatis. Ada yang menggerakkan mereka, yaitu Allah jalla jalaaluhu.

Alam seperti rumah yang kokoh. Di dalamnya terdapat segala hal yang dibutuhkan. Langit menjulang tinggi seperti atap. Bumi terbentang layaknya karpet. Bintang berkelap-kelip bagaikan lampu. Ada banyak ciptaan di dunia ini. Saking banyaknya, manusia kesulitan untuk menghitung ciptaan Allah satu per satu. Jangankan menghitung semuanya, sekiranya semua makhluq bersatu untuk mendalami hikmah di balik penciptaan satu makhluq saja, sungguh mereka tidak akan mampu.

Itulah tulisan Hujjatul Islam Al-Ghazaly dalam bukunya Al-Hikmah fie Makhluuqaatillaah yang menggambarkan betapa hebatnya ciptaan Allah. Buku yang berarti hikmah penciptaan Allah itu disajikan dalam narasi reflektif yang menghanyutkan pembacanya ke dalam alam penciptaan.

Ketika membaca bab hikmah tentang penciptaan ikan, misalkan, Al-Ghazaly mengarahkan pembacanya untuk mengamati keindahan ikan-ikan yang berenang di lautan luas. Pembaca seakan diajak menyelam ke dalam laut untuk menyaksikan dengan sendirinya bagaimana ikan-ikan itu berkembang biak, seperti apa rupanya, dan ada makhluq apa saja selain ikan yang hidup di dalam laut.

Ikan memiliki sirip dan ekor yang bergoyang-goyang sehingga membuatnya dapat berenang. Makhluq itu dapat berkembang biak dengan cepat. Hanya dengan sekali kehamilan, ikan dapat melahirkan banyak anak yang tidak memerlukan pengasuhan karena anak-anak itu dapat langsung hidup dengan sendirinya. Apa hikmah di balik itu? Menurut Hujjatul Islaam, jumlah mereka akan selalu banyak karena satu dan lainnya saling memakan. Selain itu, manusia dan hewan di darat juga menyukai daging ikan.

Itu baru satu. Masih ada 14 hikmah lainnya yang kaya dengan penjelasan tentang ciptaan Allah. Siapapun yang membacanya akan berpikir bahwa ciptaan tersebut tidak mungkin hadir begitu saja. Ada yang mendesainnya dengan sangat apik sehingga hidup dan berkaitan dengan makhluq lainnya.

Ciptaan Allah juga berfungsi untuk menjernihkan pikiran manusia. Memandangi dan menikmati ciptaan Allah terasa lebih menenangkan hati bila dibandingkan karya manusia. Al-Ghazaly mencontohkan singgasana raja yang mewah dan terbuat dari perhiasan mahal. Seseorang yang memandangi singgasana itu akan terpesona. Namun, jika memandangi hal itu berkali-kali, tentu akan membosankan. Orang akan mengalihkan pandangannya ke hal lain.

Bedakan dengan memandangi ciptaan Allah berupa langit. Ketika memandangi langit, seseorang akan merenungkan kekuasaan Allah yang melampaui batas manusia. Dia melihat awan berarak di langit biru. Belum lagi mentari yang begitu cerah menyinari bumi. Makhluq apa yang mampu menciptakan itu semua? Tidak ada. Itu adalah karya Maha Pencipta yang tak tertandingi.

Memandangi langit membuat manusia menyadari dirinya sangat kecil bila dibandingkan ciptaan lainnya. Langit sangat tinggi sehingga tidak mungkin siapa pun mampu menjangkaunya tanpa bantuan makhluq lain.

Meskipun langit begitu besar, ternyata itu belum seberapa bila dibanding dengan ukuran makhluq Allah lainnya yang jauh lebih besar lagi (seperti halnya ‘arasy ar-Rahmaan, pen.)

Gambaran itu menunjukan ukuran manusia tidak ada apa-apanya. Sangat tidak layak manusia bersombong, menganggap dirinya besar. Sikap tersebut hanya layak dimiliki Maha Pencipta yang bergelar Al-Mutakabbir.

Merenungkan ciptaan Allah merupakan jalan menuju penghayatan akan kebesaran yang Maha Pencipta. Hal itu membuat siapa pun merasa dekat denganNya. Al-Ghazaly menjelaskan, “Barang siapa melihat kerajaan langit dan bumi dengan ‘aqal dan pikirannya, niscaya ia akan mengenal Tuhan dan mengagungkannya.”

Hujjatul Islaam menyadari, ada saja orang yang meragukan, bahkan menafikan kehadiran Allah, tapi hal itu tidak akan terjadi bila seseorang terus menghayati hikmah penciptaan makhluq Allah. Ketika selalu menghayati hikmah itu, hati akan sampai kepada kesimpulan bahwa Allah “Maha Besar” dan “Maha Benar” dengan segala firman-Nya. Setiap makhluq hidup ada dalam berbagai tingkatan berbeda. Semuanya bergantung pada cahaya ‘aqal dan hidayah. Dengan membaca dan memahami Al-Qur’an serta ketundukkan kepada Allah, seseorang akan semakin mengenal dan meyakini Allah. Subhaanallaah wa tabaarakallaah
______

✍ Al-Faqier menemukan naskhah ini tergeletak begitu saja sedikit kotor, setelah dibersihkan lalu dibaca kandungannya. Sungguh teramat dahsyat, renungan seorang tokoh di zamannya tentang hakikat pentingnya kita bertafakkur dengan segala apa yang diciptakan Allah di alam raya ini (Lihat: Al-Hikmah Fie Makhluuqaatillaah, Tahqieq Dr. Muhammad Rasyied Qabbany, Universitas Beirut)

Print Friendly, PDF & Email

2 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*