MENANTI PAKET RAMADHAN MENGHARAP BINGKISAN LEBARAN

MENANTI PAKET RAMADHAN MENGHARAP BINGKISAN LEBARAN
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Ramadhan kariem …
Ramadhan mubaarak …
Ramadhan syahrun ‘azhiem …
Ramadhan bulan mulia
Ramadhan bulan berkah
Ramadhan bulan penuh keagungan.

Ibnu Manzhur (seorang pakar bahasa), menguraikan bahwa kata “berkah” (barakat) sepadan dengan kata “birkah, artinya kolam” (birkat). Dari sekian nama-nama kemulian ramadhan, bulan berkahlah yang mewakili semuanya. Yang pertama mengandung makna “tetapnya anugerah/ kebaikan Allah” (tsubuutul khairil Ilaahy), sedangkan yang kedua bermakna “tempat bermuaranya air dari parit-parit” (maudhi’ul maa’i). Dikatakan ramadhan bulan berkah, laksana kolam yang mengalir padanya “parit-parit kebaikan”, sehingga di situlah tempat berkumpulnya beragam kebaikan dan beragam kemanfaatan (fiehaa mashaalih wa fiehaa manaafi’). Pandangan senada dituturkan pula oleh Al-Raghib al-Ashbahany dalam kitab monumentalnya Al-Mufradaat.

Diawali dengan “bersusah-payah” bersama dengan menunaikan shaum, dan berakhir dengan “bersenang-senang” bersama pula di hari berbuka (lebaran).

Sebagai Dzat pembuat ajaran (shaahibus syarie’at), Allah jalla jalaaluh membentangkan gugusan ayat-ayat tentang shaum dengan tiga karakteristik;

1) Mengawali seruannya dengan panggilan yang baik (husnun nidaa), seperti tertuang dalam kalimat: “Wahai orang-orang yang beriman …”.
2) Menyodorkan pengalaman ummat masa lalu (‘ardhu tajaarubil umam as-saabiqat), seperti tercatat dalam pernyataan: “(Pelaksanaan shaum) itu, telah dipraktekkan pula oleh ummat masa lampau …”.
3) Menjelaskan hikmah dibalik turunnya ajaran (bayaanu hikmatit tasyrie’), sebagaimana yang dituturkan dalam kalimat: “Mudah-mudahan (dengan ibadah shaum ini), mampu menjadikan pelakunya hamba yang bertaqwa”.

Adapun paket-paket ramadhan yang dimaksud, sebagai berikut:
1) Shaum ramadhan di siang harinya.
2) Qiyaam ramadhan (shalat taraawih) di malam harinya.
3) Tilaawatul Qur’an di waktu-waktu khusus dan senggangnya.
4) Ifthaarun lis shaaimiin; memberikan makanan-minuman untuk yang berbuka shaum.
5) Taktsierus shadaqaat wal infaaq; memperbanyak shadaqah dan infaq.
6) Al-I’tikaaf fil asyril awaakhir min ramadhaana; menunaikan i’tikaf (mengkhususkan beribadah di mesjid bagi yang diberi keleluasaan) pada sepuluh hari/ malam terakhir ramadhan.
7) Taharriy fie lailatil qadr; melakukan perburuan (bersungguh-sungguh mendapatkan malam kemuliaan yang kedudukannya lebih baik dari seribu bulan).
8) Al-‘Umratu fie ramadhaana; menjalankan umrah di bulan ramadhan (bagi yang diberikan keleluasaan) yang pahalanya laksana menunaikan ibadah haji bersama Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam.
9) Al-jihaadu fie sabielillaah; berjuang di jalan Allah (dengan maknanya yang luas) dalam segala bentuk amalan untuk agamanya.

Berikutnya, setelah mendapatkan paket ramadhan, bingkisan lebaran pun sudah menantinya berupa:
1) Zakaatul fithri; mengeluarkan makanan pokok dengan segala qiyas-nya (beras, gandum dan qiemah/ nilai uang terlepas dari ikhtilaf ulama fiqih) pada 1 syawwal yang ditunaikan ba’da shalat shubuh hingga Imam/ khatib naik mimbar.
2) Shalat ‘iedul fithri dan mendengarkan khutbah ‘ied dengan segala syi’ar yang diagungkannya.
3) Tahni’ah ‘ied dan shilaturrahim dengan segala sunnah yang ada di dalamnya (di antaranya, saling menghaturkan do’a taqabbalallaahu minnaa wa minkum; “semoga Allah menerima amal ibadah kita”). Adapun hal-hal lain yang bersifat adat istiadat (selama tidak bertentangan dengan syari’ah), maka hukumnya mubah tentunya.
4) Shaum sittan min syawwaalin; menunaikan shaum sunnat enam hari di bulan syawwal (baik berurutan [mutataba’ah] atau pun secara terpisah-pisah hari pelaksanaannya [munfashilah]).

Demikianlah hadiah terindah dari Dzat pemberi anugerah di bulan mulia dan di hari kemenangan kelak. Itulah hakikat sabda Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam, bahwa: “Ada dua kegembiraan bagi mereka yang menunaikan ibadah shaum; bahagia ketika berbuka, dan bahagia ketika kelak berjumpa dengan Rabb-nya” (HR. Muslim dan Ahmad dari shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anh).

Semoga paket ramadhan yang diharap dan bingkisan lebaran yang dinanti itu, benar-benar menjadi kenyataan. Aamiin … Wallaahu a’lam bis shawwaab
______________________

Penulis adalah: Anggota Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam (Komisi ‘Aqiedah), Anggota Fatwa MIUMI Pusat (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris KDK MUI Pusat, Ketua Bidang Ghazwul Fikri & Harakah Haddaamah Pusat Kajian Dewan Da’wah dan Ketua Prodi KPI STAI Persatuan Islam Jakarta.

Print Friendly, PDF & Email

2 Komentar

  1. Alhamdulillah,, barakallah,,ilmu yg mengingatkan,, untuk kebaikan , diantara sifat kita yg.mudah lupa dan melupakan,, menjadikan ingatan kembali

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*