KHUTBAH UDHHIYYAH | RISÂLAH ‘IEDUL ADHHA 1440 H | FALÂ TAMÛTUNNA ILLÂ WA ANTUM MUSLIMÛN; MENEGASKAN KEMBALI IDENTITAS KEISLAMAN KITA

KHUTBAH UDHHIYYAH
RISÂLAH ‘IEDUL ADHHA 1440 H.

FALÂ TAMÛTUNNA ILLÂ WA ANTUM MUSLIMÛN; MENEGASKAN KEMBALI IDENTITAS KEISLAMAN KITA
Bersama:
Teten Romly Qomaruddien

Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Lâ Ilâha Illallâh, Wallâhu Akbar, Allâhu Akbar, Walillâhilhamd

Ikhwânie fid dîn a’azzakumullâh …
Kita berkumpul di pagi yang cerah ini; diiringi sinar mentari dan disaksikan cahaya siang, seakan semua menjadi saksi betapa rendah dan hinanya kita di hadapan Pencipta yang Maha agung dan Maha perkasa.

Patut disyukuri, atas kasih dan sayangnya Allah ‘azza wa jalla pula sampai saat ini kita semua berada dalam nikmat Iman, Islam dan Ihsan, yaitu kenikmatan hidup di bawah lindungan anugerah Allah dengan bimbingan kehanifan ajaranNya. Namun demikian, kenikmatan tersebut; damai dan sejahteranya kita di hari ini, bukanlah sesuatu yang bersifat spontanitas tanpa proses, melainkan proses panjang mengarungi samudera nan luas dengan segala tantangan dan rintangannya sehingga membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Perjuangan dan pengorbanan inilah sebagai bukti konkret yang diwariskan generasi pendahulu para Nabi dan hawariyyûn-nya dalam mengantarkan Al-Islâm kepada kita. Oleh karenanya, marilah kita pandai mendulang hikmah dan belajar dari kejadian masa silam untuk sama-sama kita terapkan dalam kehidupan sekarang ini. Fa’tabirû yâ ulil abshâr.
Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran (‘ibrah) bagi orang-orang yang memiliki akal fikiran.” (QS. Yusuf/ 12 : 111)

Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Lâ Ilâha Illallâh, Allâhu Akbar, Walillâhilhamd

Saudara-saudara kaum Muslimien a’azzakumullâh
Bulan Dzulhijjah, yang di dalamnya penuh dengan nuansa ibadah; dari amalan awwal bulan, shaum ‘arafah, shalat ‘iedul adhha, udhhiyyah dan manasik haji mengingatkan kita semua kepada sosok piawai yang patut kita jadikan teladan, karena hakikatnya apa yang kita lakukan hari ini sebagai sunnah Rasûlullâh shalallâhu ‘alaihi wa sallam merupakan ajaran millah sebelumnya, yaitu sunnah Ibrahim ‘alaihis salâm dengan ajarannya al-hanîfiyyah as-samhah, yaitu agama yang lurus dan lapang. (Lihat: Ibnu Katsîr dalam Sa’id Hawwa, Al-Asâs fit Tafsîr, 1989: 8, hlm. 3605).

Walaupun demikian, kalangan Orientalis Barat yang phobia terhadap Islam semisal H.A.R. Gibb menuduhnya bahwa Muhammad sebagai pengecat agama atas tradisi bangsa Arab. Menurut Al-Buthy, ini merupakan tuduhan tak berdasar. (Lihat: Sa’ied Ramadhan al-Buthy, Sîrah Nabawiyyah, 1990: 1, hlm. 35).

Sampainya ajaran tauhid kepada kita merupakan bukti keberhasilan sang pembawa ajaran, yaitu pemimpin yang memiliki keperibadian yang kuat dan karakter yang prima, sebagaimana Allah gambarkan dalam ayat berikut: “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang pemimpin yang dapat dijadikan teladan lagi patuh pada Allah dan hanîf, sekali-sekali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, selalu mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukkinya ke jalan yang lurus.” (QS. An-Nahl/ 16: 120-121).

Demikianlah Nabiyullâh Ibrahim ‘alaihis salâm, yang dengan segala kebesaran dan kwalitas peribadinya bukanlah sekedar menjadikan dirinya terangkat sebagai kekasih Allah (khalîlullâh) dan bapak para Nabi (abul anbiyâ), melainkan nama Ibrahim senantiasa disejajarkan dengan nama Muhammad shalallâhu ‘alaihi wa sallam dalam shalawatnya. (Lihat: Shahîh Muslim, 1992: 1, hlm. 191).

Sementara kalangan ahlul kitâb (Yahudi dan Nashrani) masa itu, telah mengklaim dan Ge-eR atas kebesaran Nabiyullâh Ibrahim dengan mengatakan bahwa dirinya seorang Yahudi atau Nashrani. (QS. Alu ‘Imran/3 : 66), sehingga Allah menjawab dalam ayatNya: “Bukanlah Ibrahim itu seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nashrani, akan tetapi dia seorang yang hanîf/ lurus lagi berserah diri kepada Allah, dan sekali-kali dia bukanlah dari golongan orang-orang musyrik.” (QS. Alu ‘Imran/3 : 67).

Ayat tersebut turun, menurut Ibnu ‘Abbas radhiyallâhu ‘anh berkenaan dengan berbantah-bantahannya dua orang pendeta (Yahudi dan Nashrani) Najran yang saling berebut claim akan kedudukkan Nabiyullah Ibrahim. (Lihat: Muhammad ‘Ali as-Shabuny, Shafwatut Tafâsîr, tp. tahun: 1, hlm. 207).

Terlepas dari pertentangan mereka, semua sepakat bahwa Ibrahim tercatat sebagai orang bersih yang menyebabkan Allah turunkan barakahNya kepada ummat sesudahnya. Segala harapan dan cita-cita serta do’anya dikabulkan Rabbul ‘Âlamîn, di antaranya:

1. Negeri Mekkah menjadi negeri yang aman, tentram dan penuh limpahan keberkahan.
2. Bangunannya berupa ka’bah, tetap tegak menjadi perhatian ummat manusia sedunia.
3. Anak keturunannya, menjadi orang-orang shalih, bahkan menjadi Nabi-nabi pemimpin ummat manusia.
4. Jejak langkah peribadatannya dijadikan anutan bagi generasi yang datang kemudian hingga akhir zaman.
5. Prosesi perjalanan hidupnya menjadi tuntunan ibadah yang utama dalam manasik haji dan lain-lainnya.

Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Lâ Ilâha Illallâh, Wallâhu Akbar, Allâhu Akbar, Walillâhilhamd

Saudara-saudara kaum Muslimien a’azzakumullâh
Merupakan sunnatullâh, sebuah perjuangan dakwah senantiasa dihiasi ujian dan rintangan yang menghalangi keberhasilannya, termasuk menegakkan kalimat tauhid yang menjadi landasan ‘aqidah dan ketundukkan serta kepasrahan terhadap Allah semata sebagai identitas semenjak zaman para Nabi terdahulu hingga sekarang ini, bahkan akhir zaman. Oleh karenanya, semata-mata Allah tidak akan bertanya tentang sebuah hasil dari kerja dakwah kita, melainkan Allah bertanya tentang sebuah proses usaha dari amal dakwah kita selama ini. Itulah fungsinya dakwah, karenanya sangatlah wajar apabila seorang Syaikh Muhammad Rasyid Ridha (Ulama pembaharu Mesir) mengatakan: “Lâ Islâma illâ bid da’wah, wa lâ da’wata illâ bil hujjah, wa lâ hujjata ma’a baqâit taqlîd.” Untaian kalimat indah ini, sering kali dipetik oleh bapak-bapak Muslim kita (tokoh-tokoh Masyumi khususnya) yang apabila diartikan kurang lebih seperti ini: “Islam tidak akan berdiri tegak kecuali dengan dakwah, dakwah pun tidak akan berdiri kokoh kecuali dengan hujjah dan hujjah pun akan sia-sia kalau ummatnya masih taqlid ngak mau berubah.”

Lebih dari itu, dalam kondisi apa pun dakwah wajib ditegakkan, bahkan Rasûlullâh menyebut al-amru bil ma’rûf wan nahyu ‘anil munkar dan memberikan kedamaian kepada keluarga (taslîmuka ‘alâ ahlika) sebagai tanda Islamnya seseorang setelah beliau merincikan rukun Islam yang lima (Lihat: Khalid ‘Abdurrahman al-‘Ak, Shafwatul Bayân Li Ma’ânil Qur’ân, 1994: hlm. 64).

Dalam konteks gerakan dakwah, Syaikh ‘Ali ‘Abdul Halim Mahmud (Ulama senior Al-Azhar Mesir) menegaskan: “Al-amru bil ma’ruf dan an-nahyu ‘anil munkar merupakan langkah penting dalam manhaj Islam untuk kehidupan. Manhaj Islam tidak akan tegak kecuali ummat menjadikannya aktivitas pokok dalam gerakannya.” (Lihat: Ma’al ‘Aqîdah wal Harakah wal Manhaj Fî Khairi Ummah Ukhrijat Lin Nâs, 1992: hlm. 167).

Kembali kepada Sîrah Jihad Ibrahim dan keluarga besarnya, perjalanan tauhid tidak lepas dari gangguan gerakan perusak (destruktif, haddâmah) yang menebarkan fitnah melancarkan perang urat syaraf (ghazwul fikri) dengan berbagai strateginya; mulai dari perang ideologi, perang intelektual, perang istilah, perang media, sampai perang identitas yang mampu meluluh lantahkan tatanan ekolisosbudhankam suatu bangsa yang bermartabat sekalipun. Dengan ghazwul fikri, identitas Islam menjadi tidak jelas, maknanya kabur dan bias. Munculnya istilah-istilah dengan pengkotak-kotakkan Islam menjadi bukti hakiki betapa masifnya gerakan ini (di antaranya dimunculkannya benturan Islam Konservatif-Islam Progressif, Islam Puritan-Islam Toleran, Islam Fundamental-Islam Liberal, Islam Radikal-Islam Humanis, Islam Garis Keras-Islam Garis Lembut, Islam Intoleran-Islam Ramah Lingkungan, Islam Madzhab Cinta-Islam Amarah, Islam Tuhan-Islam Manusia dan Islam-Islam lainnya. Dan akhirnya muncullah istilah paling teranyar; “Islam Jalan Tengah” dan “Islam Benang Merah” dengan tafsiran masing-masing kepentingannya.

Hal ini mengingatkan kita akan propaganda berhalaisme (watsaniyyah) yang pernah digulirkan melalui dalang intelektualnya ‘Amr bin Luhay bin Qam’ah bin Khandaf (nenek moyang Bani Khuza’ah) bersama kamerad-kamerad-nya berhasil mengelabui penganut ajaran Ibrahim untuk kembali kepada ajaran jahiliyyah. Komitmen untuk menyebarkan ajaran sesatnya dibuktikan dengan penuh semangat, kerja keras sehingga berhasil membawa berhala hubbal yang diminta dari negeri Syam dan dibawa ke Mekkah untuk dilestarikan sebagai ta’abbudi. Menurut Al-Maraghi menukil Ibnu Jarir dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anh bahwa ‘Amr bin Luhay adalah orang yang pertama kali merusak agama Ismail; menggunting telinga unta dan mengeramatkan kambing atas nama kearifan lokal (local wisdom) tentunya. Karena sikap nativisme-nya itu, maka diperlihatkan pada Rasûlullâh bahwa ‘Amr bin Luhay menyeret perutnya di neraka. (Lihat: Al-Buthy, 1990: 1, hlm. 29. Lihat pula: KH. E. Abdurrahman, Renungan Tarikh, 1993: hlm. 308).

Gerakan mereka mendapatkan dukungan hingga menjadi gerakan mapan (established) yang mampu melibas gerakan hanîf. Banyaknya dukungan itu, tidak sekedar membahayakan secara kwantitas, melainkan secara kwalitas pula sedikit demi sedikit menggeser nilai-nilai ketauhidan penganutnya sehingga terjadilah perubahan (tahrîf) dan percampuran (iltibâs, mixing) ; dari ajaran satu Tuhan (monotheisme) menjadi banyak Tuhan (polytheisme), dari tauhid menjadi syirik dan dari ajaran samawi menjadi ideologi iblis (diabolisme). Dua atau banyak ajaran yang bertolak belakang dipaksa berbaur menjadi satu sehingga terjadinya “satu selera satu rasa.” Itulah sinkretisme ajaran-ajaran, penyatuan agama-agama (wihdatul adyân, pluralisme agama) seperti halnya munculnya fenomena Komunitas Millah Abraham (KOMAR) di negeri ini atau pun Abrahamic Faith di negara-negara Barat.

Para ahli sirah mencatat, bahwa Bani Kinânah dan suku Quraisy sejak dulu telah mempopulerkan talbiyyah jahiliyyah-nya sebagai berikut: “Aku sambut seruanMu ya Allah, aku sambut seruanMu, tiada sekutu kecuali sekutu yang memang (pantas) bagiMu, yang Engkau dan dia miliki …” Setelah talbiyyah ini, mereka membaca talbiyyah yang men-tauhidkanNya dan memasuki ka’bah dengan membawa berhala-berhala mereka. (Lihat: Al-Buthy, 1990: hlm. 31).

Dalam kondisi seperti inilah, sangat diharapkan munculnya tokoh-tokoh kritis seperti pemuda Ibrahim dengan membawakan missi utama untuk kembali ke pangkuan tauhid, yaitu kembali kepada orisinalitas ajaran agama sebagai identitas manusia ber-Tuhan. Oleh karenanya, bentuk perubahan apa pun (Reformation atau Revolution) tanpa dilandasi aqidah yang kuat, cepat atau lambat menjadi hancur dan sia-sia belaka.

Inilah sepenggal kisah sejarah, dialog pemuda Ibrahim dengan ayahandanya Azar yang melibatkan masyarakat dan penguasanya untuk mengajak mereka kembali ke jalan yang benar. Ibrahim berkata kepada ayahanda dan ummatnya: ” … Berhala-berhala apakah ini yang kalian tekun beribadah kepadanya?” Mereka menjawab: “Kami mendapatkan bapak-bapak kami menyembahnya.” Ibrahim berkata: “Sesungguhnya kamu dan nenek moyang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.” Mereka menjawab: “Apakah kamu Ibrahim, datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang yang bermain-main?” Ibrahim berkata: “Sebenarnya, Tuhan kamu adalah Tuhan pencipta langit dan bumi, dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu. Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu setelah kalian pergi meninggalkannya.” Maka Ibrahim pun membuat berhala-berhala itu hancur berkeping-keping, kecuali berhala induknya. Mereka pun mulai bertanya: “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami?, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang aniaya.” Mereka pun menyebutkan: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” Mereka menegaskannya: “Kalau demikian, bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka dapat menyaksikan.” Mereka bertanya: “Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami wahai Ibrahim?” Ibrahim pun menjawab: “Sebenarnya berhala yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.” Mereka telah kembali kepada kesadarannya, lalu berkata: “Sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang menganiaya diri sendiri.” Kemudian kepala mereka tertunduk, lalu berkata: “Sesungguhnya kamu hai Ibrahim telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.” Ibrahim menjawab: “Maka mengapakah kalian menyembah kepada selain Allah, yang sesuatu tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak pula memberi madharat kepada kalian. Celakalah kalian, mengapa kalian menyembah sesuatu selain Allah? Apakah kalian tidak berakal?” Demikianlah Allah paparkan dalam bentangan ayatNya QS. Al-Anbiya/ 21: 52 – 57.

Saudara-saudara kaum Muslimin a’azzakumullâh
Itulah penggalan episode tentang kekritisan pemuda Ibrahim dalam menepis logika-logika sesat dan gagal fikir yang dituduhkan padanya, telah mampu dia jawab dengan cerdas dan ilmiah sehingga membuat murka Raja Namrudz dan jajaran kabinetnya. Kekalahan kekuatan logika Namrudz, tidak berarti sikap arogannya menjadi berkurang. Dengan menyembunyikan rasa malu dia pun mengeluarkan jurus barunya, yaitu “logika kekuatan.” Mereka pun menyeru: ” … Bakarlah dia (Ibrahim), dan bantulah tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar akan melakukan tindakan.”

Sepadan dengan amal jihadnya yang gigih, penuh dengan optimisme, peristiwa aneh kembali terjadi yang mengagetkan orang-orang musyrik itu dan sekaligus membuat mereka semakin geram dikarenakan kobaran api yang diharapkan dapat melumatkan jasadnya tak mampu membakar dan melukai kulitnya, bahkan rambutnya sekalipun. Dengan kekuasaanNya, Yang Maha agung menolong pembela ajaran agamanya dengan cara yang tidak mungkin manusia dapat melakukannya. Allah ‘azza wa jalla menyerukan pada api: “Wahai api, menjadi dinginlah! … dan keselamatan bagi Ibrahim.” (Lihat: QS. Al-Anbiya/ 21: 68 – 69).

Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Lâ Ilâha Illallâh, Wallâhu Akbar, Allâhu Akbar, Walillâhilhamd

Saudara-saudara kaum Muslimin A’azzakumullâh
Di sisi lain, militansi Ibrahim tidak cukup dinilai sosok tegar yang berkobar-kobar, sosok kritis yang berapi-rapi, dia pun seorang sosok yang berair-air, yaitu figur seorang bapak yang dapat membawa kesejukkan, kelembutan serta memberikan nasihat yang bijak sehingga kaderisasi tetap berjalan dan dapat melahirkan generasi-generasi unggulan yang diharapkan melanjutkan estafeta perjuangan dalam menegakkan da’wah ilallâh mengajak manusia ke jalan Islam. (Lihat: QS. Al-Baqarah/ 2: 132).

Keberhasilan dakwahnya, tidak dapat dilepaskan dari dukungan para hawâriyyûn, yakni anak-anaknya sendiri (Ismail dan Ishaq ‘alaihimassalâm) yang mendapatkan sokongan para ibunda mereka Sayyidah Sarah dan Sayyidah Hajar serta anak cucunya yang setia mengibarkan panji tauhid sampai kemunculan Nabi akhir zaman Rasûlullâh Muhammad shalallâhu ‘alaihi wa sallam. (Lihat: QS. Al-Baqarah/ 2: 133 dan Alu ‘Imrân/ 3: 68).

Hal ini merupakan cerminan sebuah Gerakan Da’wah yang baik, adalah gerakan yang mendapatkan dukungan dari dalam dan mengakar dalam pengkaderan sehingga mampu melahirkan kesinambungan gerakan (ittishâlul haraky) yang berjalin dan berkelindan, saling mengisi dan melengkapi demi kokohnya bangunan nubuwwah. Rasûlullâh lshalallâhu ‘alaihi wa sallam menuturkan: “Perumpamaanku dengan para nabi sebelumku laksana seseorang yang tengah membangun sebuah gedung, lalu ia memperindah dan memperelok bangunan tersebut, kecuali satu tempat batu bata di salah satu pojoknya. Ketika orang-orang mengitarinya dengan penuh kagum, mereka pun berkomentar: alangkah indahnya batu bata itu apabila diletakkan pada tempatnya. Akulah batu bata itu dan aku penutup para nabi.” (HR. Bukhâri dan Muslim dalam Musthafa Muhammad ‘Amarah, Jawâhirul Bukhâri wa Syarhul Qasthalâni, hlm. 213).

Kesinambungan itu, merupakan buah yang dipetik dari rangkaian do’a Ibrahim ‘alaihis salâm dalam memohon pada Allah jalla wa ‘alâ agar kiranya Allah jadikan mereka, keluarga dan keturunannya menjadi orang-orang yang berserah diri kepadaNya, serta hidup di bawah aturan dan naungan maghfirahNya. (Lihat: QS. Al-Baqarah/2: 128).

Maka Allah pun mengabulkan permohonannya, berupa diutusnya seorang Rasul yang dapat menjalankan trifungsi kenabian; yakni memaparkan ayat-ayatNya (tilâwah), mengikis nilai-nilai jahiliyyah dengan pensucian jiwa (tazkiyah) dan mengajarkan mereka dengan bimbingan kitabullâh dan hikmah/ sunnah (ta’lîm). (Lihat: QS. Al-Baqarah/2: 129, Alu ‘Imrân/3: 164 dan Al-Jumu’ah/62: 2).

Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Lâ Ilâha Illallâh, Wallâhu Akbar, Allâhu Akbar, Walillâhilhamd

Saudara-saudara kaum Muslimin a’azzakumullâh
Perjuangan Nabiyullâh Ibrahim dan para pengikutnya memberikan dampak yang sangat berarti (atsar) bagi jalan juang berikutnya, di mana Rasûlullâh shalallâhu ‘alaihi wa sallam dengan penuh kesungguhan pula telah menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya dan mampu mengembalikan kevacuman ‘aqidah kepada pangkuan ajaran yang hanîf, yakni Al-Islâm, karena pada dasarnya agama para nabi terdahulu adalah sama. Itulah rahasianya, mengapa Alloh jalla wa ‘alâ menyebut para penganutnya dengan sebutan Al-Muslimîn dan sangat mewanti-wantikan agar kita tidak mengakhiri hidup ini, melainkan dalam keadaan berserah diri. Falâ tamûtunna illâ wa antum muslimûn (Lihat: QS. Al-Hajj/22: 78 dan Al-Baqarah/2: 132). Bahkan penamaan ini, menurut para mufassir telah tercamtum dalam kitab-kitab sebelum Al-Qur’an. (Marwan Suwâr, Mukhtashar at-Thabary, 1991: hlm. 341).

Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Lâ Ilâha Illallâh, Wallâhu Akbar, Allâhu Akbar, Walillâhilhamd

Saudara-saudara kaum Muslimin a’azzakumullâh
Dengan melihat kembali kepada bentangan ayat-ayat sejarah, juga diingatkan kembali dengan peristiwa demi peristiwa bulan mulia Dzulhijjah, semoga Allah yang Maha gagah dan Maha perkasa semakin mengokohkan iman kita untuk diberikan kemampuan meluruskan dan meneguhkan hati kita dalam memegang teguh agamaNya, serta diberikan kemampuan untuk mengambil keteladanan sierah jihad Ibrahim dalam rangka merefleksikan kemenangan ‘aqidah dan mempertegas kembali identitas ke-Islaman kita. Âmîn …
_____________

Penulis adalah: Anggota Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam (Komisi ‘Aqidah), Anggota Fatwa MIUMI Pusat (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris KDK MUI Pusat, Ketua Bidang Ghazwul Fikri & Harakah Haddâmah Pusat Kajian Dewan Da’wah dan Ketua Prodi KPI STAI Persatuan Islam Jakarta

Print Friendly, PDF & Email

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*