Rabu, Juni 23MAU INSTITUTE
Shadow

SEMARAKKAN VAKSIN KEJUJURAN DAN CEGAH PANDEMI KEDUSTAAN

SEMARAKKAN VAKSIN KEJUJURAN DAN CEGAH PANDEMI KEDUSTAAN
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Tidak ada sifat yang lebih menyelamatkan bagi jiwa seseorang, melainkan sifat kejujuran. Karenanya kata “jujur” sangat beririsan dengan kata “benar” (yang dalam bahasa arabnya as-shidq). Selain sifat nubuwwah, juga menjadi terminologi suci bagi setiap yang memiliki nurani. Disebut orang-orang jujur, berarti mereka adalah orang-orang yang yang memelihara dan menjunjung tinggi kebenaran.

Jauh sebelum orang mengenal tokoh-tokoh dunia sekaliber Benjamin Franklin (1709-1790) dan Thomas Jefferson (1743-1826), yang keduanya disebut-sebut sebagai tokoh Revolusi dan penanda tangan kemerdekaan Amerika. Mereka mengasaskan negaranya bahwa dalam membawakan suatu kebijakan apa pun, “kejujuran itu merupakan pintu utamanya”. Sekalipun dalam percaturan politik internasional saat ini, kerapkali kejujuran menjadi barang mahal di negeri yang sering mengaku paling demokratis ini. Demikian pula di negeri-negeri lainnya, tak terkecuali dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.

Para ulama Islam terkemuka, semisal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah telah menandaskan hal ini dengan lebih komprehensif. Menurutnya: “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa kejujuran adalah asas yang menjadi kunci segala kebaikan, sebagaimana dusta merupakan asas yang menjadi kunci segala bentuk kejahatan (as-shidqu miftaahu kulli khairin kamaa annal kadziba miftaahu kulli syarrin).” (Lihat: Al-Istiqaamah, 1/ 467)

Sebagai wahyu yang terpelihara, Al-Qur’an menyebutkan bahwa tingkatan manusia termulia ada empat golongan, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla berikut: “Dan siapa yang mentaati Allah dan rasulNya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para Nabi (Nabiyyiin), orang-orang jujur (shiddiqiin), orang-orang yang mati di jalan Allah (syuhadaa), dan orang-orang shalih (shaalihiin). Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisaa/ 4: 69).

Dalam kalam yang mulia itu, mereka para shiddiqiin diposisikan oleh Allah ‘azza wa jalla pada level kedua setelah level Nabiyyiin, baru level yang lainnya. Al-Hafizh Ibnu Qayyim rahimahullaah mengurai tingkatan-tingkatan ini dalam risalahnya Thabaqaatul Mukallafiin.

Ada banyak anjuran untuk menyemarakkan kejujuran, di antaranya:

  1. Seruan untuk senantiasa bersama orang-orang jujur, Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At-Taubah/ 9: 119)
  2. Kewajiban berkata jujur dan memenuhi janji, Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Apabila kamu berbicara, bicaralah sejujurnya, sekalipun dia kerabatmu dan penuhilah janji Allah. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu ingat.” (QS. Al-An’am/ 6: 152)
  3. Kejujuran mengantarkan seseorang pada kebaikan dan surga, Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menuturkan: “Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim no. 2607 dari shahabat Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anh).
  4. Kejujuran menjanjikan ketenangan dan kedustaan mendatangkan kegelisahan, Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menegaskan dalam sabdanya: “Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta (menipu) akan menggelisahkan jiwa.” (HR. Tirmidzi no. 2518 dari shahabat Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anh).
  5. Kejujuran merupakan kuncinya perniagaan, Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan dalam sabdanya: “Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali pedagang yang bertaqwa pada Allah, berbuat baik, dan berlaku jujur.” (HR. Tirmidzi no. 1210 dari shahabat Ismail bin ‘Ubaid bin Rifa’ah radhiyallaahu ‘anh).
  6. Kejujuran senantiasa membuahkan keberkahan dalam segala aktivitas, Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan: “Kedua orang penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (khiyaar) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya, bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan hilanglah keberkahan bagi mereka pada transaksi itu.” (HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532 dari shahabat Abu Khalid Hakim bin Hizam radhiyallaahu ‘anh).
  7. Kebiasaan dusta merupakan sifat utama kemunafikan, Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menegaskan: “Tanda orang munafiq itu ada tiga; dusta dalam perkataan, menyelisihi jika berjanji, dan khianat terhadap amanah.” (HR. Bukhari no. 2682 dan Muslim no. 59 dari shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anh).

Banyak sekali pepatah orang-orang mulia, baik kalangan generasi awwal yang shalih atau pun generasi panutan setelahnya terkait pentingnya menyemarakkan vaksin kejujuran ke segenap lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Sebaliknya, siapa pun manusianya yang dianugerahi kedalaman nurani dan ketajaman mata hati. Jiwa mereka tak akan mengizinkan budaya dusta bersemayam dalam dirinya hingga menular menjadi pandemi kedustaan dalam kehidupan. Sekalipun disembunyikan, aroma dusta tak akan pernah mendatangkan kebaikan. Benar penyair Arab menuturkan:

وَمَهْمَاتَكُنْ عِنْدَ امْرِئٍ مِنْ خَلِيْقَةٍ … وَإِنْ خَالَهَا تَخْفَى عَلَى النَّاسِ تُعْلَمُ

“Apapun perilaku yang terdapat pada diri seseorang … Meskipun dia sembunyikan dari manusia lain, pasti akan ketahuan juga.”

Wal ‘iyaadzu billaahi min kulli syarrin yaa Rabbal ‘alamiin


*) Tulisan ini Al-Faqir goreskan di bis Hiba Utama Garut – Bekasi, selepas menghadiri pengawasan pekan pertama pelaksanaan Ujian Praktek di Pesantren Persatuan Islam Cibatu Garut (Senin dhuha, hari menjelang siang, 15 Maret 2021)

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!