HARI SANTRI ITU UNTUK MENJAYAKAN BUKAN UNTUK MELEMAHKAN

HARI SANTRI ITU UNTUK MENJAYAKAN BUKAN UNTUK MELEMAHKAN
Oleh:
Ki Lurah Santri PPI 76 Tahun 90an

Terlepas dari berbagai ragam pendapat, keberadaan “Hari Santri” penting diapresiasi. Terlebih, dimunculkannya hari tersebut sebagai momentum perjuangan para santri dalam membebaskan negerinya dari cengkeraman penjajahan. Itulah pelajaran berharga yang digoreskan tinta sejarah, yang tidak mudah begitu saja untuk dilupakan.

Seremoni hari santri nasional, kini tercederai karena adanya sikap tidak terpuji oleh beberapa oknum yang memunculkan kegaduhan. Pembakaran bendera yang nyata-nyata termaktub padanya kalimah thayyibah Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasuulullaah benar-benar dipertontonkan. Sontak banjir protes pun terjadi di mana-mana sampai meluas secara nasional, bahkan internasional. Tidak kurang, seorang Erdogan menitikkan air matanya atas peristiwa ini. Demikian pula anak-anak pengungsi negeri Syam turut berteriak juga atas kejadian aneh ini.

Sebagai shaahibul qaryah, tentu merasa terpanggil jiwa untuk turut lebur dan senyawa dalam gegap gempita aksi pembelaan tersebut. Sebagai lembaga pendidikan yang lokasinya tidak jauh dari tempat kejadian, minimalnya ada tiga alasan yang mendorong turut serta dalam perhelatan itu, walaupun dengan cara yang berbeda.

Pertama, qaddarallaah dalam minggu ini santri-santri Rijaalul Ghad (RG) dan Ummahaatul Ghad (UG) tengah menunaikan program aktivitasnya berupa Latihan Dasar Kepemimpinan Santri untuk Ummat dan Bangsa.
Kedua, Turut mengapresiasi tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional dengan menggelar diskusi santri.
Ketiga, Turut ber-emphaty bagi peserta aksi yang tengah menunjukkan pembelaannya dengan menyerukan agar kasus ini dituntaskan dengan adil.

Dengan mengundang santri-santri dan siswa lain dari luar pesantren, RG-UG PPI 81 Cibatu-Garut menggelar Diskusi Internal dan dilanjutkan dengan LDK serta mukhayyam di lingkungan komplek pesantren. Hal ini dilakukan semata-mata untuk mengasah talenta keilmuan, kepekaan keummatan dan kebangsaan.

Dengan menyajikan tiga pembahasan diskusi, sebagai berikut:

1. Seputar Hukum Membakar Kalimah Thayyibah.
2. Keharusan Berjama’ah dan Larangan ‘Ashabiyyah.
3. Menjemput Kemenangan Da’wah Menyongsong Kepemimpinan Masa Depan.

Maka para santri pun merumuskan hal-hal berikut ini:

A. Diskusi 1 RG-UG (di aula Pesantren):
1. Apa pun alasannya, membakar syi’ar agama (di antaranya kalimah thayyibah), merupakan tindakan tidak terpuji dan bertentangan dengan etika. Adapun menjadikan dalil dibakarnya mushhaf-mushhaf selain mushhaf utsmani, tidak dapat diterima apabila dijadikan alasan bolehnya membakar kalimah thayyibah dikarenakan bedanya kasus dan bedanya alasan.
2. Untuk memenuhi rasa keadilan dan tegaknya kepastian hukum, siapa pun yang melakukan penistaan agama harus mendapatkan sanksi sesuai pelanggarannya dan hukum yang berlaku.
3. Hendaknya menghidupkan ta’aawun dalam kebaikan dan ketaqwaan sesama Muslim dan anak bangsa demi tegaknya NKRI yang bermartabat.

B. Diskusi 2 UG (di Masjid):
1. Perbedaan pendapat merupakan sunnatullaah, karenanya perbedaan tidak berarti perpecahan. Untuk dapat selamatnya dari perpecahan, hendaknya ummat memahami sebab-sebab keduanya dan memahami adab ikhtilaf.
2. Berbeda dalam masalah furu’, namun bersatu dalam ‘aqiedah, merupakan prinsip yang dapat ditempuh dalam merajut ukhuwwah dan merawat kebersamaan.
3. Fanatisme merupakan sikap tercela dalam memahami perbedaan dan berorganisasi. Namun berhujjah dan menghindari taqlid dalam beragama merupakan sikap terpuji. Karenanya, menuntut ilmu agama itu untuk mencari kejelasan dan kebenaran, bukan mencari kepuasan dan pembenaran.

C. Diskusi 3 RG (di Masjid):
1. Menjemput kemenangan da’wah, tidak dapat dilepaskan dari kepemimpinan ummat. Maka kehadiran pemimpin yang berlabuh di hati ummat merupakan sebuah keniscayaan.
2. Tauhied merupakan dasar ‘aqiedah ummat, maka kemenangan dalam Islam hakikatnya adalah kemenangan da’wah Tauhied.
3. Hadirnya pemimpin yang baik, sangat ditentukan oleh masyarakat yang baik. Wujudnya masyarakat yang baik, sangat ditentukan oleh sejauhmana ikhtiar dalam membina masyarakatnya. Karenanya, sebuah kemenangan bisa diraih sangat ditentukan oleh amal da’wahnya.

Untuk melengkapi akhbar ini, dapat dilihat dalam galery berikut 👇👇👇

 

 

Geleran Diskusi RG-UG PPI 81 Cibatu
Santri RG-UG PPI 81 Cibatu Garut gelar diskusi internal (merespon problem keummatan) terkait pembakaran kalimah thayyibah

 

Mereka berhujjah dan saling menyimak pandangan; baik dari sudut argumen hukum, etika, sosial, siyasah/ politik dan sudut kehidupan berbangsa.

 

Dengan mengundang santri-santri dan Sekolah lain (luar PPI 81) yang diwakili OSIS masing-masing (lintas pesantren Ormas), mereka santri RG melanjutkannya dengan dengan bedah makalah: “Menjemput Kemenangan Da’wah; Hakikat dan Kiat-kiatnya”.

 

Sedangkan santri UG, membedah makalah: “Keharusan Berjama’ah dan Larangan ‘Ashabiyyah”

 

Dalam suasana kebersamaan dan kehangatan ukhuwwah, mereka belajar berpendapat, menghargai pandangan orang lain, mempertahankan argumen dan belajar merumuskannya. Setelah juru bicara mempresentasikan masing-masing komisinya, mereka pun mengabadikannya dengan fose bersama.

 

 

Print Friendly, PDF & Email
News Reporter

2 thoughts on “HARI SANTRI ITU UNTUK MENJAYAKAN BUKAN UNTUK MELEMAHKAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com