Rabu, Desember 11News That Matters

Bulan: Oktober 2019

MENEMBUS ASA MENGGAPAI CITA (Hadiah Terindah Bagi yang Merasa Muda)

MENEMBUS ASA MENGGAPAI CITA (Hadiah Terindah Bagi yang Merasa Muda)

Hikmah
MENEMBUS ASA MENGGAPAI CITA (Hadiah Terindah Bagi yang Merasa Muda) Oleh: Teten Romly Qomaruddien Semua kita tentu merasakan, usia muda adalah usia yang penuh dengan "cita rasa" kehidupan; harapan membentang, semangat menggelora, cita-cita menjulang dan lainnya. Menimba pengalaman dari sejarah, berbagai keberhasilan sebuah perjuangan tidak lepas dari keterlibatan para pemudanya. Dengan hadirnya tanggal 28 Oktober sebagai hari "Sumpah Pemuda" maka seyogianya yang harus kita ambil hikmah adalah semangat pengorbanan sebagai pelajaran berharga dari sosok-sosok pemuda zaman, terutama tokoh-tokoh muda Muslim berdikasi tinggi dalam khidmat mereka untuk agama dan bangsanya. Agar semangat tidak mudah pudar, asa dan harap senantiasa senyawa dalam jiwa, hendaknya generasi kini menyelami ka...
MENANTI GENERASI ULAMA YANG ILMUWAN (Kado Spesial di Hari Santri Nasional)

MENANTI GENERASI ULAMA YANG ILMUWAN (Kado Spesial di Hari Santri Nasional)

Tarbiyah, Uncategorized
MENANTI GENERASI ULAMA YANG ILMUWAN (Kado Spesial di Hari Santri Nasional) Oleh: Teten Romly Qomaruddien Pada dasarnya, tidak ada alasan untuk membeda-bedakan antara ulama dan ilmuwan. Karena secara substantif, kedua istilah tersebut sama-sama menyebutkan tentang seseorang atau lebih yang menaruh perhatian terhadap dunia ilmu. Kesungguhan keduanya dalam menyingkap tabir ilmu pengetahuan, memiliki nilai yang sama. Adapun yang membedakan keduanya adalah dalam pengambilan sumber ilmu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan pandangannya, bahwa sumber ilmu itu dibagi menjadi dua bagian; ilmu yang dibatasi sumber pengambilannya (muhaddad) dan ilmu yang tidak dibatasi sumber pengambilannya (ghairu muhaddad). Yang pertama, hanya bersumber dari Al-Qur’an dan as-Sunnah. Sedangkan yang kedua
MEMAKNAI FANATISME BERAGAMA

MEMAKNAI FANATISME BERAGAMA

Aqidah, Manhaj
MEMAKNAI FANATISME BERAGAMA Oleh: Teten Romly Qomaruddien Membaca liputan Beritaislam.org (8 Oktober 2019) di mana Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, agama hadir untuk memanusiakan manusia dan menjaga harkat martabat manusia. Namun, kata Menag, agama dapat melahirkan fanatisme yang berlebihan jika tidak dibarengi dengan pemahaman agama yang baik. “Nah, dari fanatisme ini dapat melahirkan sikap ekstremisme,” kata Lukman dalam diskusi dan peluncuran buku "Moderasi Beragama" di kantor Kemenag, Jakarta Pusat, Selasa (8/10). Pernyataan tersebut, mengingatkan penulis pada kumpulan tulisan yang disebut-sebut M. Dawam Rahardjo sebagai Nurcholish Madjid Memorial (dalam Pengantar). Tulisan yang terdiri dari 24 artikel itu, berkenaan dengan bahasan Islam peradaban, fanatisisme d
MEMAKNAI AMANAH ILMIAH DALAM BUDAYA LITERASI ISLAM

MEMAKNAI AMANAH ILMIAH DALAM BUDAYA LITERASI ISLAM

Uncategorized
MEMAKNAI AMANAH ILMIAH DALAM BUDAYA LITERASI ISLAM Oleh: Teten Romly Qomaruddien Ranah ilmiah, tidak dapat diintervensi oleh lembaga mana pun, termasuk lembaga keagamaan sekalipun. Reaksi semacam ini sebenarnya sudah lama disuarakan dalam berbagai sikap penolakkan dalam berbagai kasus "bencana keilmuan" sebelumnya di berbagai Perguruan Tinggi. Kasus disertasi UIN Jogjakarta yang mendapatkan teguran MUI Pusat menjadi salah satu contoh paling anyar. Dengan alasan, bahwa kampus memiliki otoritas keilmuan yang mandiri, maka lembaga tempat berhimpunnya ulama dan zu'ama pun tidak dibenarkan mengecamnya. Secara akademik, asal metodologinya benar, riset tidak bisa dikecam, mau riset topik apapun sah. Demikian, komentar-komentar yang berkembang di media yang balik menyalahkan MUI. Bahkan ti...
MULHIDÛN DAN DAHRIYYÛN; AKAR IDEOLOGI KAUM ANTI TUHAN

MULHIDÛN DAN DAHRIYYÛN; AKAR IDEOLOGI KAUM ANTI TUHAN

Aqidah
MULHIDÛN DAN DAHRIYYÛN; AKAR IDEOLOGI KAUM ANTI TUHAN Oleh: Teten Romly Qomaruddien Pertanyaan besar yang sering muncul di tengah-tengah kita, mengapa manusia bisa membelot dari jalan Tuhan? Bila dikatakan sebabnya karena kurang pengetahuan agama, bukankah belakangan gelombang demikian banyak diteriakkan oleh orang-orang yang mengaku beragama. Bila dikatakan karena kurangnya ilmu, justeru belakangan paham ini banyak didukung kalangan orang yang memiliki ilmu. Semua itu tentunya, tidak dapat dilepaskan dari cara pandang seseorang terhadap sesuatu yang wajib dipahaminya. Mengapa manusia ada, siapa yang mengadakan. Mengapa alam dicipta, siapa yang mencipta dan untuk apa diciptakan. Lalu apa kewajiban manusia bagi Penciptanya, kewajiban sesama manusia dan bagaimana memperlakukan alam aga

This site is protected by wp-copyrightpro.com