Kamis, Juni 17MAU INSTITUTE
Shadow

AGAR UJIAN TIDAK BERUBAH JADI BENCANA

AGAR UJIAN TIDAK BERUBAH JADI BENCANA
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

“Sesungguhnya akan terjadi beragam malapetaka di hadapanmu bagaikan malam gelap gulita, seseorang di pagi hari masih mukmin, di sore hari bisa berubah menjadi kufur. Di sore hari masih mukmin, di pagi hari bisa berubah jadi kufur. Ia menjual agamanya karena menginginkan kehormatan dunia.” (HR. Abu Dawud, Kitaabul Fitan wal Malaahim, no. 4259 dan HR. Ibnu Majah, Bab At-Tatsbiit fil fitnah, dari shahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallaahu ‘anh, no. 3961).

Demikianlah Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan ummatnya, di mana isyarat kenabian yang disampaikan dalam haditsnya yang mulia ini mengandung renungan yang sangat mendalam dan perlu perhatian yang sangat serius.

Pertama, akan terjadi badai petaka yang sangat dahsyat menimpa kaum Muslimin seperti gelapnya malam yang sangat pekat.
Kedua, akan terjadinya perubahan perilaku yang sangat besar menimpa kaum Muslimin, di mana keimanan dan ke-Islaman seseorang sudah menjadi barang murahan untuk dipertaruhkan.

Tentu saja keduanya terjadi bukan tanpa sebab, melainkan banyak faktor yang menyebabkannya. Faktor-faktor inilah yang disebut dengan api fitnah atau sumber malapetaka.

Memahami Makna Ujian

Dalam kitab-kitab kamus (ma’aajim) dituliskan, bahwa yang dimaksud ujian (fitnah) memiliki banyak pengertian lain; selain diartikan batu ujian, cobaan, ‘aib dan noda, bahkan stress atau kegilaan, masuk di dalamnya. Terkadang diartikan pula dengan siksa, penyakit, kegaduhan, kerusuhan, chaos dan huru hara. Di samping itu, anak dan istri, juga harta benda yang dimiliki termasuk ujian. Yang jelas, semuanya mengindikasikan kepada segala sesuatu yang tidak disenangi (kullu syai’in makruuhatin).

Dikarenakan semuanya bisa menjadi beban dan setiap beban akan terasa menjadi siksa, maka sederhananya fitnah dapat dimaknai adzab, sekalipun bagi orang-orang shalih bisa berubah menjadi rahmat. Hal ini tercermin dalam dialog Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersama Ummul Mukminien ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa. Nabi bersabda: “Apabila telah nampak kerusakan di muka bumi, maka Allah akan turunkan siksa pada penghuninya.” Lalu ‘Aisyah menyangkalnya: “Bukankah penduduk bumi masih ada orang shalihnya?” Nabi menjawab: “Benar, kemudian bagi mereka berubah menjadi rahmat.” (HR. Ahmad dalam Tafsir Ibnu Katsir 2/ 275).

Sungguh sangat jelas, terjadinya malapetaka merupakan buah akibat dari perbuatan manusia sendiri yang mengundang laknat dan murka Allah yang bukan hanya menimpa pelaku kezhaliman saja, melainkan termasuk orang-orang shalih sekali pun akan ikut menanggung derita karenanya. Orang zhalim binasa karena kezhalimannya, sedangkan orang shalih dibinasakan karena diamnya, bungkam diam seribu bahasa dan tidak mencegah kemaksiatan serta kezhalimannya. (Lihat: As-Syaukani dalam Fathul Qadîr 2/ 376 dan As-Shabuni dalam Shafwatut Tafaasir 1/ 500)

Maka sangatlah wajar, di antara para Ahli Tafsir menyebutkan, bahwa penyebab malapetaka muncul dikarenakan manusia telah banyak meninggalkan al-amru bil ma’ruuf wan nahyu ‘anil munkar. (Khalid ‘Abdurrahman al-‘Akk. Shafwatul Bayaan Lima’aanil Qur’aan, hlm. 52).

Maha benar Allah atas segala firmanNya: “Hendaklah kalian takut akan ujian berupa adzab Allah, di mana Allah tidak akan menimpakannya secara khusus kepada orang-orang zhalim semata. Ingatlah sesungguhnya Allah Maha keras siksaannya.” (QS. Al-Anfaal/8: 25).

Dahsyatnya Bencana

Dalam kenyataannya, terkadang kaum Muslimin mendapatkan ujian, terkadang dengan perkara yang baik (bil khair), juga terkadang dengan perkara yang buruk (bis syarr). Ujian dengan perkara yang baik-baik, di antaranya melimpahnya kekayaan alam, pesatnya pembangunan atau majunya ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin mutakhir. Adapun ujian dengan perkara yang buruk-buruk, di antaranya banyaknya bencana yang menimpa, dari kemarau panjang sampai banjir bandang, dari gempa bumi, gunung meletus sampai tsunami. Singkatnya dari “banjir duit” sampai “banjir lumpur” masuk di dalamnya. Semua ini terjadi ketika manusia masih di dunia, maka Rasulullah shalallaahu ‘alahi wa sallam mengistilahkannya dengan fitnah dunia (fitnatul mahyaa; cobaan selagi hidup). Tentu saja ada cobaan yang lain yang lebih dahsyat ketimbang cobaan dunia, itulah yang dinamakan fitnah negeri akhirat (fitnatul mamaat; cobaan setelah kematian, di antaranya menjawab pertanyaan malaikat di alam barzakh. Dapat menjawab berarti nikmat, tidak dapat menjawab berarti adzab atau mushibah). (Lihat: Sunan an-Nasaai bis Syarhil Hafizh Jalaluddin as-Suyûthi wa Haasyiyatil Imam as-Sindi, 2/ 57).

Oleh karenanya, Rasulullah mengingatkan, kehidupan dunia selalu diuji dengan kenikmatan, sementara kehidupan akhirat selalu diuji dengan kepahitan. “Kelezatan dunia adalah empedunya akhirat, sedangkan kepahitan dunia adalah madunya akhirat.” (Lihat:HR. Al-Hakim dan Ahmad dalam Washayal Ulamaa ‘Inda Hudhuuril Maut, tahqîeq Musthafa Abdul Qadir Atha’, hlm. 102).

Sebagai Renungan

Kembali kepada ujian dunia, yaitu bencana demi bencana yang menimpa ummat manusia, seyogianya menjadi bahan renungan dengan pendekatan yang dapat mengantarkan seseorang semakin dekat dan merapat kepada yang mendatangkan ujian, yakni Allah Rabbunaa Taabaaraka wa Ta’aala. Itulah yang disebutkan pendekatan ‘aqidah, di mana kembalinya ummat manusia kepada ‘aqidah yang benar merupakan solusi atas setiap mushibah yang menimpa. Di antara renungan yang dimaksud adalah:

1) Menjadikan semua peristiwa sebagai pembimbing peringatan yang dapat menambahkan keimanan akan kesempurnaan kuasa dan kekuatan Allah ‘azza wa jalla serta menyakini bahwa Allahlah yang mengatur sesuai kehendakNya dan berkehendak mengadzab manusia; baik “adzab dari atas” semisal petir, halilintar yang menghancurkan dan angin topan, serta “adzab dari bawah” semisal gempa dan tanah longsor (Renungan QS. Al-An’aam/ 6: 65).

2) Menjadikan semua peristiwa sebagai sesuatu yang dapat mendatangkan rasa takut dikarenakan keagunganNya (Renungan QS. Al-Isra’/ 17: 59).

3) Setelah terjadinya bencana, merenungkan betapa bijaknya Allah meletakkan manusia di bumi yang tidak bergoncang ini (Renungan QS. Ghaafir/ 40: 64).

4) Menyakini bahwa bumi benar-benar milik Allah, apapun yang Dia lakukan merupakan kehendakNya (termasuk menenggelamkannya dengan bencana). (Renungan QS. Ar-Ra’d/ 13: 41).

5) Bertambahnya keyakinan dan tawakkal kepada Allah bahwa di balik peristiwa itu terdapat wasilah dan pelajaran yang dapat lebih menghubungkan hamba dengan Rabb-Nya.

6) Menyadari bahwasanya semua mushibah yang terjadi disebabkan karena dosa-dosa yang dilakukan (Renungan QS. Al-Ankabuut/ 29: 40).

7) Menjadikan bahan dorongan untuk membantu dan mendo’akan orang-orang yang dilanda mushibah sebagai titik tolak pertaubatan menuju jalanNya. (Lihat: Taushiyah Syaikh Abdur Razaq bin Abdul Muhsin Al-Badr dalam risalahnya: ‘Aqidah Shahiihah; Solusi Atas Setiap Mushibah).

‘Alaa kulli hal, meminjam pepatah klasik “Tidak mungkin ada asap, kalau tak ada api, tak mungkin ada akibat (musabab), kalau tak ada sebab (sabab).” Demikian pula datangnya berbagai bencana dan ujian yang menimpa sampai melahirkan badai petaka, semua terjadi dikarenakan tingkah laku manusia, di samping kehendak yang Maha Kuasa. Bukankah Rasulullah pernah mengingatkan kepada kaum Muhajirin: “Wahai segenap muhajirin, ada lima perkara yang dapat menyebabkan kalian ditimpa mushibah berat, dan aku berlindung dari semuanya itu.” Berikutnya, Rasul pun merincikan:

  1. Tidaklah perbuatan fakhsya’ (kriminalitas, prostitusi, perjudian, minum khamar dll.) dilakukan secara terang-terangan, melainkan Allah kirimkan penyakit yang tidak pernah terjadi pada ummat-ummat sebelumnya.
  2. Tidaklah mereka mengurangi timbangan dan sukatan (korupsi, manipulasi dan lainnya), melainkan Allah timpakan kemarau panjang dan sulitnya mendapatkan pertolongan, serta terjadinya kezhaliman penguasa kepada mereka.
  3. Tidaklah orang-orang kaya menahan zakat mereka, melainkan Allah tahan curahan hujan dari langit, Kalaulah Allah tidak sayang kepada binatang bumi, hujan itu tidak akan pernah diturunkan.
  4. Tidaklah janji Allah dan rasulNya diingkari, melainkan Allah timpakan kesulitan berupa musuh yang akan merampas kekayaan mereka.
  5. Tidaklah pemimpin mereka enggan menerapkan hukum Allah, melainkan Allah turunkan krisis di antara mereka. (HR. Ibnu Majah, Bab ‘Uquubaat, no. 4019).

Ya Allah, kami berlindung kepadaMu dari ujian yang berat (juhdul balaa’), kesengsaraan yang sangat menyulitkan (darkus saqaa), ketentuan yang buruk (suu’ul qadhaa) dan kegembiraan musuh atas bencana yang menimpa (tsamaatatil a’daa) … Innaa lillaahi wa Innaa Ilaihi raajiuun


Penulis adalah: Ketua Bidang Kajian & Ghazwul Fikri Dewan Da’wah, Anggota DH Persatuan Islam (Komisi ‘Aqidah), serta Anggota Komisi Pengkajian & Penelitian MUI Pusat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!