Minggu, September 26MAU INSTITUTE
Shadow

MEMANEN HARAP DARI BUKU “MENGELOLA HARAPAN”

MEMANEN HARAP DARI BUKU “MENGELOLA HARAPAN”
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Sabtu pekan silam, seniorku Ustadz Jeje Zaenuddin telpon, mengajak shilaturrahim untuk tahniah pada seorang mitra juang yang baru didaulat sebagai Direktur Perguruan Tinggi dan Ristek Bappenas, yaitu Kang Tatang Muttaqin, Ph.D (adik kelas satu tingkat). Souvenir paling berharga adalah dihadiahi buku baru berjudul “Mengelola Harapan”. Dengan sangat apik, penulis yang sangat menjunjung tinggi riset ini, mengurai pengalamannya berkeliling jagat benua.

Sudah menjadi ciri pemegang otoritas madzhab jurnal dan scopus ini, hampir semua tulisannya berbasis data sekalipun bentuknya “ngadongeng”. Aktivis yang birokrat ini, al-faqir kenal sejak masantren di Garut, ketika sudah jadi “orang Jakarta”, sesekali shilaturrahim ke Kramat Raya 45 (selagi kami; Teten dan Sundari Syam Allaahu yarhamh teman sekelasnya) aktif di LPDI Dewan Da’wah tahun 1992-1994. Berlanjut menjadi sahabat juang sebagai Ketua Litbang PP Pemuda Persatuan Islam (al-faqir sebagai wakilnya).

Seusai menamatkan studi di Curtin University Australia hingga merampungkan doctoral-nya di Groningen Belanda, sampai kini masih tsiqah menjadi abdi negara di bidang yang digelutinya. Di tengah-tengah kesibukannya, beliau masih menyiapkan diri untuk berbagi ilmu; baik menjadi pemateri kajian di Pusdiklat Dewan Da’wah Bekasi, diskusi tokoh pada acara Bidang Kajian di Jakarta, mengisi seminar pendidikan bareng di almamater PPI 76 Tarogong, training di Pemuda Persis, bahkan mengisi saresehan santri di kampung halaman Mekarsari Cibatu Garut.

Menyemai harapan, memupuk harapan, membangun harapan, menata harapan, merawat harapan, dan menebar harapan menjadi kalimat pengikat bagian-bagian “qishshatul mu’atstsirah wal mustaniirah”, yakni kisah inspiratif dan mencerahkan yang sangat “pikabitaeun” (baca: mengundang selera) pada buku ini, sehingga pembaca dapat mengambil pengalaman dan pedoman berharga di dalamnya.

Lima formatur ilmu yang al-faqir catat sejak dulu dari sang penjelajah ini, yang in syaa Allah siap mengambil faidah (istifaadah) dari karir ilmiahnya itu, walau pun tentu saja sulit untuk meniru karena berbeda tempat main. Adapun butir-butir mutiara yang bisa dipetik dari narasi-narasi yang sering muncul, adalah sebagai berikut:

Pertama; Bumi ini diperuntukkan Allah ‘azza wa jalla untuk orang-orang shaleh (menurutnya, mereka yang berkarya dengan ilmu), kedua; ciri utama seorang intelektual itu “mau mendengarkan pandangan orang lain”, ketiga; biasakan bicara dan berwarta itu dengan memakai data riset, keempat; hakikat segala sesuatu itu ada dalam kenyataan bukan pada pikiran (meminjam kata-kata emas Ibnu Taimiyyah rahimahullaah), kelima; bukalah wawasan dan jangan sampai “ngulibek” di suatu keadaan saja.

Walau berbeda obyek bahasan dan gaya penulisan, membaca buku Kang Tatang yang satu ini, mengingatkan al-faqir ketika diundang launching buku seorang penulis yang hampir mirip dengan daya jelajah Kang Tatang dalam bab mendunianya. Namanya Bapak Sudibyo Marcus yang pengalamannya malang melintang dalam upaya penyelesaian konflik agama di berbagai negara, terutama Barat dan Eropa yang dikompilasikan menjadi sebuah buku berjudul: Dunia Barat dan Islam; Cahaya di Cakrawala (Gramedia, 2019).

Syukur al-hamdulillah al-faqir bisa menikmati diskusinya, bahkan sempai terlibat dialog cukup panjang terkait “makna kedamaian, toleransi dan fanatisme agama” bersama Prof. Azyumardi Azra dan Prof. Romo Magnis Suseno sebagai pembedah, yang dihadiri beragam tokoh agama-agama dan beberapa duta besar Eropa dan negara tetangga.

Nah, buku Kang Tatang yang satu ini, sangat renyah dan gurih-gurih agak gimana gituh? Yang jelas, di samping terasa sangat empirik dan sarat dengan uji lapangan yang mengedepankan nilai-nilai rasional (burhani) dan spiritual (‘irfaani), pendekatan teks (bayaani) pun tidak dilupakannya. Nuansa shilaturrahim ilmiah, pola asah asih asuhnya dari sebuah konsep pendidikan yang dikemas dengan kepiawaian seorang tata kelola ahli perencanaan pendidikan sangatlah kental terasa.

Tak ada gading yang tak retak, kesempurnaan hanya milik yang Maha Kuasa, setidaknya buku ini sudah menggugah kita semua betapa pentingnya “mengelola harapan”. Kang Tatang sudah menyemainya, menyiram dan merawatnya dengan sangat baik di buku ini. Giliran kita sekarang, yuu kita ikut serta “memanen harapan” tersebut. In syaa Allah harapan itu masih ada koq !!! … Allaahu yahdiina ilaa sabiilir rasyaad


*) Ditulis pada hari Senin waktu dhuha yang cerah (di sela-sela mengajar daring di kampus dakwah STID Mohammad Natsir [Matkul Teologi Islam] dan kampus tafaqquh dan tsaqaafah STAIPI Jakarta [matkul Studi Literasi Dakwah])

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!