Kamis, Mei 28MAU INSTITUTE
Shadow

SAYYIDAH ‘AISYAH RADHIYALLÂHU ‘ANHÂ … KAUM MILENIAL MEMBINCANGMU

SAYYIDAH ‘AISYAH RADHIYALLÂHU ‘ANHÂ … KAUM MILENIAL MEMBINCANGMU
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien


Di tengah pandemi yang mewabah, tiba-tiba dunia infotainment dihebohkan dengan melejitnya lirik lagu besutan vokalis negeri jiran Malaysia, Mr. Bie. Lagu “Aisyah Istri Rasulullah” yang dinyanyikan oleh grup musik Projector Band ini berhasil menjadi populer di belantara Youtube tanah air.

Sejumlah penyanyi negeri ini ramai-ramai meng-cover lagu itu dan hampir semuanya menjadi trending di kalangan kaum milenial. Syakir Daulay misalnya, berhasil meng-cover lagu ini mencapai 24,6 juta hingga hari Senin kemarin (6/4). Annisa Rahman juga ikut meng-covernya dan sukses ditonton sekitar 21,4 juta. Tak ketinggalan, grup Sabyan Gambus juga meng-cover lagu ini dan berhasil ditonton sekitar 21,6 juta kali. Dan sejumlah penyanyi lain pun ikut meng-covernya dan sukses ditonton hingga jutaan kali. Demikian salahsatu stasiun televisi swasta dan berbagai media mewartakan.

Terlepas perdebatan beberapa pointer hukumnya; hukum menyanyi itu sendiri yang memang sudah banyak dibahas para ulama terdahulu dan sekarang, menggambarkan orang-orang mulia seperti shahabat dan shahabiyat Nabi dengan lirik nyanyian dan lain-lain. Nampaknya, dunia para seniman ini seperti tidak terpengaruh oleh dahsyatnya penularan virus yang semakin menggejala. Justeru ada pemandangan sebaliknya, para pekerja seni baik yang senior atau pun yunior, bahkan seniman biasa-biasa saja, ramai-ramai membuat lirik lagu terkait wabah dengan beragam genrenya; mulai dari yang religius, semi religi, hingga sekedar bodoran dan guyonan para komedian.

Terkait lantunan lirik “Aisyah Istri Rasulullah” menjadi sorotan yang memuncak dahsyat. Dengan berbagai versi bahasa (baik Arab atau pun Melayu), nyanyian tersebut berhasil menyita perhatian pecinta seni. Bahkan, kedahsyatannya hingga menggiring para pendakwah turut berkomentar, karena dikhawatirkan dapat menabrak “rambu-rambu kesucian” yang bisa menurunkan marwah dan martabat mulia istri Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam tercinta.

Namun demikian, sekali lagi yang perlu disampaikan di sini, sebagai orang beriman yang senantiasa berusaha mencintai Nabi, serta keluarganya yang mulia (âlu baitih, ahlul bait) harus lebih hati-hati dan waspada ketika menyinggung sosok-sosok terhormat seperti mereka. Walau sama-sama manusia, mereka tetap bukan sosok manusia biasa, terlebih harus disejajarkan dengan umumnya manusia seperti kita.

Seiring plus minusnya sikap para milenial, satu hal yang patut dicermati, yakni tumbuhnya kecintaan mereka pada kemuliaan keluarga Nabi, diharapkan tidak sekedar menjadi komoditi seni, melainkan lahirnya cinta sejati pada mereka dengan berkeinginan tulus dan ikhlas meneladaninya.

Untuk sekedar mengetahui dan mengingatkan akan sîrah shahâbiyyah, khususnya Sayyidah ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ, beberapa karakteristik ummul mu’minîn; yakni bundanya orang-orang beriman ini dapat diketahui pada riwayat-riwayat berikut ini:

1. Isteri-isteri Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berbeda dengan para wanita lainnya
Dalam QS. Al-Ahzâb/ 33: 32, Allah berfirman:

يَـٰنِسَآءَ ٱلنَّبِىِّ لَسۡتُنَّ ڪَأَحَدٍ۬ مِّنَ ٱلنِّسَآءِۚ …

“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain …”

2. Kedudukan isteri-isteri Nabi memiliki posisi khusus di mata Allah ‘azza wa jalla
QS. Al-Ahzâb/ 33: 6 menuturkan firmanNya:

ٱلنَّبِىُّ أَوۡلَىٰ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡ أَنفُسِہِمۡ‌ۖ وَأَزۡوَٲجُهُ ۥۤ أُمَّهَـٰتُہُمۡ‌ۗ …

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka …”

3. Isteri Nabi saksi kunci turunnya wahyu
Sayyidah ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ suatu ketika pernah berkata: “Aku pernah melihat wahyu turun kepada Rasûlullâh pada suatu hari yang sangat dingin, sehingga beliau tidak sadarkan diri, sementara keringat bercucuran dari dahi beliau.” (HR. Al-Bukhari).

4. Sayyidah ‘Aisyah wanita cerdas sepanjang sejarah
Di antara kesaksian para shahabat mulia, diungkapkan Hisyam bin Urwah radhiyallâhu ‘anh, ia bertutur: “Sungguh aku telah banyak belajar dari ‘Aisyah. Belum pernah aku melihat seorang pun yang lebih pandai dari pada ‘Aisyah tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang sudah diturunkan, hukum fardhu dan sunnah, syair, permasalahan yang ditanyakan kepadanya, hari-hari yang digunakan di tanah Arab, nasab, hukum, serta pengobatan.”

5. Sayyidah ‘Aisyah mendapatkan salam dari Malaikat pasca terjadinya fitnah berita dusta (hadîtsul ifki)
Dalam sebuah hadits, Nabi berkata pada ‘Aisyah: “Wahai ‘Aisyah, ini Malaikat Jibril mengucapkan salam untukmu.” ‘Aisyah pun menjawab: “Wa ‘alaihissalâm wa rahmatullâh (Padanya keselamatan dan rahmat Allah).” (HR. Muttafaqun ‘Alaihi).

6. Sayyidah ‘Aisyah mendapat beberapa gelar dan julukan kehormatan
Di samping gelar Ummul Mu’minîn; yakni ibunda orang-orang beriman. Ia juga mendapat gelar As-Shiddiqiyyah atau wanita yang jujur dan julukan Al-Humaira‘ (HR. Al-Baihaqi dan At-Thabarâni). Dalam beberapa riwayat, beliau memanggil ‘Aisyah dengan panggilan sayang: `Āisy.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

7. Sayyidah ‘Aisyah sangat romantis membersamai Nabi
Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ minum dengan gelas dan piring yang sama. Bahkan makan daging pada bekas gigitan ‘Aisyah, sebagaimana diriwayatkan Imam An-Nasâi. Sebagai bentuk kasih sayang, terkadang beliau bersandar dan tidur di pangkuan isterinya. ‘Aisyah bercerita: Rasulullah bersandar di pangkuanku, padahal waktu itu aku sedang haidh. (HR. Muslim)

8. Sayyidah ‘Aisyah wanita yang sangat fashih dan pandai berorasi
Shahabat Musa bin Thalhah radhiyallâhu ‘anhu bersaksi tentang kemampuan orasi ‘Aisyah: “Aku belum pernah melihat seorangpun yang lebih fashih berbicara dari ‘Aisyah.“ (HR. At-Tirmidzi)

9. Sayyidah ‘Aisyah wanita penjaga dan penghafal hadits
Ada sebanyak 2.210 hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah. Di antaranya terdapat 297 hadits  dalam Kitab Shahîhain dan sebanyak 174 hadits yang mencapai derajat Muttafaq ‘Alaihi atau hadits yang telah disepakati oleh kedua Imam ahlul hadîts; Al-Bukhari dan Muslim. Dengan keilmuan yang dimilikinya, membuat rumah beliau tak pernah sepi dari pengunjung yang akan bertanya berbagai permasalahan syar’iat.

10. Sayyidah ‘Aisyah wanita yang rajin memelihara kebugaran dan membersamai Nabi dalam berolah raga

Dalam peristiwa hadîtsul ifki yang menyebabkan terjadinya fitnah, disebutkan bahwa ‘Aisyah tengah menjalani “meringankan badannya”. Demikian pula dalam kesehariannya, di mana suatu hari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berlomba lari dengan ‘Aisyah dan ‘Aisyahlah sebagai pemenangnya. ‘Aisyah bercerita, Nabi berlari dan mendahuluiku (namun aku mengejarnya) hingga aku mendahuluinya. Tetapi, ketika badanku gemuk, Nabi mengajak lomba lari lagi namun beliau mendahului, kemudian beliau mengatakan, “Wahai ‘Aisyah, ini adalah balasan atas kekalahanku yang dahulu.” (HR. At-Thabarâni dalam Mu’jamul Kabîr 23/ 47).

11. Sayyidah ‘Aisyah dan ayahandanya merupakan dua sosok yang dicintai Nabi sekaligus
Shahabat ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallâhu ‘anh, pernah bertanya kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam,

أَىُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ: « عَائِشَةُ ». فَقُلْتُ مِنَ الرِّجَالِ؟ فَقَال:َ  أَبُوهَا

Siapa orang yang paling engkau cintai? Beliau menjawab: ‘Aisyah. Ditanya lagi, Kalau dari kaum pria? Beliau menjawab: ayahnya (yaitu Abu Bakar Ash-Shiddîq radhiyallâhu ‘anh).” (HR. Al-Bukhari, no. 3662 dan Muslim, no. 2384)

Demikianlah sosok wanita utama Sayyidah ‘Aisyah dengan segala kemuliannya. Semua yang dialamatkan pada dirinya, menjadi cerminan bahwa beliau seorang wanita kekasih Nabi di dunia dan di akhirat.

Para ulama sîrah menyebutkan, beliau lahir empat tahun setelah diangkatnya Muhammad menjadi seorang Nabiyullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Ibundanya bernama Ummu Ruman binti ‘Amir bin ‘Uwaimir bin Abdi Syams bin Kinânah yang wafat pada waktu Nabi masih hidup, yaitu tepatnya pada tahun ke-6 H. (628 M.). Sedangkan Ummul Mu’minîn ‘Aisyah, beliau wafat pada malam Selasa, 17 Ramadhan (setelah shalat witir), pada tahun 58 H. di masa Khalifah Mu’âwiyah bin Abu Sufyan radhiyallâhu ‘anh. Pendapat lainnya menyebutkan, beliau wafat pada tahun 57 H. dalam usia 63 tahun lebih dan dikebumikan di pemakaman Baqi’ Madinah. Adapun shalat jenazahnya diimami oleh shahabat Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anh dan Marwan bin Hakam yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Madinah. Fa’tabirû yâ ûlil abshâr
____

*) Goresan pena ini ditulis sebagai materi Sîrah Shahâbiyyât pada Kajian Santai untuk Persistri Se-Jabodetabek dan Jawa Barat bersama MadrasahAbi-Umi.Com

Print Friendly, PDF & Email

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com