Senin, Februari 24MAU INSTITUTE

“BERMIMPI” MEMBANGUN PERADABAN (Suara Milenial untuk Kaum Milenial)

“BERMIMPI” MEMBANGUN PERADABAN (Suara Milenial untuk Kaum Milenial)
Oleh:
Yazied T. Ahmad RQ.

Bukankah dalam sejarah dunia, negeri ini termasuk belum banyak ambil bagian bagi kemajuan yang besar? Ini artinya, sudah saatnya kita berpikir, mampukah kita (sebagai generasi milenial) berperan untuk turut serta membangun peradaban yang lebih baik dan jauh menatap ke depan.

Membangun Istana Peradaban

“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Demikian Bung Karno bertutur … Lalu, Apa itu Pemuda?

Pernah kutelusuri, adakah kata “remaja” dalam istilah agama (Islam)? Ternyata, jawabannya tidak, yang ada adalah “dewasa”. Bukankah ‘aqil dan baligh menandai batas sempurna antara seorang anak yang belum ditulis amal dosanya dengan orang dewasa yang punya tanggungjawab terhadap perintah dan larangan, juga wajib, mubah dan haram? Batas itu tidak memberi waktu peralihan, apalagi berlama-lama dengan manisnya istilah remaja.

Begitu “penanda” baligh muncul, maka dia bertanggung jawab penuh atas segala perbuatannya, kesalehannya berpahala, amal salahnya berdosa. Jadi, pemuda adalah ketika masa menjadi seorang anak telah berakhir dengan ditandai baligh tadi.

Sudah banyak pemuda yang bergerak membangun dari zaman kenabian dan perjuangan dalam bentangan sejarah Islam, hingga era abad 19 ketika Nusantara ini berusaha meraih identitasnya sebagai sebuah bangsa yang berdaulat. Di tahun 1928 sekelompok pemuda dari seluruh penjuru Nusantara kembali mengulang ikrar Gajah Mada dalam format berbeda pada sumpah yang dikenal secara umum dengan sebutan “Sumpah Pemuda”. Pada momentum inilah kemudian semangat persatuan dalam bingkai kebangsaan kembali ditiupkan ruhnya oleh para pemuda dari seluruh penjuru Nusantara tersebut (walau pun dalam versi yang berbeda, ada juga pandangan lainnya). Maka, dalam hal ini, posisi pemuda adalah sebagai arsitek yang akan membangun istana peradaban Tanah air.

Gerakan pemuda mendirikan istana untuk mengguncangkan dunia ini harus dimulai dengan batu-bata yang tertata dengan lurusnya aqidah, menyiapkan kayu yang semangatnya tidak akan pernah layu, syariat yang baku dalam arsitektur bangunannya, yang akhirnya istana ini akan bertahan dalam bentangan panjangnya peradaban.

Batu-Bata pun Tertata dengan Aqidah

‘Amr bin Hisyam dipanggil oleh orang-orang Quraisy dengan Abul Hakam. Al-Hakam kemungkinan adalah nama anak lelakinya, tetapi itu juga menjadi isyarat betapa ia masuk dalam lingkaran utama hukûmah (pemerintahan) kota Makkah. Juga, bahwa dia adalah seorang yang hakîm, memiliki banyak hikmah kebijakan. Dan sekaligus hâkim yang berarti memiliki kewenangan legislasi dan yudikasi karena kecerdasan dan ilmunya. Nyatanya memang, ‘Amr adalah satu di antara sedikit penduduk Makkah yang pandai baca tulis, fasih dalam sastra, cerdas, serta banyak harta.

Lantas hadir pertanyaan besar, jadi mengapa ia lebih terkenal di kalangan orang beriman sebagai Abu Jahl? Dia tidak mungkin menamai anaknya sebagai Jahl, si bodoh. Kata jahl ini begitu identik dengan buta huruf, tidak kenal etika, biadab, dan terbelakang secara materi. Hal-hal yang justru sama sekali tidak ada pada diri ‘Amr bin Hisyam. Tetapi dia adalah Abu Jahl, si biang kejahiliyahan.

Ternyata sejarah perjalanan dakwah para Rasul dan orang-orang yang mengikuti mereka, jahiliyah telah menemukan jati dirinya sebagai penyakit yang menjangkiti keyakinan. Itulah ekspresi jahiliyah yang ditampakkan Abu Jahl yang menjadikannya batu bata yang tidak sempurna cetakannya; diangkat sebelum kering, tidak maksimalnya pembakaran. Akhirnya, jadi pembuangan tumpukan pembangunan istana peradaban.

Salim A. Fillah (2006: 89) menulis dengan catatan yang indah: “Keimanan benar benar telah mengikat hati para hamba Allah dalam kasih sayang yang menggetarkan. Ini bukan lagi ikatan-ikatan semu; darah, qabilah, kewilayahan, ras dan warna kulit. Islam memproklamasikan sebuah majelis mulia yang di sana duduk sejajar mesra Abu Bakr bangsawan Arab, Shuhaib imigran Romawi, Salman pengembara Persia, dan tentu juga Bilal, bekas budak Negro Habasyah.”

Maka, itu yang akan terjadi jika di Indonesia dengan jumlah provinsi 34 mempunyai keimanan yang mengakar, berkumpulnya para pemuda yang beda bahasa daerah, hilangnya sikap dan sifat berlebihan kesukuan yang sampai bisa menumpahkan darah, variasi warna kulit yang tidak menghalangi untuk bersatu dalam pembangunan bangsa dan peradaban. Inilah batu bata yang disusun dengan rapih itu.

Sang Arsitek Mengawasi Pembangunan Istana

Berpijak pada ayat Allah Ta’âla berikut ini: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan atas kalian nikmat-nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagi kalian …”.

Firman Allah dalam QS. Al-Maidah/5 : 3 itu, memberikan isyarat bagi para pemuda yang bergerak membangun istana peradaban dengan semangat dan istiqomah, karena mereka tahu bahwa Islam-lah yang akan mengokohkan peradaban sempurna yang akan terbentuk nanti.

Perhatian pun tertuju pada musim yang cocok untuk membangun istana peradaban ini, jangan sampai mendirikan di musim hujan yang akhirnya proyek peradaban akan terhenti sejenak, dan inilah musim kemarau yang ditunggu dengan tanda gejolaknya Timur Tengah (di antaranya) yang tengah dilanda kepenatan hidup di balik majunya negara negara Barat. Material pun jadi sorotan, jangan sampai ada penempatan yang salah. Maka di sinilah peran sang arsitek dan kontraktor memperhatikan segala sisinya. Inilah Islam yang ilmunya meliputi berbagai bidang dan tidak ada dikotomi di dalamnya. Jadi, ilmu apa yang wajib dipelajari?

Jawabannya adalah Ilmu Allah. Soal dikotomi duniawi dan ukhrawi, Imam Al-Ghazali berpendapat, “boleh jadi fikih itu ilmu duniawi, dan boleh jadi kedokteran dan ilmu pertekstilan adalah ilmu akhirat.”

Bagaimana logikanya? Mungkin memperhatikan kondisi zamannya, Al-Ghazali mengambil contoh pembahasan tentang zhihar. Ketika seorang suami berkata pada istrinya: “engkau bagiku seperti punggung ibuku!” Di masa jahiliyah status istri jadi tak jelas. Tapi di masa Islam, zhihar jelas ketentuannya sebagaimana tersurat pada QS. Al-Mujâdilah. Pembahasan berpelik-pelik, kalau begini, kalau begitu, yang dilakukan para ahli fiqih di masa itu bagi Al-Ghazali hanyalah untuk mencari kemashlahatan.

Tapi sebaliknya, beliau melihat betapa minimnya dokter Muslim saat itu. Sehingga ketika seseorang berpenyakit pencernaan sementara esok hari bulan Ramadhan tiba, kaum Muslimin beramai-ramai meminta fatwa pada dokter Yahudi dan Nashrani. Ini ilmu akhirat, jangan sampai diserahkan pada seorang yang bukan Muslim. Demikian juga ilmu tekstil. Jika untuk menutup auratnya seorang Muslim menyerahkan jenis kain, model jahitan, dan bentuknya pada yang bukan Muslim hingga aurat tidak tertutup sempurna, siapa yang berdosa? Tentu semuanya.

Ismail Marahimin (2000) dalam buku “Menumbuhkan Minat Baca Sejak Dini”, mengutip hasil penelitian David Mc Clelland, mencatat perbedaan antara Eropa Timur dan Eropa Barat. Sebagaimana diketahui, perkembangan Eropa Timur tidak sepesat Eropa Barat. Jika dibandingkan, terutama hingga dekade 1980-an, keduanya seperti langit dan bumi. Eropa Timur mundur beberapa langkah ditilik dari berbagai aspek. Sedangkan Eropa Barat maju pesat, tidak saja perekonomiannya, tapi juga sosial, budaya dan pendidikannya. Lama sang psikolog meneliti; dicari akar perbedaan dari etos kerja, bukan. Dari sosial dan budaya, bukan. Dari latar pendidikan juga, bukan. Lalu ditelitinya cerita rakyat yang berkembang dalam masyarakat serta ditelisik ragam bacaan seperti apa yang dikonsumsi. Mc Clelland menemukan perbedaan mendasar antara Eropa Timur dan Eropa Barat, justru terletak pada cerita atau bacaan.

Bagaimana dengan bumi pertiwi yang sejak kecil sudah diceritakan tentang Si Kancil? Inilah hasilnya sekarang, maraknya korupsi. “Si Kancil, anak nakal suka mencuri timun”. Setelah ”Si Kancil” itu tertangkap sebagaimana di film-film atau dongeng, dengan cerdiknya dia meloloskan diri dengan pura-pura sakit atau berbohong. Tidak jauh berbeda dengan perilaku korupsi yang tengah melanda negeri ini.

Begitu disiplinnya kalau sang arsitek mengawasi di segala sisi tanpa ada dikotomi, begitu terpantaunya kalaulah tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu dunia. Maka setiap pemuda Muslim yang patuh pada agamanya, pasti akan semangat untuk belajar fisika, kimia, bahkan matematika sekalipun. Dan akan sebanding semangatnya dengan mempelajari buku-buku akhirat dan ilmu dunia secara seimbang. Pendidikan yang ditempuh dengan semangat keduanya, maka secara otomatis akan mempertemukan dua kutub ilmu yang berbeda.

Istana Peradaban itu, Akan Segera Terwujud

Istana peradaban, akhirnya berdiri; ada yang berjaga dengan sigap di depan gerbang istana dengan tidak lupa dzikir di hati, ada yang merapihkan taman dengan hiasan wajah cerah, di dalam istana duduk seorang Kepala Negara dengan hafalan Al-Qur’an-nya. Semua posisi peradaban diisi oleh para pemuda yang militansi ke-Islamannya tidak diragukan.

Kalau seperti itu yang terjadi, maka akan hadir di tengah-tengah kita sosok Utsman bin ‘Affan, seorang investor yang telah memakmurkan seluruh kawasan Madinah. Akan hadir ‘Abdurrahman bin ‘Auf yang telah membangun keseimbangan pasar yang sebelumnya dikungkung hegemoni Yahudi. Akan hadir seorang petani seperti Abu Thalhah dengan keuletannya menjamin ketahanan pangan Madinah. Akan hadir seorang dokter seperti Asy-Syifa binti Abdillah yang dengannya kesehatan penduduk Madinah terjaga. Akan hadir Abu Ubaidah dengan kejelian akuntingnya telah menjamin keadilan dan pemerataan ekonomi masyarakat. Akan hadir ‘Amr bin ‘Ash dengan kecerdikan diplomasinya telah mampu menyatukan daerah-daerah tanpa pertumpahan darah. Tidak lupa, kita pun akan menunggu dan menyambut kehadiran Umar bin Al-Khaththab yang akan membuat negeri ini sentosa dan berwibawa.

Terakhir, semoga mimpi itu akan menjadi kenyataan dan benar-benar akan terjadi atas idzin Allah … Hanya dengan ilmu, iman, taqwa dan akhlaq mulia peradaban ini bisa dibangun. Hanya dengan menghidupkan tradisi ilmu yang agung semua persoalan global dunia bisa dijawab. Dan hanya dengan mengoptimalkan fungsi pemuda dan pemudi Muslim beradab, istana peradaban negeri ini bisa kokoh dan berjaya. “Dan bagi mereka yang tengah bersungguh-sungguh berjuang di jalan Allah, maka pasti Allah Ta’âla akan tunjukkan jalan-jalanNya.” (Kiriman @nanda dari Bandung, Kamis shubuh, 30/ 01/ 2020)

Print Friendly, PDF & Email

One Comment

  • Ida Rufaida

    Alhamdulillah, Sungguh Tulisan yang Membangun,Menginsfirasi dan Mencerahkan.
    Semoga Banyak yg Termotivasi untuk bergerak membangun kembali Peradaban Islam yg Agung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com