Sabtu, April 20MAU INSTITUTE
Shadow

MARHABAN BI-WASHIYYATI RASUULILLAAHI SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

MARHABAN BI-WASHIYYATI RASUULILLAAHI SHALLALLAAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Tak ada yang lebih membahagiakan diri di hari ini, selain melepas kader ummat yang sangat ditunggu kehadirannya. Kita tak bisa melihat hasilnya hari ini, namun setidaknya kita telah menitipkan harapan pada mereka bahwa di pundak merekalah rekam jejak kehidupan akan dilanjutkan, pengalaman dan penglamaan akan diwariskan, dan tongkat komando perjuangan dakwah, serta tarbiyah akan diserah terimakan. Karena itulah, mengapa Allah ‘azza wa jalla mengunggulkan manusia sebagai ahsanul khaaliqiin di antara makhluqNya? Bahkan di banding malaikat sekalipun, manusia masih memiliki kelebihan.

Untaian kalimat emas mengingatkan: Khalaqallaahul malaaikata ‘uquulan bilaa syahwatin, wa khalaqal hayawaanaati syahwatan bilaa ‘uquulin, wa khalaqal insaana wa ja’ala fiehil ‘aqlu was syahwatu. Fa-man ghalaba ‘aqluhu syahwatahu iltahaqa bil-malaaikati, wa man ghalabat syahwatuhu ‘aqlahu iltahaqa bil-hayawaanaati; “Allah menciptakan akal untuk malaikat tanpa syahwat, menciptakan syahwat untuk hewan tanpa akal, sedangkan menciptakan untuk manusia lengkap akal dan syahwatnya. Siapa saja yang akalnya mampu mengalahkan syahwatnya sungguh ia berada di barisan malaikat, dan siapa yang syahwatnya mengalahkan akalnya sungguh ia berada di barisan hewan”. Demikian Syaikh Muhammad Hassan Didu [Cendikiawan Mauritania] menuturkan perbandingannya.

Itulah petikan taujieh Mudier ‘Aam PPI 81 Cibatu Garut dalam mengantarkan para lulusan untuk benar-benar berpegang pada khiththah perjuangan yang telah disemai dengan apik oleh para pendahulu; Bukan sekadar kekuatan akal sebagai basis intelektual semata yang harus dikedepankan, melainkan ruuhul jihaad yang wajib jadi panglima dalam segala aktivitas kehidupan sebagai basis spiritual.

Namun, semua itu dirasakan belum sempurna apabila kita tak cakap dalam “berpirau” menghadapi tantangan yang ada. Mengelola emosional dengan segala cakupan di dalamnya; baik yang bersifat ghierah, atau pun syahwat yang meledak-ledak, baik dan tidaknya sangat ditentukan oleh tarbiyah iman yang telah terpatri dalam jiwanya.

Keteladanan para pendidik yang berwibawa, telah berhasil merakit harmoni hubungan Guru-murid yang saling mengikat erat dalam jalinan kasih sayang dan keikhlasan. Keberkahan ilmu yang mengalir dan penanaman adab yang melekat, telah mengantarkan senyawa antara murabbi dengan mutarabbi-nya, mudarris dengan tilmidz-nya, dan ustadz dengan santri-nya. Sebagai contoh, bagaimana jalinan seorang murid bernama Mohammad Natsir dengan Guru-gurunya; Tuan Ahmad Hassan, Syaikh Ahmad Soorkati, dan Haji Agus Salim. Demikian pula tokoh-tokoh ummat lainnya.

Di balik murid yang hebat, ada Guru yang hebat, dan di balik kehebatan keduanya ada pembimbing utama yang lebih hebat, yakni orang tuanya. Mereka adalah mentor-mentor terbaik untuk kita semua. Semua kita adalah Guru … Ingat salah satu pesan Allaahu yarhamh Dr. Mohammad Natsir: “Kita harus bangga menjadi Guru”. Semoga!!! 💫💟☪️📒✒️ (@Sinar Tajdid)

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!