DUHAI NEGERIKU, KEMBALILAH PADA FITHRAHMU

DUHAI NEGERIKU, KEMBALILAH PADA FITHRAHMU
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Tidak akan ada seorang anak bangsa mana pun yang rela mendengarkan atau menyaksikan bangsanya sendiri berada di tepi jurang kehancuran. Sebaliknya, anak bangsa mana pun akan dibuat senang karenanya, apabila mendengar dan menyaksikan, bahkan merasakan bangsanya ada dalam limpahan keberkahan, kemakmuran, kesejahteraan, damai, aman dan tentram … Gemah ripah loh jinawi tata tengtrem kertaraharja … baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafûr.

Cerminan negeri bermartabat, sangat tergantung pada masyarakatnya yang bermartabat pula dan masyarakat yang bermartabat sangat ditentukan oleh anak bangsanya yang bermartabat pula. Hubungan harmonis ini akan lebih dapat dirasakan apabila dibangun di atas sinergisitas antara para pemimpinnya sebagai pemegang amanah kedaulatan dan ummat atau pun rakyat yang dipimpinnya sebagai penyokong kedaulatan itu. Karenanya, sudah tepat apa yang dilukiskan Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah rahimahullâh terkait hubungan keduanya dalam kitab monumentalnya As-Siyâsah as-Syar’iyyah fie Ishlâhir Râiy war Râiiyyah yang mewakili pandangan Salaf dari madzhab Hanâbilah atau Imam Al-Mawardy dalam Al-Ahkâm as Sulthâniyyah yang mewakili pandangan Salaf dari madzhab Syâfi’iyyah.

Sebagaimana dituturkan Dr. Khâlid Ibrahim Jindan (pensyarah buku) ketika mengurai kitab As-Siyâsah, yang menggolongkan bahwa: “Evolusi negara dan pemerintahan sebagai panggilan nurani manusia. Naluri itulah yang mendorong setiap manusia bergabung dengan sesama manusia untuk merengkuh cita kebajikan dan kebahagiaan bersama. Kecenderungan fithri itu bersifat universal dan bermuara pada prinsip “menghindari segala yang mencelakakan” dan “menggayuh apa pun yang memungkinkan mereka bahagia karena memperoleh manfaat dan daya guna.” (Jindan, 1995: hlm. vi)

Tokoh lainnya semisal Qamaruddin Khan (pensyarah dua kitab di atas dan korektor di Islamic Research Institute Islamabad), memaparkan ketika membedah isi Al-Ahkâm. Di samping pentingnya organisasi politik untuk menghadirkan kepastian hukum, namun menurutnya tidaklah cukup apabila ditentukan sepihak atas kehendak suatu bangsa atau masyarakat tanpa melibatkan hukum yang diturunkan Allah ‘azza wa jalla. Menurutnya: “Kalau hukum yang diberlakukan dalam suatu masyarakat atau negara itu hanya dilandaskan pada kebutuhan duniawi dan kebersamaan semata, itulah negara sekuler (scular state). Apabila yang diberlakukan itu adalah hukum yang diturunkan Allah ‘azza wa jalla melalui seorang Rasul yang menginterpretasikan dan mempraktekkannya, maka negara yang terikat dengan hukum tersebut dinamakan negara religius (religious state).” (Qamaruddin, Al-Mawardi’s Theory of The State; Negara Al-Mawardi, 2002: hlm. 4).

Dengan demikian, kehadiran negara benar-benar memiliki tujuan dan fungsi menciptakan dan memelihara kedamaian dan kemashlahatan ummat manusia demi tercapainya hidup bahagia di dunia dan akhirat.

Hakikat kebahagian dunia dan akhirat (sa’âdatud dârain), tidak bisa terlepas dari dorongan fithrah yang telah ditetapkanNya. Di satu sisi manusia dianugerahi fithrah ghârizah atau mukhallaqah yang berupa potensi insani (at-thâqah al-insâniyyah); terdiri dari nafsu hewani/ syahwat (an-nafsul bahâim, homo animale), yang di dalamnya mengandung banyak keinginan; ingin memiliki kedudukkan, ingin jabatan, ingin kekuasaan, status sosial yang tinggi dan lain-lain. Diberikannya akal (homo rationale), hingga manusia mampu berfikir, berstrategi, bahkan “main akal-akalan”. Juga diberikannya anugerah rasa (homo somatica), hingga manusia mampu menampilkan ekspresi bathinnya; baik seni, bersuka ria atau berdukanya dan peran-peran kejiwaan lainnya (bersandiwara, bersinetron merupakan salah satu contohnya).

Lebih dari itu, fithrah lain yang Allah ‘azza wa jalla anugerahkan berupa fithrah munazzalah yang di dalamnya merupakan aturan-aturan yang diturunkanNya berupa ‘aqîdah dan syarî’ah. Fithrah yang terakhir inilah merupakan jaminan muthlaq kebahagian manusia yang sesungguhnya setelah alam kematian kelak.

Kembali ke soal kekuasaan atau politik yang tengah kita bicarakan; Dikatakan politik itu berdaulat, apabila daulat iman tegak berdiri dalam jiwa seseorang, apakah dia itu penguasa atau pun rakyat jelata, apakah dia itu penegak hukum, abdi negara atau pun masyarakat biasa. Itulah prinsip-prinsip kekuasaan atau pun berpolitik yang dibangun di atas landasan as-siyâsah as-syar’iyyah di mana di dalamnya menjunjung tinggi dan memelihara nilai-nilai agama, serta mengatur strategi urusan dunia menjadi tujuan pokoknya sekaligus (hirâsatud dîn wa siyâsatud dunyâ).

Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyyah banyak mengingatkan, di antaranya:

من أذل نفسه لله تعالى فقد أعز ها، ومن بذل الحق من نفسه، فقد اكرم نفسه.

“Siapa yang menghinakan dirinya di hadapan Allah Ta’ala, maka Allah akan memuliakannya. Dan begitu juga, siapa yang mengorbankan dirinya demi tegaknya kebenaran, maka Allah akan memuliakannya pula.” (Lihat: As-Siyâsah as-Syar’iyyah, hlm. 121).

Semua ini menunjukkan, bahwa kedaulatan yang bermartabat adalah kedaulatan yang didukung politik iman dengan menunjukkan kepatuhan dan ketha’atan pada Rabbul ‘Âlamîn dengan hiasan keadilan dan kejujuran (al-‘adl, as-shidq) hingga dapat membuka pintu-pintu langit untuk mencurahkan anugerahnya. Bukankah keadilan dan kejujuran merupakan kunci kemashlahatan dan keselamatan? Sebaliknya, bukankah ketidak adilan dan ketidak jujuran merupakan sumber petaka dan kebinasaan?

Seruan universal ini sudah diingatkan Allah dalam kalamNya:

يا ايها الذين امنوا اتقوا الله و كونوا مع الصادقين

“Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kalian pada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah/ 9: 119).

Rasûlullâh shalallâhu ‘alaihi wa sallam menuturkan dalam sabdanya:

ان الصدق يهدي الى البر وان البر يهدي الى الجنة وان الرجل ليصدق حتى يكتب عند الله صديقا. وان الكذب يهدي الى الفجور وان الفجور يهدي الى النار وان الرجل ليكذب حتى يكتب عند الله كذابا

“Sesungguhnya kejujuran itu akan mendatangkan pada kebaikan dan kebaikan itu akan menunjukkan pada sorga, seseorang yang sudah terbiasa dengan kejujuran sehingga Allah pun mencatatnya sebagai tukang jujur. Sesungguhnya kedustaan itu akan mendatangkan pada kedurhakaan dan kedurhakaan itu menunjukkan pada neraka, seseorang yang sudah terbiasa dengan kedustaannya sehingga Allah pun mencatatnya sebagai tukang dusta.” (HR. Al-Bukhâri, Muslim, Abû Dâwud dan At-Tirmidzi dari shahabat ‘Abdullâh bin Mas’ûd radhiyallâhu ‘anh).

Sebagai kalimat penutup, tidak ada yang lebih tepat untuk diungkapkan selain betapa indahnya sebuah kejujuran, wahai negeriku kembalilah pada fithrahmu … Semoga … Wallâhul musta’ân
____________

Penulis adalah: Anggota Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam (Komisi ‘Aqiedah), Anggota Fatwa MIUMI Pusat (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris KDK MUI Pusat, Ketua Bidang Ghazwul Fikri & Harakah Haddâmah Pusat Kajian Dewan Da’wah dan Ketua Prodi KPI STAI Persatuan Islam Jakarta.

Print Friendly, PDF & Email
News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com