AL-‘IBRATUL ‘UZHMA; MENIMBA KECERDASAN PROPHETIC DARI PENCERAHAN NABI AKHIR ZAMAN

AL-‘IBRATUL ‘UZHMA; MENIMBA KECERDASAN PROPHETIC DARI PENCERAHAN NABI AKHIR ZAMAN
Oleh:
H.T. Romly Qomaruddien, MA.

Secara umum, Al-Qur’an telah membentangkan betapa Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam seorang manusia yang memiliki keagungan akhlaq (khuluqin ‘azhiem) yang dengannya itulah mengantarkan dirinya memiliki keteladanan yang paripurna (uswatun hasanah).

Allah ‘azza wa jalla berfirman:

وانك لعلى خلق عظيم

“Dan sesungguhnya engkau [Muhammad] memiliki akhlaq yang agung” (QS. Al-Qalam/ 68: 4)

لقد كان لكم في رسول الله اسوة حسنة …

“Sesungguhnya pada diri Rasulullaah ada suri tauladan yang baik bagimu … “ (QS.Al-Ahzaab/ 33: 21)

Banyak tafsir dalam memaknai suri tauladan Rasulullaah, baik dari sisi pedoman hidup (minhaajan, manhajan), kesungguhan dalam mengarungi segala kehidupan (juhuudan), dan keteladanan dalam menapaki hidup (qudwatan) dengan segala varian persoalannya.

Tri fungsi kenabian yang disandarkan pada peribadi Rasul; mendalami ayat-ayat yang diturunkan Allah ‘azza wa jalla kepadanya (tilaawah), mengikis habis nilai-nilai kehidupan jahiliyyah (tazkiyah) dan mendidik manusia dengan pengajaran kitab Allah dan hikmahNya (ta’liemul kitaab wal hikmah). Mengajarkan kitab Allah, berarti membimbing manusia dengan Al-Qur’anul Kariem. Mengajarkan hikmah, berarti membimbing manusia dengan sunnah Nabi dan ilmunya. Demikian sebagaimana banyak dijelaskan para mufassir dengan menukil petikan Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anh dalam memberikan tafsir terhadap QS. Alu ‘Imran/ 3 ayat 164.

Dengan ketiganya itulah, era baru pencerahan ummat dikumandangkan, sinar pun memancar terang menyinari seantero alam, padahal sebelumnya mereka berada dalam kegelapan yang nyata (in kaanuu min qablu lafie dhalaalin mubien).

Lebih dari itu, dalam tugasnya sebagai Nabi, lima kedudukkan mulia yang dapat mengantarkan kegembiraan dan kebahagiaan manusia disematkan pada dirinya, yakni kebahagiaan mendapatkan keutamaan yang besar di sisi Allah (fadhlan kabieran).

Adapun lima kedudukkan kenabian yang dimaksud, adalah sebagai berikut:

1. Sebagai syaahidan; di mana dirinya menjadi saksi atas telah disampaikannya risalah Allah kepada para Nabi sebelumnya, serta dipungkas dan disempurnakannya ajaran oleh dirinya. Nabi Nuh ‘alaihis salaam ditanya, “Apakah engkau telah menyampaikan risalahku?” Ketika Nabi Nuh menjawabnya: “Sudah aku sampaikan”. Allah pun bertanya lagi, “Siapa saksinya?” Nabi Nuh pun menjawabnya: “Muhammad dan ummatnya” (Lihat: HR. Al-Bukhary no. 4487 dari shahabat Abu Sa’ied al-Khudriy radhiyallaahu ‘anh).

2. Sebagai mubassyiran; di mana dirinya senantiasa memberikan harapan, memacu jiwa optimisme bagi siapa saja yang menginginkan jawaban dan keutamaan. Suatu saat Nabi ditanya oleh para shahabat, “Amal apakah yang paling utama di sisi Allah?” Nabi pun menjawabnya dengan beragam; “birrul waalidain, as-shalaatu ‘alaa waqtihaa, al-infaaq fie sabielillaah dan al-jihaad fie sabielillaah.” Semua jawabannya tidak ada yang mengecewakan shahabat yang bertanya. (Lihat: HR. Al-Bukhary dan Muslim dari shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anh dalam banyak babnya).

3. Sebagai nadzieran; di mana dirinya mengemban tugas yang seimbang, bukan sekedar memberi kabar gembira semata melainkan kabar ancaman pula. Hal ini Allah berikan kepadanya, agar ummat manusia (di kemudian hari) tidak mencari-cari alasan bahwa mereka belum mendapatkan pencerahan dari seorang Nabi atau Rasul yang memberikan peringatan. (Lihat: QS. An-Nisa/ 4: 165).

4. Sebagai daaiyan ilallaah; di mana dirinya mengemban tugas Nabi dan Rasul, juga ditegaskan kembali peran intinya sebagai manusia penyampai pesan dan penyeru ajakan mulia. Sekalipun hal ini sudah masuk dalam tugas kenabian dan kerasulan. Penegasan ini semata-mata menunjukkan bahwa “tidak ada ucapan yang lebih baik selain menyeru ke jalan Allah” di antara seruan-seruan yang ada di muka bumi. (Lihat: QS. Fushilat/ 41: 33).

5. Sebagai siraajan munieran; di mana Rasul diutus benar-benar sebagai “Pencerah”, yakni pelita yang menyinari manusia, membimbing mereka keluar dari kegelapan menuju “cahaya terang benderang”. Mewujudkan untuk mereka “jalan keselamatan (subulus salaam)” dan mengawal mereka agar teguh “menapaki jalan lurus (shirathin mustaqiemin)”. (Lihat: QS. Al-Maidah/ 5: 15 – 16).

Masih banyak tentunya, kedudukkan mulia lainnya, sebagaimana dirincikan para ahli Tafsir, ahli Sejarah/ sierah, para Pensyarah hadits. Bahkan para peneliti Barat dari para orientalisten yang tidak kehilangan akal sehat dan fithrah kebenarannya. (Bisa dibaca kembali tulisan sebelumnya: “Pemikiran Orientalisme dalam Sorotan”)

Sesuatu yang cukup menggembirakan, sekalipun dalam prakteknya belum begitu populer. Dalam program Raabithah al-‘Aalam al-Islaamy yang pernah disosialisasikan oleh WAMY Internasional di Jakarta, tentang hadirnya sebuah lembaga Al-Haiah al-‘Aalamiyyah lit Ta’riefi bir Rasuuli wa Nushratihi dapat menjadi solusi dalam mengenalkan lebih maksimal dan lebih greget sosok kenabian, sehingga pelajaran agung (al-‘ibratul ‘uzhma) dapat ditimba sebagai kecerdasan kenabian (prophetic intelegence) oleh generasi hari ini di tengah-tengah kehidupan yang semakin modern. Laqad kaana fie qashashihim ‘ibratun li-ulil albaab … Allaahumma faqqihnaa fied diin
______

Penulis adalah: Anggota Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam (Komisi ‘Aqiedah), Anggota Fatwa MIUMI Pusat (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris KDK MUI Pusat, Ketua Bidang Ghazwul Fikri & Harakah Haddaamah Pusat Kajian Dewan Da’wah dan Ketua Prodi KPI STAIPI-UBA Jakarta

Print Friendly, PDF & Email
News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com