Jumat, Oktober 30MAU INSTITUTE
Shadow

MANUSIA MAKHLUK KOMUNIKATIF (Kado Pengantar Mastama Komunikasi Penyiaran Islam)

MANUSIA MAKHLUK KOMUNIKATIF (Kado Pengantar Mastama Komunikasi Penyiaran Islam)
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien


Sudah menjadi fithrah, setiap manusia yang dilahirkan pasti memberi isyarat dengan tangisan. Yakni, tangisan yang ditunggu-tunggu oleh semua yang tengah menanti kelahiran sang buah hati dengan penuh cemas, haru dan berujung rasa bahagia. Tak jarang pihak keluarga merasa gundah, ketika sekian lama menunggu, namun tangisan bayi tak kunjung terdengar. Kalau pun sudah lahir tak bersuara pula, maka Mak Paraji atau pun Bidan yang membantu kelahirannya, akan sedikit menepuk-nepuknya agar jabang bayi bisa menangis.

Sama halnya dengan akhir kehidupan manusia, maka tidak ada yang jauh lebih penting untuk ditinggalkan terakhir kalinya, selain dari kalimah thayyibah dan ungkapan washiyat untuk keluarga ahli waris dan handai tolan yang ditinggalkan.

Semua ini menunjukkan, betapa komunikasi itu, sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hajat dan kehidupan manusia. Mengawali hidup dengan komunikasi, mengakhiri hidup pun demikian. Bahkan, di alam barzakh hingga menghadap Rabbul ‘Âlamîn tidak lepas dari komunikasi.

Adapun yang dimaksud dalam bahasan kali ini, tentu dibatasi dalam lingkup komunikasi selama kita hidup di dunia fana ini. Tanpa bahasa dan komunikasi, sudah bisa dipastikan bahwa peradaban manusia di dunia ini menjadi tidak ada dan hampa budaya. Karenanya, Al-Qur’ânul Karîm menyebutnya dengan “wa min âyâtihî; Dan di antara tanda-tanda keagungan Allah ‘azza wa jalla” sebagaimana firmanNya:

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦ خَلْقُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَٰنِكُمْ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّلْعَٰلِمِينَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya adalah penciptaan langit dan bumi serta berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Ar-Rûm/ 30: 22)

Agar efektivitas komunikasi dapat berjalan dengan baik dan lebih dirasakan kemanfaatannya, maka Allah ‘azza wa jalla mengirimkan para Nabi dan Rasul di setiap zamannya dengan bahasa yang disesuaikan dengan bahasa kaumnya masing-masing. Al-Qur’an menginformasikan hal ini sebagai berikut:

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِۦ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

“Kami tidak mengutus seorang Rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan yang Maha kuasa lagi Maha bijaksana.” (QS. Ibrahim/ 14: 4)

Betapa komunikasi dengan bahasa kaum itu sangat urgent dan anashir yang tidak dapat diabaikan dalam kehidupan, terutama dalam penyampaian pesan moral keagamaan, maka dari zaman para Nabi hingga Nabi akhir zaman Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa “lisânu qaumin; bahasa kaum” merupakan bahasa dakwah semesta.

Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al-Asyqar, memberikan pandangannya: “Menyampaikan pesan keagamaan dengan menggunakan sesuai bahasa kaum, agar yang disampaikan lebih bisa difahami dan memudahkan sampainya pesan. Kalaulah menggunakan dengan selain bahasa kaum, maka mereka tidak akan mengerti apa yang disampaikan dan tidak akan memahami apa yang dikomunikasikan.” (Al-Asyqar, Zubdatut Tafsîr min Fathil Qadîr, 1994: hlm. 329).

Sebagai contoh, cerita yang merujuk pada sebuah riwayat Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anh. Dikatakan bahwa seorang pria dari Bani Fazarah datang kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam seraya berkata: “Istriku melahirkan seorang anak yang berkulit hitam dan aku tidak mengakui anak tersebut.” Rasulullah pun bertanya: “Engkau mempunyai unta?” Ia menjawab: “Ya”. Beliau bertanya lagi: “Apa warna kulit untamu itu?” Ia menjawab: “Merah”. Beliau bertanya lagi: “Apakah pada kulitnya terdapat warna kelabu hitam-hitam?” Ia menjawab: “Ya”. Beliau bertanya lagi: “Dari mana warna itu bisa ada?” Ia menjawab: “Mungkin warna itu berasal dari keturunannya”. Maka beliau menjelaskan kepada pria tersebut: “Inipun mungkin saja berasal dari keturunannya.” (HR. Bukhari, no. 5305 dan Muslim no. 1500)

Hadits tersebut menunjukkan, bahwa Rasulullah benar-benar sosok teladan dalam berkomunikasi. Beliau tidak menginginkan orang yang bertanya tersakiti hatinya dan terluka jiwanya. Maka beliau pun mencari “perkataan alternatif” untuk menjawabnya, tanpa merubah substansi yang ditanyakan. Sama halnya ketika seseorang datang bertanya tentang amalan yang paling mulia? Maka sebelum beliau menjawab, terlebih dahulu beliau memperhatikan penuh seksama siapa yang bertanya. Apakah tepat menjawab infaq di jalan Allah apabila yang bertanya seorang faqir-miskin?, atau menjawab jihad di jalan Allah memanggul senjata di medan laga apabila yang bertanya seorang yang tampak lemah? Di sinilah pelajaran yang sangat berharga kita dapatkan, betapa memahami realita sangatlah penting dalam memetakan dakwah. Para ulama menyebutnya dengan fiqhul wâqi’, yakni bagaimana memahami realita agar mampu berlabuh di hati ummat.

Sebagai perbendaharaan ilmu, tidaklah keliru apabila para ahli fikir semisal Aristoteles menyebutkan bahwa “manusia itu hewan yang mampu berbicara” (al-insânu hayawânun nâthiqun). Dikatakan nâthiqun, berarti bukan asal bicara atau “asal bunyi”, melainkan ucapan yang tertata, sistematis, logis serta terhindar dari keterpelesetan dan kekeliruan (fallacy, az-zulal).

Dr. Abdul Halim al-Barak dalam artikelnya memaparkan: “Merupakan fakta bahwa manusia itu makhluk yang bisa berbicara dengan landasan berfikir, karena itu pula omongannya menjadi baik dan penuh kelembutan. Kalau tidak, tak ubahnya seperti perbuatan hewan. Ucapan itu sangat terkait erat dengan fikiran, maka kalimat demi kalimat yang diucapkan di belakangnya ada akal yang terstruktur. Maka akal yang positif akan melahirkan kemashlatan manusia, sedangkan akal yang negatif akan melahirkan kerusakan bagi manusia.” (Al-Barak, Jarîdah Makkah, 07 Oktober 2019)

Untuk lebih terpeliharanya logika seorang Muslim dalam berkomunikasi, maka Syaikh Prof. Dr. Yusuf Al-Qaradhawi memberikan rambu-rambunya. Dalam kitabnya Khithâbunal Islâmi Fî ‘Ashril ‘Aulamah (“Retorika Islam di Era Global”) disebutkan ada 15 poin utama yang menjadi akar retorika Islam, yaitu:

1. Beriman kepada Allah dan tidak mengingkari keberadaan manusia.
2. Meyakini wahyu dan tidak menafikan akal.
3. Menyeru kepada spiritual dan tidak meremehkan material.
4. Memperhatikan ibadah syar’iyah dan tidak melupakan nilai-nilai moral.
5. Mengagungkan akidah dan menyebar toleransi dan kasih sayang.
6. Memikat dengan idealisme dan mempedulikan realita.
7. Mengajak kepada keseriusan dan konsistensi, namun tidak melupakan istirahat dan berhibur.
8. Berfikir universal dan tidak melupakan aksi lokal.
9. Semangat kepada modernitas, namun tetap berpegang teguh kepada orisinalitas.
10. Berorientasi futuristic dan tidak memungkiri masa lalu.
11. Memudahkan dalam berfatwa dan menggembirakan dalam berdakwah.
12. Mengumandangkan ijtihad dan tidak melampaui batasan permanen.
13. Menolak aksi teror yang terlarang dan mendukung jihad yang disyariatkan.
14. Mengukuhkan eksistensi wanita, namun tidak mengikis martabat kaum pria.
15. Melindungi hak-hak kaum minoritas dan tidak memarginalisasi kaum mayoritas. (Lihat: Al-Qaradhawi, Retorika Islam, terj. H.M. Abdilah Noor Ridlo: 2004).

Dengan berpegang pada tiga sistem kunci kesuksesan; yakni adanya kemampuan (capability), adanya kesempatan (oppurtunity) dan adanya kepedulian (care) dalam mengembangkan komunikasi dan penyiaran Islam dengan berbagai retorika di dalamnya, maka kita berharap bisa menjawab tantangan zaman dan menaklukkan peradaban. Ada keinginan, berarti akan lahir kemampuan. Ada kemampuan, berarti ada jalan menuju kesempatan. Semua itu hanya akan terwujud, bila ada kepedulian dalam menggerakkan amal.

Ingatlah pesan Dr. Sir Mohammad Iqbal (penyair legendaris Muslim Pakistan) yang diterjemahkan Allâhu yarham Dr. Mohammad Natsir yang pernah memetik kata-kata emasnya: “Dan janganlah dipilih hidup ini bagai nyanyian ombak, hanya berbunyi ketika terhempas di pantai … Tetapi jadilah kamu air bah, mengubah dunia dengan amalmu … Kipaskan sayapmu ke seluruh ufuk … Sinarilah zaman dengan nur imanmu … Kirimkan cahaya dengan kuat yakinmu … Patrikan segala dengan nama Muhammad.”
____

Penulis adalah: Ketua Prodi KPI-STAI PERSIS Jakarta, Anggota DH PP Persatuan Islam (Komisi ‘Aqîdah), Anggota Fatwa MIUMI (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris KDK-MUI Pusat dan Ketua Bidang Ghazwul Fikri Pusat Kajian Dewan Da’wah

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com