Senin, September 27MAU INSTITUTE
Shadow

BUDAYA LITERASI LINTAS ZAMAN DALAM MEMBANGUN PETA BUMI INTELEKTUAL ALUMNI PESANTREN PERSATUAN ISLAM

BUDAYA LITERASI LINTAS ZAMAN DALAM MEMBANGUN PETA BUMI INTELEKTUAL ALUMNI PESANTREN PERSATUAN ISLAM
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien


A. Muqaddimah

Di antara keagungan Islam, adalah adanya warisan yang ditinggalkannya; baik berupa peninggalan fisik yang menunjukkan adanya peradaban (hadhârah) atau pun warisan yang bersifat kebudayaan (tsaqâfah) yang lebih menampilkan tingkah laku dan tradisi. Di sisi lain ada warisan agung berupa peninggalan intelektual yang lebih memperlihatkan adanya sejumlah karya para ilmuwan (turâts). Warisan agung dalam makna kitab suci atau firman Tuhan berupa Al-Qur’ânul Karîm atau pun sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam berupa kumpulan As-sunnah an-Nabawiyyah, merupakan warisan pokok yang menjadi pedoman utama dalam kehidupan yang tidak ada bandingannya. Karenanya para ahli menyebutnya dengan warisan suci (turâts muqaddas).

Adapun yang menjadi fokus bahasan dalam bahasan ilmiah ini ingin mengantarkan diri dan para sahabat juang di lingkungan jam’yyah Persatuan Islam (PERSIS) terkait bagaimana menghidupkan budaya pengkajiannya terhadap kedua sumber pokok yang sudah disebutkan tadi. Tradisi ilmiah semacam ini, para ahli menyebutnya dengan budaya literasi sebagaimana yang telah ditempuh para cerdik pandai (Al-‘Allâmah, Al-‘Ulamâ) dalam bentangan karya-karya mereka yang tersebar di seantero jagat, sehingga bumi ini penuh dengan mozaik atau khazanah intelektual yang melimpah. Karya-karya semacam ini, para ahli menyebutnya dengan warisan intelektual. Untuk membedakan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang suci, mereka menyebutnya turâts ghair muqaddas, yaitu warisan intelektual yang tidak suci, yang masih memungkinkan adanya perdebatan ilmiah.

B. Apakah Budaya Literasi itu?

Secara umum, budaya literasi adalah budaya tulis baca dengan segala aktivitasnya yang dilakukan generasi belakangan dalam mengkaji apa yang ditinggalkan oleh para pendahulu; baik dalam masalah agama, pemikiran, akhlaq, perundang-undangan, adab, kesenian dan lain-lainnya. Demikian Prof. Dr. Bakr Zaki ‘Iwad menjelaskan dalam At-Turâts al-Islâmy Bainat Taqdîr wat Taqdîs (2005).

Para ahli kamus semisal Ahmad bin muhammad Al-Fayumy dalam Mishbâhul Munîr (2003) dan Muhammad bin Abu Bakr ar-Râzi dalam Mukhtârus Shihâh (2003) memaparkan bahwa turâts diambil dari kata:

ورث – يرث – وراثة – تراثا – إرثا

Huruf “ta” dari turâts adalah pengganti huruf “wawu”, artinya adalah harta warisan, atau harta peninggalan orang tua yang telah meninggal. Hal ini dikuatkan oleh QS. Al-Fajr/ 89: 19 sebagai berikut:

ويإكلون التراث أكلا لما

“Dan kamu memakan harta pusaka dengan cara membaurkan (yang halal dengan yang bathil)”

Dalam pemahaman Barat, literasi adalah hasil sebuah peradaban ummat masa lampau yang perlu ditinjau ulang menurut barometer keilmuan kontemporer. Maka menurut mereka, termasuk di dalamnya peradaban Yunani, Fir’aun, India dan Persia masuk di dalamnya. (Dr. Ahmad Zain An-Najah, Mengenal Turats Islam, Menara Dakwah, 2008: hlm. 03)

Secara konteks Islam, ada banyak pendapat di kalangan ahli ilmu, dalam mendefinisikan literasi Islam, minimalnya ada tiga definisi, yaitu:

Pertama; Literasi Islam adalah apa yang dihasilkan oleh akal seorang Muslim dalam rangka menerangkan atau membela ajaran-ajaran Islam. Pendapat ini dipilih oleh Dr. Muhammad Al-Bahy rahimahullâh.
Kedua; Literasi Islam adalah apa yang dihasilkan oleh akal manusia, baik seorang Muslim atau pun Non muslim, asalkan sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Ketiga; Literasi Islam adalah apa yang dihasilkan oleh akal seorang Muslim sepanjang sejarah Islam, baik yang berhubungan dengan ilmu agama atau bukan, baik yang sesuai dengan kebenaran atau tidak. Pendapat ini dipilih Prof. Dr. Bakr Zaki ‘Iwad.

Apabila dicermati, tiga pandangan ini mengandung beberapa konsekuensi yang berbeda satu sama lain, yaitu:

1. Pendapat pertama terlalu sempit dan akan membuang banyak hasil karya para penulis Muslim yang hanya menorehkan buah karyanya itu sekedar menuliskan karya penulis lainnya dalam disiplin ilmu-ilmu tertentu; kedokteran, fisika, biologi, matematika, farmasi, ilmu bangunan dan lain-lain.

2. Pendapat kedua terlalu melebar, sehingga memungkinkan karya-kaya Orientalis dan penulis Non muslim masuk bagian turâts Islâmy. Hal ini tentunya kurang tepat.

3. Pendapat ketiga, merupakan pendapat pertengahan yang memasukkan seluruh karya Muslim yang tidak membatasinya dengan ilmu-ilmu agama semata. (An-Najah, Mengenal, 2008: hlm. 06)

C. Sarjana Muslim dan Budaya Literasi

Tidak ada alasan untuk menjauhkan budaya literasi dari kehidupan sarjana Muslim, kaitan keduanya laksana kolam dengan ikannya. Ikan akan mati sia-sia apabila kolam tidak dirawatnya dengan baik. Demikian pula dalam kehidupan pembelajaran; Malasnya para sarjana dalam menghidupkan membaca, menulis, berdiskusi, menganalisa dan aktivitas lainnya dapat menyebabkan kemalasan berfikir yang dapat menjadikan miskinnya gagasan, bahkan matinya gagasan. Apabila iklim seperti ini tidak segera dipulihkan, maka yang terjadi adalah lahirnya sarjana-sarjana yang kehilangan jiwa kemandiriannya; sepi kreatifitasnya, mati inovasinya dan instan cara berfikirnya.

Para salaf terdahulu, sangat menitikberatkan agar menjadi kaum pembelajar:

اغد عالما او متعلما او مستمعا او محبا ولا تكن الخامسة فتهلك

“Jadilah engkau seorang yang mampu mengajar, atau yang belajar, (kalau tidak mampu) jadilah yang mau mendengarkan atau simpati (minimalnya) dan janganlah mau menjadi yang kelimanya, maka engkau akan binasa.” (HR. Al-Bazzâr dan At-Thabarani dari shahabat ‘Abdurrahman bin Abi Bakrah radhiyallâhu ‘anh)

Artinya, nasihat ini merupakan dorongan kuat bahwa budaya literasi merupakan “harga mati” dalam kehidupan para sarjana Muslim. Meminjam istilah lain, “Berliterasilah seindah mungkin, hingga kau dapati kenikmatan ilmu tiada akhir.” Benar menurut Bung Hatta: “Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”

Sebagai sarjana Muslim, pastinya harus memiliki perubahan dalam pola pikir, sikap, tanggung jawab, dan kedewasaan. Semua itu perlu dikembangkan secara optimal guna mewujudkan apa yang disebut dalam dunia akademik sebagai Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi di dalamnya; pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, juga pengabdian kepada masyarakat.

Kedewasaan dalam bersikap dan berfikir pun dibutuhkan untuk menghadapi ragam tugas dan tantangan yang tentu jauh lebih berat. Menjadi mahasiswa yang digadang-gadang sebagai agent of change dan kaum intelektual yang dipercaya oleh masyarakat untuk melakukan perubahan tatanan kehidupan ke arah yang jauh lebih baik dan beradab. Semua itu memerlukan banyak modal dan persiapan matang untuk menjadi insan yang memiliki kredibilitas tinggi. Hal demikian ini hanya dapat dicapai dengan membudayakan literasi dalam setiap nafas kehidupannya.

Pohon dapat tumbuh subur jika diberi pupuk yang cukup sebagai asupan nutrisi terbaik. Pemberian pupuk yang cukup dan rutin mampu menjaga kekuatan pohon hingga ke akarnya. Kekokohan akar pohon dapat mencegah tumbangnya pohon yang sekali-kali diterpa angin kencang. Begitu pula yang terjadi hubungan antara mahasiswa dan dunia literasi. Literasi menjadi suplemen utama bagi para mahasiswa untuk mengembangkan daya nalar, pola fikir, dan kekritisannya. Literasi yang terus dibudayakan mampu membuat produktivitas meningkat. Selain itu, budaya literasi yang telah mendarah daging dapat dijadikan pijakan kuat hingga terhindar dari seleksi kehidupan yang semakin tidak menentu.

Seorang Milan Kundera (Tokoh novelis asal Ceko) berkata: “Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah”. Ini menunjukkan bahwa buku (sebagai unsur literasi) memegang peranan penting dalam memajukan suatu bangsa. Melalui buku, masyarakat terlebih para sarjana akan mampu menerobos batas-batas kehidupan dunia. Selain itu, bahwa sebagai bagian dari masyarakat akademis, para sarjana ini mempunyai kewajiban membaca.

Untuk mengetahui seberapa rendah minat baca para mahasiswa dan sarjana kita, dapat dilihat dari tulisan berikut ini:

Lingkungan pendidikan tinggi merupakan tempat yang strategis untuk mengembangkan tradisi membaca. Pada kenyatannya, harapan tersebut belum bisa terwujud sebab minat baca di kalangan para mahasiswa masih rendah. Realita demikian didukung oleh data yang didapat oleh Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada tahun 2013. Data tersebut menunjukkan tingkat membaca masyarakat Indonesia berada pada posisi 41 dari 45 negara dari negara-negara bagian (www.srie.org). Ruang-ruang perpustakaan 77 kampus yang sering kali sepi menjadi bukti bahwa para mahasiswa belum menjadikan buku sebagai bagian terpenting dalam hidupnya.

Padahal dalam Undang-undang No. 43 Tahun 2007 tentang Pepustakaan pasal 1, disebutkan bahwa perpustakaan sebagai institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/ atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Sejalan dengan hal tersebut, berdasarkan Keputusan Mendikbud Republik Indonesia No. 0696/U/1991 bab II Pasal 11 menetapkan persyaratan minimal koleksi PPT untuk program Diploma dan S1 adalah (1) memiliki satu judul pustaka untuk setiap Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK), (2) memiliki dua judul pustaka untuk tiap Mata Kuliah Keahlian (MKK), (3) melanggan sekurang-kurangnya satu judul jurnal ilmiah untuk setiap program studi (prodi), (4) jumlah pustaka sekurang-kurangnya 10% dari jumlah mahasiswa dengan memperhatikan komposisi subyek pustaka. (Lihat: Annisa Indriyani, Mahasiswa dan Dunia Literasi, UNJ Kita.com, Agustus 2016).

Data berikutnya, tahun 2012, UNICEF merilis data minat baca negara-negara di dunia. Indonesia dengan minat baca hanya 0,001% menunjukkan data yang memprihatinkan. Tahun 2016, studi Most Littered Nation In the World yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity menyatakan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal minat baca, tepat berada di atas Bostwana di urutan ke-61 dan di bawah Thailand yang menempati urutan ke-59. (Lihat: Quratul Ayun, Membangun Budaya Literasi; Sebuah Tugas Bersama Saat Ini, Kumparan.com, 16 April 2018)

D. Kebutuhan Literasi Bagi Sarjana dan Aktivis Muslim

Sebagaimana Al-Qur’ânul Karîm, turunnya QS. Al-‘Alaq/ 96: 1-5 mengisyaratkan betapa Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan peradaban. Allah ‘azza wa jalla senantiasa menjaga dan memelihara sumber pokok literaturnya, memuliakan siapa pun orang yang menyibukkan diri untuk mengkajinya, orang yang mendalaminya, orang yang menelitinya, orang yang mengamalkannya dan orang yang melakukan pembelaannya dari upaya-upaya yang menistanya.

Para pengawal pendidikan (rijâlut tarbiyah) dan para penyampai pesan Ilahiyah (rijâlud da’wah), adalah sebuah keniscayaan bahwa di tengah-tengah mengemban tugas mulia, di situ ada bekal yang wajib dimiliki. Di samping integritas moral, integritas dalam penguasaan terhadap literatur merupakan jawaban untuk meroketkan kualitas intelektual.

Apabila menoleh pada gugusan sejarah keemasan; baik periode awwal (mutaqaddimîn), periode pertengahan (mutawassithîn) dan periode kontemporer (mu’âshirîn) telah mengantarkan tokoh-tokoh terbaik zamannya dalam menguasai berbagai disiplin keilmuan tanpa kehilangan spesifikasinya. Karenanya sangat wajar apabila Abu Hamid Al-Ghazaly menyandang gelar Hujjatul Islâm (Sang pemilik argumen), Ibnu Taimiyyah Al-Harrâny dipanggil Syaikhul Islâm (Sang guru ummat Islam), Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dijuluki Bahrul ‘Ulûm (Sang lautan ilmu), para ulama Tafsier (Al-Qurthuby, At-Thabary, As-Suyûthy dan Ibnu Katsîr) dikenal sebagai Ummahâtul Mufassirîn (Induknya para ahli Tafsir). Demikian pula dengan para Imam madzhab ahli fiqih dengan panggilannya Fuqahâ, ahli hadits dengan berbagai tingkatannya; Al-Hujjah, Al-Hâfizh, Al-Musnid, Al-Muhaddits, Amîrul Mu’minîn fil Hadîts, Ashhâbus Sunan dan masih banyak penghargaan lainnya. (Lihat Ad-Dzahabi dalam Siyaru A’lâmin Nubalâ dan Muhammad Musa As-Syarîf, Nuzhatul Fudhalâ Tahdzieb Siyari A’lâmin Nubalâ, Ummul Qura: 2008).

Selain mereka yang mendalami ilmu syar’i (al-‘ulûm as-syar’i), masih berderet pula tokoh-tokoh ahli ilmu yang menguasai ilmu-ilmu dunia (al-‘ulûm ad-dunyâ); mulai dari ahli matematika, ilmu falak, ilmu biologi, ilmu arsitektur dan lain-lain. Semua itu, membentuk suatu gugusan indah berupa “Peta bumi intelektual Islam.” (Lihat Mehdi Nakosteen, Kontribusi Islam Atas Dunia Intelektual Barat, Risalah Gusti: 2003 dan Eugene A. Myers, Zaman Keemasan Islam, Fajar Pustaka Baru: 2003).

Benar apa yang diungkapkan shahabat Ibnu Mas’ud radhiyallâhu ‘anh, beliau menuturkan: “Sesungguhnya kalian hidup di suatu zaman yang fuqahanya lebih banyak ketimbang khuthabanya, yang bisa memberi lebih banyak ketimbang yang memintanya … Dan akan datang pula pada kalian suatu zaman yang khuthabanya lebih banyak ketimbang fuqahanya, yang mampu memberinya lebih sedikit ketimbang yang memintanya. Seseorang yang disebut faqîh itu, adalah mereka yang selalu bertafaqquh dengan hatinya, bukan seorang khatib yang berbicara dengan lisannya.” (HR. At-Thabarany dalam Mu’jamul Kabîr).

(Di gedung inilah perpustakaan Ustadz A. Hassan dan putranya Ustadz Abdul Qadir Hassan diabadikan ..)

E. Gerakan Literasi Persatuan Islam Generasi Awwal

Agar kita tidak termasuk orang yang kehilangan pelita, atau menjadi orang yang lupa bahwa kita pernah memiliki pelita, dalam rangka mewujudkan cita-cita ilmiah ini, sekilas kita mengenang walau tidak sezaman, mata air para pendahulu jam’iyyah ini yang tidak dapat dipisahkan dari semangat menghidupkan literasi. Karenanya, semangat tajdîd yang digaungkan wajib mendapatkan pengawalan bukan sekedar spirit kesungguhan (rûhul jihâd), melainkan spirit intelektual (rûhul ijtihâd) dan spirit pembaharuan sekaligus.

Nama-nama besar pun tertoreh dalam goresan tinta sejarah dengan segenap karya-karyanya yang monumental, di antaranya: Tuan Ahmad Hassan dengan kitab Tafsir Al-Furqan, Terjemah Bulughul Maram, Soal Jawab dan kitab-kitab lainnya. Ustadz Abdul Qadir Hassan dengan kitab Kata Berjawab dan Ilmu Musthalah Hadits, Dr. Mohammad Natsir dengan kitab Capita Selecta, Fiqih Dakwah dan kitab-kitab lainnya, KH. Munawwar Chalil dengan kitab Kembali Kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dan Kriteria Sunnah Bid’ah, Al-Ustadz Abdul Hamid Hakim dengan kitab daras Ushûl Fiqih-nya (Mabâdi’ Awwaliyyah, As-Sulam dan Al-Bayân), Prof. Dr. Hasby as-Shiddiqy dengan kitab daras Sejarah Pengantar Ilmu Al-Qur’an/ Tafsir dan Sejarah Pengantar Ilmu Hadits, KH. Moh. Isa Anshari dengan kitab Mujahid Dakwah dan Tugas dan Peranan Generasi Muda Islam, KH. E. Abdurrahman dengan kitab Renungan Tarikh, Recik-Recik Dakwah, Risalah Wanita dan berbagai Istifta-nya, KH. E. Abdullah dengan berbagai panduan mengajar yang dikenal dengan Bahan Pelajaran (BAHPEL) Pesantren PERSIS dan kitab Pemeliharaan Jenazah, KH. Qomaruddin Sholeh dkk. dengan kitab Asbabun Nuzul dan Tafsir Al-Amin (Bahasa Sunda), K.H. Muhammad Ramli dengan kitab Al-Kitabul Mubin (Bahasa Sunda). Juga tokoh-tokoh lain dengan sejumlah karya emasnya (baik yang sudah terpublikasikan atau pun masih berbentuk serpihan risalah). Mereka semua adalah jawara-jawara literasi yang unggulan di zamannya.

F. Geliat Literasi Alumni Pesantren PERSIS

Tampilnya putra-putra pewaris perjuangan jam’iyyah ini yang kemudian hari diharapkan menjadi penggerak literasi Persatuan Islam sebagai rasa tanggung jawab ilmiahnya, diharapkan dapat mengembangkan karya-karyanya sehingga mampu menghiasi perpustakaan lembaga-lembaga pendidikan dan dakwah tanah air khususnya. Termasuk produk-produk yang terlahir dari literasi digital yang menjadi media sekaligus tantangan era revolusi partisipatif di mana media-media modern menjadi anashirnya. Menoleh ke belakang tidak berarti harus jumud, melangkah lurus dan menatap jauh ke depan tidak berarti harus hilang keseimbangan.

Secara umum, tulisan “berceceran” dari generasi ke generasi para pendahulu, dapat dilihat di Majalah Aliran Islam, Pembela Islam, Majalah Hikmah Masyumi, Majalah Al-Muslimun Bangil, Majalah Risalah Bandung dan Majalah berbahasa Sunda Iber. Bahkan ada juga dalam tulisan-tulisan yang terdapat dalam Majalah bahasa Sunda lainnya Bina Da’wah (milik Dewan Da’wah Jawa Barat) yang apabila dicermati di dalamnya banyak tulisan-tulisan aktivis Persatuan Islam (baik struktural maupun kultural).

Perkembangan berikutnya, mutiara ilmu beralih ke literasi alumni Pesantren PERSIS. Hal ini dapat dilihat dari sejumlah murid-murid periode awwal Pesantren jam’iyyah ini (baik yang “nyantri” di PENDIS, Pesantren PERSIS atau pun Tamhîdul Muballighîn); mulai dari komunitas senior Dewan Hisbah hingga Thâifah Muttafaqqihîna fid Dîn. Para asatidz seperti KH. A. Lathief Muchtar, MA., KH. Eman Sar’an, KH. Moh. Rusyad Nurdin, KH. Ali Ghazali, KH. Akhyar Syuhada, KH. O. Syamsuddin, KH. Emon Sastranegara, KH. Syarif Sukandi, KH. Mohammad Romli, KH. Ikin Shodiqin, KH. Usman Sholehuddin, KH. Shiddiq Amin, Prof. Dr. Maman Abdurrahman, KH. Aceng Zakaria, KH. Drs. Ahmad Daerobi, Dr. Dedeng Rosyidin dan sejumlah asatidz yang lebih junior dari mereka. Semuanya kerap kali menulis di Majalah Risalah dan Iber (Termasuk di dalamnya berbagai artikel buah pena Al-Ustadz A.D. Elmarzdedeq penulis buku-buku legendaris, di antaranya Parasit Aqidah; Selintas Perkembangan dan Sisa-sisa Agama Kultur). Demikian pula Lembaga Ifta’ wal Buhûts Pesantren PERSIS Bangil yang dimotori anak cicit Tuan Hassan dan murid pesantren ini. Tersebut di antaranya KH. Mu’amal Hamidi, Ustadz Umar Fanani, Ustadz Drs. Imran, AM., Ustadz Aliga Ramli, Ustadz Hud Abdullah Musa, Ustadz Ghazie Abdul Qadir Hassan, KH. Luthfi Abdullah Ismail, Lc., KH. Suud Hasanuddin, Lc., MA. Ustadz Fatahillah, Lc., MA., KH. Salam Rasyad, Lc., MA., Ustadz Ahsin Lathief Muhammad Arham dan asatidz Bangil lainnya yang kerap kali menulis di Majalah Al-Muslimun.

Dengan berbagai perhelatan pengkajian, baik Dewan Hisbah dan Lembaga Buhûts yang ada di Bangil, kini telah banyak melahirkan sejumlah karya fiqih yang khas sebagai literasi Persatuan Islam di samping Sekolah Tinggi Ilmu Fiqih Manârul Islam Bangil. Tidak ketinggalan, KH. Daelami Muchtar dari Kepulauan Sepeken Sumenep banyak pula melahirkan kader-kader literasinya, di antaranya Ustadz Syamsul Bahri Ismail, MH. (Kini Sekretaris Majelis Fatwa Dewan Dakwah) yang telah banyak merumuskan fatwa-fatwa Dewan Dakwah sejak zaman Al-Ustadz Dahlan Bashri Thahiri, Lc., MA. (Cucu mantu Ustadz AQ. Hassan) dan KH. Abdul Wahid Alwy, MA. (Alumni Pesantren PERSIS Bangil yang diberangkatkan Dr. Mohammad Natsir pertama kali ke Universitas Imam Su’ud Riyadh Saudi Arabia yang kini memegang Bidang Luar Negeri dan Musyrif Majelis Fatwa dan Pusat Kajian Dewan Dakwah). Di samping itu, beberapa alumni lainnya yang memilih bergabung dengan Ormas Muhamadiyah seperti Prof. Dr. Syafiq Mughni dan Prof. Dr. Sudarnoto Abdul Hakim.

Pasca pembibitan kader-kader Pemuda PERSIS asuhan KH. Entang Muchtar, ZA, Atip Lathiful Hayat (sekarang Prof. Ph.D), Dadan Wildan (sekarang Prof. Dr.) yang melibatkan sejumlah alumni Pesantren PERSIS seperti KH. Drs. Uus Muhammad Ruchiyat, Dr. Aam Amiruddin dan KH. Drs. Uu Suhendar, MA. literasi alumni semakin menemukan kekhassan-nya sesuai dengan konsentrasi studi masing-masing. KH. Zae Nandang, KH. Wawan Shofwan, KH. Wawa Suryana, Ustadz Amien Muchtar dan lain-lain lebih memilih menghidupkan Pesantren Tahdzîbul Washiyyah Gumuruh dan Ibnu Hajar Institute/ Sigabah.Com. Sedangkan Dr. Jeje Zaenuddin, Dr. Tiar Anwar Bachtiar, Haris Muslim, MA., Teten Romly Qomaruddien, MA., Husen Zaenal Muttaqin, Lc., M.Pd.I, Tatang Muttaqin, Ph.D, Aay Muhammad Furqan, MSi, Dr. Nurmawan, Dr. Khairul Fu’ad, Dr. Lathief Awaluddin, Dr. Nashruddin Syarief, Dr. Muslim Mufti, Dr. Yusep Sholehudin, Dr. Uus Rustiman, Agus Setiawan, Dr. Arif Rahman, Dr. Amin Fauzi, Pepen Irpan Fauzan, M.Hum, Azis Permana, Lc., MA., Yusuf Burhanudin, M.Pd.I, Akmal Burhanudin, Lc., Suharsono, Lc., Eki Muttaqin Majid, Lc., Alit Rosyad Nurdin, MA. dan seangkatan lainnya yang lebih banyak di dunia pesantren, kampus dan lintas ormas.

Dengan adanya Dewan Tafkir PP. Persatuan Islam dan Pengkajian Turats PP. Pemuda PERSIS, kini geliat literasi barisan muda intelektual alumni Pesantren PERSIS mulai tumbuh mekar kuncupnya. Sejumlah generasi muda berbakat pun mulai bermunculan. Tercatat di dalamnya Deni Sholehuddin, M.Ag., Ucu Najmuddin, M.Pd.I, Eka Permana Habibillah, Gingin Nugraha, M.Ag., Robi Permana, M.Ag., Ahmad Syahidin, Lc., Hasyim Al-Fasiri, Ali Nurdin, Lc., Teten Rosyadi, Ceceng Rucita, M.Pd.I alias Wildan Hasan (Pegiat An-Nahala Institute dan DAKTA FM Bekasi), Hadi Nur Ramadhan (Pusat Dokumentasi Tamaddun Depok) dan seangkatan lainnya yang kini tergabung dalam Forum Mubahatsah Keluarga Besar Persatuan Islam. Sebahagian lainnya tergabung dalam Majelis Mubahatsah yang dipimpin Aep Saefullah Mubarak, Dr. Abdullah Jarir, Ahmad Humaedi dan kawan-kawan, serta hadirnya Tajdid Institute yang menamakan diri sebagai Persis Kultural.

Di antara buku-buku karya alumni Pesantren PERSIS dan aktivis jam’iyyah yang sudah dipublikasikan, di antaranya:

A. Sejarah dan Tokoh PERSIS:

1. FOSPI Kairo-Mesir, Siapkah PERSIS Menjadi Mujaddid Lagi?, Alqaprint: Jatinangor, 2000
2. Drs. K. H. Shiddiq Amien, MBA, dkk., Panduan Hidup Berjamaah, Tafakur: Bandung, 2005
3. Tiar Anwar Bahtiar dan Pepen Irpan Fauzan, PERSIS dan Politik, Pembela Islam Media: Jakarta, 2012
4. Abu Al-Ghifari dan Dani Asmara, S.S., Sejarah Perjuangan Pemuda PERSIS, Mujahid Press: Bandung, 2002
5. U.A. Saepudin, Fiqhu Ad-Da’wah K.H. E Abdurrahman, Al-Huda: 1996
6. Dr. Syafiq A. Mughni, M.A., PhD., Hassan Bandung Pemikir Islam Radikal, PT. Bina Ilmu: Surabaya, 1980
7. Asep Basuki Rahmat, M.Ag., Menelusuri Pemikiran Keagamaan K. H. A. Ghazaly, RSIN Fikr: Cianjur, 2004
8. Dadan Wildan, Yang Da’i Yang Politikus, PT. Remaja Rosdakarya: Bandung, 1997
9. Drs. Badri Khaeruman, M.Ag., Pandangan Keagamaan Persatuan Islam, Granada: 2005
10. Endang Sirodjudin Hafidz, Tiar Anwar Bachtiar, Dudung Abdul Rahman, Pepen Irfan Fauzan, Pergulatan Pemikiran Kaum Muda PERSIS, Granada: 2005.
11. Dadan Wildan, Sejarah Perjuangan Islam, Gema Syahida: Bandung, 1995
12. Wildan Hasan, PERSIS NU ANA, PD PERSIS Bekasi: 2016

B. PERSIS dan Ke-Indonesiaan:

1. Tiar Anwar Bachtiar, Setengah Abad Dewan Da’wah Berkiprah Mengokohkan NKRI, Dewan Dakwah: Jakarta, 2017
2. Artawijaya, Belajar dari Partai Masjumi, Pustaka Al-Kautsar: Jakarta, 2014
3. Dr. Tiar Anwar Bachtiar, Politik Islam di Indonesia, PERSIS Pers: Bandung, 2019
4. Dr. Tiar Anwar Bachtiar, Jas Mewah; Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah dan Dakwah, Pro-U Media: Yogyakarta, 2018
5. Tiar Anwar Bachtiar, Pertarungan Pemikiran Islam di Indonesia, Pustaka Al-Kautsar: Jakarta, 2017
6. Enung Nurhayati MA., Ph.D., Gajah Mada, Narasi: Yogyakarta, 2018
7. Tiar Anwar Bachtiar, Dkk, Sejarah Nasional Indonesia; Perspektif Baru 1 & 2, AIEMS: Jakarta, 2011
8. H. Bambang Setyo, M.Sc., Syari’ah Solusi Masalah Bangsa, Masyarakat Peduli Syari’ah: Jakarta, 2012

9. Nizar Saputra, Negarawan Reformis: Bandung

C. Ijtihad PERSIS dan Hukum di Indonesia:

1. H. Uyun Kamiluddin, Menyorot Ijtihad PERSIS, Tafakur: Bandung, 2006
2. Dr. H. Jeje Zaenudin, Politik Hukum Islam, PERSIS Press: Bandung, 2019
3. Dr. Jeje Zaenudin, Metode dan Strategi Penerapan Syariat Islam di Indonesia, MIUMI: Jakarta, 2015

D. Fatwa-Fatwa Dewan Hisbah PERSIS:

1. Dewan Hisbah PERSIS, Masalah Idul Adha dan Qurban, PERSIS Press: Bandung, 2019
2. Dewan Hisbah PERSIS, Ikhtisar 10 Masalah Seputar Salat dan Isbal, PERSIS Press: Bandung, 2018
3. Dewan Hisbah PERSIS, Ikhtisar 10 Masalah Seputar Salat dan Cadar, PERSIS Press: Bandung, 2019
4. Dewan Hisbah PERSIS, Rukhsah-Rukhsah Haji dan Umroh, PERSIS Press: Bandung, 2018
5. Dewan Hisbah PERSIS, Thuruq Al-Istinbath; Metode Pengambilan Hukum, PERSIS Press: Bandung, 2018
6. Dewan Hisbah PERSIS, Risalah Shalat, PERSIS Press: Bandung, 2017
7. Dewan Hisbah PERSIS, Kumpulan Keputusan Sidang Dewan Hisbah PERSIS tentang Muamalah, PERSIS Press: Bandung, 2013
8. Dewan Hisbah PERSIS, Kumpulan Keputusan Sidang Dewan Hisbah PERSIS tentang Aqidah dan Ibadah, PERSIS Press: Bandung, 2008

Sebagai analisa kritis, metode ijtihad produk-produk hukum Dewan Hisbah dapat dikaji dalam karya disertasi Prof. Dr. Dede Rosyada, MA. (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2015-2019) dengan judul: Metode Kajian Hukum Dewan Hisbah PERSIS yang diterbitkan Logo Wacana Ilmu (1999).

E. Fiqh Khas Asatidz dan Alumni Pesantren PERSIS:

1. H. Syamsul Bahri, Panduan Praktis Fiqh Qurban, LAZIS Dewan Dakwah: Jakarta, 2010
2. Abu Alifa Shihab, Solusi Islam, Pembela Islam Media: Jakarta, 2011
3. Wawan Shafwan Shalehuddin, Salat-Salat yang Bid’ah, Tahdzibul Wasyiyah: Bandung, 1997
4. Wawan Shofwan Shalehuddin, Amien Muchtar, Teteng Sofian, Kontroversi Mengangkat Tangan Ketika Berdoa, Tafakur: Bandung, 2005
5. Wawan Shofwan Shalehuddin, Shalat Berjamaah dan Permasalahannya, Tafakur: Bandung, 2014
6. A. Zakaria, Fatwa-Fatwa Seputar Haji dan Umrah, Ibn Azka Press: Garut, 2014
7. A. Zakaria, Al-Fatawa 1-4, Ibn Azka Press: Garut, 2014
8. A. Zakaria, Al-Hidayah; Pembahasan Perbedaan-Perbedaan Pendapat dalam Fiqh beserta Pemecahannya 1-3, Ibn Azka Press – Garut, 2005
9. Tim Majalah Risalah, Istifta Tanya Jawab Masalah Agama KH. E. Abdurrahman, CV Husaba: Bandung, 1991
10. A. Zakaria, Kesalahan Umum dalam Pelaksanaan Ibadah Shalat, Ibnu Azka Press, Garut, 2003
11. KH. Deddy Rahman dan Ustadz Kosim Kusnadi, Kaefiyat Shalat Nabi SAW., Majlis Taklim Ibadurrahman, Bandung.
12. Habib Hassan Al-Mahdaly, Kumpulan Tanya Jawab Agama di Radio DAKTA FM Bekasi
13. Buku-buku Ustadz A. Zakaria dan Asatidz lainnya yang belum disebutkan.
14. Pandangan-pandangan Hisab terkini Dewan Hisab dan Rukyat Persatuan Islam dibawah KH. Mohammad Iqbal Santoso Syihab yang belum terpublikkan (melibatkan para alumni seperti halnya Syarif Ahmad Hakim, Hilman Ali Ghazali, Abu Sabda dan lainnya)

F. Aqiedah dan Manhaj:

1. Tim Komite Dakwah Khusus (KDK) MUI (Teten Romly Qomaruddien), Panduan Praktis Menghadang Permurtadan dan Mewaspadai Aliran Sempalan, KDK MUI: Jakarta, 2018
2. H.T. Romly Qomaruddien, MA., Risalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Pusat Kajian Dewan Dakwah: Jakarta,
3. H.T. Romly Qomaruddien, MA., Mengenal Sejarah dan Ajaran Faham Syi’ah, DIKDASMEN Dewan Dakwah: Jakarta,
4. Romly Qomaruddien Abu Yazied, Pengantar Memahami Aqidah Islam, Al-Bahr Press: Bekasi, 2009
5. H.T. Romly Qomaruddien, MA., Petaka Akhir Zaman; Bencana Global, Pergolakan Negeri Syam Hingga Internasionalisasi Haramain, Pusat Kajian Dewan Dakwah: Jakarta, 2017
6. H.T. Romly Qomaruddien, MA., Islam dan Terorisme, Pusat Kajian Dewan Dakwah: Jakarta, 2017
7. H.T. Romly Qomaruddien, MA., Kuliah ‘Aqidah dan Manhaj, Pusat Kajian Dewan Dakwah: Jakarta, 2018
8. Romly Qomaruddien Abu Yazied, Memahami Manhaj Islam Membedah Ummahatul Firaq, Al-Bahr Press: Bekasi, 2008
9. Romly Qomaruddien Abu Yazied, Memahami Al-Jama’ah dan Al-Firqah dalam Islam, Al-Bahr Press: Bekasi, 2008
10. Romly Qomaruddien Abu Yazied, Fiqhul Jama’ah: Upaya Mewujudkan Kelompok yang Berwawasan Al-Jama’ah, Al-Bahr Press: Bekasi, 2010
11. T. Romly Qomaruddien, Haris Muslim, Syarif Hidayat, Eka Permana Habibillah, Muslim Nurdin, Andri Aljihad, Risalah Aqidah, PERSIS Press: Bandung, 2019
12. Jeje Zaenudin Abu Himam, Akar Konflik Umat Islam, PERSIS Press: Bandung, 2008
13. A. Zakaria, Menguak Hakikat Syahadat, Bai’at dan Jama’ah Muslimin, Ihyaus Sunnah Press: 2000
14. A. Zakaria, Makna Kembali Kepada Al-Quran dan As-Sunnah, Ibn Azka Press: Garut, 2011
15. A. Zakaria, Pokok-Pokok Ilmu Tauhid 1-3, Ibn Azka Press: Garut, 2005
16. Ibnu Muchtar, Emosi Oknum Salafiy, PUSLITBANG PP Pemuda PERSIS: Bandung, 2008
17. Prof. Dr. KH. M. Abdurrahman, MA, Antara Sunni dan Syiah, Pustaka Nadwah: Bandung, 2013
18. Dr. Ulil Amri Syafri, Yahudi Dalam Al-Qur’an, Kifayah: Depok
19. Yusuf Burhanudin, Lc., Kemunculan Dajjal Palsu, Qultum Media: 2007
20. Syamsul Bahri Ismail, Teten Romly Qomaruddien, Hadi Nur Ramadhan, Memuliakan Bendera Tauhid, Pusat Kajian Dewan Dakwah: Jakarta, 2018
21. Nashrudin Syarief, Menangkal Virus Islam Liberal, Risalah Press, Bandung
22. Buku-buku Kritik Hadits Syi’ah Ustadz Amin Muchtar (Buku Mahkota Syi’ah dan Hitam Dibalik Putih dan Tulisan lainnya)
23. Buku-buku Kritik Ahmad Husnan (Buku Berbenah Menuju Pemikiran Islami, Buku Ilmiah Intelektual Dalam Sorotan, Buku Kritik Hadits Cendikiawan Dijawab Santri, Buku Kritik Inkarus Sunnah dan lain-lain)
24. Tercatat pula buku-buku karya murid Tuan Ahmad Hassan lainnya seperti halnya Ustadz Muhammad Thalib terkait Syari’ah dan penegakkannya.

G. Masjid dan Metode Dakwah:

1. K.H. Usman Shalehuddin, Zae Nandang, Wawan Shofwan Shalehuddin, Cara Khutbah Rasulullah SAW, Tafakur: Bandung, 2006
2. Romly Qomaruddien Abu Yazied, Karakteristik dan Metode Da’wah Ibnu Taimiyah, Divisi Pendidikan dan Pembinaan Pusdiklat Dewan Dakwah: Bekasi
3. Pusat Kajian Dewan Da’wah, Tiga Pilar Da’wah: Masjid, Pesantren dan Kampus, Pusat Kajian Dewan Dakwah: Jakarta, 2019
4. Jeje Zaenudin, Fiqih Dakwah Jam’iyyah; Berjam’iyyah Tidak Bid’ah, Pembela Islam Media: Jakarta, 2012
5. A. Zakaria, Materi Dakwah: Untuk Da’i dan Muballigh, Risalah Press: Bandung, 2005
6. Bidgar Komunikasi Dakwah dan Kemasjidan Bidang Dakwah PP PERSIS, Panduan Pengelolaan Masjid PERSIS, PERSIS Press: Bandung, 2016
7. Romly Qomaruddien Abu Yazied, Imaratul Masjid: Menuju Markaz Ilmu yang Mencerahkan dan Memberdayakan, Al-Bahr Press: Bekasi, 2013
8. Dr. Ulil Amri Syafri, Dakwah; Tantangan, Peluang dan Harapan, STID Moh. Natsir: Jakarta
9. Nashruddin Syarief, Menuju Islam Kaffah, Tsaqifa Publishing: Bandung, 2014

H. Wawasan Pendidikan:

1. H. Syuhada Bahri, Prof. Dr. Sofyan Sauri, M. Pd., H.T. Romly Qomaruddien, MA, Membumikan Pendidikan Nilai, Al-Bahr Press: Bekasi, 2012
2. H.T. Romly Qomaruddien, MA., Ilmu dan Ahli Ilmu, Pusat Kajian Dewan Dakwah: Jakarta
3. Rusmiati Sundari Syam, Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah dan Konsep Pendidikan Berbasis Tazkiyyah an-Nafs, Al-Bahr Press: Bekasi,
4. H.T. Romly Qomaruddien, MA., Risalah Pendidikan Islam; Kumpulan Tulisan Para Mudarris Sekolah Dewan Dakwah, Biro Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Pendidikan Dewan Dakwah: Jakarta, 2015
5. H.T. Romly Qomaruddien, MA., Kuliah Pendidikan Islam, Al-Bahr Press: Bekasi, 2011
6. Dr. H. Dedeng Rosyidin, M.Ag., Konsep Pendidikan Formal Islam, Pustaka Nadwah: Bandung, 2009
7. Drs. H. Dedeng Rosyidin, M.Ag., Akar-Akar Pendidikan dalam Al-Quran dan Al-Hadits, Pustaka Umat: Bandung, 2003
8. Tatang Muttaqin, S. Sos., M. Ed, Education Reform: An Approach for Education Improvement, Center of Bureaucracy, 2002. (Selain ini, banyak tulisan ilmiah Tatang Muttaqin, Ph.D yang sudah dupublikasikan melalui Jurnal Nasional dan Internasional)
9. Syafiq A. Mughni, Dinamika Intelektual Islam Pada Abad Kegelapan, Lembaga Pengkajian Agama dan Masyarakat (LPAM): Surabaya, 2002
10. Prof. Dr. Jusuf Amir Feisal, Reorientasi Pendidikan Islam, Gema Insani Press: Jakarta, 1995
11. Dr. Ulil Amri Syafri, Pendidikan Karakter Dalam Al-Qur’an, Rajawali Press: Jakarta

I. Risalah Ramadhan:

1. H. Teten Romly Qomaruddien, MA., Targhieb Ramadhan, Al-Bahr Press: Bekasi, 2012
2. Nashruddin Syarief, Sukses Ibadah Ramadhan: Panduan Bagi yang Tidak Mau Gagal Ibadah Ramadlan, Tsaqifa Publishing: Bandung, 2014
3. Wildan Hasan, Total Ramadhan; Sebelum Ramadhan Tak Menjumpai Kita Lagi, PERSIS Press: Bekasi, 2015
4. H.T. Romly Qomaruddien, I’jaz Al-Qur’an; Menyingkap Tabir Kemukjizatan Al-Qur’an, Divisi Pendidikan dan Pembinaan Pusdiklat Dewan Dakwah: Bekasi,
5. Abu Taw Jieh Rabbanie, Jurnal Ramadhan, Al-Jazeera IK2S: Jakarta, 2014
6. Jeje Zaenudin, Panduan Memahami dan Mengamalkan Puasa Ramadhan, I’tikaf, Lailatul Qadar dan Lebaran, LAZIS Dewan Dakwah: Jakarta, 2015
7. A. Zakaria, Fatwa-Fatwa Seputar Ramadhan, Ibn Azka Press: Garut, 2013
8. H. Usman Shalehuddin, Wawan Shofwan Shalehuddin, Amin Mukhtar, Shalat Malam Witir dan Tarawih; Telaah Kritis Hadits-Hadits, Tafakur: Bandung, 2005
9. Wawan Shofwan Shalehuddin, Risalah Shaum: Sunnah-Sunnah dan Bid’ah-Bid’ahnya, Tahdzibul Washiyyah; Bandung, 1998

J. Bacaan Praktis Bimbingan Keluarga:

1. A. Zakaria, Jabatanku Ibadahku; Panduan Hidup Para Pejabat, Ibnu Azka: Garut, 2010
2. Mohammad Taofiq Ridho (Terjemahan Syaikh Said Hawwa), Panduan Menata Rumah Islami, Rabbani Press: Jakarta, 1993
3. Ummu Yazied, Yaa Ukhti Kenalilah Dirimu, Al-Bahr Press: Bekasi, 2007
4. H.T. Romly Qomaruddien, MA., Ikhtiar Mencari Kedamaian di Tengah Kecemasan, Pesantren Persatuan Islam 81 Cibatu: Garut, 2019
5. H.T. Romly Qomaruddien, MA., Amanah Syar’iyyah di Tengah Gelombang Fitnah, Pesantren Persatuan Islam 81 Cibatu: Garut, 2019
6. A. Zakaria, Tarbiyah An-Nisa: Panduan Lengkap Wanita Shalehah, Ibn Azka Press: Garut, 2003
7. A. Zakaria, Etika Hidup Seorang Muslim, Ibn Azka Press: Garut, 2003
8. A. Zakaria, Tafsir Surat Al-Fatihah, Ibnu Azka Press: Garut, 2005
9. Rahmat Najib, Tafsir Surat An-Nisa, Risalah Perss: Bandung
10. Teteng Sopian, Cara Tidur Nabi: Panduan Hidup Sehat Seperti Rasulullah SAW, Mataholang Press: Bandung
11. Wildan Hasan, Bawalah Facebookmu ke Syurga, Al-Bahr Press: Bekasi, 2014
12. Wildan Hasan, Bicaralah Yang Baik Atau Diam, SMPI Dewan Dakwah: Bekasi, 2016
13. Wildan Hasan, Risalah Perang Panjang, WH Publishing: Bekasi, 2019
14. Latief Awaluddin, Cerdas Seksual; Sex Education For Teenagers, Shopee Media: Bandung, 2008
15. Jeje Zaenuddin, Risalah Cinta, Risalah Hati dan Risalah Harta, Persis Pers: Bandung
16. Abdul Wahid Alwy (Penerjemah), Wisata Hati Pemikir Yahudi Menuju Islam, Dewan Dakwah: Jakarta

17. Bacaan populer karya Ustadz Ucu Najmuddin; Terapi Bakhil (2010), Islamic Hipnoparenting (2012), Batin yang Damai (2018), Pemulihan Batin (2017), Magnet Jiwa (2018), Keajaiban Orang Safar (2017), Kaya dan Bahagia 30 Menit (2018), Quantum Spiritual Terapi (2016), dan Doa Sepenuh Jiwa (2019),

18. Buku-buku Abu Ghifari, dkk dengan penerbitan Mujahid Press Bandung

K. Isu Sosial dan Lingkungan Hidup:

1. Prof. Dr. M. Abdurrahman, MA., Nutur Galur Laku Rosul: Ngaheunyeuk Leuweung Ngolah Lahan, Baiturrahman Press: Bandung, 2007
2. Tatang Muttaqin, Tiar Anwar Bachtiar, Aris Subiyono, Djoko Riyanto, Komarudin, Membangun Nasionalisme Baru; Bingkai Ikatan Kebangsaan Indonesia Kontemporer, Direktorat Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga BAPPENAS: Jakarta, 2006
3. Dr. M. Abdurrahman, MA., Dinamika Masyarakat Islam dalam Wawasan Fikih, PT. Remaja Rosdakarya. Bandung, 2002
4. Drs. Beni Ahmad Saebani, M.Si., Sosiologi Agama; Kajian Tentang Perilaku Institusional dalam Beragama Anggota PERSIS dan Nahdlatul Ulama, PT. Refika Aditama: Bandung, 2007

5. Lamlam Pahala, M.Ag., Fiqih Maritim; Bandung
6. Artikel-artikel yang ditulis para pegiat lingkungan hidup dari kalangan alumni Pesantren PERSIS di berbagai media dan jurnal, di antaranya Parid Ridwanuddin yang sedang merampungkan bukunya Teologi Lingkungan tahun ini (2020).

Itulah beberapa karya literasi yang dapat ditelusuri, tanpa mengurangi ta’zhim penulis apabila banyak tokoh dari generasi perintis, pelanjut, generasi paman, generasi abang atau pun generasi adik yang belum dimasukkan karena terbatasnya pengetahuan dan daya ingat serta daya baca.

Di samping yang telah disebutkan, masih banyak para alumni Pesantren PERSIS yang bergerak dalam menerbitkan buku-buku terjemahan dari Bahasa Arab ke Bahasa Indonesia seperti yang dilakukan oleh Ustadz Ainur Rafiq Tamhid, Lc. dari Bangil yang mengembangkan penerbitan Robbani Press Jakarta dengan Nashihin Nizhamuddin sebagai editornya. Ustadz Muhammad Altway, Ustadz Agus Hassan Bashori, MA. dengan penerbitan El-Shafwah-nya. Adapun Artawijaya selain editor di penerbitan Al-Kautsar Jakarta, juga banyak memfokuskan diri sebagai penulis tokoh-tokoh Masyumi dan buku-buku tsaqâfah Islâmiyyah.

Selain itu, ada pula yang terlibat dalam pengkajian dan penelitan seperti Dikdik Mohammad Tasydik, Lc. dan Dudung Ramadhani, Lc. yang membantu KH. Amin Jamaluddin di Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) Jakarta yang banyak menerbitkan buku-buku membendung aliran sesat dan destruktif terhadap Islam melanjutkan para seniornya terdahulu seperti halnya Ustadz Aceng Thoha Abdul Qadir, Lc. dan Ustadz Jajat Sudrajat, Lc. Adapun sebagian ikhwah lainnya; Ustadz H. Ma’mur Hasanuddin, MA., Ustadz Tate Qomaruddin, Lc., Ustadz H. Hilman Rosyad Syihab, Lc., Ustadz Mohammad Taofiq Ridho, Lc., Ustadz Nashir Harits, Lc., Ustadz H. Iwan Kartiwan, Lc., Ustadz Iman Sulaiman, Lc., Ustadz Aang Suwandi, Lc. dan yang lainnya, di samping mereka lebih memilih aktif di Partai Politik Islam (seperti halnya PKS), kerap kali muncul menulis di Majalah Tarbawi dan media-media tarbiyah lainnya.

G. Penutup

Sebagai bahan muhâsabah, semoga apa yang telah dirintis selama ini dengan bentangan zaman yang cukup panjang tidak menjadi sia-sia dan diterima di sisi Allah ‘azza wa jalla. Apa yang telah ditorehkan oleh para pendahulu, mudah-mudahan kita diberikan kekuatan untuk bisa melanjutkannya. Pepatah Arab menasihatkan:

غرس السابقون فاكلنا …
افلا نغرس لياكل اللا حقون …

“Orang-orang terdahulu telah menanam (banyak kebaikan), lalu kita pun memetiknya hari ini … Apakah kita mampu menanam kebaikan hari ini, untuk bisa dipetik oleh generasi kemudian.”

Allâhumma faqqihnâ fied dîn … Âmîn yâ Rabbal ‘âlamîn
____

Penulis adalah: Pimpinan Pesantren PERSIS 81 Cibatu-Garut, Ketua Prodi KPI STAI PERSIS Jakarta, Anggota Dewan Hisbah PP. Persatuan Islam (Komisi ‘Aqîdah), Anggota Fatwa MIUMI Pusat (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris Komisi Dakwah Khusus (KDK) MUI Pusat dan Ketua Bidang Ghazwul Fikri & Harakah Haddâmah Pusat Kajian Dewan Dakwah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!