Sabtu, Desember 5MAU INSTITUTE
Shadow

ISLAM DAN SUNNAH; DUA SISI MATA UANG YANG TIDAK TERPISAH (Kuliah Iftitah Virtual Santri Baru Pesantren Persatuan Islam Cibatu Garut)

ISLAM DAN SUNNAH; DUA SISI MATA UANG YANG TIDAK TERPISAH (Kuliah Iftitah Virtual Santri Baru Pesantren Persatuan Islam Cibatu Garut)
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien


“Sesungguhnya kalian akan menjumpai banyak kaum yang menyangka bahwa mereka sedang menyeru kepada Kitâbullâh, padahal mereka sedang membuangnya ke belakang punggung mereka sendiri. (Kalau sudah kondisi demikian) maka kalian wajib berilmu, berhati-hati dari kebid’ahan dan sikap berlebih-lebihan, serta berdalam-dalam pada suatu urusan (yang tidak perlu). Dan hendaknya kalian berpegang pada peninggalan yang original (yaitu Sunnah).” (Lihat: Sunan Ad Dârimi I/ 54)

Buahnya ilmu adalah amal, demikianlah orang-orang bijak menuturkan. Betapa tidak, sesungguhnya ilmu dimaksudkan untuk diamalkan dan ilmu adalah petunjuk amal. Namun demikian, apa jadinya bila sebuah amalan tidak sesuai dengan ilmu yang benar, yaitu ilmu yang mendapatkan ridha Allah ‘azza wa jalla serta bimbingan rasulNya. Bukankah sebaik-baiknya ucapan adalah kalâmullâh dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Pentingnya Meniti Ilmu

Tercapainya cita-cita merupakan satu terminal dari sebuah proses panjang, titian yang membentang dengan segala rintangan yang menghalanginya. Sebuah perjuangan dikatakan sukses apabila seseorang mampu menempuh setiap tahapan yang dilaluinya. Begitu pula halnya dengan ilmu, dia mesti didatangi dan tidak mungkin akan datang sendiri (al-‘ilmu yu’tâ walâ ya’tî).

Di sisi lain, tujuan ilmu sangat jelas, yaitu untuk diamalkan. Semakin banyak ilmu, semakin tinggi pula tuntutan untuk mengamalkan. Abu Bakar bin ‘Abdullah bin Ja’far berkata: “Saya mendengar Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang pria yang menulis hadits dan memperbanyaknya. Beliau menanggapi: “seyogianya ia memperbanyak amal yang setarap dengan semakin meningkatnya ilmu.” Kemudian ia berkata lagi: “Jalan menuju ilmu sama seperti jalan menuju harta. Sesungguhnya harta jika bertambah, maka zakatnya pun bertambah pula.” (Lihat: Al-Khatib al-Baghdâdi dalam Iqtidhâul ‘ilmi Amala, Tahqiq al-Albâni, hlm.98)

Sedemikian luhur dan mulianya orang-orang yang menuntut ilmu dan sedemikian berat tanggung jawabnya, maka para ulama memberikan kriteria dan nasihatnya yang sangat banyak, di antaranya:

1. Syaikh ‘Abdul wahhab al-Wushâbi al-Yamani (muridnya Syaikh Muqbil bin Hâdi al-wâdi’i) dalam kitabnya ‘Isyrûnan Nashîhah Li Thâlibil ‘Ilmi Wad Dâ’i Ilallâh menuturkan: Penuntut ilmu wajib memelihara keikhlasan niat hanya untuk Allah semata, meninggalkan maksiat, senantiasa berhati-hati dari fitnah dunia, berhati-hati dari sifat sombong, memelihara ibadah, tidak tergesa-gesa mengeluarkan fatwa, tidak gegabah membuka markaz ilmu, berhati-hati dalam melakukan penilaian terhadap orang lain, baik cacat (al-jarh) atau pun keadilannya (at-ta’dîl), tidak bersikap individualis dan meninggalkan para ulama, menghindari perdebatan yang tidak perlu, bersikap zuhud dan wara’, tidak melalaikan ibadah karena suatu aktivitas, meninggalkan sifat bangga diri (al-‘ujûb), tidak gegabah dalam berdakwah, tidak berteman bersama pengumbar hawa nafsu (ahlul ahwa), tidak terpancing dengan masalah-masalah yang provokatif, tidak tergesa-gesa dalam menulis karya, tidak berlebihan terhadap guru (as-Syaikh), tidak mencoreng dakwah dengan ilmunya yang masih sedikit dan ridha terhadap kemampuan materi duniawi yang ada sehingga tidak terbebani hutang.

2. Syaikh ‘Abdul Azîz bin Abdillah bin Bâz memaparkan lebih ringkas dengan merincinya menjadi lima butir nasihat: Mempersiapkandiri dengan memahami agama, ikhlas dan meluruskan niat, menyampaikan dan mengajarkan kepada manusia, tidak menyembunyikan ilmu dan mengamalkan apa yang telah dia ketahui. (Lihat: Ibnu Bâz dalam Mas’ûliyyah Thâlibil ‘Ilmi)

Jalan Menuju Sunnah

Islam adalah Sunnah dan Sunnah adalah Islam, itulah kesimpulan yang dapat kita pahami dari penjelasan para ulama.Tidaklah keduanya dapat dipisahkan satu sama lain, membicarakan Islam berarti membicarakan sunnah dan membicarakan sunnah berarti membicarakan Islam. Begitu pentingnya seseorang memahami agama, maka penting pula bagi dirinya mempelajari ilmu sunnah, karena hakikatnya ketika seseorang tengah meniti ilmu agama, berarti orang tersebut tengah berusaha memahami sunnah.

Banyak sudah penjelasan para ulama dalam hal pentingnya mempelajari sunnah, baik mengenai ilmu (semisal mempelajari Ushûlul Hadîts atau Musthalahul Hadîts), juga mengenai amalan sunnah itu sendiri yang menjadi objek kajian tulisan ini, di antaranya Imam Ahmad (w. 241 H.) yang menerangkan tentang pijakan dasar memahami sunnah dalam kitabnya Ushûlus Sunnah, Syaikh Abu Muhammad al-Hasan bin Ali bin Khalaf al-Barbahari (w. 329 H.) menerangkan bahwa Islam adalah sunnah dalam kitabnya Syarhus Sunnah, Syaikh Muhammad Nâshiruddin al-Albâni (w.1420 H.) menerangkan kedudukan sunnah Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam Islam pada kitabnya Manzilatus Sunnah fil Islâm wa Bayânu Annahu Lâ Yustaghna ‘anha bil Qur’ân, Syaikh Dr. Musthafa as-Sibâ’i menjelaskan kedudukan sunnah dalam syari’at Islam pada kitabnya As-Sunnah wa Makânatuhâ fit Tasyrî’il Islâmi, Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimin menerangkan faedah komitmen terhadap sunnah dalam kitabnya At-Tamassuk bis Sunnah an-Nabâwiyyah wa Atsâruhu, Syaikh ‘Abdul Qayyum bin Natsir as-Sahaibani menerangkan bagaimana salafus shâlih mengagungkan sunnah dan bahaya bagi orang yang meremehkannya dalam kitab Ta’zhîmus Sunnah wa Mauqîfus Salaf min Man ‘Aradhahâ auw Istihzâ’ Bisyain Minhâ dan Ali Hasan ‘Abdul Hamid al-Atsâri menjelaskan pentingnya kembali ke manhaj sunnah dalam menuntut ilmu pada kitabnya ‘Audatun Ilas Sunnah serta kitab para ulama lainnya.

Sekedar instrospeksi diri dan mengambil pelajaran dari generasi awwal, mengapa dan apa sebabnya Allah ‘azza wa jalla memenangkan mereka dalam segala aspek kehidupan yang berkaitan dengan hidup dan matinya mereka? Jawabannya tidak lain adalah karena mereka berpegang teguh kepada sunnah (al-i’tishâm wal istimsâk bis sunnah). Oleh karenanya, sekalipun roda zaman terus berputar dan tahun silih berganti, namun sunnah tetap wajib ditegakkan. Masih ingatkah kita terhadap kata-kata Hisyam bin ‘Urwah yang menceritakan nasihat bapaknya berikut ini:

السنن السنن … فإن السنن قوام الدين

“Perhatikan sunnah, perhatikan sunnah … Karena sesungguhnya sunnah itu adalah tiang pancang agama.” (Al- Marwazi dalam kitab As-Sunnah sebagaimana dinukilkan Syaikh ‘Abdus Salâm bin Barjas bin Nâshir al-‘Abdul Karîm dalam Dharûratul Ihtimâm bis Sunanin Nabawiyah, hlm. 39)

Dalam ungkapan emas Imam Az-Zuhri rahimahullâh adalah: “Berpegang teguh dengan tali Allah itu merupakan kunci keselamatan laksana bahtera Nabi Nuh ‘alaihis salâm; siapa yang cepat naik ke bahtera tersebut, maka dia akan selamat. Namun siapa yang menjauh dari bahtera tersebut, maka siap-siaplah untuk tenggelam.” (Lihat: Abul Fidâ Ibnu Katsîr dalam Tafsîr Al-Qur’ânil ‘Azhîm)

Bahkan Ibrahim Attaimi rahimahullâh berdo’a secara khusus sehubungan dengan pentingnya memelihara Sunnah seperti diungkapkan Imam Asy-Syâthibi dalam kitabnya Al-I’tishâm I/ 116 berikut ini: “Ya Allah, jagalah diriku dengan agama dan Sunnah nabiMu dari berbagai perselisihan dalam kebenaran dan keterlibatan hawa nafsu, dari jalan-jalan kesesatan, serta dari perkara-perkara syubhat. Juga dari penyimpangan dan permusuhan.”

Kepada Allah ‘azza wa jalla jualah kita berserah diri dan memohon perlindunganNya, karena Dialah Dzat yang Maha Agung. Tanpa harus merasa diri dan mengaku paling memahami dan mengamalkan sunnah nabiNya, melainkan kewajiban kita hanyalah berupaya menuntut ilmuNya yang Maha luas. Hakikat ilmu kita pelajari dalam rangka mencari jelas, bukan mencari puas. Berargumen untuk memastikan kebenaran, bukan memaksakan pembenaran. Allâhumma faqqihnâ fid dîn … Âmîn
_____

Penulis adalah: Ketua Prodi KPI-STAI PERSIS Jakarta, Anggota DH PP Persatuan Islam (Komisi ‘Aqîdah), Anggota Fatwa MIUMI (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris KDK-MUI Pusat dan Ketua Bidang Ghazwul Fikri Pusat Kajian Dewan Da’wah

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com