Kamis, September 23MAU INSTITUTE
Shadow

PEMBAHARUAN ISLAM; ANTARA TAJDÎD DAN TAJRÎD

PEMBAHARUAN ISLAM; ANTARA TAJDÎD DAN TAJRÎD
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Munculnya seseorang atau beberapa orang pembaharu, bahkan berupa “gerakan pembaharuan” pada setiap 100 tahun (satu abad, satu qurun), telah diisyaratkan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

“Sesungguhnya Allah akan membangkitkan untuk ummat ini pada setiap akhir seratus tahun, orang yang akan memperbaharui ajaran agamanya.” (HR. Abû Dâwud no. 4291 dari shahabat Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anh)

Sekaliber Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, As-Suyûthi, Al-‘Iraqi, Syamsul Haq Abadi, As-Sakhâwi, Al-Munâwi dan Syaikh Nâshiruddin Al-Albani menyebutkan bahwa hadits tersebut riwayatnya tsiqah dan masyhur. Karena itu, tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk meragukan kedudukan hadits tersebut.

Kata tajdîd (تجديد), secara bahasa bisa mengandung makna: memperbaharui, menghidupkan dan mengembalikan. Menurut Busthami Sa’îd dalam Mafhûm Tajdîdud Dîn, di dalamnya mengandung tiga pengertian; sesuatu yang diperbaharui itu sebelumnya sudah ada, sesuatu itu telah dimakan zaman dan mengalami kerusakan, serta sesuatu itu dikembalikan kepada keadaan semula sebelum rusak.

Adapun dari sisi sifatnya, para ulama memahami hadits tajdîd itu meliputi dua hal penting.

Pertama; Tajdîd merupakan kehendak Allah ‘azza wa jalla, oleh karenanya sesuatu yang tidak boleh terjadi apabila praktek tajdîd bertentangan dengan kehendak Allah dan sunnah rasulNya. Dikatakan tajdîd apabila tetap komitmen di atas jalan Allah ‘azza wa jalla dan tidak melakukan penentangan terhadap rasulNya (Lihat: QS. Al-An’âm/ 6: 153 dan QS. An-Nisâ/ 4: 115).

Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al-Asyqar menuturkan: “Siapa yang menentang dan membantah Rasul sesudah jelas kebenaran baginya serta setelah tahu bahwa Rasul itu adalah pembawa bukti yang jelas, namun mereka lebih cenderung mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin (sabîlul mu’minîn). Bahkan mereka lebih senang menolong orang-orang kafir dan orang-orang sesat, maka Allah akan biarkan mereka leluasa terhadap kesesatan yang dipilihnya itu. Maka bagi mereka, neraka jahannam sebagai seburuk-buruknya tempat kembali.” (Al-Asyqar dalam Zubdatut Tafsîr Min Fathil Qadîr)

Kedua; Kemunculan pelaku pembaharu (mujaddid); bisa satu orang pelaku (munfarid) sebagaimana dikatakan Imam As-Suyûthi, bisa juga lebih dari satu orang pelaku seperti ditunjukkan Ibnu Atsîr, Adz-Dzahabi, Ibnu Katsîr, An-Nawawi dan Ibnu Hajar Al-‘Asqalani. Bahkan kalangan ulama kontemporer (mu’âshirîn) semisal Sayyid Abul A’la al-Maududi dan kalangan tokoh modernis lainnya memiliki pandangan lain, bahwa pelaku pembaharuan itu bisa juga berbentuk gerakan atau organisasi.

Apabila dicermati dengan seksama berdasarkan kriteria dan karakteristik teks ayat dan hadits, maka pembaharuan agama (tajdîdud dîn) tidak bisa keluar dari dua misi utamanya; Yakni mengembalikan kemurnian ajaran Islam kepada ajaran aslinya (Al-Qur’ân dan As-Sunnah), setelah keduanya banyak disimpangkan. Misi tajdîd yang pertama ini disebut dengan purifikasi ajaran Islam (harakatul ashâlah). Sedangkan misi berikutnya, melakukan pembaharuan menuju sesuatu keadaan yang lebih baik dan mashlahat. Misi tajdîd yang kedua ini disebut reformasi ajaran Islam, yaitu melakukan upaya pembaharuan menuju arah yang lebih baik tanpa merusak substansi ajarannya (harakatul ishlâh).

Adapun berbagai upaya yang membawa pada pembiasan (syubuhât), keragu-raguan (syukûk), penyimpangan (inhirâf) yang berujung pada penyesatan (tadhlîl) sebagai buah dari kebebasan dan “kebablasan” berfikir (hurriyatul fikr). Semua ini tidak dapat dikatakan sebagai tajdîd, melainkan tajrîd atau tabdîl. Yakni sebuah upaya “penelanjangan” ajaran agama dan usaha “menggantikan” ajaran agama dengan faham, ajaran atau pun ideologi lainnya.

Pandangan yang menodai ‘aqidah dan ajaran syari’ah, kerapkali menyandarkan pada alam fikiran atau pun perasaan yang membabi buta pada sebahagian tokoh dan intelektual yang kehilangan tanggung jawab ilmiah agamanya masih sering terjadi. Celotehan bahwa Tuhan itu imajinasi, kitab suci Al-Qur’an itu fiksi, agama itu konspirasi, malaikat dan nabi, serta hari akhir itu halusinasi, bahkan mereka beranggapan dakwah itu arabisasi dan lain-lain, merupakan penyakit “sesat fikir” yang wajib segera diamputasi.

Benar apa yang diingatkan Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bahwa hadirnya generasi “penyelamat” yang akan mengembalikan cara pandang beragama yang benar adalah sebuah keniscayaan di setiap zaman. Al-Hâfizh Ibnu Qayyim rahimahullâh menukilkan hadits Nabi dalam pengantar Miftâhu Dâris Sa’âdah sebagai berikut:

يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله، ينفون عنه تحريف الغالين، وانتحال المبطلين، وتأويل الجاهلين

“Akan muncul orang-orang adil (ahli ilmu dan amal) dari generasi kemudian yang akan menyelamatkan ajaran agama dari tiga golongan; berlebihannya para ekstrimis, skenario orang-orang bathil dan interpretasi orang-orang tanpa ilmu.” (HR. Al-Baihaqi dari Ibrahim bin ‘Abdurrahman al-‘Adzry radhiyallâhu ‘anh. Syaikh Al-Albâni menshahihkan riwayat ini)
____

Penulis adalah: Ketua Prodi KPI-STAI PERSIS Jakarta, Anggota DH PP Persatuan Islam (Komisi ‘Aqîdah), Anggota Fatwa MIUMI (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris KDK-MUI Pusat dan Ketua Bidang Kajian Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia

1 Comment

  • Sri Haryanti

    Aamiin ya Alloh….semoga Alloh sampaikan kita bisa dipimpin kembali oleh pemimpin yg Adil yg akan membawa kita kpd kejayaan Islam….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!