‘UZLAH YANG MENGGERAKKAN; PESAN PERJUANGAN SEORANG BAPAK

‘UZLAH YANG MENGGERAKKAN; PESAN PERJUANGAN SEORANG BAPAK
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Ketika mendengar atau membaca kata ‘uzlah, sangatlah wajar apabila yang ada dalam pikiran adalah “menyepi” di tempat sunyi atau “meniadakan diri” dari keramaian, “menjauh” dari hiruk pikuk kesibukkan dan kehingar bingaran.

Praktek semacam ini, mirip-mirip dengan mereka yang terbiasa dengan kehidupan skeptis yang menganggap urusan dunia itu hanyalah beban belaka yang tidak memiliki makna apa-apa, bahkan dinilainya sesuatu yang hina sehina-hinanya. Gerak lampah semisal ini, banyak dipraktekkan oleh mereka yang meyakini bahwa haqiqat adalah maqam tertinggi dalam pencarian “bebeneran”. Kondisi semacam ini dapat kita baca dalam riwayat-riwayat hidup para shufi dan penganut ajaran suluk thariqah yang berkembang di dunia Islam.

Terlepas dari debatable  dan final atau belum finalnya pembahasan terkait shufi dan amal tashawwuf-nya, nampaknya sebuah perjalanan hidup, atau bentangan panjang pengalaman dan “penglamaan” dalam mengarungi kehidupan, secara otomatis telah membentuk dan mengkristal menjadi “kurikulum kehidupan”. Itulah yang dalam bahasa orang tua disebut “asam garam perjuangan”.

Membincang perjuangan dengan ‘uzlah apa hubungannya? Sepertinya pertanyaan ini sepele, namun apabila didalami dengan bashierah tak sesepele maknanya. Pertanyaan ini pernah ditanyakan oleh kader-kader moeda tempo doeloe (Mohammad Amien Rais, Ahmad Watik Pratiknya, Kuntowijoyo, Yahya A. Muhaimin dan Endang Saifuddin Anshari) kepada bapak ideologis mereka Allaahu yarham Mohammad Natsir.

Lagi-lagi Mohammad Natsir, semoga bukan karena ingin berlebihan pada nostalgia masa lalu atau sulit move on dari kebesaran dan indahnya masa silam, melainkan ingin menimba api sejarah yang kini dirasakan semakin redup dan terselimuti oleh perasaan kegagahan. Karenanya, membolak balik kembali lembaran sejarah dengan diterangi temaramnya lampu zaman adalah sebuah keniscayaan. Benar kata Prof. Al-Attas, masa lalu adalah “masa yang hidup”.

Kembali ke masalah ‘uzlah yang menjadi kata primadona dalam bahasan ini, yakni ungkapan untuk menyebut sebuah strategi yang pernah dilakukan para ulama bumi putera dalam menghadapi “politik etis” Hindia Belanda untuk “mengambil hati” pribumi dengan berbagai pelayanan yang dapat melahirkan “balas budi” kaum pribumi karena terpenuhinya kesejahteraan oleh penjajah.

Persoalan inilah yang ditanyakan anak-anak muda waktu itu kepada Pak Natsir. “Bagaimana sikap kita waktu itu menghadapi pemerintah penjajah, terutama dengan politik etisnya?”

Pak Natsir menjawab: “Bagaimana pun kita melakukan upaya untuk menghadapi politik etis yang terselubung itu, reaksi pertama ialah datang dari para ulama kita. Ulama kita melakukan ‘uzlah, melakukan hijrah mental, menyendiri begitu. Dengan baik-baik, dengan tidak melawan secara fisik, karena senjata sudah tidak ada lagi. Ia meninggalkan kota-kota besar supaya jangan pemuda-pemuda ini terpengaruh oleh upaya-upaya penjajah. Jadi kita bawa generasi muda kita ke pinggir-pinggir kota, ke desa-desa, ke gunung atau ke pantai sehingga tidak terpengaruh oleh kehidupan di kota besar. Nah, di tempat yang terasing itulah para ulama membuka pesantren-pesantren”. Itulah yang dimaksud ‘uzlah dalam goresan ini. ‘Uzlah bukan sembarang ‘uzlah, melainkan ‘uzlah yang menggerakkan.

Demikianlah gambaran di antara “Pesan Perjuangan Seorang Bapak” yang dilukiskan dalam Percakapan Antar Generasi yang kini pesan-pesan tersebut telah dibukukan (cetakan pertama tahun 1988), dan mengalami cetak ulang (yang ketiga tahun 2019 ini) oleh Laznas Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia.
_____________

Penulis adalah: Anggota Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam (Komisi ‘Aqiedah), Anggota Fatwa MIUMI Pusat (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris KDK MUI Pusat, Ketua Bidang Ghazwul Fikri & Harakah Haddaamah Pusat Kajian Dewan Da’wah dan Ketua Prodi KPI STAI Persatuan Islam Jakarta.

Print Friendly, PDF & Email
News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com