Sabtu, April 20MAU INSTITUTE
Shadow

AROMA RAMADHAN DAN GELIAT HARI INTERNASIONAL ANTI ISLAMOPHOBIA

Oleh : Teten Romly Qomaruddien

Sejak resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa [PBB] yang menyepakati tanggal 15 Maret sebagai hari internasional anti Islamophobia, kaum Muslimin di beberapa negara Eropa pun gegap gempita turut menyambutnya.

Tidak terkecuali di Indonesia dengan dimotori Gerakan Nasional Anti Islamophobia [GNAI] yang menggelar acara akbarnya pertama kali di Mesjid Agung Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta Selatan menyusul sebelumnya pernyataan Bidang Luar Negeri Majelis Ulama Indonesia [MUI] Pusat tertanggal 20 Maret 2022.

Kini memasuki tahun kedua [2023], gaung anti Islamophobia kembali disemarakkan. Perserikatan Bangsa-Bangsa yang pada hari Jum’at [10 Maret 2023] memperingati hari Internasional untuk memerangi Islamophobia yang pertama dengan acara khusus di Aula Majelis Umum, di mana para pembicara menjunjung tinggi perlunya tindakan nyata dalam menghadapi meningkatnya kebencian, diskriminasi, dan kekerasan terhadap umat Islam.

Seperti dinyatakan Presiden Majelis Umum, Csaba Korosi [asal Honggaria], bahwa Islamophobia berakar pada xenofobia, atau ketakutan terhadap orang asing. Ketakutan ini tercermin dalam praktik diskriminatif, larangan bepergian, ujaran kebencian, intimidasi, dan penargetan.

Seiring dengan semakin dekatnya bulan mulia Ramadhan 1444 H., sosialisasi untuk merespon dijadikannya 15 Maret sebagai hari internasional anti Islamophobia di beberapa kota besar Tanah Air pun mulai menggema kembali, di antaranya: Surabaya, Jakarta, dan Bandung. Ramadhan sebagai bulan yang multi kemashlahatan, sangat tepat dijadikan momentum untuk menunjukkan betapa Islam itu sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kedamaian.

Pesan-pesan universal yang terkandung dalam bulan suci ini, sangat mencerminkan gambaran Islam yang utuh dan jauh dari kesan kekerasan yang penuh dengan tindakan pemaksaan dan intimidasi. Yang terjadi adalah, bulan agung ini justru mengajak semua orang untuk lebih merapatkan kehidupannya kepada ruang-ruang mental-spiritual yang benar-benar hidup dan menghidupkan.

Maka sangatlah wajar, apabila para generasi terbaik umat senantiasa menghubungkan antara Ramadhan dengan keselamatan kehidupan umat manusia. Allaahumma sallimnaa liramadhaana wa sallim Ramadhaana lanaa wa tusallimhu minnaa mutaqabbalan


✍️ Tulisan ini digoreskan di atas Transjakarta UKI-Rambutan dalam rangka penutupan kajian Majelis Taklim Al-Itqan Tanjung Barat Jakarta Selatan

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!