Senin, Agustus 3MAU INSTITUTE
Shadow

SIAGA HADAPI ZAMAN YANG “SEDANG TIDAK BAIK-BAIK SAJA” (Secercah Hikmah Narasi Khutbah Jum’ah)

SIAGA HADAPI ZAMAN YANG “SEDANG TIDAK BAIK-BAIK SAJA” (Secercah Hikmah Narasi Khutbah Jum’ah)
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien


Terlepas dari kondisi iklim yang terus berubah, cuaca pancaroba yang kian berpindah-pindah, kondisi wabah yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir sempurna. Bagi ummat beriman tetap bersyukur bahwa Allah jalla wa ‘alâ senantiasa ada di hati semua hambaNya sehingga mereka diberi ketenangan dan menganggap semuanya itu sebagai ujian keimanan.

Namun demikian, kita pun tak bisa menutup mata atau berpura-pura tidak faham akan beragam penyimpangan di depan mata. Ada banyak peragaan drama murahan yang tengah dimainkan; kejahatan dengan segala keculasannya kini dipertontonkan dan digelar sekalipun harus menipu Tuhan Dzat Pencipta alam. Sehebat apa pun mereka melakukan tipu daya, maka makar Allah jauh lebih dahsyat dari apa yang mereka lakukan.

Agar kita tidak menjadi ummat yang merasa, bahwa ketidak stabilan ini hanya menimpa diri kita, maka sebaiknya banyak berkaca pada generasi zaman keemasan yang utama bahwa kegalauan, kepanikan dan kegaduhan pernah melanda mereka. Apa yang dirasakan ummat Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam hari ini, dirasakan pula oleh generasi terdahulu masa silam. Perbedaannya adalah; di tengah-tengah mereka hadir manusia paling mulia Nabi akhir zaman, sedangkan hari ini terasa hampa karena ketiadaan Nabi panutan.

Sebuah rekaman dialog di era para shahabat ridhwânullâh ‘alaihim ajma’în, sangatlah berharga untuk dikemukakan. Memutar percakapan ini menjadi penting untuk sekedar melapangkan dada kita yang tengah terjatuh tertimpa tangga pula. Semua ini akan menjadi tambahan pelajaran apabila kita menerimanya dengan sepenuh iman dan ketulusan jiwa.

Banyak di antara para ulama mengabadikan dan mengarsipkan dialog ini dalam kitab-kitab mereka; Imam Bukhâri dalam Jâmi’us Shahîh 6/ 615-616 yang disyarah oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bâri, Imam An-Nawawi dalam Syarah Muslim 12/ 235-236, Imam Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah 14/ 14, Ibnu Mâjah 2979 dan Imam Ahmad dalam kitab Musnad 5/ 399. Semuanya bersumber dari shahabat Hudzaifah bin Yaman radhiyallâhu ‘anh.

Beliau (Hudzaifah) memulai dialognya dengan kata pembuka:

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْت:ُ يَا رَسُوْلُ اللهِ أِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرِّ فَجَاءَنَااللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرِّ؟

“Mayoritas orang-orang kalau bertanya kepada Rasûlullâh tentang perkara yang baik-baik saja, sedangkan aku ingin bertanya kepadanya tentang perkara yang tidak baik-baik saja, karena aku khawatir perkara tersebut menimpa diriku. Maka pertanyaanku yang pertama adalah; wahai Rasûlullâh dulu kami hidup di masa jahiliyyah, lalu Islam datang kepada kami hingga berubah menjadi zaman baik. Apakah setelah zaman baik itu akan muncul lagi zaman yang buruk?”

قَال:َ نَعَمْ

Rasûlullâh pun menjawab: “Ya, benar.”

فَقُلْت:ُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرِ؟

Maka aku pun bertanya lagi: “Apakah setelah zaman keburukan akan muncul lagi zaman kebaikan?”

قَال:َ نَعَمْ وَفِيْهِ دَخَنٌ

Rasûlullâh menjawab: “Ya, benar. Namun kebaikan di waktu itu telah diselimuti kabut tebal.”

قَلْت:ُ وَمَادَخَنُه؟

Aku bertanya lagi: “Apa yang dimaksud kabut tebal itu?”

قَال:َ قَوْمٌ يَسْتَنُّوْنَ بِغَيْرِ سُنَّتِي وَيَهْدُوْنَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِر

Rasûlullâh pun menjawabnya: “Munculnya kaum yang menjalankan kehidupan dengan tidak berpijak pada arahanku dan memberikan petunjuk kepada orang banyak tidak dengan petunjukku”. Engkau mengenal mereka dan engkau memungkirinya.”

فَقُلْت:ُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَر؟

Maka aku bertanya lagi: “Apakah setelah zaman kebaikan penuh kabut itu, akan muncul zaman yang lebih buruk?”

ِّ قَال:َ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَا

Rasûlullâh pun menjawab: “Ya, benar. Akan muncul gerombolan penyeru yang menggiring ke pintu-pintu neraka jahannam, siapa saja yang membenarkannya maka akan terpelanting masuk perangkapnya.”

فَقُلْت:ُ يَا رَسُوْلُ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا؟

Maka aku pun mengejar pertanyaanku: “Wahai Rasûlullâh terangkanlah sifat-sifat mereka?”

قَال:َ نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا

Rasûlullâh menjawab lagi: “Baiklah, mereka adalah kaum yang warna kulit dan bahasanya seperti kita juga.”

ققلْت:ُ يَا رَسُوْلُ اللهِ فَمَاتَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟

Maka aku pun (semakin penasaran) dan bertanya lagi: “(Kalau kondisinya sudah seburuk itu), apa pandanganmu?”

قَال:َ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإِمَامَهُم!ْ

Rasûlullâh pun menjawabnya: “Engkau wajib berpegang teguh berpijak pada jamaah kaum Muslimin dan Imam mereka!”

فَقُلْت:ُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ؟

Maka aku pun spontan menyergahnya dengan pertanyaan lagi: “Kalau jamaah kaum Muslimin bersama Imamnya tidak ada harus bagaimana?”

قَال:َ فَاعْتَزِلُ تِلكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ.

Rasûlullâh pun mengakhiri jawabannya dengan perkataan: “Tinggalkanlah olehmu semua kelompok yang menyimpang itu sekalipun harus menggigit akar pohon hingga ajal menjemputmu, sementara engkau tetap berpegang pada kebenaran itu.”

Apa yang dilakukan shahabat mulia Hudzaifah sangatlah tepat; Di kala kegundahan menerjang jiwa, memberontak akal sehat. Ketidak pastian hukum meragukan qalbu menyayat keadilan. Yang benar dianggap salah, yang salah dibenarkan. Langkah yang ditempuhnya adalah mendialogkannya dengan seorang sosok teladan Rasul akhir zaman.

Dengan segala kenyataan yang ada; di mana sebagian manusia mulai kehilangan nuraninya, bertempik sorai rame-rame membunuh kebenaran dan membungkam keadilan, maka fenomena kekinian hanya bisa dihadapi dengan sikap kesiagaan total ummat Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dituturkan dalam bimbingannya tadi. Karena kita tidak lagi hidup di masa kenabian, maka kesiagaan hanya bisa kita bincangkan dengan ulama-ulama Rabbâni sebagai ahli waris para Nabi.

Sebagai kalimat akhir, dengan dialog yang mulia tadi, semoga kita mendapatkan percikan hikmah dan api geloranya:

1. Senantiasa melibatkan para ulama dalam menghadapi berbagai persoalan yang dihadapi, merupakan adab perjuangan hakiki.
2. Selalu siap menjadi ummat siaga merupakan panggilan jiwa dan agama sebagai bentuk kewaspadaan universal, terlebih menghadapi zaman pancaroba.
3. Munculnya banyak serigala berbulu domba dalam semua lini kehidupan menjadi tanda nyata adanya rambu-rambu bahaya dan sekaligus menjadi pelajaran untuk membedakan siapa sahabat dan siapa musuh sebenarnya.
4. Saling menjaga soliditas dan ukhuwwah ummat serta membangun kemitraan yang mashlahat dengan siapapun di antara para penyangga amanah dan keadilan adalah keniscayaan di tengah-tengah hampanya kepemimpinan.
5. Senantiasa berpegang pada kebenaran Allah dan rasulNya dalam segala hal di tengah-tengah ikhtiar perjuangan merupakan syarat muthlaq ketauhidan hingga nafas berpisah dari badan.

Allâhumma lâ sahla illâ mâ ja’altahu sahlan wa Anta taj’alul hazna in syi’ta sahlan … Âmîn yâ Rabb
____

*) Materi khutbah ini disampaikan pada hari Jum’at, 19 Juni 2020 di Mesjid Wadhhah ‘Abdurrahman Al-Bahr Pusdiklat Dewan Da’wah Setiamekar Tambun Selatan Bekasi 17510 Jawa Barat

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com