Senin, Juli 15MAU INSTITUTE
Shadow

DARI MIMBAR PERADABAN UNTUK UMAT BERKEADABAN

Oleh: Teten Romly Qomaruddien

إن الحمد لله نحمده و نستعينه و نستغفره … ونعوذ بالله من شرور أنفسنا و من سيئات أعمالنا … من يهده الله فلا مضل له ومن يضلله فلن تجد له وليا مرشدا … نصلي ونسلم على رسول الكريم وعلى اله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين … أشهد ان لا إله إلا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمدا عبده و رسوله، أما بعد: … أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون … يا أيها الذين أمنو اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأننم مسلمون

A. Khutbah Pertama

Ma’aasyiral muslimiin jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah ‘azza wa jalla

Kembali tahmid dan takbir menggema di setiap rumah Allah, memecah cemas dan gundah selama ini, seakan memberikan dorongan pujian, pengagungan dan ketegaran akan keadaan yang semakin penuh problema [musykilah]; Lemah semangat, bahkan terkadang bisa mengikis dinding-dinding optimis yang kian menipis. Menyisakan tatapan kosong sebagian kalangan, mengancam keimanan yang sudah tertanam. Namun di hari ini, semua kita dapat merasakan dan menyaksikan … Ternyata harapan itu masih ada, terbentang dengan luasnya, dan siap memecah keheningan bumi selama ini, membuka rongga-rongga udara, membedah pintu-pintu langit hingga ‘arsy Ilahi yang Maha tinggi. Allaahu Akbar

Ma’aasyiral muslimiin a’azzakumullaah

Seiring dengan perjalanan siang ini, kita berkumpul menghadap Dzat yang Maha agung. Bukan hanya sekedar menunaikan titah dan perintahNya, melainkan menyambutnya dengan penuh rasa syukur atas segala ikhtiar yang telah sama-sama kita lakukan dengan penuh khidmat dan semangat mengagungkan asmaNya, serta menghidupkan syi’arNya yang mulia sebagai perwujudan atas petunjuk yang telah dianugerahkan untuk kita semua.

ولتكبروا الله على ما هداكم و لعلكم تشكرون

Dan agar kalian mengagungkan Allah atas petunjuk yang telah diberikan, mudah-mudahan kalian termasuk orang yang bersyukur.” (QS. Al-Baqarah/ 2: 185).

Ma’aasyiral muslimiin a’azzakumullaah

Kini, kita tengah berada di hari keberkahan … Benarkah kita tengah berada di hari keberkahan? Lalu, apa yang dimaksud dengan keberkahan? Untuk siapa keberkahan itu dianugerahkan? Sekalipun jawabannya tidak akan sama, namun apabila dihubungkan dengan keberkahan ibadah di hari ini maka semua kita sepakat akan kebenarannya bahwa hari ini benar-benar kaum muslimin tengah menggapai berbagai keberkahan. Dibukanya pintu langit seluas-luasnya untuk berdo’a, dihapuskannya kesalahan hingga berjumpa dengan hari Jum’at berikutnya. Itu semua merupakan ketetapan Allah ‘azza wa jalla untuk hamba-hambaNya.

والجمعة إلى الجمعة مكفرات لما بينهن

“Dan dari hari Jum’at ke Jum’at lainnya dapat menghapus kesalahan di antara keduanya …” (HR. Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anh).

Ma’aasyiral muslimiin a’azzakumullaah

Penting untuk dicatat bersama, keberkahan kita di hari ini, bukan tanpa halangan, gejolak dan kegaduhan, bahkan tidak sepi dari keprihatinan. Melainkan berbagai peristiwa menggoda melintas di hadapan kita, menari di ujung mata, bahkan tidak segan menciderai khusyu’ dan khidmat kita, serta mencuri perhatian dan memalingkan kegembiraan yang seharusnya sehingga dapat mengubah keadaan menjadi pemandangan yang menyedihkan; menyayat jiwa keadilan dan mencabik-cabik nurani ketulusan.

Bagaimana tidak, kemerdekaan saudara kita yang berada jauh nun di sana; Palestina yang kita cinta, negeri dan kiblat pertama kaum muslimin kembali diguncang duka, haknya terampas dan jiwanya terjajah. Syria negeri para ulama, kini dihadapkan dengan perang yang kian melanda, demikian pula saudara saudara kita muslimin di Uyghur, muslimin di India, muslimin di Myanmar dan negeri-negeri lainnya tidak lepas dirundung malang karena ketidak adilan dan kepongahan. Demikian pula yang menimpa pada saudara-saudara se-iman yang ada di hadapan kita, ulama-ulama, guru-guru dan rekan-rekan aktivis lainnya masih mengalami ketidak adilan yang sama. Kemenangan dan kemerdekaan yang seyogianya didapatkan oleh mereka masih jauh dari harapan yang seharusnya.

Ma’aasyiral muslimiin a’azzakumullaah

Marilah kita kembali belajar, tadabbur untuk merenung dan mendulang hikmah sejarah, menyebrangkan kembali alam pikiran dan pengalaman masa lampau untuk diambil pelajaran di hari ini. Al-Qur’an mengisyaratkan, Sunnah Nabi membimbingkan bahwa belajar dari pengalaman masa lalu itu adalah penting untuk dijadikan bukti penjelas dalam memotret keadaan [bayaanan], petunjuk untuk berpijak pada landasan juang [hudan], dan nasihat yang mencerahkan sebagai jalan penerang [mau’izhah]. Itulah hikmah sejarah, yang diperuntukkan bagi siapa saja yang siap komitmen dalam ketakwaan.

Di antara pembabakan sejarah kemenangan, kita bisa melakukan telusur terhadap berbagai literatur, bagaimana sebuah kemenangan itu dapat diraih. Bagaimana kemenangan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan para shahabatnya pasca hijrah dari Mekkah ke Yatsrib yang asalnya lembah menjadi Madinah al-Munawwarah, yakni kota peradaban yang mengagumkan dengan keutamaan [al-hadhaarah al-faadhilah]. Setelah berhasil dan sukses besar membangun masyarakat berkemajuan dengan segala hiasan moralitas luhur [akhlaaqul kariimah], Nabi pun melanjutkan perjuangannya hingga berhasil mengembalikan Mekkah ke pangkuan kaum muslimin hingga meraih kemenangan. Yang pertama disebut sebagai kemenangan yang dekat atau sementara [fathan qariiban], dan yang kedua disebut kemenangan yang nyata [fathan mubiinan]. Adapun kemenangan sejati atau kemenangan yang sesungguhnya, itulah kemenangan alam akhirat yang disebut “keberuntungan yang sangat besar” [fauzan ‘azhiiman] yang akan diraih kelak.

Ma’aasyiral muslimiin a’azzakumullaah

Patut kita berkaca, menerawang alam ke belakang. Walaupun kita tidak boleh lupa, bahwa kita masih punya harapan dan memiliki masa depan. Menjembatani antara masa silam dengan masa kini, merupakan sikap bijak para pewaris peradaban. Meminjam nasihat emas seorang ulama pejuang Syaikh Musthafa as-Siba’iy dalam bukunya Min Rawaai Hadhaaratinaa [1992] yang menuturkan: “Siapa yang berlebihan dengan nostalgia masa lalu, itu tandanya orang pemalas. Namun, siapa yang meremehkan masa lalu dengan segala kebaikan dan keburukan di dalamnya, itu tandanya orang bodoh”. Maka, sikap yang adil tentunya, bagaimana kita berdamai dan bijak dengan masa lalu untuk diambil pelajaran [‘ibrah] di saat ini. Benar Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali yang mengatakan:

الإعتبار أن يعبر ما ذكر إلى غيره لا يقتصر عليه

“Yang disebut ‘ibrah itu adalah menyebrangkan masa lalu yang diingat ke waktu lainnya [termasuk hari ini] tanpa batas waktu.”

Sekedar gambaran, bagaimana pengalaman dapat direkam, perjalanan sejarah dapat diabadikan? Jawabannya adalah kembali pada isyarat Al-Qur’anul ‘Azhim:

لقد كان في قصصهم عبرة لأول الألباب

“Sungguh ada pada kisah-kisah mereka, merupakan pelajaran berharga bagi mereka yang memiliki akal pikiran.” (QS. Yusuf/ 12: 111)

Ma’aasyiral muslimiin a’azzakumullaah

Di antara rekam jejak sejarah yang dapat kita ambil adalah bentangan panjang dari zaman ke zaman, bagaimana bulan mulia Ramadhan [yang baru saja kita tinggalkan] begitu banyak memberikan dampak yang sangat besar terhadap peradaban dan kejayaan ummat. Bukankah peristiwa-peristiwa besar yang terjadi; penyerahan panji perang pertama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada paman Hamzah sang “singa Allah”, saling dipersaudarakannya Muhajirin dengan Anshar [ta’aakhi], perang Badar Kubra, ditumbangkannya berhala Quraisy, persiapan pembebasan kota Makkah [fathu Makkah], diserahkannya kunci Baitul Maqdis kepada Khalifah Umar bin Khaththab, perdamaian Khalifah ‘Ali bin Abu Thalib dengan Gubernur Mu’awiyah bin Abu Sufyan pasca perang Shiffin [disebut peristiwa tahkiim], pertempuran ‘Ain Jalut dengan dihalaunya bangsa Tatar Mongolia dari negeri Syam, juga menyebarnya dakwah Islam ke Benua Eropa [oleh Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad] yang mewujudkan Jazirah Andalusia, serta sederet peristiwa heroik lainnya. Semua itu terjadi di bulan mulia Ramadhan. Bahkan tidak kalah pentingnya untuk diingat seluruh lapisan anak bangsa, proklamasi kemerdekaan negeri ini terjadi pula di bulan penuh perjuangan, yakni hari Jum’at, 9 Ramadhan 1334 H. [17 Agustus 1945].

Ma’aasyiral muslimiin a’azzakumullaah

Bukanlah suatu kebetulan, melainkan taqdir sejarah yang Allah ‘azza wa jalla tentukan untuk kita. Yaitu sebagai ummat manusia yang diberi kepercayaan untuk hidup mengarungi wabah yang tidak sebentar [dari 2020 hingga 2022, dicabut secara resmi 2023 berdasarkan putusan WHO], kini sudah terlewati. Itu artinya, kita telah diuji, kita pernah hidup mengembara dengan beragam peristiwa, dan sudah pasti kita pun mendapatkan pelajaran berharga, sebagaimana orang-orang shalih terdahulu menimba pelajaran yang diabadikannya dalam tulisan yang mengingatkan. Semoga kita termasuk orang-orang yang pandai mengambil pelajaran itu. Fa’tabiruu yaa ulil albaab.

Sebagai orang yang dianugerahi akal pikiran, terlebih masih memiliki iman, maka perubahan demi perubahan apa pun senantiasa disikapi dengan pendekatan keimanan pula. Karena kita yakin, selama Allah ‘azza wa jalla dan rasulNya menjadi tujuan hidup, maka menemukan jalan keluar yang terbaik adalah sebuah keniscayaan. Setiap zaman ada peradabannya, dan setiap peradaban ada metode serta pedoman bagaimana menaklukkan peradaban tersebut [likulli zamaanin hadhaaratun wa likulli hadhaaratin thariiqatun wa manhajun]

.Ma’aasyiral muslimiin a’azzakumullaah

Kini era baru telah lahir … Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi peradaban, tentu senantiasa selaras dengan situasi dan kondisi yang terjadi [al-Islaamu diinun hadhaaratun shaalihun likulli zamaanin wa makaanin]. Termasuk kondisi yang tengah kita hadapi, selain era percepatan dan perubahan, juga ditambah dengan pernah terjadinya wabah berkepanjangan. Maka sangatlah wajar apabila sebagian para ahli menyebutnya dengan double disruption. Di satu sisi terjadi revolusi teknologi, informasi, dan digitalisasi. Sisi yang lain, kondisi yang ada turut memaksa mempercepat perubahan tersebut. Semakin familiarnya penggunaan beragam aplikasi, merupakan contoh konkret yang sama-sama kita rasakan dengan segala plus minus di dalamnya.Agar peradaban yang tengah melaju, tetap terkawal dengan kebenaran. Maka prinsip-prinsip “ketuhanan” [rabbaaniyyah] wajib diletakkan di atas segala-galanya. Lahirnya pemimpin rabbaani, intelektual rabbani, saudagar rabbaani, abdi negara dan para ponggawa rabbaani, serta masyarakat rabbaani.

Semuanya merupakan cita-cita dan harapan dari keberhasilan menegakkan pilar-pilar peradaban yang dirindukan. Apa yang pernah digoreskan di pintu gerbang Cordoba dengan bertuliskan pemimpin yang adil [‘aadilun umaraauhum], ulama yang hebat [‘aalimun ‘ulamaauhum], orang kaya yang dermawan [sumahaau aghniyaauhum], serta bala tentara yang berani [syajaa’atun ‘askariyaatuhum], menjadi anasir kuat bagi kokohnya bangunan mercusuar kejayaan ummat. Terlebih apabila dilengkapi dengan kriteria Imam Fakhruddin ar-Razi dalam penuturannya, bahwa hiasan dunia dibangun dengan beberapa perkara; di samping yang telah disebutkan, beliau menambahkan dengan keshalihan dan kesungguhan ahli ibadah [‘ibaadatul ‘ubbaad], amanahnya para saudagar [amaanatut tujjaar], dan arahan para profesional [nashiihatul muhtarifiin]. Untuk mewujudkan generasi seperti itu penting bagi generasi hari ini, menghidupkan penyangga-penyangga berikut: melakukan kaderisasi generasi pemimpin yang adil, menyiapkan kaderisasi ulama yang mumpuni, menjalankan kaderisasi pelaku ekonomi yang handal dan amanah, menyiapkan kaderisasi pelaku birokrasi yang jujur, pemberdayaan kaderisasi kaum profesional, serta pembinaan masyarakat pilihan yang bermartabat.

Dengan demikian, cita-cita besar yang menjadi idaman akan semakin mudah untuk diwujudkan. Semua itu akan menjadi hampa apabila tidak diiringi dengan kesungguhan, sifat rabbani, penghargaan terhadap ilmu, amal nyata, keikhlasan, bijak dalam bersikap, dan ketajaman mata hati. Laa mujaahadata illaa rabbaaniyyata, wa laa rabbaaniyyata illaa bi ‘ilmin wa ‘amalin wa ikhlaashin wa hikmatin wa bashiiratin.

B. Khutbah Kedua

Ma’asyiral muslimiin jamaah Jum’at a’azzakumullaah

Dari paparan singkat pada khutbah pertama, khatib yang faqir ini mengingatkan diri sendiri, keluarga, kerabat juang dan jamaah sekalian untuk sama-sama memetik hikmah dan mutiara kemanfaatan [istifaadah] dari “suara mimbar” terhormat ini hal-hal berikut:

1. Semoga hiasan tahmid dan takbir, serta do’a-do’a tulus kita di hari sayyidul ayyaam ini dikabulkan Allah yang Maha segalanya.

2. Semua ibadah kita, dan kemenangan, serta keberkahan di hari ini, semoga diterima Allah ‘azza wa jalla. Juga, kita selalu diberikan kemampuan untuk mempertahankan dan merawatnya hingga akhirat kelak.

3. Memohon kepada Rabbul ‘Aalamiin, kiranya semakin diteguhkan iman dan takwa kita di tengah-tengah keadaan dan ujian yang terjadi di dalamnya, serta diberikan bimbingan ilmuNya untuk bisa keluar dari berbagai problematika hidup sesuai petunjuk dan ridhaNya.

4. Pandai-pandailah kita semua, mengambil pelajaran berharga dari bentangan sejarah panjang manusia-manusia mulia, agar pelita hidup tetap menyala, dan obor peradaban kebangkitan tidak pernah padam.

5. Dengan segala kemampuan yang ada, sembari menyadari kelemahan diri di hadapan Dzat Maha dahsyat, kita siap mengikrarkan diri menjadi manusia-manusia Rabbani yang tidak akan mengalah dari keadaan. “Hidup adalah pilihan untuk mengabdi kepada Ilahi, ujian dan cobaan adalah goresan taqdir yang wajib kita imani, sedangkan ikhtiar mewujudkan peradaban baru adalah tekad juang kami untuk menyongsong masa depan yang lebih gemilang.”

Allaahumma laa sahla illaa maa ja’altahu sahlan … Wa Anta taj’alul hazna idzaa syi’ta sahlan … Taqabbalallaahu minnaa wa minkum … Aquulu qauwlii haadzaa wa astaghfirullaaha lii wa lakum was salaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.

____________

*) Khutbah perdana bulan Syawwal 1445 H ini disampaikan di Masjid Wadhhah ‘Abdurrahman Al-Bahr (Kediaman Komplek Pusdiklat Dewan Dakwah Setiamekar Tambun Selatan 17510 Bekasi Jawa Barat).

Print Friendly, PDF & Email

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!