Minggu, Maret 3MAU INSTITUTE
Shadow

BELAJAR MENGHADIRKAN MUTIARA SENDIRI, BUKAN MENEMUKAN MUTIARA ORANG LAIN

BELAJAR MENGHADIRKAN MUTIARA SENDIRI, BUKAN MENEMUKAN MUTIARA ORANG LAIN
Oleh:
Teten Romly Qomaruddien

Genap sudah 12 hari lamanya, diri ini tidak menjentikkan jemari. Selain ada perkara teknik yang kurang mendukung sarana, juga ada suasana batin yang sepertinya mengajak diri ini untuk lebih melakukan tafakkur dan tadabbur atas segala yang terjadi di hadapan; baik peristiwa pada diri sendiri, kerabat dekat, dan khalayak luar yang lebih luas.

Sekalipun terkesan guyon dan candaan segar, seorang Guru tiba-tiba mengirimkan potongan video [berupa kendaraan yang kelebihan beban] yang mengesankan dan sekaligus menggelitik untuk ditafsirkan. Di samping itu, ada ilham lain yang sangat menginspirasi di mana seorang mitra diskusi memberikan dorongan-dorongan konstruktif yang bisa lebih meluaskan alam pikir dan menghunjamkan cakrawala yang mampu menembus alam rasa. Apakah gerangan tersebut? Itulah “Bagaimana kita mampu menghadirkan mutiara sendiri, bukan hanya sekadar menemukan mutiara orang lain”.

Tentu, bukanlah perkara yang mudah; Di zaman yang pada umumnya lebih senang mengedepankan hal-hal yang imitatif, yakni proses peniruan dalam segala lini kehidupan yang dipaksakan. Memang, selama yang ditiru itu adalah kebaikan, tentu tidak terlampau berdampak. Namun, tentu saja ada yang dirasakan kurang, di mana kepuasan untuk bisa memenuhi dahaga jiwa tidak dapat dituangkan. Artinya apa? Kita mengalami krisis kreasi diri, bahkan kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri.

Sungguh, Allah ‘azza wa jalla Dzat yang menciptakan diri [nafs] Maha mengetahui akan sesuatu yang diciptakannya, sementara manusia tidak mengetahuinya. Kalaulah manusia mengetahui, sebenarnya itu hanya sedikit dari “gejala-gejala jiwa” yang ditemukannya. Demikian para ahli Psikologi memaparkan berbagai ulasannya. Betapa kedalaman jiwa yang sesungguhnya tidak mampu dibaca, namun isyarat-isyarat yang tampak itulah yang bisa dikembangkan untuk dibaca. Karena itulah, kita jadi mengenal qaidah umum nahkumu biz zhawaahir wa laa nahkumu bis saraair, yang memberikan arahan bahwa kita hanya bisa menghukumi suatu perkara yang tampak, bukan perkara yang tidak tampak.

Sekalipun dalam tafsirnya ada perdebatan, namun apabila ditelusuri lagi, pernyataan kalimat ini merupakan hadits Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan Imam An-Nasa’i dari Ummu Salamah radhiyallaahu ‘anhaa yang telah berubah redaksinya. Al-Baidhawi dalam Takhriij Al-Minhaaj, menukilkan riwayat Imam As-Syafi’i rahimahullaah sebagai berikut: Wa qad amarallaahu nabiyyahu an yahkuma biz zhawaahir wallaahu mutawallii as-saraair; “Sungguh Allah ‘azza wa jalla memerintahkan [manusia] untuk menghukumi perkara zhahir, adapun perkara bathin menjadi tanggung jawabNya”.

Ternyata benar, apa yang menjadi kemampuan manusia [sehebat apa pun] tidak akan bisa melebihi kemampuan Dzat yang menciptakannya. Seyogyanya manusia menyadarinya dan senantiasa berlindung kepadaNya. Allah ‘azza wa jalla mengisyaratkan dan sekaligus memberikan bimbingan do’aNya:

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala [dari kebajikan] yang diusahakannya dan ia mendapat siksa [dari kejahatan] yang dikerjakannya. [Mereka berdo’a]: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami menghadapi kaum yang ingkar.” (QS. Al-Baqarah/ 2: 286)

Betapa dahsyatnya ayat tersebut, shahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhu bertutur: “Ketika Malaikat Jibril sedang duduk di sisi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dia mendengar suara di atasnya, kemudian mengangkat kepalanya dan berkata: Ini adalah pintu dari langit yang dibuka pada hari ini dan tidak pernah dibuka sebelumnya, lalu seorang Malaikat turun kemudian mendatangi Nabi seraya berkata, “Bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu, yang tidak diberikan kepada seorang Nabi pun sebelumnya, yaitu Faatihatul Kitaab dan ayat-ayat akhir dari surat Al-Baqarah. Engkau tidak membaca satu huruf pun dari ayat-ayat itu melainkan hanya engkau yang mendapatkannya”. Demikian Imam Muslim meriwayatkan sebagaimana dipetik As-Syaukani. (Lihat: Syaikh Dr. Mohammad Sulaiman al-Asyqar dalam Zubdatut Tafsiir Min Fathil Qadiir: 1994).

Untaian do’a dan pernyataan “keterbatasan kemampuan manusia”, menjadi kata kunci untuk dipertimbangkan. Di satu sisi manusia harus berusaha menemukan dan menghadirkan sesuatu yang bisa dibanggakan [baik di hadapan manusia, atau terlebih di hadapan Rabbul insaan]. Namun, di sisi lain manusia wajib menyadari akan kekurangan dan ketidakmampuannya. Sikap pertengahannya adalah “Tunaikan ikhtiar sekuat kemampuan yang dimiliki, namun jangan lupakan Dzat yang Maha berkehendak itulah yang menentukan”.

Untuk kalimat penutup, alangkah baiknya sama-sama kita renungkan bait-bait mutiara berikut: “Engkau dilahirkan untuk menjadi apa adanya, bukan untuk menjadi sempurna. Kenalilah dirimu sendiri, maka semua pertempuran akan engkau menangkan. Engkau adalah kesuksesan sejati jika dapat mempercayai diri sendiri, mencintai diri sendiri, dan menjadi diri sendiri. Hidup bukan untuk menemukan jati diri semata, melainkan untuk menciptakan jati diri. Terkadang kita diuji bukan untuk menunjukkan kelemahan kita, tetapi justru untuk menemukan dan menghadirkan kekuatan kita. Engkau layaknya karya seni yang tidak semua orang bisa mengerti, tetapi percayalah orang-orang yang mengerti dirimu sudah bisa dipastikan tidak akan pernah melupakanmu”. Hanya kepada Allah ‘azza wa jalla jualah kita memohon dan berharap. Wallaahu ‘aliimun bidzaatis shuduur


✍️ Goresan jentik jemari ini ditulis di waktu dhuha jelang menunaikan tugas Jum’at di Masjid Al-Istiqamah Pasar Bali Mester Jatinegara Jakarta Timur; Yakni masjid perjuangan dan kenangan untuk menemukan dan menghadirkan jati diri semasa tahun 1991-1995an

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!