“NYOROG ELMU ATIKAN” (MENIMBA ILMU PENDIDIKAN) BERSAMA PROF. H. ATIP LATIFUL HAYAT, SH, LLM, Ph.D. (Guru Besar Hukum Universitas Padjajaran Bandung)

“NYOROG ELMU ATIKAN” (MENIMBA ILMU PENDIDIKAN) BERSAMA PROF. H. ATIP LATIFUL HAYAT, SH, LLM, Ph.D. (Guru Besar Hukum Universitas Padjajaran Bandung)
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Hari-hari bulan syawwal masih diselimuti suasana mudik dan nuansa lebaran, namun qaddarallâh hampir di semua desa yang di situ ada lembaga pendidikan (madrasah, pesantren) diramaikan pula dengan Haflah Imtihan (berupa hiburan rakyat yang ditampilkan anak-anak santri dalam rangka perpisahan dan taujih umum untuk masyarakat). Di antara taujih umum kali ini, senior kami Kang Atip cukup menarik perhatian. Di samping sudah sangat lama teu pendak, rasanya sangat penting pula untuk turut serta nyipuh ilmu pangaweruh nyuprih pangarti bersama beliau. Di antara mutiara yang dapat kami ringkaskan dari pemaparannya adalah:

1. Inti dari pendidikan (education) itu adalah lahirnya kearifan (hikmah), dan hikmah merupakan hakikat ilmu. Semakin seseorang itu berilmu, maka dia akan semakin memiliki kearifan. Gambaran ini dijelaskan Allah ‘azza wa jalla dalam QS. Luqman/ 31: 13-19 yang menuturkan bagaimana seorang Luqman menasehati anaknya dengan penuh hikmah. Dengan menggunakan pendekatan yang sangat persuatif, yakni diawali dengan kata “Yâ bunayya”, Luqman menjadi bapak dan sekaligus menjadi “guru sukses” dalam menjalankan misi pendidikan dan pengajarannya.

2) Membicarakan pendidikan, tidak lepas dari dua tujuan pokok; Menshalihkan dan mencerdaskan. Yang pertama, merupakan kewajiban orang tua (abawain). Sedangkan yang kedua, merupakan kewajiban selain orang tua (sekolah, madrasah dan lembaga pendidikan lainnya).

3) Rumah dengan kedua orang tua memiliki fungsi yang jelas, yakni bagaimana menjaga fithrah beragama; anak memiliki aqidah, anak dapat menunaikan ibadah dan amalan-amalan yang mengarahkan pada keshalihan dengan pembiasaan-pembiasaan. Sedangkan sekolah dengan semua civitas akademiknya memiliki fungsi bagaimana menggali kecerdasan anak didik supaya pintar, prestatif dan tangkas. Maka dikatakan tarbiyah, artinya to education (makna di dalamnya: menggali potensi, mengajak, ngatik jeung ngadidik). Adapun sebagai lembaga pendidikan, sekolah punya kewajiban melaporkan perkembangan sifat dan sikap laku peserta didik (bukan sekedar angka-angka nilai nominal)

4) Likulli insânin maziyyatun; Setiap manusia itu memiliki kelebihan. Demikian pula dengan peserta didik, setiap mereka memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Satu sama lain tidak dapat dipaksakan dan harus saling mengungguli. Tugas guru adalah, bagaimana mereka bisa unggul semuanya dengan kemampuan masing-masing yang berbeda. Dengan demikian, suasana belajar pun menyenangkan dan selalu gembira.

Sekedar contoh, sederhananya bila ditamsilkan ada tiga Rudy yang satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan dalam kecerdasannya; Rudy Hadisuwarno sangat piawai dalam memainkan alat-alat pangkas dan rias, Rudy Chairuddin sangat mumpuni dalam menyajikan berbagai jenis kuliner, dan Rudy Habibi sangat genius dalam menghitung rumus-rumus hingga mampu melahirkan pesawat terbang semisal N250. Menurut BJ. Habibi: “Pesawat dengan segala alat yang diproduksinya (dari mesin, sayap, baling-baling, lampu, kursi, tombol dan lain-lain) sudah dirumuskan dan dirancang segala aturannya, karena itu kalau ada kecelakaan pesawat sudah dapat dipastikan bahwa itu terjadi (secara ilmiahnya) karena menyalahi aturan.”

5) Rasûlullâh shalallâhu ‘alaihi wa sallam sebagai the king of faqîh merupakan pendidik yang sangat hebat, yang mengajarkan pada manusia bagaimana manusia harus mengawal fithrah yang telah ditetapkanNya; baik berupa ketentuan yang telah diturunkanNya berupa wahyu (munazzalah), atau pun ketentuan penciptaan yang melekat pada jiwa berupa fakultas rasa, fakultas rasio dan fakultas-fakultas lainnya (gharîzah, mukhallaqah). Semua ini, membutuhkan pendekatan pendidikan yang harus sepadan.

6) Sifat mendapatkan ilmu itu harus dicari, diburu, dituntut (sunda: kudu diteangan) dari mulai buaian ibu hingga liang lahad. Benar yang disabdakan Rasûlullâh shalallâhu ‘alaihi wa sallam itu, hingga menjadi dorongan kuat para ulama penuntut ilmu di kemudian hari. Sebagai pencari dan pemburu (thâlib), Imam As-Syafi’i rahimahullâh melantunkan sya’irnya: “al-‘ilmu shaidun wal kitâbatu qayyiduhu … qayyid shuyûdaka bil hibâlil wâtsiqati”. Ilmu itu bagaikan binatang buruan dan tulisan sebagai pengikatnya, ikatlah binatang buruanmu itu dengan tali yang kuat.

7) Filsafat ilmu, merupakan pintu pembelajaran yang sangat penting. “Ilmu itu dibangun berawal dari filsafat dan berakhir dengan seni.” Maksudnya, ilmu dibangun dari pencarian, rasa ingin tahu dan berakhir dengan kemanfaatan yang banyak melahirkan temuan-temuan yang dapat diberdayakan. Karenanya, apa pun disiplin ilmunya, dapat dipelajari dengan “merasa mudah” apabila telah memahami betul filsafatnya. Mengapa orang merasa susah belajar matematika? Mengapa orang merasa susah berkomunikasi bahasa asing? Semua ini, jawabannya karena tidak memahami filsafat matematika atau tidak mengerti filsafat bahasa yang digunakan.

8) Science is curiosity; Merupakan prinsip pembelajaran yang wajib ditanamkan, di mana ilmu pengetahuan hanya bisa dibuka dari “rasa ingin tahu”. Karena itu pula, sejak dini anak didik harus dilatih untuk mampu mengkomunikasikan apa yang didapatkan dan ditemukannya. Metode Show and tell; aktiflah dan buktikan atau tunjukkan dan katakan adalah salah satu ikhtiar atau metode yang dapat dicoba dalam pendidikan kita sebagaimana dipraktekkan di negara-negara maju.

9) Apa pun disiplin ilmunya, menanamkan tauhîd dan jiwa bertauhid yang menjadi kunci tujuan menemukan Rabb-nya dalam segala kehidupan, merupakan “sesuatu” yang paling terpenting, di mana Allah ‘azza wa jalla selalu hadir dalam kehidupannya. Bertauhid, membuat hidup lebih pasti dan lebih menentramkan. Masih ingatkah kita, ketika rombongan bapak-bapak Masyumi yang Islamis dan bapak-bapak lain yang sosialis-marxis bertemu dalam sebuah pengalaman tragis, di mana pesawat mereka oleng. Bapak-bapak Muslim jauh tampak lebih tenang dan khusyu berdoa, sementara yang lainnya tampak panik dan penuh kebingungan karena tidak memiliki sandaran. Masih ingatkah kita, ketika seorang Pramoedya Ananta Toer (tokoh budayawan Sosialis) berharap agar puterinya mau konsultasi agama dengan Buya Hamka? Itulah dahsyatnya tauhid.

Semoga bermanfaat … Allâhumma faqqihnâ fied dîn … Rabbanâ tsabbit qulûbanâ ‘alâ dînik
_____________

✍ Ditulis di kediaman Bapak H. Suwardi Sulaiman dalam rangka Tabligh Akbar Haflah Imtihan Sekolah Tahfizh Al-Qur’an Al-Mukhtariyah (Jamaah Persatuan Islam) Banen Harmoni Limbangan Garut. ***

Print Friendly, PDF & Email

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*