Kamis, September 23MAU INSTITUTE
Shadow

TIGA PINTU PENDEKATAN MEMAHAMI AJARAN AGAMA

TIGA PINTU PENDEKATAN MEMAHAMI AJARAN AGAMA
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

A. Pengantar

Sebagaimana yang telah masyhur di kalangan para ulama. Di antaranya, agama didefinisikan sebagai berikut:

وضع إلهي يدعو أصحاب العقول إلى قبول ما هو عند الرسول صلى الله عليه وسلم

“Ketetapan Ilahi yang mengajak orang-orang yang memiliki akal untuk menerima wahyu yang diterima oleh Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam” (As-Syarief ‘Ali bin Muhammad al-Jarjani, Kitaabut Ta’riifaat, tp. tahun: hlm. 105)

Dalam Al-Qur’anul Kariem, suatu ketetapan keyakinan disebut dengan kata diinun, atau millatun. Sekalipun tampak sama, namun memiliki makna yang berbeda. Apabila dihubungkan dengan sesuatu yang wajib dipatuhi, itulah diinun. Sedangkan terkait dengan pengelompokkannya disebut millatun. Adapun dihubungkan dengan sesuatu pendapat yang dipegang sebagai rujukan, itu disebut madzhabun. Maka dapat dikatakan; diinun disandarkan pada Allah ‘azza wa jalla, millatun disandarkan pada Rasul, dan madzhab disandarkan pada ahli ijtihad. (Al-Jarjani, hlm. 106)

Namun demikian, para ulama ushuluddin dan pengkaji agama-agama memberikan pandangan lain. Diinun adalah keyakinan yang turun dari langit (terlahir dari wahyu), sedangkan millatun suatu keyakinan yang terlahir dari akal fikiran manusia. Pandangan seperti ini, banyak dipegang para ahli sejarah agama-agama seperti As-Syahrustani penulis kitab Al-Milal wan Nihal, dan Ibnu Hazm al-Andalusi penulis kitab Al-Fishaal fil Milal wal Ahwaa wan Nihal.

B. Tiga Pendekatan

Untuk mudahnya memahami ajaran agama, maka ada beberapa pendekatan yang patut diperhatikan sebagai berikut:

1. Pendekatan Wahyu

Yang dimaksud wahyu adalah; Al-Qur’anul Kariem, dan As-Sunnah an-Nabawiyyah. Keduanya sering disebut sebagai sumber pokok petunjuk (mashdarul hudaa) yang berfungsi sebagai tali Allah yang kokoh (hablullaahil matiin).

الإعتصام بحبل الله نجاة كسفينة نوح، فمن ركب فقد نجا ومن بعد أغرق

“Berpegang teguh pada tali Allah ‘azza wa jalla laksana naik bahtera Nabi Nuh ‘alaihis salaam. Siapa yang bersegera naik, maka ia selamat. Dan siapa yang menjauh/ mengakhirkan diri, maka ia tenggelam.” (Pandangan Muhaddits Abu Syihab Az-Zuhri, sebagaimana dipetik Al-Hafizh Ibnu Katsir)

2. Pendekatan Akal

Mayoritas para ulama salaf, membagi akal menjadi dua bagian; Akal yang selamat (Al-‘aqlus saliim), dan akal yang tidak selamat (Al-‘aqlu ghairus saliim)

Sebelum memahami makna keduanya, terlebih dahulu perlu dipahami hakikat akal itu apa? Al-Hafizh Ibnu Qayyim dalam kitabnya Ighaatsatul Lahfaan menjelaskan:

سمي العقل عقالا لأنه يعقل كما يعقل الحصان على الأشجار

“Disebut akal itu ‘iqaal (tali kekang), karena fungsinya mengekang. Seperti seekor kuda yang diikatkan tali kekangnya pada pohon.”

Dalam kitabnya yang lain, yakni I’laamul Muwaqqi’iin ditegaskan: “Pendapat yang benar dipengaruhi oleh cara berfikir yang lurus, berfikir yang lurus dipengaruhi akal yang selamat, dan ciri akal yang selamat adalah tunduknya akal pada wahyu.”

Melengkapi pandangan sebelumnya, orang tua dan guru kita Dr. Mohammad Natsir, mengurai masalah ini dalam kitabnya Capita Selecta. Menurutnya, hakikat akal itu merdeka, namun merdekanya akal pada kenyataannya terdiri dari beragam kategori; ada akal merdeka yang terpimpin, ada akal merdeka yang tersesat, dan ada akal merdeka yang liar. Yang terpimpin mau tunduk pada wahyu, yang tersesat tidak mau tunduk pada wahyu, dan yang liar benar-benar lepas dari hakikat akal itu sendiri sebagai anugerah Allah yang berfungsi mengawal kebenaran.

3. Pendekatan Fithrah

Ada banyak makna fithrah menurut para ahli ilmu, minimalnya ada tiga sudut pandang:

a. Makna fithrah menurut ‘Aqiedah (yakni At-Tauhied)
b. Makna fithrah menurut Fiqih (yakni At-Thahaarah)
c. Makna fithrah menurut Ilmu Jiwa (yakni; homo animale/ syahwat, homo rationale/ rasio, dan homo somatica/ rasa)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyimpulkan, menjadi dua pembagian saja; fithrah yang tercipta sejak lahir (fithrah ghariezah/ mukhallaqah), dan fithrah yang diturunkan melalui ajaran Allah ‘azza wa jalla dan rasulNya (fithrah munazzalah)

Untuk membuktikan betapa Islam itu agama yang benar-benar menjunjung tinggi kebenaran atas dasar fithrah yang diciptakan Allah, maka pandangan seorang filosof etika Prancis bernama Henry Louis Bergson (1859-1941) dapat menjadi pertimbangan untuk diambil kesimpulan. Menurutnya, “Seni dan budaya bisa saja hilang dari perjalanan hidup manusia, namun agama yang terpateri dalam diri manusia tak akan pernah bisa sirna dari jiwanya.”

C. Penutup

Itulah tiga pintu pendekatan dalam memahami ajaran agama yang layak untuk diperhatikan, dicermati dan dipelajari kembali secara mendalam dengan penuh sadar dan yakin bahwa Islam merupakan agama yang dapat menjawab semua persoalan hidup manusia. Dengan bimbingan wahyu hidup beragama menjadi yakin dan istiqamah, dengan dikawal akal hidup beragama menjadi cerdas dan berwibawa, dan kembali kepada kebenaran fithrah hidup beragama menjadi terasa indah. Allaahumma faqqihnaa fid diin


Penulis adalah: Anggota DH [Komisi ‘Aqidah] PP Persatuan Islam, Anggota P3 & LDK MUI Pusat, Ketua Bidang Kajian & Ghazwul Fikri Dewan Da’wah, dan Kaprodi KPI STAIPI Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!