Minggu, Maret 3MAU INSTITUTE
Shadow

MENYUSUN KEMBALI PUZZLE KEMULIAAN YANG MULAI TERSERAK

Oleh : Teten Romly Qomaruddien

Menyebut kata “puzzle”, mengingatkan kita pada media kreatif pengajaran yang biasa digunakan di Taman Bermain atau Taman Kanak-kanak. Bentuknya bisa beragam; Mulai dari gambar manusia, kendaraan, rumah, hewan, hingga peralatan keseharian yang sudah dipotong-potong menjadi serpihan-serpihan dan ditebar secara acak. Setelah itu, dirangkai kembali dan disusun menjadi gambar yang utuh sesuai aslinya.

Dalam kehidupan pun, tidak ubahnya seperti bermain puzzle; Ada banyak kebaikan dan kemuliaan yang berserak di hadapan kita, yang terkadang tidak beraturan. Ketika kebaikan dan kemuliaan itu dibiarkan apa adanya, maka akan nampak terlihat kurang nyaman dirasakan. Namun sebaliknya apabila kebaikan dan kemuliaan itu kembali dirangkai penuh pemeliharaan, maka yang terjadi adalah wujudnya pesona hidup yang menggairahkan.

Membicarakan perkara yang satu ini, mengingatkan kita pada firman Allah ‘azza wa jalla [QS. An-Nahl/ 16: 92] yang merekam kembali kisah masa silam di zaman jahiliyyah dan dihubungkan dengan peringatan bagi mereka yang senang mengkhianati perjanjian atau gemar mengurai suatu hal yang telah dikukuhkan bersama karena sebab tipu daya musuhnya.

Untaian kalimat menarik yang tertera dalam ayat tersebut, berupa tamtsiil dan ‘ibaarat yang bersifat larangan, nampak jelas indahnya dalam gugusan kalam berikut:

ولا تكونوا كالتي نقضت غزلها من بعد قوة أنكاثا …

“Dan janganlah kalian menjadi seperti wanita yang senang mengurai benang setelah ia memintalnya dengan kuat [menjadi cerai berai kembali] …”

Para mufassir banyak menyebutkan, bahwa yang dimaksud wanita di masa jahiliyyah tersebut bernama Sa’idah al-Asadiyyah; yaitu seorang wanita yang hilang akal dengan kebiasaannya mengurai pintalan kain yang telah disusunnya sendiri. Demikian Abdullah bin Abi Hatim meriwayatkan sebagaimana dinukilkan para ahli tafsir generasi Taabi’in semisal Qataadah, Dhahhaaq, dan Ibnu Zaid (Lihat: Ikhtishaar Tafsir Al-Qur’aanil ‘Azhiim Li Ibni Katsiir dan Zubdatut Tafsiir Min Fathil Qadiir Lis Syaukani, karya Muhammad Sulaiman al-Asyqar)

Secara pribadi, “kembali ke titik nol”, merupakan narasi yang tepat agar setiap diri memulai kembali menyusun beragam kemuliaan yang terserak itu; Mulai kemuliaan ibadah, kemuliaan menuntut ilmu, kemuliaan berkhidmat, kemuliaan perjuangan, dan kemuliaan amal shalih lainnya. Semua ini, merupakan upaya dalam melanggengkan perawatan bangunan kemuliaan yang lebih kokoh dan berkesinambungan. Untuk lebih terpeliharanya bangunan tersebut, maka “saling sinergi” dalam merawatnya wajib menjadi prioritas dalam pengejawantahannya.

Secara kelompok, tidak terkecuali dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; Ada banyak persoalan keummatan dan kebangsaan yang tengah mengkhawatirkan. Centang perenangnya sesama anak bangsa, diperparah dengan terkoyaknya keutuhan ukhuwwah hendaknya menjadi perhatian bersama. Ketika tenun kebersamaan dan kebangsaan, serta tali rekat persaudaraan itu makin memudar, maka ujungnya adalah kehancuran. Kondisi yang hancur tidaklah memiliki nilai dan makna apa-apa, selain kehinaan dan kemunduran.

Agar kemuliaan ini tidak cepat berlalu, marilah kita renungkan nasihat menawan dari Al-Hafizh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullaah berikut ini:

متى يبلغ البنيان يوما تمامه؟ … وأنت تبنى وغيرك يهدم

“Kapan sebuah bangunan bisa mencapai kesempurnaannya? … Di satu pihak kamu membangun, sementara pihak lainnya merobohkan”


✍️ Tulisan ini digoreskan seiring lajunya bis Kramat Jati Bekasi-Bogor pada hari Ahad (07/05/23) sembari menjentikkan jempol menulis bahan iftitah dalam kajian perdana di Majlis-majlis ilmu Pasca Shaum Ramadhan 1444 H.

Print Friendly, PDF & Email

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!