Minggu, September 26MAU INSTITUTE
Shadow

AHLUL MUSHIBAH YANG SUKSES; MENGUBAH DUKA MENJADI AMAL NYATA

AHLUL MUSHIBAH YANG SUKSES; MENGUBAH DUKA MENJADI AMAL NYATA
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Di antara manusia, ada yang diuji Allah ‘azza wa jalla dengan perkara yang baik-baik (bil khair); tak pernah kekurangan harta, kedudukan cukup terhormat, relasi sangat mendukung, dan kebaikan-kebaikan lainnya. Ada pula yang diuji dengan perkara yang buruk-buruk (bis syarr); kurangnya harta benda, tak memiliki status kehormatan, sulitnya mendapatkan peluang, dan kekurangan-kekurangan lainnya.

Keduanya merupakan kehendak yang Maha pencipta, sekalipun jalannya berbeda; ada yang bersifat langsung dikarenakan Allah benar-benar ingin menguji (mushiibah), atau ujian itu datang karena akibat ulah manusia (balaa’). Selain itu, ada pula peristiwa dahsyat yang dialami tanpa memandang beriman atau tidak beriman. Allah ingin menunjukkan kuasaNya yang Maha agung agar manusia menjadikan pelajaran dan menggunakan akal pikirannya. Itulah ujian berupa wabah (wabaa’) seperti yang tengah dialami penduduk bumi saat ini.

Ketika ujian demi ujian itu berubah menjadi petaka yang tidak diiginginkan (syaiun makruuhah), itulah badai fitnah yang semua manusia berupaya menghindarinya. Apabila fitnah telah terjadi, bukan hanya orang-orang ingkar dan durhaka yang merasakannya, melainkan mereka yang beriman sekalipun terkena dampak akibatnya.

Bagaimana Islam mengajarkan, agar ujian-ujian tersebut tidak berubah menjadi petaka? Jawabannya adalah sejauh mana manusia beriman yang diberikan akal pikiran itu, dapat menghadapinya dengan berbagai upaya yang dapat mengubah suasana duka menjadi amal nyata.

Dalam konteks wabah saat ini, di antara amal nyata yang bisa disesuaikan dengan kondisi yang terjadi adalah:

  1. Suasana kehangatan keluarga, menjadi momentum tepat untuk melakukan pembinaan internal dalam mewujudkan “madrasah keluarga” yang sebenarnya.
  2. Tumbuhnya kepekaan sosial, menjadi pintu terbuka dalam mewujudkan masyarakat humanis yang bisa saling merasakan kemanfaata antar sesama.
  3. Adanya berbagai perubahan dalam praktik dan rutinitas ibadah ummat, menjadi dorongan kuat untuk memantik semangat mendalami agama (tafaqquh fid diin).
  4. Banyaknya kemadharatan yang terjadi dalam dunia pendidikan karena pandemi, menjadi peluang emas untuk mempercepat penggunaan teknologi digital yang semakin masif.
  5. Adanya kondisi doble disruption; di mana satu sisi terjadinya revolusi teknologi informasi dan komunikasi, di sisi lain terjadinya wabah berkepanjangan. Keduanya dapat mendorong lalu lintas komunikasi, dan pembinaan keummatan (rapat, kajian, FGD, webinar, dll.) dapat dilakukan secara virtual.

Untuk menyangga langkah-langkah tersebut, maka ada beberapa pijakan yang layak diperhatikan:

Pertama; QS. At-Takwiir/ 81: 29 terkait kuasa Allah ‘azza wa jalla atas kehendakNya, merupakan jawaban bahwa: “Menggantungkan segala urusan sepenuhnya kepada Allah (jabariyyah), atau pun melepaskan segala urusan sepenuhnya dari Allah (qadariyyah) adalah kesesatan” sebagaimana Syaikh ‘Abdurrahman Nashir as-Sa’di menuturkan dalam Taisiirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan. Karenanya, meyakini iraadah Allah merupakan keniscayaan.

Kedua; Sikap bertahan dalam kesabaran (untuk menghadapi qadar baik dan buruk) merupakan pokok keimanan. Hal ini ditegaskan Imam Al-Mawardi dalam Adaabud Dunyaa wad Diin berikut ini: “Bersabar atas taqdir yang menimpa dinilai pahala (ma’juurun), sedangkan berkeluh kesah terhadap taqdir yang menimpa dinilai perbuatan dosa.”

Ketiga; Hubungannya dengan wabah, ikhtiar manusia tidak lepas dari tiga pendekatan utama; Mematuhi aturan wahyu sebagai “protokol langit” dengan taqarrub kepadaNya, menghargai ilmu pengetahuan sebagai “protokol bumi” dengan segala temuannya, dan mendengarkan arahan ulama rabbaniy sebagai firasat mukmin, dapat dijadikan acuan yang menentramkan. (Lihat: Rumusan Diskusi MIUMI Pusat terkait Solusi Menghadapi Pandemi: 2021)

Keempat; Integralitas ilmu langit (al-‘uluumus syar’iyyah) dan ilmu bumi/ dunia (al-‘uluumud dunyaawiyyaat) tentang kesehatan Rasul panutan, tidak lepas dari pola hidup berikut; selektif dalam memilih konsumsi (halaalan thayyiban), pola makan dan minum yang baik, pemenuhan hak badan yang cukup, memelihara suasana jiwa/ pikiran yang tenang, rajin gerak jasad, tidak membiasakan menahan sesuatu yang bersifat fithrah, dan memelihara kontinuitas pensucian jiwa (seperti halnya shaum sunnat). (Lihat: Imam Ibnu Qayyim, dalam At-Thibbun Nabawiy, Dr. Ja’far Khadem Yamani, dalam Jejak Sejarah Kedokteran Islam).

Kemampuan mengalihkan suasana duka menjadi amal nyata, merupakan prestasi berharga ahlul mushiibah dalam mengamalkan rasa syukur dan meraih keridhaan Rabbul ‘Aalamiin. Mereka mendapatkan pahala dan kedudukan yang tidak didapatkan oleh yang lain. Sungguh benar apa yang disabdakan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

إن عِظَم الجزاء من ‏عِظَم البلاء، وإن الله إذا أحب قوماً ‏ابتلاهم، فمن رضي فله الرضا، ومن ‏سخط فله السخط

“Sesungguhnya besarnya balasan tergantung pada besarnya ujian. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Allah akan menguji mereka; Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka baginya keridhaan Allah. Dan siapa yang murka, maka baginya kemurkaan Allah.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari shahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anh).


*) Disampaikan dalam pembukaan Webinar Keluarga Besar Majelis Ilmu Huurun ‘Ien Bekasi Jawa Barat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!