ILMIAH DALAM BERHUJJAH DAN TANGKAS DALAM BERARGUMEN (Catatan Ringkas Pengantar Moderator dalam Diklat Kristologi KDK-MUI Pusat)

ILMIAH DALAM BERHUJJAH DAN TANGKAS DALAM BERARGUMEN (Catatan Ringkas Pengantar Moderator dalam Diklat Kristologi KDK-MUI Pusat)
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Berpijak pada ayat Allah ‘azza wa jalla, yang termaktub dalam QS. An-Nahl/ 16: 125 :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, tutur kata yang baik (mauizhah hasanah), dan berdiskusilah dengan mereka dengan cara yang baik (mujadalah billati hiya ahsan).”

Maka, cukuplah ayat tersebut menjadi pondasi yang mampu memetakan objek dakwah. Ada objek dakwah yang harus dihadapi penuh kebijakan, ada yang memang harus menggunakan tutur yang teratur dan nasihat yang tepat, juga bertukar pikiran dengan cara-cara yang baik apabila dianggap perlu.

Bahkan Ibnu Taimiyyah rahimahullaah menyebutkan, apabila metode hikmah, mauizhah hasanah dan mujaadalah billati hiya ahsan tidak dapat dilakukan, jalan terakhirnya dapat menggunakan mujaaladah (yakni “menguliti” argumen lawan). (Lihat: Zaid bin Abdil Karim az-Zaid, Al-Hikmah fied Da’wah ilallaah, 1411: hlm. 36-37).

Yang terakhir ini, hanya berlaku bagi mereka yang benar-benar menunjukkan penentangan, melakukan kezhaliman, memusuhi Allah dan rasulNya, mengumbar kesesatan dan tidak lagi menerima kebenaran.

Adapun yang dijadikan qarienah adanya metode keempat ini, adalah firman Allah ‘azza wa jalla yang menyebutkan:

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ ۖ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَٰهُنَا وَإِلَٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zhalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu, dan kami hanya kepadaNya berserah diri.” (QS. Al-Ankabut/ 29: 46)

Persoalannya, bagaimana dapat menumbangkan logika lawan, apabila kesiapan ilmu dan kepahaman tidak dimilikinya?.

Kegalauan itu, dijawab oleh seorang pegiat dan sekaligus penghidup Madrasah Ibnu Taimiyyah, yakni Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab at-Tamimy rahimahullaah dalam risalahnya. Kata-kata emas yang bisa dipetik adalah: “Terkadang musuh-musuh Tauhid itu memiliki segudang ilmu, beragam pustaka, argumentasi yang handal, juga ketangkasan bersilat lidah (sebagaimana diisyaratkan QS. Al-Mu’min/ 40: 83), maka wajib menghadapi mereka (ahli orasi, kaum intelektual, ahli debat dari kalangan mereka) dengan memahami agama Allah (secara dalam) dengan hujjah-hujjah yang kuat untuk mengalahkannya. Sesungguhnya tipu daya syaithan itu sangatlah lemah dan seorang awwam dari ahli Tauhid, (dapat dipastikan) akan mampu mengalahkan seribu intelektual kalangan orang-orang musyrik.” (Lihat: At-Tamimy, Kasyfus Syubuhaat Fiet Tauhied, tp. tahun: hlm. 9).

Untuk mewujudkan semua itu, tentu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan; perlu dorongan kuat, panggilan jiwa dan ikhtiar yang tidak terputus serta tidak mengenal lelah.

Menimba pengalaman dari orang-orang hebat, perlu kirannya dilakukan; bagaimana Ibnu Taimiyyah menggelar bantahan dalam kitabnya Al-Jawaabus Shahieh Liman Baddala Dienal Masieh, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dengan kitabnya Hidaayatul Hayaaraa Fie Ajwibatil Yahuud wan Nashaaraa, bahkan sebelumnya Abu Hamid al-Ghazaly menggoreskan penanya dalam kitabnya Ar-Raddul Jamiel Li Ilaahiyati ‘Isa. Dan masih banyak lagi keteladanan para pendahulu lainnya dalam menggunakan senjata literasi untuk menghadapi mereka.

Secercah pikiran inilah, membuat kami memandang perlu bahwa pengkajian demi pengkajian terhadap kitab-kitab turats para ulama klasik penting dihidupkan, di samping kitab-kitab kontemporer (mu’aasharah) lainnya.

Dalam konteks Komite Dakwah Khusus (KDK-MUI), maka dihadirkannya beragam program; Forum Group Discussion, Kajian Turats Ulama Mu’tabar, Diklat Kristologi dan Misiologi serta mengkaji ulang modus vivendi antar ummat beragama dan modus operandi yang kerap kali dialami di lapangan patut menjadi perhatian bersama.

Semoga Rabbul ‘Aalamiin senantiasa mencurahkan berkahNya, kekuatan dan jalan keluar terbaik (makhrajan) bagi siapa saja yang berjuang di jalanNya.

Walladziina jaahaduu fienaa lanahdiyannahum subulanaa
____________

Penulis adalah: Anggota Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam (Komisi ‘Aqiedah), Anggota Fatwa MIUMI Pusat (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris KDK MUI Pusat, Ketua Bidang Ghazwul Fikri & Harakah Haddaamah Pusat Kajian Dewan Da’wah dan Ketua Prodi KPI STAI Persatuan Islam Jakarta.

Print Friendly, PDF & Email
News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com