Sabtu, Januari 18MAU INSTITUTE

SILABUS TERPADU DAKWAH KAMPUS; IKHTIAR MERAWAT SEMANGAT BINÂAN DAN DIFÂAN

SILABUS TERPADU DA’WAH KAMPUS; IKHTIAR MERAWAT SEMANGAT BINÂAN DAN DIFÂAN
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Definisi Universal Da’wah

Sebagaimana tertuang dalam buku Fiqhud Da’wah, secara universal Allâhu yarham Mohammad Natsir mendefinisikan da’wah sebagai berikut: “Da’wah merupakan satu kewajiban yang harus dipikul oleh setiap Muslim dan Muslimah dalam arti al-amru bil ma’rûf wan nahyu ‘anil munkar.” (M. Natsir, Fiqhud Da’wah, Jakarta: Sinar Media Abadi, 2017, cet. XIV, hlm. 121)

Dalam definisi yang lebih lengkap, “Da’wah pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengubah seseorang, sekelompok atau suatu masyarakat menuju keadaan yang lebih baik, sesuai dengan perintah Allah SWT dan tuntunan RasulNya. Da’wah terhadap ummat Islam Indonesia, adalah segala upaya untuk mengubah posisi, situasi dan kondisi ummat menuju keadaan yang lebih baik, agar terpenuhi perintahNya untuk menjadi ummatan wasathan yang merupakan rahmatan lil ‘âlamîn.” (Lihat: Khittah Da’wah Islam Indonesia, Jakarta: Sinar Media Abadi, Cet. IV, hlm. 01 )

Inilah yang mengilhami bahwa pemetaan da’wah, tidak lepas dari dua pendekatan; yakni da’wah binâan [membangun dan membina], juga da’wah difâan [menangkal dan membela].

Dari Da’wah Politik Ke Politik Da’wah

Sekalipun kendaraan politik Masyumi sudah tidak dapat dijalankan, namun ruhnya harus tetap menyala dan mesin da’wah harus terus berjalan. Sebagai babak lanjut perjuangan dan transformasi da’wah, maka pada tanggal 26 Februari 1967, Allâhu yarham Mohammad Natsir bersama sahabat-sahabat yang terdiri dari tokoh-tokoh ummat pendukung Masyumi mendirikan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia. Sejak itu pula populer istilah “Dulu kita berda’wah melalui jalur politik, sekarang kita berpolitik melalui jalur da’wah.”

 

Era perjuangan da’wah tahun 1980an, tantangan da’wah pun mulai dihadapkan dengan “tantangan struktural” yang lebih pada upaya “peminggiran” Islam seiring dengan berdirinya Central Strategy For Indonesia Studies [CSIS]. Terlebih-lebih dicanangkannya “Akselerasi Modernisasi 25 Tahun” yang banyak mendompleng Master Plan Pembangunan Bangsa [MPB]. Oleh karenanya, lahirnya Khittah Da’wah Islam Indonesia menjadi sangat tepat untuk menjadi penyeimbang sebagai strategi keummatan. Para tokoh ummat menyebutnya dengan Master Plan Pembangunan Ummat (MPBU) atau dikenal dengan sebutan “Buku Hijau.” (Lihat: Amlir Syaifa Yasin, Khittah Da’wah Master Plan Pembangunan Ummat [Makalah]: 2014)

Qadhaya Ummat yang Wajib Dijawab

Ada banyak aspek yang menjadi tantangan da’wah yang wajib dihadapi, di mana tantangan-tantangan tersebut menuntut harus segera diurai dan diejawantahkan dalam program-program konkret keummatan.

Beberapa aspek yang dimaksud, adalah sebagai berikut:

1. Aspek Sosial-Budaya; Maraknya sekularisme, materialisme dan nativisme.
2. Aspek Pendidikan; Adanya pandangan dikotomik terhadap ilmu.
3. Aspek Da’wah dan Informasi;Terjadinya fenomena rekayasa sosial, penggiringan opini dan perang media.
4. Aspek Pengembangan Jamâah dan Ukhuwwah; Belum optimalnya fungsi jam’iyyah sebagai kekuatan jamaah yang mampu merakit, merekat dan meroketkan ummat.
5. Aspek Sosial-Politik; Adanya penurunan peranan politik Islam dan terjadinya rekayasa politik yang datang dari luar.
6. Aspek Ekonomi; Minimnya penguasaan terhadap ekonomi kuat yang tidak sebanding dengan mayoritas ummat Islam.
7. Aspek Ilmu dan Teknologi: Belum optimalnya Islamisasi ilmu yang mengakibatkan munculnya gelombang rasionalisme, di mana ilmu dan teknologi seolah menjadi/ sebagai “Tuhan.”

Dari aspek-aspek inilah, gerakan penyelamatan ummat harus dilakukan dengan mengacu pada pedoman da’wah yang disebut Khittah Da’wah Islam Indonesia [KDII]. (Lihat: Khittah Da’wah, 2015: hlm. 53-60)

Tiga Pilar Da’wah dan Benteng Ummat

Untuk melakukan antisipasi terhadap berbagai kerusakan, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Adapun yang dilakukan Allâhu yarham Mohammad Natsir, lebih ditujukan kepada bagaimana memaksimalkan dan mengoptimalkan peran apa yang disebut “tiga benteng ummat” sebagai pilar strategis da’wah.

Tiga pilar yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Masjid; Sebagai institusi pendidikan, pembinaan dan markaz peradaban yang menyeluruh, di mana dari tempat ini diharapkan dapat melahirkan masyarakat terdidik dan pembelajar.
2. Pesantren; Diharapkan menjadi tempat persemaian untuk melahirkan kader-kader ulama yang mutafaqqih fid dîn.
3. Kampus; Diharapkan menjadi tempat lahirnya kader-kader ummat berbakat, insan ûlul albâb yang bertanggung jawab atas ilmu dan agamanya.

Amal Da’wah Tiga Pilar yang Progresif dan Elegan

Berbekal pendekatan semangat da’wah yang mampu menyapa, menata dan membela hingga mampu berlabuh di hati ummat. Amal da’wah tiga pilar, dirasakan betul hasilnya dari sebuah ikhtiar perjuangan yang panjang.

1. Lahirnya aktivis-aktivis Masjid [baik Masjid umum atau pun Masjid kampus]. Berdirinya Ikatan Keluarga Masjid Indonesia [IKMI] bersama tokoh-tokohnya merupakan salah satu contohnya dalam mengorganisir keluarga Masjid.

2. Adanya shilaturrahim dan sinergi da’wah antar Pesantren se-Indonesia, guna saling tukar fikiran dan informasi diinisiasi dengan lahirnya Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia [BKsPPI] bersama tokoh-tokohnya.

3. Rekruitmen du’ât kampus yang bertebaran di seantero jagat kampus tanah air; ITB, IPB, UNPAD, UNISBA, IKIP, UI, UNAIR, UNHAS, UIKA dan kampus-kampus lainnya [baik kampus Negeri atau pun kampus Swasta], telah melahirkan sejumlah tokoh militan dan progresif yang memainkan ritme da’wah secara harmoni dan elegan.

4. Pengiriman duta-duta da’wah ke seluruh pelosok tanah air terus digalakkan secara masif, bahkan untuk lebih banyak mengkader para dâ’i pernah menjelma menjadi lembaga-lembaga persemaian aktivis da’wah; mulai dari Akademi Da’wah dan Bahasa Arab [ADAB], Akademi Bahasa Arab [AKBAR] hingga Lembaga Pendidikan Da’wah Islam [LPDI]. Dan kini sudah berdiri berupa perkuliahan Strata 1 bernama Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah Mohammad Natsir [STID] dengan turunannya berupa Diploma 2 Da’wah di tingkat daerah, bernama Akademi Da’wah Indonesia [ADI].

5. Pengkajian terhadap pemikiran dan riset da’wah masih tetap ditekuni, di mana menghadang arus ghazwul fikri dan menangkal lajunya gerakan-gerakan destruktif (al-harakâh al-haddâmâh) masih digelutinya. Perhatian Allâhu yarham Mohammad Natsir sangatlah tinggi dalam dunia riset, maka berdirinya Lembaga Islam untuk Penelitian dan Pengembangan Masyarakat [LIPPM] menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam da’wahnya.

6. Pengiriman pelajar ke negeri-negeri Muslim, termasuk mendorong pemerintahan KSA untuk membuka cabang Jâmi’ah Imam Su’ud [LIPIA] di Jakarta, di mana sebelumnya bernama Lembaga Pendidikan Bahasa Arab [LPBA] dan kerjasama-kerjasama antar negara masih dijalinnya. (Dari bincang kader bersama Al-Ustâdz Abdul Wahid Alwi)

7. Demikian pula tentang perhatiannya dalam solidaritas dunia Islam dan berbagai isu kemanusiaan. Berdirinya Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam [KISDI] menjadi program yang tidak terlewatkan.

Tentu, masih banyak lagi amal-amal da’wah lainnya yang tidak dapat dituangkan dalam ruang singkat ini. Yang jelas, ciri-ciri berikut ini; pengawal aqidah, penegak syari’ah, perekat ukhuwwah, pendukung keutuhan NKRI dan pendukung solidaritas Islam dan dunia Islam menjadi karakter yang melekat dalam gerakan da’wahnya lembaga ini. (Lihat: Anggaran Rumah Tangga Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia BAB IV, Pasal 11 [perubahan], 2019: 15)

Ikhtiar Mewujudkan Silabus Da’wah Kampus

Dalam konteks kekinian, membangun da’wah sinergis “Tiga Pilar; Masjid, Pesantren dan Kampus” [MPK] ini, memerlukan pengawalan dan perawatan yang paripurna. Di antara yang tiga ini, adalah pentingnya kembali “menggairahkan” suasana da’wah kampus, di mana kehadiran tunas-tunas da’wah dan tarbiyah yang bertauhid sangat dinantikan dari sarang intelektual ini.

Meretas jalan sejarah untuk menjawab tantangan zaman dan membentengi ummat [termasuk insan kampus] dari berbagai kemungkaran berfikir, merupakan hal yang niscaya untuk dilakukan. Maka hadirnya tema-tema terpadu dalam mewujudkan silabus da’wah kampus dapat dijadikan acuan komprehensif. Adapun alternatif di antara tema-tema dimaksud, dapat dilihat pada klasifikasi rumpun-rumpun keilmuan sebagai berikut:

A. Rumpun Kuliah Filsafat Ilmu
1. Hubungan Agama, Ilmu dan Filsafat
2. Kebenaran dan Akal Merdeka
3. Terapi Intelektual Salaf-Khalaf dalam Membendung Kemungkaran Berfikir
4. Talbis Iblis dalam Pemikiran Kaum Diabolis
5. Amanah Ilmiah dalam Budaya Literasi Islam
6. Menyingkap Mu’jizat Ilmiah Al-Qur’ân dan As-Sunnah
7. Menanti Generasi Ulama yang Ilmuwan
8. Dan lain-lain

B. Rumpun Kuliah ‘Aqîdah
1. Al-Ushûlus Tsalâtsah; Tiga Inti Ajaran Islam
2. Al-Ushûlus Sittah; Enam Pokok Keimanan
3. Al-Ushûlul Khamsah; Lima Dasar Ke-Islaman
4. Fenomena Syirik; Dulu dan Kini
5. Risâlah Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah; Menyingkap Makna Meluruskan Istilah
6. Mendamaikan Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah di Indonesia
7. Kuliah ‘Aqîdah dan Manhaj; Menuju Tauhid yang Menggerakkan
8. Dan lain-lain

C. Rumpun Kuliah Syarî’ah
1. Memahami Syarî’ah, Fiqih dan Qanûn
2. Keluasan dan Keluwesan Hukum Islam
3. Adab Ikhtilâf dalam Islam
4. Ijtihâd Ahli Ilmu dari Masa ke Masa
5. Thuruqul Istinbâth; Metodologi Para Ulama dalam Menyimpulkan Hukum
6. Menuju Fiqih yang Mencerahkan
7. Tathbîq Syarî’ah dari Masa ke Masa
8. Dan lain-lain

D. Rumpun Kuliah Da’wah
1. Memaknai Da’wah Ilallâh
2. Metode Da’wah; Antara Fiqih Dalil dan Fiqih Realita
3. Mewujudkan Masyarakat Da’wah
4. Menuju Kesatuan Gerakan Da’wah
5. Menjemput Kemenangan Da’wah
6. Menyegarkan Khittah Da’wah Islam Indonesia
7. Arah Baru Gerakan Da’wah
8. Dan lain-lain

E. Rumpun Kuliah Tarbiyah
1. Amanah Agung Itu Kewajiban Beragama
2. Memelihara Fithrah; Amanah Asasi Pendidikan Islam
3. Tafaqquh fid Dîn dalam Berbagai Perspektif
4. Menggagas Pendidikan Integral
5. Pendidikan Nilai dalam Perspektif Islam
6. Mewaspadai Sekularisasi Pendidikan
7. Islamisasi Ilmu Pengetahuan
8. Dan lain-lain

F. Rumpun Kuliah Studi Agama-agama
1. Menafsir Makna Ad-Dîn dan Al-Millah
2. Ad-Dînus Samawi Huwal Islâm
3. Pandangan Ulama Mu’tabar tentang Agama-agama dan Sekte-sekte
4. Memahami Kristologi dan Missiologi
5. Abrahamic Faiths dalam Sorotan
6. Antara UU No. 1 PNPS Tahun 1965 (tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/ atau Penodaan Agama) dengan Sepuluh Pedoman Identifikasi Majlis Ulama Indonesia terkait Ajaran Menyimpang
7. Menyegarkan Kembali Pencarian Modus Vivendi antar Ummat Beragama
8. Dan lain-lain

G. Rumpun Kuliah Isu-isu Gender
1. Perbedaan Pria dan Wanita dalam Perspektif Islam
2. Wanita Utama dalam Sejarah
3. Meneladani Sosok Para Shahabiyat
4. Pentingnya Belajar Fiqhun Nisâ
5. Geliat LGBT dan Proxy War terhadap Bangsa
6. Gerakan Emansipasi dalam Sorotan
7. Mewaspadai Gerakan Feminis Liberal
8. Dan lain-lain

H. Rumpun Kuliah Metodologi Studi Islam
1. Islam dan Ideologi
2. Antara Kebudayaan dan Peradaban Islam
3. Islam antara Timur dan Barat
4. Mendudukkan Demokrasi
5. Metode Berfikir Islami
6. Pembaharuan Islam; Antara Puritanisme dan Moderatisme
7. Menuju Metodologi Studi Islam yang berbasis Tauhid
8. Dan lain-lain

I. Rumpun Kuliah Ghazwul Fikri
1. Akar Sejarah Sekte-sekte Induk Keagamaan dalam Islam
2. Fenomena Maraknya Aliran Menyimpang dan Gerakan Destruktif di Indonesia
3. Islam di Antara Kekuatan Imperium Romawi dan Persia Modern
4. Gerakan Orientalisme dalam Sorotan
5. Menyoal Rasionalisme dan Mistisisme
6. Bahaya Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme
7. Mewaspadai Gerakan Islamofobia dan Konspirasi Global
8. Dari Madrasah Ghazwul Fikri untuk Ummat

J. Rumpun Kuliah Pentakrifan Tokoh
1. Fiqih Persatuan Ummat dan Bangsa; Belajar dari Mosi Integral Mohammad Natsir
2. Islam Mengharamkan Ajaran Komunisme; Pandangan Ideologis Seorang KH. M. Isa Anshori
3. Islam untuk Disiplin Ilmu; Percikan Pemikiran Seorang Prof. Dr. H.M. Rasjidi
4. Memaknai Keadilan Hukum; Pandangan seorang Pendekar Hukum Dr. H. Anwar Harjono, SH.
5. Qaidah Al-Amru bil Ma’rûf wan Nahyu ‘anil Munkar; Pandangan seorang Muballigh KH. Moh. Rusyad Nurdin
6. Menggagas Fiqih ‘Askari; Pandangan Patriotik seorang KH. Sholeh Iskandar
7. Mengenal Lebih Dekat dengan Tokoh-tokoh Gerakan Da’wah Islam
8. Dan lain-lain

K. Rumpun Kuliah Kebangsaan dan Isu-isu Global
1. Sejarah Perjuangan Islam dan Kemerdekaan Bangsa Indonesia
2. Fiqih Kebinekaan; Dari Piagam Madinah hingga Piagam Jakarta
3. Islam dan Pancasila; Mengokohkan ke-Islaman Merawat Tenun Kebangsaan
4. Pengentasan Kemiskinan dan Jihad Melawan Korupsi
5. Gerakan Ekonomi Ummat; Dari Ekonomi Syari’ah hingga Wisata Halal
6. Deklarasi Islam tentang Perubahan Iklim Global
7. Menuju Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafûr
8. Dan lain-lain

Demikianlah goresan ini dibuat, dalam rangka turut andil melengkapi berkas tugas Pusat Kajian Dewan Da’wah dalam perhelatan ilmiah berupa Simposium Nasional tentang “Peran Masjid, Pesantren dan Kampus (MPK) sebagai Pilar Strategis Da’wah Islam di Indonesia” yang rencananya akan digelar di kampus UII Jogjakarta.

Semoga Rabbul ‘Âlamîn senantiasa memberikan curahan rahmat dan berkahNya pada setiap langkah da’wah yang kita lakukan. Walladzîna jâhadû fînâ lanahdiyannahum subulanâ … Qif dûna ra’yika fil hayâti mujâhidan Innal hayâta ‘aqîdatun wa jihâdun.

____

*) Makalah ini disajikan oleh Ketua Bidang Ghazwul Fikri dan Harakah Haddâmah Pusat Kajian Dewan Da’wah dalam Forum Group Discussion Majlis Fatwa dan Pusat Kajian Dewan Da’wah (MAFATIHA) di Menara Da’wah Kramat Raya 45 Jakarta
Pusat

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com