Rabu, Juni 23MAU INSTITUTE
Shadow

HARI KEMENANGAN KITA; MENUJU ERA BARU PERADABAN UMMAT (Risalah ‘Iedul Fithri 1442 H.)

HARI KEMENANGAN KITA; MENUJU ERA BARU PERADABAN UMMAT (Risalah ‘Iedul Fithri 1442 H.)
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

A. Muqaddimah

إن الحمد لله نحمده و نستعينه و نستغفره … ونعوذ بالله من شرور أنفسنا و من سيئات أعمالنا … من يهده الله فلا مضل له ومن يضلله فلن تجد له وليا مرشدا … نصلي ونسلم على رسول الكريم وعلى اله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين … أشهد ان لا إله إلا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمدا عبده و رسوله … أما بعد:

Ma’aasyiral muslimiin a’azzakumullaah

Kembali alunan takbir, tahlil, dan tahmid menggema di seantero jagad raya; memecah cemas dan gundah selama ini, seolah tak peduli dengan keadaan yang sempat mencekam penuh musykilah, sempat melemahkan semangat, mengikis dinding-dinding optimis yang kian menipis. Bahkan, sempat menyisakan tatapan kosong sebagian kalangan, mengancam keimanan yang sudah tertanam. Namun di hari ini, semua kita dapat merasakan dan menyaksikan … Ternyata harapan itu masih ada, terbentang dengan luasnya, dan siap memecah keheningan bumi selama ini, membuka rongga-rongga udara, membedah pintu-pintu langit hingga ‘arsy Ilahi yang Maha tinggi.

الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر ألله أكبر ولله الحمد

Ma’aasyiral muslimiin a’azzakumullaah

Diiringi sinar mentari pagi dan disaksikan cahaya siang, hari ini kita berkumpul menghadap Dzat yang Maha agung. Bukan hanya sekedar menunaikan titah dan perintahNya semata, melainkan menyambut hari kemenangan dengan penuh rasa syukur atas segala ikhtiar yang telah sama-sama kita lakukan dengan penuh khidmat dan semangat mengagungkan asmaNya, serta menghidupkan syi’arNya yang mulia sebagai perwujudan atas petunjuk yang telah dianugerahkan untuk kita semua.

ولتكبروا الله على ما هداكم و لعلكم تشكرون

” … Dan agar kalian mengagungkan Allah atas petunjuk yang telah diberikan, mudah-mudahan kalian termasuk orang yang bersyukur.” (QS. Al-Baqarah/ 2: 185)

B. Memaknai Sebuah Kemenangan

Ma’aasyiral muslimiin a’azzakumullaah

Benarkah kita tengah merayakan kemenangan? Lalu, apa yang dimaksud dengan kemenangan? Untuk siapa kemenangan itu kita persembahkan? Sekalipun jawabannya tidak akan sama, namun apabila dihubungkan dengan ibadah yang baru saja kita tunaikan, semua kita sepakat akan kebenarannya bahwa hari ini benar-benar kaum muslimin tengah merayakan berbagai kemenangannya; Yang pertama, kemenangan berupa kegembiraan yang tak ternilai harganya, yakni berbuka setelah menyelesaikan ibadah shaum satu bulan lamanya. Dan kedua, kemenangan berupa kegembiraan penuh harap bahwa kelak bisa berjumpa dengan Rabb-nya dengan penuh antusias.

للصائم فرحتان؛ فرحة عند إفطاره وفرحة عند لقاء ربه

“Bagi yang menunaikan shaum memiliki dua kebahagiaan; bahagia ketika berbuka (setelah shaum), dan bahagia ketika berjumpa kelak dengan Rabb-nya.” (HR. Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anh)

Maka dapat disimpulkan, bahwa kedua kebahagiaan tersebut merupakan luapan kemenangan atas sebuah proses juang yang diharapkan dapat menuju keridhaan Allah ‘azza wa jalla yang dirindukan.

الله اكبر الله اكبر لا إله إلا الله و الله اكبر الله اكبر و لله الحمد

Ma’aasyiral muslimiin a’azzakumullaah

Penting untuk kita catat bersama, kemenangan kita di hari ini, bukan tanpa halangan dan rintangan, gejolak dan kegaduhan, bahkan bukan berarti sepi dari keprihatinan. Melainkan berbagai peristiwa menggoda melintas di hadapan kita, menari di ujung mata, bahkan tak segan-segan menciderai khusyu’ dan khidmat kita, serta mencuri perhatian dan memalingkan kegembiraan yang seharusnya, sehingga dapat merubah seketika keadaan menjadi pemandangan yang menyedihkan; menyayat jiwa keadilan dan mencabik-cabik nurani ketulusan. Bagaimana tidak, kemerdekaan saudara kita yang berada jauh nun di sana; Palestina yang kita cinta, negeri dan kiblat pertama kaum muslimin kembali diguncang duka, haknya terampas dan jiwanya terjajah. Syria negeri para ulama, kini dihadapkan dengan perang yang kian melanda, demikian pula saudara saudara kita muslimin di Uiyghur, muslimin di India, muslimin di Myanmar dan negeri-negeri lainnya tak lepas dirundung malang karena ketidak adilan dan kepongahan. Demikian pula yang menimpa pada saudara-saudara se-iman dan se-aqidah yang ada di hadapan kita, di mana ulama-ulama, guru-guru dan rekan-rekan aktivis lainnya masih mengalami ketidak adilan yang sama. Kemenangan dan kemerdekaan yang seyogianya didapatkan oleh mereka masih jauh dari harapan yang seharusnya.

الله اكبر الله اكبر لا إله إلا الله والله اكبر و لله الحمد

C. Kemenangan Itu Nyata Adanya

Ma’aasyiral muslimiin a’azzakumullaah

Marilah kita kembali belajar, tadabbur untuk merenung, dan mendulang hikmah sejarah, menyebrangkan kembali alam fikiran dan pengalaman masa lampau untuk diambil pelajaran di hari ini. Al-Qur’an mengisyaratkan, Sunnah Nabi membimbingkan bahwa belajar dari pengalaman masa lalu itu adalah penting untuk dijadikan bukti penjelas dalam memotret keadaan (bayaanan), petunjuk untuk berpijak pada landasan juang (hudan), dan nasihat yang mencerahkan sebagai jalan penerang (mau’izhah). Itulah hikmah sejarah, yang diperuntukkan bagi siapa saja yang siap komitmen dalam ketakwaan.

Di antara pembabakan sejarah kemenangan, kita bisa melakukan telusur terhadap berbagai literatur, bagaimana sebuah kemenangan itu dapat diraih. Bagaimana kemenangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan para shahabatnya pasca hijrah dari Mekkah ke Yatsrib yang asalnya lembah menjadi Madinah al-Munawwarah, yakni kota peradaban yang mengagumkan (al-hadhaarah al-faadhilah). Setelah berhasil dan sukses besar membangun masyarakat berkemajuan dengan segala hiasan akhlaaqul kariimah, Nabi pun melanjutkan perjuangannya hingga berhasil mengembalikan Mekkah ke pangkuan kaum muslimin hingga meraih kemenangan. Yang pertama disebut sebagai kemenangan yang dekat atau sementara (fathan qariiban), dan yang kedua disebut kemenangan yang nyata (fathan mubiinan). Adapun kemenangan sejati atau kemenangan yang sesungguhnya, itulah kemenangan alam akhirat yang disebut “keberuntungan yang sangat besar” (fauzan ‘azhiiman) yang akan diraih kelak.

الله أكبر ألله أكبر لا إله إلا الله و الله أكبر ألله أكبر و لله الحمد

D. Membangun Peradaban

Ma’aasyiral muslimiin a’azzakumullaah

Paatut kita berkaca, menerawang alam ke belakang. Walaupun kita tidak boleh lupa, bahwa kita masih punya harapan dan memiliki masa depan. Menjembatani antara masa silam dengan masa kini, merupakan sikap bijak para pewaris peradaban. Meminjam nasihat emas seorang ulama pejuang Syaikh Musthafa as-Siba’iy dalam bukunya Min Rawaai Hadhaaratinaa (1992) yang menuturkan: “Siapa yang berlebihan dengan nostalgia masa lalu, itu tandanya orang pemalas. Namun, siapa yang meremehkan masa lalu dengan segala kebaikan dan keburukan di dalamnya, itu tandanya orang bodoh”. Maka, sikap yang adil tentunya, bagaimana kita berdamai dan bijak dengan masa lalu untuk diambil pelajaran (‘ibrah) di saat ini. Benar Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali yang mengatakan:

الإعتبار أن يعبر ما ذكر إلى غيره لا يقتصر عليه

“Yang disebut ‘ibrah itu adalah menyebrangkan masa lalu yang diingat ke waktu lainnya (termasuk hari ini) tanpa batas waktu.”

Sekedar gambaran, bagaimana pengalaman dapat direkam, perjalanan sejarah dapat diabadikan? Jawabannya adalah kembali pada isyarat Al-Qur’anul ‘Azhim:

لقد كان في قصصهم عبرة لأولي الألباب

“Sungguh ada pada kisah-kisah mereka, merupakan pelajaran berharga bagi mereka yang memiliki akal fikiran.” (QS. Yusuf/ 12: 111)

الله اكبر الله اكبر لا إله إلا الله و الله اكبر الله اكبر ولله الحمد

Ma’aasyiral muslimiin a’azzakumullaah

Di antara rekam jejak sejarah yang dapat kita ambil adalah bentangan panjang dari zaman ke zaman, bagaimana bulan mulia Ramadhan begitu banyak memberikan dampak yang sangat besar terhadap peradaban dan kejayaan ummat. Bukankah peristiwa-peristiwa besar yang terjadi; penyerahan panji perang pertama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada paman Hamzah sang “singa Allah”, saling dipersaudarakannya Muhajirin dengan Anshar (ta’aakhi), perang Badar Kubra, ditumbangkannya berhala Quraisy, persiapan pembebasan kota Makkah (fathu Makkah), diserahkannya kunci Baitul Maqdis pada Khalifah Umar bin Khaththab, perdamaian Khalifah ‘Ali bin Abu Thalib dengan Gubernur Mu’awiyah bin Abu Sufyan pasca perang Shiffin (disebut peristiwa tahkiim), pertempuran ‘Ain Jalut dengan dihalaunya bangsa Tatar Mongolia dari negeri Syam, juga menyebarnya dakwah Islam ke Benua Eropa yang mewujudkan Jazirah Andalusia, serta sederet peristiwa heroik lainnya. Semua itu terjadi di bulan mulia Ramadhan. Bahkan tak kalah pentingnya untuk diingat seluruh lapisan anak bangsa, proklamasi kemerdekaan negeri ini terjadi pula di bulan penuh perjuangan, yakni hari Jum’at, 9 Ramadhan 1334 H. (17 Agustus 1945)

الله اكبر الله اكبر لا إله إلا الله و الله اكبر الله اكبر و لله الحمد

E. Era Baru peradaban Ummat

Ma’aasyiral muslimiin a’azzakumullaah

Bukanlah suatu kebetulan, melainkan taqdir sejarah yang Allah ‘azza wa jalla tentukan untuk kita. Yaitu sebagai ummat manusia yang diberi kepercayaan untuk hidup di tengah-tengah wabah, di mana kini sudah melewati Ramadhan babak kedua di zaman pandemi ini. Itu artinya, satu tahun kita telah diuji, satu satu tahun kita hidup mengembara dengan beragam peristiwa, dan satu tahun pula kita mendapatkan pelajaran berharga, sebagaimana orang-orang shalih terdahulu menimba pelajaran dan mengabadikannya menjadi tulisan (Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani menulis kitab Badzlul Maa’un Fie Fashlit Thaaun, Syaikhul Islam Abu Yahya Zakariya bin Muhammad al-Anshari menulis kitab Tuhfatur Raaghibiin Fie Bayaani Amrit Thawaaiin, dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi mengupas bahasan Wabah dan Thaaun). Semoga kita termasuk orang-orang yang pandai mengambil pelajaran itu.

فاعتبروا يا اولي الألباب

Sebagai orang yang dianugerahi akal fikiran, terlebih masih memiliki iman, maka perubahan demi perubahan apa pun senantiasa disikapinya dengan pendekatan keimanan pula. Karena kita yakin, selama Allah ‘azza wa jalla dan rasulNya menjadi tujuan hidup, maka menemukan jalan keluar yang terbaik adalah sebuah keniscayaan. Setiap zaman ada peradabannya, dan setiap peradaban ada metode dan pedoman bagaimana menaklukkan peradaban tersebut (likulli zamaanin hadhaaratun wa likulli hadhaaratun thariiqatun wa manhajun).

الله أكبر ألله أكبر لا إله إلا الله و الله أكبر ألله أكبر و لله الحمد

Ma’aasyiral muslimiin a’azzakumullaah

Kini era baru telah lahir … Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi peradaban, tentu senantiasa selaras dengan situasi dan kondisi yang terjadi (al-Islaamu diinun hadhaaratun shaalihun likulli zamaanin wa makaanin). Termasuk kondisi yang tengah kita hadapi, selain era percepatan dan perubahan, juga ditambah dengan wabah berkepanjangan. Maka sangatlah wajar apabila sebagian para ahli menyebutnya dengan doble disruption. Di satu sisi terjadi revolusi teknologi, informasi, dan digitalisasi. Sisi yang lain, kondisi wabah turut memaksa mempercepat perubahan tersebut. Semakin familiarnya penggunaan beragam aplikasi, merupakan contoh konkret yang sama-sama kita rasakan dengan segala plus minus di dalamnya.

Agar peradaban yang tengah melaju, tetap terkawal dengan kebenaran. Maka prinsip-prinsip “ketuhanan” (rabbaaniyyah) wajib diletakkan di atas segala-galanya. Lahirnya pemimpin rabbaani, intelektual rabbani, saudagar rabbaani, abdi negara dan para ponggawa rabbaani, serta masyarakat rabbaani. Semuanya merupakan hasil nyata dari keberhasilan dalam menegakkan pilar-pilar peradaban yang dirindukan. Apa yang pernah digoreskan di pintu gerbang Cordoba benar adanya, di mana umara yang adil (‘aadilun umaraauhum), ulama yang hebat (‘aalimun ‘ulamaauhum), orang kaya yang dermawan (sumahaau aghniyaauhum), serta bala tentara yang berani (syajaa’atun ‘askariyaatuhum), menjadi anasir kuat bagi kokohnya bangunan mercusuar kejayaan ummat. Terlebih apabila dilengkapi dengan kriteria Imam Fakhruddin ar-Razi dalam penuturannya, bahwa hiasan dunia dibangun dengan beberapa perkara; di samping yang telah disebutkan, beliau menambahkan dengan keshalihan dan kesungguhan ahli ibadah (‘ibaadatul ‘ubbaad), amanahnya para saudagar (amaanatut tujjaar), dan arahan para profesional (nashiihatul muhtarifiin).

Untuk mewujudkan generasi seperti itu penting bagi generasi hari ini, menghidupkan penyangga-penyangga berikut: melakukan kaderisasi generasi pemimpin yang adil, menyiapkan kaderisasi ulama yang mumpuni, menjalankan kaderisasi pelaku ekonomi yang handal dan amanah, menyiapkan kaderisasi pelaku birokrasi yang jujur, pemberdayaan kaderisasi kaum profesional, serta pembinaan masyarakat pilihan yang bermartabat. Dengan demikian, cita-cita besar yang menjadi idaman akan semakin mudah untuk segera diwujudkan. Semua itu akan menjadi hampa apabila tidak diiringi dengan kesungguhan, sifat Rabbani, ilmu, amal nyata, keikhlasan, bijak, dan ketajaman mata hati.

لا مجاهد إلا ربانية و لا ربانية إلا بعلم و عمل و إخلاص و حكمة و بصيرة

F. Penutup

الله أكبر ألله أكبر لا إله إلا الله و الله أكبر ألله أكبر و لله الحمد

Dari paparan singkat Risalah ‘Iedul Fithri 1442 H ini, Al-Faqir mengingatkan diri sendiri, keluarga, kerabat juang dan jamaah sekalian untuk sama-sama memetik hikmah dan mutiara kemanfaatan (istifaadah) dari “suara mimbar” terhormat ini:

  1. Semoga gemuruh takbir, tahlil, dan tahmid, serta do’a-do’a tulus kita dikabulkan Allah yang Maha segalanya.
  2. Semua ibadah Ramadhan kita, dan kemenangan yang kita rayakan hari ini, semoga diterima Allah ‘azza wa jalla, dan kita selalu diberikan kemampuan untuk mempertahankan dan merawatnya hingga akhirat kelak.
  3. Memohon kepada Rabbul ‘Aalamiin, kiranya semakin diteguhkan iman dan takwa kita di tengah-tengah wabah dan peristiwa yang terjadi di dalamnya, serta diberikan bimbingan ilmuNya untuk bisa keluar dari berbagai problematika hidup sesuai petunjuk dan ridhaNya.
  4. Pandai-pandailah kita semua, mengambil pelajaran berharga dari bentangan sejarah panjang manusia-manusia mulia, agar pelita hidup tetap menyala, dan obor peradaban kebangkitan tak pernah padam.
  5. Dengan segala kemampuan yang ada, sembari menyadari kelemahan diri di hadapan Dzat Maha dahsyat, kita siap mengikrarkan diri menjadi manusia-manusia Rabbani yang tak akan mengalah dari keadaan. “Hidup adalah pilihan untuk mengabdi kepada Ilahi, ujian dan cobaan adalah goresan taqdir yang wajib kita imani, sedangkan ikhtiar mewujudkan peradaban baru adalah tekad juang kami untuk menyongsong masa depan yang lebih gemilang” … Allaahumma laa sahla illaa maa ja’altahu sahlan … Wa Anta taj’alul hazna idzaa syi’ta sahlan … Taqabbalallaahu minnaa wa minkum

Pemateri adalah:
Mudir ‘Am PPI 81 Cibatu Garut, Anggota Dewan Hisbah PP Persatuan Islam (Komisi ‘Aqidah), Anggota Fatwa MIUMI Pusat (Perwakilan Jawa Barat), Anggota LDK dan Anggota Komisi Pengkajian, Penelitian & Pengembangan MUI Pusat, Ketua Bidang Kajian & Ghazwul Fikri Dewan Da’wah Pusat, dan Ketua Prodi KPI STAIPI Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!