Kamis, Juni 20MAU INSTITUTE
Shadow

SUASANA LEBARAN MEMANG HARUS BANYAK MENAHAN LISAN

Oleh : Teten Romly Qomaruddien

Bagi kalangan tertentu, bisa jadi suasana lebaran memang sangat mengasyikkan, namun bagi sebahagian kalangan lain bisa sebaliknya; menjadi sesuatu yang menyesakkan dada, bahkan menjadi petaka yang tidak terduga, terlebih ketika musim mudik tiba. Mengapa hal itu bisa terjadi? Bukankah hari lebaran menjanjikan rasa senang dan bahagia?

Bagi seorang anak muda yang sukses, ketika berjumpa dengan keluarga besarnya atau pun kerabat dan handai taolan yang menyodorkan pertanyaan “Bagaimana kabarmu sekarang; kuliah atau bekerja?” Tentu jawabannya gayung bersambut dengan bahasa tubuh yang membanggakan. Tapi apabila pertanyaan tadi tertuju pada anak muda yang belum beruntung, responnya akan jauh berbeda.

Bagi pasangan tertentu yang dianugerahi kehangatan hadirnya buah hati, pertanyaan “Sudah berapa momongannya sekarang?”, tentu jawabnya spontan dengan menyebut jumlah anak-anak mereka dengan penuh riang. Namun bagi pasangan sebaliknya, bisa jadi pertanyaan itu menjadi narasi kata yang mengusik perasaan.

Bagi keluarga yang sudah memenuhi standar sejahtera, ketika mendapatkan pertanyaan candaan “Tinggal di komplek mana sekarang, membawa kendaraan apa kemari?” Dengan gagahnya, mereka menjawab sigap penuh kepuasan. Tidak demikian dengan penerimaan mereka yang jauh dari kata sejahtera, rentetan pertanyaan tadi dirasakan seolah menjadi sindiran.

Dan masih banyak fenomena lain, yang terkadang terjadi begitu saja menghiasi suasana lebaran dengan segala tradisi mudik dan pulang kampungnya. Alih-alih suasana lebaran yang mestinya hangat dengan tegur sapa persaudaraan dan pertemanan, malah berubah menjadi suasana gerah yang penuh dengan ketidak nyamanan.

Semua itu kembali kepada komunikasi intrapersonal yang perlu dibangun dengan penuh moral dan etika, terutama menjaga dan memelihara tutur kata agar komunikasi interpersonal berjalan baik dan menentramkan semua pihak.

Memang benar, tidak ada pertemanan yang utuh dan bebas dari cacat. Namun setidaknya ketika kearifan yang bernama “tepo seliro” alias tenggang rasa masih terpupuk dengan baik, maka perkara sikap dan sifat kejiwaan seperti tadi tidak perlu terjadi. Dua orang atau lebih yang bersahabat dengan akrabnya, bukan berarti sepi dari persoalan. Melainkan saling menjaga perasaan itulah, yang membuat pertemanan mereka menjadi aman dan menyejukkan.

Pepatah Arab menuturkan:

العلاقة الطويلة بين الأصدقاء لاتعني أن أحدهم لم يجد ما يكره من صاحبه، إنما لديهم تسامح عظيم و نفوس صافية لا تتأثر

“Langgengnya hubungan pertemanan bukan berarti tidak pernah ada sesuatu yang tidak disukai dari temannya, melainkan adanya kelapangan maaf dan jiwa yang bersih yang tidak pernah menyisakan kotoran hati.”

Itulah gambaran tajamnya lisan yang wajib dijaga, di mana efek yang diakibatkannya bisa menimbulkan bahaya yang tidak ringan. Ibarat kata para cerdik pandai: “Jika pedang melukai tubuh, masih ada harapan untuk sembuh. Tapi jika lisan dan sikap yang melukai hati, kemana obat hendak dicari?”.

Ketika memberikan syarah hadits yang berbunyi: Falyaqul khairan auw liyashmut; “Maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR. Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anh), Imam Nawawi rahimahullaah memberikan penjelasan dengan menukilkan perkataan Imam Syafi’i rahimahullaah:

إذا أراد أن يتكلم فليفكر، فإن ظهر أنه لا ضرر عليه تكلم. وإن ظهر أن فيه ضررا أو شك فيه أمسك

“Apabila engkau ingin mengatakan sesuatu, hendaklah dipikirkan terlebih dahulu. Jika omongannya tidak mengandung kemadharatan, silahkan ungkapkan. Jika mengandung kemadharatan atau membingungkan, maka tahanlah omongan itu!” (Imam Nawawi dalam Nazhim Muhammad Sultan, Qawaaid wa Fawaaid Minal Arbaiin an-Nawawiyyah, 1988: hlm. 138).


✍️ Tulisan ini digoreskan bakda shalat ‘ashar (Selasa, 25/4/2023) di tengah-tengah kesibukan mudik lebaran H+4 bagi yang berpegang pada hisab wujuudul hilaal dan H+3 bagi yang berpegang pada hisab imkaanur ru’yat.

Print Friendly, PDF & Email

3 Comments

  • Ummu aysel

    Maa syaa Allah
    Semua yg dituliskan ustadz sangat betul dan tepat ….ana pribadi kadang jd malas kalau mau kumpul² saudara atau temen karena mereka pasti akan berbangga² dg kesuksesan dunia mereka . Sedangkan ana merasa semua ini adl titipan yg gak perlu di tampakan dihadapan manusia ….apalagi anak² kami sekolah ditempat yg mungkin bg mereka gak bonafid …..itu akan jg bahan cibiran yg gak jelas ……

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!