Rabu, Juni 23MAU INSTITUTE
Shadow

AGAR MAHABBAH TUMBUH KARENA ALLAH (Taujih Sastrawi Fiqih Pertemanan Sejati)

AGAR MAHABBAH TUMBUH KARENA ALLAH (Taujih Sastrawi Fiqih Pertemanan Sejati)
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Kata mahabbah, yang populer diterjemahkan dengan kata “cinta”. Dalam terminologi Arab memiliki banyak makna yang satu sama lain saling keterkaitan. Di antara ulama otoritatif dalam bab ini adalah Imam Ibnul Jauzi yang menyusun kitab Dzammul Hawaa, atau Imam Ibnu Hazm al-Andalusi pemilik kitab Thuuqul Hamaamah, juga yang sangat familiar Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya Raudhatul Muhibbiin wa Nuzhatul Musytaaqiin. Yang terakhir ini, telah banyak diterjemahkan dengan beragam versinya. Yang jelas, tidaklah jauh dari kalimat: “Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu”.

Dalam kitab terakhir itulah dijelaskan, bahwa varian makna mahabbah sangatlah banyaknya. Menurutnya, tidak kurang dari 50 hingga 60 makna. Di antaranya diambil dari kata al-habab, artinya air yang meluap setelah hujan lebat. Atau ungkapan orang Arab hababal asnaan, gigi putih bersih, di samping makna lainnya seperti tenang dan nyaman. Apabila semuanya dipadukan, maka yang disebut mahabbah itu adalah “luapan hati yang membuat seseorang merasa damai untuk mengharapkan sesuatu yang diinginkannya dan ia tidak dapat berpaling darinya.” (Lihat: Raudhatul Muhibbiin, tp. tahun, hlm. 25-27)

Namun, goresan jentikan jemari ini tidak bermaksud memaparkan panjang lebar makna-makna tersebut. Melainkan bagaimana kecintaan hakiki seseorang kepada Dzat yang memiliki kasih sayang sejati, yakni Allah jalla jalaaluh. Yang dengan karena cintanya pada Rabbul ‘aalamiin mengalahkan cinta-cinta lainnya. Al-Qur’an menyebutnya dengan asyaddu hubban lillaah sebagaimana diisyaratkan QS. Al-Baqarah/ 2: 165.

Ada banyak perantara sosial, yang menyebabkan terjadinya saling perhatian (ihtimaam), saling membantu (ta’aawun), saling menjamin (tadhaamun) dan saling menanggung (takaaful). Satu di antaranya adalah “pertemanan” atau “hidup berkumpul” (disebut juga makhluq sosial) yang sudah menjadi fithrah manusia. Lagi-lagi pertemanan tersebut merupakan perkumpulan yang terikat dengan ikatan Allah yang senantiasa diposisikan di atas segalanya. Bertemunya karena Allah, dan berpisahnya pun karena Allah (ijtama’aa ‘alaihi wa tafarraqaa ‘alaihi). Bukankah hal ini sudah menjadi jaminan Nabinya? Di mana ‘Arsy Ar Rahmaan akan menaungi mereka di hari akhir kelak, yakni suatu hari yang tidak ada perlindungan kecuali naungan tersebut seperti ditunjukkan hadits Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anh tentang tujuh golongan yang berhak mendapatkan naungan Allah di hari kiamat.

Lalu, pertemanan seperti apa yang dimaksudkan isyarat nubuwwah tersebut? Dalam hal ini, selain ayat dan hadits Nabi yang suci, para ulama dan cendikia terdahulu pun melukiskannya dalam bentuk untaian sastra yang indah sebagaimana tertuang dalam buku “Indahnya Mencintai Karena Allah ‘Azza wa Jalla” karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan Al-Atsari (Pustaka Imam Ad-Dzahabi, 2011) sebagai berikut:

1. Tidak Berteman dengan Orang yang Tidak Peduli Ilmu

وإن عناء ان تفهم جاهلا … فيحسب جهلا انه منك افهم

“Sungguh repot mengajari orang jahil … Karena jahilnya, ia menganggap dirinya lebih tahu darimu.”

متى يبلغ البنيان يوما تمامه … إذا كنت تبنيه و غيرك يهدم

“Kapankah sebuah bangunan bisa selesai sempurna … Jika engkau membangun, sedangkan yang lain merobohkan.”

متى ينتهي عن شيئ من اتى به … إذا لم يكن منه عليه يندم

“Kapankah orang yang berbuat jahat akan berhenti dari kejahatannya … Apabila ia sama sekali tidak menyesali perbuatannya.” (hlm. 29)

2. Mencari Teman Orang yang Mulia

من عاشر الأشراف عاش مشرفا … ومعاشر الأرذال غير مشرف

“Siapa yang berteman dengan orang mulia, ia akan ikut menjadi mulia … Siapa yang berteman dengan orang hina, ia tidak akan menjadi mulia.”

أو ماترى الجلد الخسيس مقبلا … بالثغر لما صار جلد المصحف

“Tidakkah kamu melihat kulit yang hina diciumi orang … Tatkala ia menjadi pembungkus mushhaf Al-Qur’an.” (hlm. 30-31)

3. Tidak Berlebihan dalam Hal Cinta dan Benci

Berkata Hadbah bin Khasyram:

وأحبب إذا احببت حبا مقاربا … فإنك لاتدري متى انت نازع

“Jika engkau mencintai, maka cintailah sewajarnya … Sebab engkau tidak tahu, kapan engkau memutus cinta itu.”

وأبغض إذا أبغضت بعضا مقاربا … فإنك لاتدري متى انت راجع

“Jika engkau membenci, maka bencilah sewajarnya … Sebab engkau tidak tahu, kapan engkau meralat kebencian itu.”

وكن معدنا للحلم واصفح عن الخنا … فإنك راء ما عملت و سامع

“Jadilah engkau tambang bagi kebaikan dan berilah maaf atas kesalahan … Karena sesungguhnya engkau melihat dan mendengar apa yang engkau lakukan.”

Berkata An-Namir bin Taulab:

وأحبب حبيبك حبا رويدا … فليس يعولك ان تصرما

“Cintailah orang yang engkau cintai sewajarnya … Niscaya tak akan menyusahkanmu bila engkau memutus cinta itu.”

وأبغض بغيضك بغضا رويدا … إذا انت حاولت ان تحكما

“Bencilah orang yang engkau benci sewajarnya … Niscaya tak akan memberatkanmu bila engkau tetap membencinya.” (hlm. 45-46)

4. Memaklumi atas Kekurangan Teman

وكم من أخ لم تحتمل منه علة … قطعت ولم يمكنك منه بديل

“Berapa banyak teman yang engkau tak mampu menerima kekurangannya … Lantas engkau putuskan hubungan dengannya, padahal engkau tidak mungkin menemukan penggantinya.”

ومن لم يرد إلا خليلا مهذبا … فليس له في العالمين خليل

“Siapa yang ingin mencari teman yang sempurna … Maka tidak akan ada di dunia ini yang bisa menjadi temannya.” (hlm. 54-55)

5. Teman yang Harmoni dengan Saling Berbagi

هدايا الناس بعضهم لبعض … يولد في قلوبهم الوصالا

“Saling memberi hadiah di antara manusia … Akan melahirkan kedekatan di dalam hati mereka.”

وتزرع في الضمير هوى وودا … وتلبسهم إذا حضروا جمالا

“Akan menumbuhkan cinta dan kasih dalam sanubari … Serta menciptakan keindahan tatkala mereka bertemu.” (hlm. 68)

6. Teman yang Harmoni Saling Berziarah

Berkata Ahmad bin Muhammad as-Shaidawi:

عليك بإقلال الزيارة إنها … إذا كثرت كانت إلى الهجر مسلكا

“Hendaklah engkau sesekali melakukan kunjungan … Jika terlampau sering pun dapat menimbulkan keresahan.”

فإني رآيت القطر يسأم دائبا … ويسأل بالآيدي إذا هو أمسكا

“Sungguh aku melihat hujan, apabila turun setiap hari akan membuat bosan … Dan apabila tertahan, justeru semua memintanya dengan menengadahkan tangan.” (hlm. 75)

Berkata Al-Kuraizi:

أقلل زيارتك الحبيب … تكون كالثوب إستجده

“Batasilah kunjungan pada temanmu … Jadilah seperti pakaian yang senantiasa baru.”

إن الصديق قد يمله … أن لا يزال يراك عنده

“Sungguh sesuatu yang paling membosankan bagi seseorang … Bila ia terlampau sering melihatmu.” (hlm. 75-76)

7. Teman yang Piawai dalam Bergaul

إذا عجزت عن العدو فداره … وامزح له إن المزاج وفاق

“Jika engkau tak mampu menaklukkan musuh, maka beramah tamahlah dengan mereka … Berguraulah pada mereka, maka gurauan itu menunjukkan kecocokkan.”

فالنار بالماء الذي هو ضده … تعطي النضاج و طبعها الإحراق

“Api hanya dapat dipadamkan oleh air yang merupakan lawannya … Api tetap dimanfaatkan untuk menyalakan, meskipun tabiatnya tetap membakar.” (hlm. 117-118)

8. Teman yang Tidak Bermuka Dua

Berkata Ibrahim bin Muhammad:

وكم من صديق وده بلسانه … خثون بظهر الغيب لايتلعم

“Berapa banyak teman yang ucapannya menampakkan cinta … Namun ketika berpisah ia senang mencela.”

يضاحكني عجبا إذا مالقيته … ويصدفني منه إذا غبت أسهم

“Ia akan tertawa denganku saat bertemu … Namun ia menyerangku dengan anak panah bila berada di belakangku.”

كذالك ذوالوجهين يرضيك شاهدا … وفي غيبه إن غاب صاب و علقم

“Demikianlah teman yang bermuka dua, ia menyenangkanmu saat bersua … Namun menjadi pencaci dan penghujat saat ia berpaling muka.” (hlm. 124-125)

9. Teman yang Tidak Senang Mengobral ‘Aib Saudaranya

ترى الكريم إذا تصرم وصله … يخفي القبيح ويظهر الإحسانا

“Engkau dapati orang mulia, bila engkau putus hubungan dengannya … Ia merahasiakan keburukanmu dan menunjukkan kebaikanmu.”

وتضرى اللثيم إذا تقضي وصله … يخفي الجميل و يظهر البهتانا

“Engkau lihat orang hina, apabila berakhir hubunganmu dengannya … Ia menyembunyikan kebaikanmu dan membongkar ‘aibmu.” (hlm. 164-165)

10. Teman yang Tidak Senang Menularkan Kesempitan Dada pada Orang Lain

إذا المرء أفشى سره بلسانه … ولام عليه غيره فهو أحمق

“Jika seseorang membeberkan rahasia dengan lisannya … Lalu ia mencela orang lain karena menceritakannya, maka sesungguhnya ia orang dungu.”

إذا ضاق صدر المرء عن سره … فصدر الذي يستودع السر أضيق

“Jika dada seseorang sudah merasa sempit menyimpan rahasianya … Maka dada orang yang menerima rahasia itu lebih sempit lagi.” (hlm. 166-167)

Demikianlah butiran hikmah ini dihaturkan, semoga menjadi mutiara tarbiyah dan tazkiyah bagi semua. Aamiin yaa Rahmaan yaa Rahiim
____

✍️ Goresan pena ini ditulis sebagai Kajian Hikmah di Www.MadrasahAbi-Umi.Com (03 January 2021 Jam 01.30 WIB.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!