Minggu, September 19MAU INSTITUTE
Shadow

SENYUM SANG RASUL JELANG DZULHIJJAH YANG PENUH BERKAH

SENYUM SANG RASUL JELANG DZULHIJJAH YANG PENUH BERKAH
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Tanpa terasa Dzulqa’dah segera berakhir, bulan keberkahan lain pun Dzulhijjah segera menyusul. Seperti biasanya, apabila ada momentum yang lebih tepat dan dekat untuk dibahas, maka bahasan itulah yang diurai. Selain tempat tugas jum’atnya di Jakarta, tepatnya kantor Komisi Yudisial Kramat Raya Jakarta Pusat sedang menjalani PPKM Darurat, di sisi lain masa pemulihan pun belum mengizinkan berangkat jauh. Alhamdulillaah bisa ikut shalat jum’at di masjid terdekat.

Hikmahnya tentu ada, senang rasanya, jum’ah kali ini malahan mendapatkan siraman ruhani yang sangat berharga dari seorang khatib yang menguraikan makna “Al-Kautsar”, sehingga kata tersebut menjadi sebuah nama surat terpendek di antara bentangan surat-surat lainnya. Qaddarallaah, kali ini bisa jadi mustami’ langsung di mesjid setelah dua kali jum’at diganti zhuhur karena ‘udzur, sekalipun demikian al-mau’izhah al-hasanah tetap terdengar dari rumah.

Tadinya khatib tersebut ingin menjelaskan sierah juang Nabiyullaah Ibrahim ‘alaihis salaam, mungkin karena pendeknya waktu (terlebih mengikuti prokes) materi khutbah pun jadi lebih fokus dan lebih terbatas pada makna apa yang dimaksud dengan “nikmat yang banyak” dalam surat pendek tersebut.

Uraian khutbah pertama, khatib menjelaskan bahwa para ulama mufassir memaknai nikmat tersebut, sangatlah banyak. Yang jelas, mayoritas ahli ilmu menyebutkannya bahwa “Al-Kautsar” adalah telaga atau sungai surga sebagaimana dijelaskan beberapa hadits Nabi. Namun, yang diuraikannya lebih pada maknanya dan dibatasi hanyalah tiga saja; nikmat iman atau nikmat beragama (ni’matud diin), nikmat berilmu (ni’matul ‘ilmi), dan nikmatnya menjaga keharmonisan dengan al-Qur’an (ni’matul Qur’aan).

Menyinggung soal wabah, khatib menghubungkannya dengan betapa pentingnya tiga nikmat itu dipelihara dengan baik. Dengan memaksimalkan nikmat iman atau nikmat beragama, justeru seorang Muslim akan lebih kokoh dan lebih mendekat kepada Rabbnya. Dengan terus mengoptimalkan nikmat ilmu, maka seorang Muslim harus lebih termotivasi untuk lebih menuntutnya. Dan dengan dengan nikmat menjaga keharmonisan dengan Al-Qur’an sebagai kitabullaah, maka seorang Muslim akan lebih merasa tentram hidupnya. Karenanya, di tengah-tengah semakin mengganasnya wabah varian baru ini, kaum Muslimin hendaknya berpegang pada nikmat-nikmat tersebut.

Khutbah kedua pun berlanjut, di mana khatib mengulas sedikit bahwa perintah fashalli li Rabbika wanhar dalam surat tersebut, merupakan dua sinergi ibadah; baik langsung seorang hamba menunaikan shalat bersujud menghadap Allah ‘azza wa jalla, atau melakukan pengorbanan berupa penyembelihan hewan qurban karenaNya.

Terakhir, khatib pun mengajak kepada para jama’ah, dengan masih diberikannya kesehatan dan keleluasaan menjalani kehidupan di tengah-tengah pandemi global jilid kedua ini, kiranya dapat memenuhi seruan Allah tersebut. Sudah tentu, dalam pelaksanaannya harus mematuhi aturan dengan melaksanakan protokoler kesehatan.

Setelah pulang ke rumah, sebelum makan siang Al-Faqir pun bergegas menelusuri tafsir surat pendek tersebut. Subhaanallaah menemukan hadits yang melengkapi materi khutbah tadi, di mana dalam Shahih Muslim, ditemukan bahwa shahabat Anas radhiyallaahu ‘anh pernah bercerita: “Suatu saat Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sedang bersama kami, dan saat itu beliau dalam keadaan tertidur ringan (tidak nyenyak). Lantas beliau mengangkat kepala dan tersenyum. Kami pun bertanya; Mengapa engkau tersenyum, wahai Rasulullaah? “Baru saja turun kepadaku suatu surat.” Lalu beliau pun membaca:

بسم الله الرحمن الرحيم [إنا أعطيناك الكوثر، فصل لربك وانحر، إن شانئك هو الأبتر]

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus.” (QS. Al-Kautsar/ 108: 1-3). Kemudian beliau berkata: “Tahukah kalian apa itu Al-Kautsar?” Allah dan rasulNya yang lebih mengetahui, jawab kami. Rasulullah shallallaahu  ‘alaihi wa sallam pun menuturkan: “Al-Kautsar adalah sungai yang dijanjikan oleh Rabbku ‘azza wa jalla. Sungai tersebut memiliki kebaikan yang banyak. Sungai ini merupakan telaga yang nanti akan didatangi oleh ummatku pada hari kiamat. Bejana (gelas) di telaga tersebut sejumlah bintang gemintang di langit. Namun ada dari sebagian hamba yang tidak bisa minum dari telaga tersebut. Allah berfirman: “Tidakkah engkau tahu bahwa mereka telah berbuat sesuatu hal-hal baru sesudahmu.” (HR. Muslim no. 400).

Sungguh jum’ah yang berkah, laksana gayung bersambut kata berkait, jelang bulan Dzulhijjah ini, di saat memuncaknya wabah (dengan virus varian baru), kita mendapatkan “senyuman” Rasul tercinta berupa khabarnya tentang keagungan mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla dengan kemulian bulan penuh pengorbanan.

Wahai ikhwah … Untuk sedikit mengendorkan ketegangan, melebarkan senyuman di tengah-tengah kepenatan ini, sembari kita tetap berdo’a dan berikhtiar, jangan lewatkan kata-kata mutiara ini: Isma’ tsumma ibtasim tsumma tujaahil … Laa ta’khudz kulla syai’in bijidiyyah; “Dengarlah wahai kawan, lalu tersenyumlah, kemudian lupakan sejenak kepenatan itu … Janganlah wahai kawan, segala sesuatu itu, engkau larutkan dalam pikiranmu terlampau serius (berlebihan).”


✍️ Ditulis selepas bakda shalat Jum’ah (Sayyidul Ayyaam, 09 Juli 2021) di Mesjid Wadhhah ‘Abdurrahman al-Bahr Pusdiklat Dewan Da’wah Setiamekar Tambun Selatan Bekasi 17510 Jawa Barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!