Senin, Januari 20MAU INSTITUTE
Shadow

BELAJAR MENJADI TEMAN DAN PEMBISIK YANG BAIK

Oleh: Teten Romly Qomaruddien

Ada narasi yang telah popular di masyarakat, khususnya kalangan aktivis politik praktis, atau minimalnya simpatisan dari sebuah kendaraan politik. “Tidak ada pertemanan abadi, yang ada adalah kepentingan abadi”. Demikian kalimat ini sering muncul, terutama jelang perhelatan hajat demokrasi. Bagaimana Islam memandang persoalan ini? Sebagai ummat Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentunya hal ini menjadi sangat penting untuk dikritisi.

Pertama; Dalam Al-Qur’anul Kariim digambarkan, bahwa pertemanan orang-orang bertaqwa itu abadi hingga hari akhir. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

الأخلاء يومئذ بعضهم لبعض عدو إلا المتقين

“Pertemanan di hari itu [hari qiyamat] satu sama lain menjadi musuh, kecuali orang-orang bertaqwa.” (QS. Az-Zukhruf/ 43: 67).

Kedua; Selain ayat sebelumnya, juga Allah ‘azza wa jalla memberikan jaminan kepada siapa saja dari orang-orang beriman, lalu diikuti oleh keturunannya, maka mereka akan dikumpulkan kembali dalam satu hamparan-Nya [yakni halaqah] yang teramat mulia di akhirat kelak.

والذين أمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء كل امرئ بما كسب رهين

“Orang-orang beriman beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka [di dalam surga], dan Kami tidak mengurangi sedikitpun pahala amal [kebajikan] mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Thuur/ 52: 21)

Dari dua ayat ini saja sangat jelas, pertemanan atau kekerabatan bagi orang-orang muttaqiin itu, bukanlah sebatas ada kepentingan sesaat. Melainkan persahabatan yang melekat dalam jiwa dan mampu mengantarkan mereka pada kemuliaan alam akhir. Dengan demikian, narasi popular sebagaimana diawal tidak layak untuk diabadikan.

Biasanya, dalam konteks kepemimpinan atau kekuasaan, kita sering dikenalkan dengan istilah “orang dekat” atau “orang dalam”. Atau lebih spesifik lagi menggunakan sebutan “orang kepercayaan” yang dalam bahasa wahyu menggunakan kata bithaanah dengan terjemah yang beragam. Larangan Al-Qur’an tentang dijadikannya selain orang beriman sebagai “teman kepercayaan” [Lihat QS. Ali ‘Imran/ 3: 118], merupakan terjemah yang umum digunakan. Sedangkan dalam hadits Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sering diterjemahkan dengan “para pembisik”. Sekalipun berbeda istilahnya, namun hakikatnya adalah sama.

Imam Abu Zakariya an-Nawawi menuliskan bab khusus dalam kitab monumental Riyaadhus Shaalihiin, terkait anjuran untuk para hakim, sulthan [dan yang sederajat] agar mereka tidak menjadikan para kabinetnya [mentri, staf, pengawal dan yang sederajat] dari kalangan orang-orang yang buruk, serta mewaspadai terjadinya kroni-kroni yang jahat. Tertera dengan jelas dalam bab tersebut: “Hatstsul qaadhiy was sulthaan wa ghaiyrihimaa min wulaatil umuuri ‘alaa ittikhaadzi waziiri shaalih wat tahdziiru min quranaais suui”. Ini menunjukkan bahwa urusan “orang dekat” yang akan menjadi pendamping sang pemimpin benar-benar kalangan yang bisa dan mampu dipercaya.

Di antara hadits-hadits mulia yang dibawakannya adalah sebagai berikut:

مابعث الله من نبي ولا إستخلف من خليفة، إلا كانت له بطانتان؛ بطانة تأمره بالمعروف وتحضه عليه، وبطانة تأمره بالشر وتحضه عليه. والمعصوم من عصم الله

“Tidaklah Allah ‘azza wa jalla mengutus seorang Nabi atau mengangkat seorang khalifah [pemimpin], melainkan padanya ada dua pengawal [orang dekat, orang kepercayaan, atau pembisik]; pembisik yang memerintahkan perkara baik dan ia mendukungnya serta pembisik yang memerintahkan perkara buruk dan ia mendukungnya. Orang yang terpelihara, adalah yang dijaga Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Al-Bukhari dari shahabat Abu Sa’ied al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhumaa).

Bagaimana cara membedakan antara pembisik yang baik dengan pembisik yang buruk? Maka Ummul Mukminiin ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa menuturkan sabda Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

إذا أراد الله بالأمير خيرًا جعل له وزير صدق؛ إن نسي ذكَّره، وإن ذكَر أعانه، وإذا أراد به غير ذلك جعل له وزير سوء؛ إن نسي لم يذكِّره، وإن ذكَر لم يُعِنه

“Apabila Allah ‘azza wa jalla menghendaki kebaikan bagi seorang pemimpin, maka Allah jadikan baginya mentri yang baik; jika pemimpin lupa ia mengingatkannya, jika pemimpin ada dalam kebenaran ia membantunya. Dan apabila Allah ‘azza wa jalla menghendaki selain itu [bukan kebaikan] bagi seorang pemimpin, maka Allah jadikan baginya mentri yang buruk; jika pemimpin lupa ia tidak mengingatkannya, jika pemimpin ada dalam kebenaran ia tidak membantunya.” (HR. Abu Dawud dengan sanad jayyid berdasarkan persyaratan Imam Muslim).

Sungguh benar, lahirnya pemimpin yang baik sangat ditentukan oleh masyarakatnya yang baik pula. Masyarakat yang baik sangat ditentukan oleh kehidupan sosial dan kehidupan moral yang baik. Di antara kehidupan sosial dan moral yang baik adalah tercermin dalam pergaulan, pertemanan dan persahabatan yang menjunjung prinsip dasar kehidupan; “silih asah, silih asih dan silih asuh”. Jangankan membantu kebaikan terhadap sesama [terlebih terhadap pemimpin], sekadar “membisikkan” kebenaran saja akan sangat berpengaruh dalam mewujudkan kehidupan yang lebih bahagia dan bermartabat. Semoga!!!


✍️ Materi ini digoreskan sebagai bahan kajian yang disampaikan pada Kajian Tsaqafah Islamiyah di Masjid Wadhhah ‘Abdurrahman Al-Bahr Pusdiklat Dewan Da’wah Tambun Selatan Bekasi Jawa Barat (Ahad, 21/ 01/ 2024).

Print Friendly, PDF & Email

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!