Minggu, Juli 5MAU INSTITUTE
Shadow

KHALAFUN YES! KHALFUN NO! … MEMBERSAMAI MAHASISWA ITU PENTING

KHALAFUN YES! KHALFUN NO! … MEMBERSAMAI MAHASISWA ITU PENTING
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Di antara peran pokok mahasiswa Muslim itu, tidak lepas dari peran pemuda Muslim. Yang membedakan keduanya adalah fokus binaannya saja. Pemuda lebih mencerminkan komunitas umum, sedangkan mahasiswa objek binaannya lebih pada komunitas khusus dengan kampus sebagai basisnya. Adapun peran pokok yang dimaksud, tidak keluar dari empat perkara berikut:

1. Tajdîdu ma’nawiyyatil ummat; lahirnya sosok yang mampu melakukan pembaharuan mentalitas ummat.
2. Ba’tsul himmat fit tasâulât; lahirnya generasi yang mampu membangun jiwa kritis.
3. ‘Anâshirul ishlâh; lahirnya komunitas yang mampu menjadi agen atau unsur-unsur perubahan.
4. Naqlul ajyâl; terjadinya gayung bersambut yang mampu melahirkan generasi pelanjut perjuangan.

Untuk menopang itu semua, tentu mahasiswa perlu pembekalan yang memadai. Artinya pembekalan karakter yang harus sudah senyawa dalam dirinya yang penuh gelora itu. Lurus dan tidaknya sebuah arahan untuk mereka, menjadi salah satu “pemantik” dorongan dalam kehidupannya. Karena itu, merupakan kewajiban bagi para senior untuk berikhtiar semampu yang bisa dilakukan dalam memberikan keteladan bagi para juniornya. Di antara karakteristik mahasiswa Muslim yang dimaksud adalah:

1. Moralis; menjunjung tinggi kemuliaan akhlaq di atas segalanya.
2. Kritis; tidak mudah menerima begitu saja hal-hal yang diberikan kepadanya.
3. Dinamis; Pikirannya fleksibel, namun mengedepankan akal sehat.
4.Reaktif; mudah bereaksi terhadap apa yang dilihatnya.
5. Pro aktif; Lebih tanggap dengan keadaan yang terjadi dan melibatkan diri.
6. Kreatif; senang menciptakan sesuatu yang segar hingga suasana lebih hidup.
7. Inovatif; mampu mengembangkan seluruh bakatnya hingga melahirkan sesuatu yang baru.
8. Ilmiah; segala sesuatu selalu ditimbang atas dasar pertimbangan ilmu.
9. Progresif; berkemajuan dan lebih jauh memandang ke depan.
10. Revolusioner: mengedepankan perubahan dari pada kebekuan dan kekakuan tanpa meninggalkan prinsip-prinsip yang sudah mapan.

Semua itu dijalankan, sudah tentu dengan mengedepankan moralitas sebagai pokok pangkalnya harus mampu menjiwai keseluruhan karakter-karakter yang ada setelahnya agar semuanya berjalan di atas rel yang benar dan wajar sesuai garis perjuangan.

Sebagai generasi pelanjut, tidak elok rasanya apabila tidak menengok perjuangan generasi sebelumnya. Tapi, akan lebih tidak elok lagi, kalau nostalgianya berlebihan. Apabila diibaratkan, bentangan perjalanan sejarah itu harus disikapi laksana “kaca spion”, yang sesekali kita wajib menengoknya untuk mengetahui kondisi di belakang, terlebih dalam kondisi yang sangat diperlukan. Artinya, melihat kebaikan masa lalu, tidak harus menjadi kehilangan masa depan. Masa lalu merupakan khittah awal perjuangan, selanjutnya fokus kembali memandang ke depan sesuai dengan target capaian yang diharapkan.

Untuk menjembatani senior-junior, maka penting rasanya melibatkan kaidah ini:

حكمة الكبار وحماسة الشباب

“Bijaknya para senior dan geloranya anak-anak muda”

Maknanya adalah, para kakanda dituntut harus lebih bersikap bijak dalam mencermati pergerakan para dinda yang memang sedang semangat-semangatnya meraih cita. Para pendahulu harus lebih arif melihat dinamika perubahan yang dialami generasi kemudian. Di sinilah pentingnya “pewarisan nilai” itu, dalam rangka melahirkan generasi pelanjut yang baik dan diharapkan mampu mengisi kekosongan dan melengkapi kekurangan generasi sebelumnya.

Dalam bahasa wahyu, menjadi generasi khalafun, yes! … Menjadi generasi khalfun, no!. Yang pertama, generasi pelanjut yang baik, sedangkan yang kedua generasi pelanjut yang buruk. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam/ 19: 59)
_____

✍) Disampaikan sebagai pembekalan dalam acara Musyawarah Kerja Daerah Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam Jakarta Timur di Masjid Al-Ittihâd Ma’had Utsman bin ‘Affan-STAI Persatuan Islam Jakarta

Print Friendly, PDF & Email

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com