Senin, November 29MAU INSTITUTE
Shadow

PESAN LEMBUT DI BALIK KERASNYA “AYAT BESI” (Mencari Oase di Tengah Gurun)

PESAN LEMBUT DI BALIK KERASNYA “AYAT BESI” (Mnencari Oase di Tengah Gurun)
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Semua orang yang membaca Al-Qur’an pasti tahu, ada Surat yang namanya Al-Hadiid, artinya Surat Besi. Betapa Kalam Allah yang mulia ini sangatlah menarik perhatian, sehingga mengundang rasa selera ingin tahu apa rahasianya di balik namanya yang unik. Jumlah ayatnya terdiri dari 29 ayat, dengan bilangan surat ke-57 dari 114 surat. Sekalipun terbilang surat pendek (qashiir), namun surat ini tergolong pada surat Madaniyyah.

Apabila dilihat dari pembabakan tematiknya, surat ini dibagi menjadi tiga bagian; Dari ayat 1 sampai dengan ayat 24, menjelaskan bahwa segala sesuatu adalah milik Allah ‘azza wa jalla, tidaklah semua yang terjadi melainkan telah digoreskan taqdirnya. Dari ayat 24 sampai dengan ayat 26, menegaskan bahwa besi merupakan karunia Allah dan termasuk pokok kekuatan untuk membela agama Allah, di samping sebagai bagian dari keperluan hidup manusia. Sedangkan dari ayat 27 sampai dengan 29, mengingatkan bahwa sikap rahbaaniyyah, yakni menjalani hidup “kependetaan” bukanlah ajaran Islam yang mulia. Sikap terbaik adalah bertaqwa pada Allah, dan mengimani ajaran rasulNya.

Kata Al-Hadiid sendiri, diambil dari ayat 25 surat tersebut. Dalam ayat itu, Al-Qur’an secara jelas mengungkapkan bahwa besi memiliki kekuatan dan sangat bermanfaat bagi kebutuhan ummat manusia. Dan yang paling menarik, dengan diciptakannya besi, ummat Islam bisa menolong agama Allah ‘azza wa jalla sebagaimana firmanNya:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِٱلْبَيِّنَٰتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْمِيزَانَ لِيَقُومَ ٱلنَّاسُ بِٱلْقِسْطِ ۖ وَأَنزَلْنَا ٱلْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُۥ وَرُسُلَهُۥ بِٱلْغَيْبِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ قَوِىٌّ عَزِيزٌ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasulNya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS Al-Hadiid/ 57: 25).

Adapun bagaimana proses pengolahan besi, tercatat pada Surat Al-Kahfi/ 18: 96 tentang kisah Dzulqarnain, dan Surat Al- Anbiyaa/ 21: 80 tentang kisah Nabiyullaah Dawud dan prajuritnya. Keduanya menjadi khabar ilahi bahwa penggunaan besi sudah digunakan sejak zaman para Nabi dan Rasul terdahulu.

Sebagaimana dipetik Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al-Asyqar (ulama Kuwait) dalam kitabnya Zubdatut Tafsiir min Fathil Qadiir, bahwa Imam As-Syaukani menuturkan: “Maksud firman Allah adalah: Kami telah mengutus para rasul Kami, yaitu para Nabi kepada ummatnya dengan hujjah dan mukjizat yang jelas. Kami juga menurunkan untuk mereka berupa kitab-kitab dari langit yang mengandung syariat. Serta Kami pun turunkan timbangan, yaitu standar keadilan dalam menentukan hukum, agar manusia dapat adil dalam berinteraksi. Di sisi lain, Kami pun menjadikan besi itu sesuatu yang memiliki kekuatan dan benda keras. Di dalamnya terdapat banyak manfaat untuk membangun, bercocok tanam, bahkan membuat kerajinan; baik dalam keadaan damai atau perang. Dan sungguh Allah akan mengajarkan kepada orang yang menolong agamaNya dan utusan-utusanNya yang telah meninggalkan mereka di dunia. Sesungguhnya Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Maha Menang sehingga tidak ada yang mengunggulinya dan tidak membutuhkan pertolongan hamba-hambaNya.” (Al-Asyqar, 1994: 723)

Jadi, ayat ini menegaskan bahwa Allah ‘azza wa jalla menggandengkan antara Kitab dengan besi, karena dengan keduanya Allah menolong agamaNya dan meninggikan kalimatNya. Dalam kitab, terdapat hujjah dan bukti, sedangkan besi (seperti pedang) dapat menguatkannya. Dengan keduanya dapat ditegakkan keadilan, yang di sana terdapat dalil yang menunjukkan kebijaksanaan Allah dan kesempurnaanNya, serta kesempurnaan syariatNya yang Dia ajarkan melalui lisan para rasulNya.

Yang tidak kalah menarik dari surat ini, apabila direnungkan secara mendalam betapa di balik ayat besi yang keras dan kuat ini, justeru ada pesan lembut pada ayat sebelum dan sesudahnya; meyakini bahwa segala yang ada di langit dan di bumi hanya tunduk pada Allah semata, serta apa yang terjadi pada penghuninya, melainkan ada dalam skenarioNya. Jangan terlalu gembira ketika senang dan menang, jangan pula bersedih hati dan putus asa berkepanjangan ketika merasa kalah dan lemah. Kembali kepada Dzat yang Maha merancang segalanya, disertai mengimani akan bimbingan rasulNya setulus hati. Itu merupakan terapi hati yang tengah sakit, serta penawar jiwa yang selalu gundah gulana.

Sungguh semuanya ada dalam perencanaan Allah (miqdaarullaah) yang digantungkan di lauhul mahfuuzh jauh sebelum langit dan bumi diciptakan. Al-Hafizh Ibnu Katsir menukilkan riwayat Imam Muslim dari shahabat Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash ketika menjelaskan hal ini sebagaimana sabda Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berikut:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah mencatat taqdir setiap makhluq 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (Lihat: Penjelasan Syaikh Khalid Abdurrahman al-‘Ak dalam Aujazut Tafaasiir min Tafsiir Ibni Katsiir, 1986: hlm. 540)

Sungguh tepat nasihat Syaikh Abdurrahman Nashir Sa’di ketika mengurai gugusan ayat musibah dan bagaimana sikap bijak yang seharusnya, menurutnya: “Apa yang disebutkan dalam ayat tersebut, mencakup semua musibah yang menimpa; musibah baik maupun yang buruk, di mana semuanya telah tertulis di lauh mahfuzh (kecil maupun besar). Perkara ini merupakan perkara besar yang tidak dapat dijangkau aqal manusia, bahkan orang-orang yang memiliki kedalaman ilmu sekalipun bisa terlalaikan karenanya. Namun, bagi Allah sangatlah mudah. Allah memberitahukan kepada hamba-hambaNya, agar yang demikian ini menjadi qaidah yang dipegang sehingga mereka tidak mudah berputus asa dan bersedih hati terhadap segala yang luput dari kehidupannya. Apa yang telah terjadi, tidak ada alasan untuk menolaknya. Mereka tidak terlalu bergembira yang berlebihan hingga menepuk dada penuh kesombongan terhadap apa yang Allah berikan, karena mereka harus tahu bahwa apa yang mereka peroleh itu bukanlah karena upaya mereka semata, melainkan dengan karunia Allah dan nikmatNya. Hendaknya mereka menyibukkan diri dengan bersyukur, karena Allah yang melimpahkan nikmat itu dan menghindarkan mereka dari petaka.” (As-Sa’di, Taiysiirul Kariimir Rahmaan Fie Tafsiiri Kalaamil Mannaan, 2002: hlm. 842)

Semoga tadabbur ini hadir pada momentum yang tepat; menjadi terapi bagi hati yang tersakiti, pengobat rasa bagi jiwa yang terluka. Hidup seimbang dengan penuh bijak, itulah mental pemenang yang sesungguhnya. Hidup bertabur syukur berhiaskan kelapangan, itulah akhlaq terbaik bagi mereka yang tengah didera ujian. Wa maa tasyaa-uuna illaa an yasyaa-a Allaahu … Innallaaha kaana ‘Aliiman Hakiiman


*) Goresan jentik jemari ini, ditulis bakda shalat fajar hingga jelang dhuha dalam suasana al-‘asyrul awaakhir Ramadhan 1442 H. di kediaman Komplek Pusdiklat Dewan Da’wah Tambun Selatan Bekasi 17510 Jawa Barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!