AROMA “TALBÎS IBLÎS” DALAM PEMIKIRAN KAUM DIABOLIS (Tanggapan Santri Terhadap Prahara Intelektual Kita)

AROMA “TALBÎS IBLÎS” DALAM PEMIKIRAN KAUM DIABOLIS (Tanggapan Santri Terhadap Prahara Intelektual Kita)
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Pandangan seseorang sangat ditentukan oleh cara berfikirnya, dan cara berfikir seseorang sangat ditentukan oleh akalnya. Karenanya, suatu pandangan akan benar apabila cara berfikirnya benar, dan cara berfikir yang benar sangat ditentukan oleh sehat dan selamatnya akal orang tersebut. Demikian pula dengan pandangan yang keliru, sangat dipengaruhi cara berfikirnya yang salah, dan cara berfikir yang salah sangat dipengaruhi oleh akalnya yang rusak. Sehat, selamat dan rusaknya akal seseorang sangat ditentukan oleh sejauhmana kepatuhan dan ketundukkannya pada wahyu Allah ‘azza wa jalla.

Ungkapan tersebut, sudah diisyaratkan para ahli ilmu terdahulu (semisal Ibnu Qayyim dalam I’lâmul Muwaqqi’în), di mana kaitan sebuah pandangan, cara berfikir, kepatuhan akal kepada wahyu merupakan syarat muthlaq untuk menjadi intelektual “garis lurus.” Yakni para ilmuwan atau akademisi yang tidak kehilangan tanggung jawabnya dalam memelihara ajaran agamanya.

Dr. Hassan Hijâzy memberikan komentar menarik terkait hal ini: “Maha Suci Allah Dzat yang telah memakaikan kepada manusia semua baju kemuliaan; akal, ilmu, bayân dan lisan. Akan tetapi nikmat akal ini tidak akan tampak nilai dan fungsinya kecuali jika difungsikan oleh manusia sebagai sarana untuk menghadirkan kebaikan, baik kebahagiaan yang langgeng bagi diri dan masyarakatnya, dan merenungkan sesuatu yang diridhai Allah Ta’âlâ.” Ibnu Qayyim menuturkan: “Akal yang berfungsi dengan sempurna adalah yang mampu mengantarkan pemiliknya kepada ridha Allah Ta’âlâ, kemudian ridha rasulNya.” (Lihat: Al-Fikrut Tarbawy ‘inda Ibnil Qayyim, 1988: hlm. 255)

‘Abdul ‘Azîz bin ‘Abdillah Ahmad menguatkan: “Berfikir dapat menuntun seseorang kepada iman, tidak seperti amalan semata. Sebab, melalui berfikir seseorang dapat mengetahui esensi segala sesuatu serta dapat membedakan tingkatan kebaikan dan keburukan; mengetahui yang utama dari yang tidak utama, yang terburuk dari yang buruk, faktor-faktor penyebab yang menuntun kepadanya dan yang bertolak dengannya, mencegah resiko buruk yang akan muncul, membedakan antara yang patut dilakukan dengan yang tidak patut dilakukan. Intinya, esensi ketaatan adalah berfikir dan dasar segala bentuk pelanggaran pun muncul dari berfikir.” (Lihat: At-Tharîq ilâ as-Shihhah an-Nafsiyyah ‘inda Ibnil Qayyim al-Jauziyyah, 2006: hlm. 116-117)

Ketika para intelektual gagal menyambungkan ketundukkannya pada wahyu, dan akhirnya terlena dan terpedaya dalam buaian ghurûr (hiasan dunia yang menipu; merasa hebat, merasa ilmiah sekalipun bertentangan dengan syari’ah, dan lain-lain), sungguh “bencana keilmuan” telah melandanya. Abu Abdillâh Muhammad Ruslan membagi kelompok ini menjadi beberapa golongan:

Pertama; Golongan yang menguasai ilmu-ilmu syari’at dan logika, namun mereka tidak memperdulikan dirinya terpelihara dari pelanggaran.
Kedua; Golongan yang menguasai ilmu dan mengamalkan amalan lahir, namun tidak memperdulikan amalan batin (seperti halnya sombong, hasad, riya, mencari kedudukkan dan popularitas).
Ketiga; Golongan yang mengetahui tercelanya akhlaq batin, namun dirinya beranggapan terbebas dari sifat-sifat itu.
Keempat; Golongan yang menguasai ilmu dengan baik, bersih dari keburukkan dan menghiasinya dengan amal shalih, namun tidak terlepas dari tipu daya syaitan dan nafsu yang tidak mereka fahami. (Lihat: Afâtul ‘Ilmi, 2004: hlm. 170-174).

Sudah banyak lintasan peristiwa bencana dalam dunia intelektual kita; mulai dari pemaknaan Lâ ilâha illallâh yang dimaknai “tidak ada tuhan (t kecil) kecuali Tuhan (T besar)”, memaknai “ahlul kitâb” dan “kalimatun sawâ” secara bebas, makna millah Ibrahim dan al-hanîfiyyah as-samhah, rukun iman cukup lima (tidak termasuk iman pada taqdir), menggugat fiqih Islam dengan fiqih tandingan “Fiqih Lintas Agama” secara liar, ayat dan hadits yang dinilai bias gender, studi kritik ayat-ayat pluralisme, gagasan pesantren kaum pluralis, pentingnya merubah makna kata “kafir” dalam Al-Qur’an, hingga kehebohan hari ini terkait “milkul yamîn” dan tentu masih banyak lagi kreasi dan inovasi destruktif (fâsidah, hâlikah, munharifah dan dhâllah) lainnya.

Menarik untuk dicermati pandangan Dr. Syamsuddin Arif, apabila model berfikir seperti ini terus dikembangkan, “maka dapat menimbulkan kerusakan ilmu yang mengakibatkan kebodohan (ignorance) terhadap ilmu agama dan menyebabkan kekacauan dalam memahami ilmu-ilmu agama (confusion) yang disebutnya sebagai “kangker epistemologis” di mana kangker jenis ini telah melumpuhkan kemampuan menilai (critical power) serta mengakibatkan kegagalan akal (intellectual failure). Pada gilirannya, penyakit ini akan menggerogoti keyakinan dan keimanan, yang akhirnya menyebabkan kekufuran.” (Lihat: Orientalis & Diabolisme Pemikiran, 2008: hlm. 140).

Dengan penolakkan dan pengingkaran kebenaran semacam itu, memiliki kesamaan dengan pola yang dimainkan iblis sebagaimana tertuang dalam QS. Al-Baqarah/ 2 : 34 berupa “pembangkangan” terhadap Rabbul ‘âlamîn untuk tidak mau sujud pada Adam ‘alaihis salâm dan sikap “perlawanan” terhadap perintahNya sebagaimana tertuang dalam QS. Al-Kahfi/ 18: 50.

Imam Jamâluddin Abil Faraj ‘Abdurrahman bin al-Jauzy (w. 597 H.), ulama klasik yang mendalami masalah ini menyebutnya dengan “perangkap syaitan” atau “belitan iblis.” Menurutnya, ada banyak jebakan dan perangkap yang dilakukan syaitan dalam “menggerayangi” alam fikiran seseorang; mulai dari perangkap terhadap orang awam hingga orang ahli ibadah, perangkap terhadap terhadap ahli agama hingga orang zuhud, perangkap terhadap orang awam biasa hingga penguasa, perangkap terhadap kaum shufi hingga para filosof dan perangkap-perangkap lainnya. Demikian dijelaskannya dalam kitab Talbîs Iblîs, Tahqîq Dr. Ahmad Hijâzy as-Saqa. Adapun Imam Abi Abdillâh Syamsuddîn Ibn Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H.) menorehkan goresan kritiknya pada kitab Ighâtsatul Lahfân min Mashâid as-Syaithân dan Dzammul Muwaswisîn wa at-Tahdzîru minal Waswasah.

Dengan berubahnya pemikiran, watak, perilaku dan pengabdian seseorang pada syaitan [A. Jeffery menyebut iblis dengan diabolos dalam bahasa Yunani kuno], maka pemikiran seperti ini lebih layak disebut diabolisme (Lihat: Adian Husaini, Islam Liberal, Pluralisme Agama & Diabolisme Intelektual, 2005: hlm. 101).

Untuk lebih selamatnya alam fikiran Islam, seyogianya para Guru Besar, para Dosen, para Doktor (dakâtir), Mahasiswa dan kaum “terpelajar” lainnya berbenah diri menuju pemikiran Islami dan berhenti dari berbagai “kenakalan intelektual” yang kerap kali menodai agama. Ajakan ini pernah diserukan seorang kader Dr. Mohammad Natsir Allâhu yarham Ahmad Husnan (tokoh Dewan Da’wah Jawa Tengah, Da’i Râbithah al-‘âlam al-Islâmy sejak 1977) dalam mengkritisi pemikiran Nurcholis Madjid, Harun Nasution, Munawwir Sadjali, Dawam Raharjo, Muhammad Ircham Sutarto, Jalaluddin Rachmat dan Abdurrahman Wahid. Hal ini dapat dibaca dalam tiga kitabnya yang sangat menarik. (Lihat: Berbenah Diri Menuju Pemikiran Islami [1991], Ilmiah Intelektual Dalam Sorotan [1993] dan Meluruskan Pemikiran Pakar Muslim [2005]).

Kepada Allah ‘azza wa jalla jualah kita berserah diri dan mohon lindunganNya. Semoga kita dan dzurriyyah kita tetap terjaga dan terpelihara dalam berpegang teguh pada ajaran agama yang lurus. Allâhumma faqqihnâ fid dîn … Rabbanâ tsabbit qulûbanâ ‘alâ dînik … Âmîn yâ Rabbal ‘Âlamîn
____

✍ Disajikan sebagai bahan mubâhatsah dalam Madrasah Ghazwul Fikri Pusat Kajian Dewan Da’wah di Gedung Menara Da’wah Lt. 6 Kramat Raya Jakarta Pusat.

Print Friendly, PDF & Email

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*