Rabu, Juni 23MAU INSTITUTE
Shadow

QAD AFLAHA MAN ZAKKAAHAA WA QAD KHAABA MAN DASSAAHAA (Ikhtiar Bersih Jiwa Jangan Lupa Hidup Bahagia)

QAD AFLAHA MAN ZAKKAAHAA WA QAD KHAABA MAN DASSAAHAA (Ikhtiar Bersih Jiwa Jangan Lupa Hidup Bahagia)
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien


Melanjutkan bahasan halaqah sebelumnya terkait “Fiqih Kegundahan; Sebuah Terapi Hawa Nafsu”, berikutnya mari kita perhatikan secara seksama beberapa panuturan para ulama kita tentang pentingnya upaya bersih jiwa:

1. Syaikh Muhammad bin Sa’ied bin Salim al-Qahthani, ketika mentahqiq kitab Tazkiyatun Nafs Ibnu Taimiyyah yang menjelaskan: “Tidak akan bisa merasakan keagungan dan kedalaman kesucian iman (tazkiyah imaaniyyah) melainkan orang yang menyadari akan kejahilan diri. Karena itu, generasi awwal merupakan generasi paling baik yang ditaqdirkan mendapatkan nikmat yang satu ini dengan sebaik-baiknya. Mereka menemukan pemisah yang dapat menjauhkan antara iman dan kekufuran, antara ibadah kepada Allah dengan menghambakan kepada selainNya dan antara mensucikan jiwa sepenuhnya kepada Rabb dengan kekakuan penghambaan pada rabb-rabb yang menghinakan.” (Al-Qahthani, 1994: hlm. 13-14)

Karenanya, pensucian jiwa sebagai sesuatu yang alami (sunnah kauniyyah) dan sesuatu yang diajarkan (sunnah syar’iyyah) yang diajarkan Allah ‘azza wa jalla kepada Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam, memiliki peranan sangat penting, karena dia sangat berpengaruh terhadap baik dan buruknya satu ummat, di samping itu pensucian jiwa menjadi landasan tegaknya titah perintah Allah dalam jiwa manusia.

2. Menurut Syaikh Salim bin ‘Id al-Hilali dalam kitab Manhajul Anbiyaa Fie Tazkiyatin Nufuus menuturkan: “Jika jiwa manusia dibiasakan dengan akhlaq mulia dan hidup garis lurus, niscaya jiwa tersebut akan senang dan merasa bangga dalam mengagungkan syiar dan ajaran Allah ‘azza wa jalla yang senantiasa berjalan di atas pedomanNya.” (Al-Hilali, 2005: hlm. 17)

Sebelumnya, Ibnu Qayyim menjelaskan perkara ini dalam goresan penanya Risaalah Fie Amraadhil Quluub (1403: hlm. 51) dengan menukil pandangan mayoritas ahli Tafsir sebagai berikut:

1. Imam Qatadah rahimahullaah berkata: “Kalimat qad aflaha man zakkaahaa, memiliki pengertian siapa yang beramal kebaikan, maka Allah akan membersihkan jiwanya disebabkan ketaatan kepadaNya.” Atau dalam kalimat lain, Qatadah menuturkan: “Sungguh bahagia orang yang mensucikan dirinya dengan amal shalih.”

2. Imam Hasan al-Bashri rahimahullaah berkata: “Sungguh bahagia orang yang mensucikan dirinya, lalu dia berbuat kebaikan dan berjalan di atas ketaatan kepada Allah, dan sungguh merugi orang yang berbuat kerusakan dan dia berjalan di atas kemaksiatan kepada Allah.”

3. Imam Ibnu Qutaibah rahimahullaah bertutur: “Yang dimaksud orang yang bahagia itu, disebabkan karena mensucikan diri dengan meninggikan ketaatan serta kebaikan lain yang mampu dilakukan. Adapun orang yang merugi, adalah orang yang mengurangi dan meringankan amalannya dengan meninggalkan bermacam kebaikan dan terperosok dalam lumpur kenistaan.”

Terlepas perbedaan pandangan sebagian ulama, mengenai dhamir yang ada dalam kata zakkaahaa. Apakah kembali kepada Allah, berarti jumlah kalimatnya adalah Aflahat nafsun zakkaaha Allaahu ‘azza wa jalla wa khaabat nafsun dassaahaa atau kembali kepada failnya aflaha, yaitu huruf man (sama saja sebagai maushul atau maushuf) sesungguhnya dhamir apabila kembali kepada Allah, maka jumlah kalimatnya menjadi qad aflaha man zakkaahu wa qad khaaba man dassaahu.

Namun kelompok pertama berpandangan bahwa kata man jika lafazhnya mudzakkar masuk kepada mu’annats, maka boleh mengembalikan dhamirnya menjadi mu’annats karena menyesuaikan makna, demikian pula dengan lafazh mudzakkar menyesuaikan dengan lafazh mudzakkar. Kedua-duanya merupakan kalimat yang benar menurut ilmu fashaahah atau disebut juga ilmu bayaan. (Ibnu Qayyim, 1403: hlm. 50)

Sementara itu, para pentarjih menguatkan pandangan yang pertama, dengan alasan hadits riwayat Ibnu Abi Mulaikah dari shahabat Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anh yang mengatakan: “Aku pernah mendatangi Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam di suatu malam, lalu aku mendapatkannya bahwa Rasulullaah sedang berdo’a Rabbi aati nafsie taqwaahaa wa zakkaahaa … Anta khairun man zakkaahaa … Anta waliyyuhaa wa maulaahaa. Do’a ini seperti tafsir ayat yang menyebutkan bahwa Allah-lah yang menjadikan diri seseorang menjadi bersih. Maka Allah disebut Muzakki dan hambaNya disebut mutazakki.” (Ibnu Qayyim, 1403: hlm. 50)

Demikian pula, Muhammad Uwais al-Nawawi dalam Tafsir al-Qayyim yang ditahqiq Muhammad Hamid Al-Faqi menegaskan bahwa makna qad aflaha man zakkaahaa wa qad khaaba man dassaahaa adalah: “Sungguh beruntung orang yang mengagungkan dan meninggikan dengan ketaatan kepada Allah, serta menjalankannya. Dan sungguh merugi orang yang meringankan, meremehkan, serta menganggap kecil dengan melakukan kemaksiatan kepada Allah.” (Uwais al-Nawawi, 2007: hlm. 397)

Dari berbagai pemaparan ini, maka dapat disimpulkan bahwa hakikat pembersihan jiwa adalah sebuah upaya mensucikan diri dengan melakukan ketaatan kepada Rabbul ‘Aalamien dan mengendalikan nafsu dari beragam kedurhakaan. Siapa yang dapat mengupayakannya dengan penuh bahagia, berarti orang tersebut telah berhasil mentauhidkan Allah tanpa beban dengan cara membersihkan jiwa dan mengagungkan syari’at-Nya dengan kepatuhan dan ketundukan hanya kepadaNya. Dengan pembersihan jiwa, maka kebahagian dua negeri (sa’aadatud daarain), yaitu kebahagian dunia dan akhirat menjadi tujuan dan cita-cita hidupnya. Wallaahu a’lam bis shawwaab
____

Penulis adalah: Ketua Prodi KPI-STAIPI Jakarta, Anggota DH PP Persatuan Islam (Komisi ‘Aqîdah), Anggota Fatwa MIUMI (Perwakilan Jawa Barat), Wakil Sekretaris KDK-MUI Pusat dan Ketua Bidang Kajian & Ghazwul Fikri Dewan Da’wah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!