Oleh: Teten Romly Qomaruddien

Bagi para pembaca kitab Siirah Nabawiyyah atau Siirah Shahaabah, penggalan episode orang-orang mulia yang tidak mungkin terlewatkan adalah mereka Khulafaaur Raasyidiin. Para pengganti “kepemimpinan umat” dalam menjaga, memelihara dan mengembangkan risalah Allah ‘azza wa jalla dan sunnah rasul-Nya. Selain itu, mereka pun memiliki kewajiban untuk menyebarkan misi kemanusiaan ke seantero jagad dengan landasan petunjuk Ilahi dan risalah kenabian tersebut.
Panggilan terbaik pun layak disematkan untuk mereka sebagai “cikal bakal” generasi terbaik; Mulai dari orang-orang terdahulu mengenal Islam [as-saabiquunal awwaluun], sebaik-baiknya manusia [khairun naas], sebaik-baiknya abad [khairul quruun], hingga sebaik-baiknya umat [khairu ummah]. Sifat dan karakter utama yang senyawa dalam generasi ini, membuat mereka patut mendapatkan do’a terbaik bagi siapa pun yang menyebut namanya dengan kalimat radhiyallaahu ‘anhum, “semoga Allah ‘azza wa jalla meridhai mereka”.
Sebuah jaminan yang teramat mahal nilainya, para khalifah ini disebut-sebut oleh Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai “orang-orang yang diberi kabar gembira” masuk surganya Allah ‘azza wa jalla [al-mubasysyiruuna bil jannah] sebagaimana sabdanya:
أبو بكرٍ في الجنَّةِ، وعمرُ في الجنَّةِ، وعليٌّ في الجنَّةِ، وعثمانُ في الجنَّةِ، وطَلحةُ في الجنَّةِ، والزُّبَيرُ بنُ العوَّامِ في الجنَّةِ، وعبدُ الرَّحمنِ بنُ عوفٍ في الجنَّةِ، وسَعيدُ بنُ زيدِ بنِ عمرو بنِ نُفَيلٍ في الجنَّةِ، وأبو عُبَيدةَ بنُ الجرَّاحِ في الجنَّةِ
“Abu Bakar as-Shiddiq, ‘Umar bin Khathab, ‘Ali bin Abi Thalib, ‘Utsman bin ‘Affan, Thalhah, Zubair bin ‘Awwam, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail dan Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah, [semuanya masuk sorga].” (HR. Tirmidzi 3747, Ahmad 1/ 193, Nasaai dalam As-Sunanul Kubra 5/ 56. Dari shahabat ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallaahu ‘anh).

Keistimewaan generasi Muhaajirin dan Anshaar ini tidak diragukan, mereka adalah manusia-manusia yang telah melengkapi dirinya dengan berbagai keutamaan yang sulit ditandingi manusia lainnya; Ketulusan hati, kejujuran, kekhusyuan, menuntut ilmu, kezuhudan dan wara’, semangat jihad, menuntut ilmu dan mengeluarkan infaq fii sabiilillaah. Dalam hal ini, Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberikan perumpamaan menarik berikut:
والذي نفسي بيده لو أنفق أحدكم مثل أحد ذهبا ما بلغ مد أحدهم ولا نصيفه
“Demi diriku yang ada dalam genggamannya, seandainya salah seorang di antara kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai pahala segenggam makanan atau setengahnya yang mereka keluarkan.” (HR. Bukhari no. 3673 dan Muslim no. 2541 dari shahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallaahu ‘anh)
Karena itu, sangatlah wajar apabila ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anh memberikan pujian dan apresiasi yang sangat tinggi untuk generasi seniornya dengan menuturkan:
من كان منكم متأسيا فليتأس بأصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، فإنهم كانوا أبر هذه الأمة قلوبا، وأعمقها علما، وأقلها تكلفا، وأقربها هديا، وأحسنها حالا; قوم اختارهم الله لصحبة نبيه، وإقامة دينه، فاعرفوا لهم فضلهم، واتبعوا آثارهم فإنهم كانوا على الصراط المستقيم
“Siapa di antara kalian yang akan menjadikan keteladanan [setelah meneladani Rasulullaah], maka teladanilah para shahabat Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam; Karena mereka umat yang paling lembut hatinya, paling mendalam ilmunya, paling sedikit kesalahannya, paling dekat petunjuknya dan paling baik keadaannya. Mereka merupakan manusia yang dipilih Allah ‘azza wa jalla untuk menemani nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya. Maka kenalilah oleh kalian keutamaan mereka, ikuti sepak terjangnya, karena mereka ada pada jalan yang lurus.” (Lihat: Imam Al-Qurthubi 1/ 60)
Sebagai contoh, sosok shahabat ‘Abdullah bin Abu Quhafah yang dikenal dengan panggilan Abu Bakar as-Shiddiq radhiyallaahu ‘anh. Kemasyhurannya bukan karena dirinya sebagai khalifah pertama saja, melainkan tercatat dalam sejarah sebagai orang yang sangat dekat kekerabatannya kepada Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam; Menjadi shahabat pertama yang masuk Islam dari kalangan tokoh Quraisy, yang membenarkan apa pun berita kenabian dari orang mulia yang dicintainya, menjadi orang yang selalu terdepan dalam beramal shalih hingga berinfaq dengan seluruh kekayaannya, menjadi shahabat terpilih dalam misi rahasia perjalanan hijrah ke Yatsrib yang melibatkan keluarganya dalam melindungi panutannya di Gua Tsur, memimpin imam shalat berjamaah saat Rasulullaah sakit menjelang wafatnya, serta bersikap bijak dan tegar dalam menentramkan situasi umat ketika sang Nabi dipanggil ke haribaan-Nya.
Sejarah mencatat, saat para shahabat berada dalam kebingungan dan kegentingan. Mereka belum menerima sepenuhnya keadaan yang sangat menyesakkan dan menyempitkan dada mereka dengan kehilangan jungjunan yang selama ini dijadikan teladan. Abu Bakar pun lantas keluar dengan seruan menggema penuh wibawa hingga mampu meluruhkan hati yang selama ini gundah gulana, tidak terkecuali membuat sadarkan diri shahabat dekatnya ‘Umar bin Khathab radhiyallaahu ‘anh.

Dengan membacakan QS. Az-Zumar/ 39: 30 dan QS. Ali Imran/ 3: 144, setelah sebelumnya melihat jenazah Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar pun berdiri di hadapan orang banyak seraya bertutur: “Wahai manusia, siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Sedangkan siapa yang menyembah Allah, maka Allah hidup dan tidak pernah mati. Allah telah menjalankan taqdirnya untuk kalian, maka janganlah kalian terkejut. Dan Allah telah memilih bagi nabi-Nya untuk mendapatkan anugerah-Nya, kemudian Allah mencabut ruhnya untuk berpulang mendapatkan pahala-Nya. Dia telah mewarisi Kitab suci dan Sunnah nabi-Nya pada kalian, maka siapa yang berpegang pada keduanya, niscaya berada di jalan keluar. Sedangkan siapa yang memecah di antara keduanya, maka akan dilaknat. Hai orang beriman … Berlaku adillah, jangan kalian dibuat lengah oleh syaithan dikarenakan wafatnya Nabi kalian. Dan jangan sampai terjadi fitnah dalam agama lain, maka segeralah benahi diri kalian dari kelemahan kalian.”
Itulah Abu Bakar yang sangat mampu membuat kondisi yang asalnya bingung tidak menentu berubah menjadi gairah kembali. Semua ini terjadi bukan karena rekayasa, melainkan kepribadian Abu Bakar yang telah dikenal luas kalangan para shahabat; Paling memiliki rasa takut di hadapan Allah, dikenal paling zuhud dan wara di antara para shahabat, paling berani namun sangat pemaaf dan lembut hatinya, di samping dirinya dikenal sosok dermawan.
Kesaksian shahabat ‘Umar, bahwa suatu hari melihat Abu Bakar sedang menarik lidahnya. Lalu ditanyakan kepadanya mengapa melakukan hal itu? Jawabnya: “Inilah anggota tubuhku yang paling banyak mencelakakanku”. Lain dengan kesaksian hamba sahayanya, ketika Abu Bakar disodorkan hidangan yang akhirnya Abu Bakar diberi tahu setelah mencicipinya kalau hidangan tersebut hasil kemusyrikan. Spontan Abu Bakar pun memasukkan jari tangan ke mulutnya untuk mengeluarkan makanan yang sempat dikunyahnya.
Demikian pula ‘Ali bin Abu Thalib bersaksi, ketika seorang shahabat menuturkan bahwa di antara sekian para shahabat yang paling berani adalah ‘Ali. Justru tidak menurut dirinya, saat para shahabat sibuk melakukan pengawalan Nabi di perang Badar, maka shahabat yang paling berani di garda depan menghadapi musuh adalah seniornya Abu Bakar.
Namun, di balik keberaniannya Abu Bakar sosok pemaaf yang sangat lembut perasaannya. Hal ini diceritakan shahabat Abu Darda’ radhiyallaahu ‘anh; Ketika dirinya sedang duduk bersama Rasulullaah tiba-tiba Abu Bakar mengucap salam seraya menunjukkan penyesalannya karena berselisih dengan shahabat karibnya ‘Umar bin Khathab hingga membentaknya. Saat meminta maaf, ‘Umar seolah tidak mau memaafkannya hingga Abu Bakar pun mengadu kepada Rasulullaah. Seketika giliran ‘Umar yang menyesal karena tidak memaafkan temannya itu, ‘Umar pun bergegas menuju rumah Abu Bakar untuk meminta maaf. Dikarenakan orang yang dituju tidak bertemu, langsung bertolak ke rumah Rasulullaah. Melihat ‘Umar datang, terlihat kemarahan Rasulullaah … Namun apa yang terjadi? Abu Bakar langsung menunjukkan penyesalannya dengan tersimpuh memohon agar Rasulullaah tidak memarahinya. Abu Bakar berkata: “Wahai Rasulullaah, demi Allah … Aku telah menzhaliminya dua kali”, ujarnya penuh penyesalan.
Begitulah prilaku orang-orang mulia sekeliling Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ketika diri masing-masing merasa bersalah, mereka pun sama-sama menyesal dan sejak peristiwa tersebut, kejadian semacam itu tidak pernah terulang lagi. Sungguh tingkatan akhlaq berteman yang sangat mahal nilainya, mereka lebih senang mengedepankan saling “merasa bersalah” ketimbang saling “merasa benar”. Kedekatan mereka benar-benar tiada lawan; persahabatannya unik dan sangat menarik. Sampai-sampai Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menuturkan, khususnya untuk shahabat perjuangan yang sekaligus menjadi mertuanya itu:
لو كنت متخدا خليلا لاتخذت أبا بكر ولكن أخي و صاحبي
“Kalaulah aku menjadikan teman dekat, sungguh akan aku jadikan Abu Bakar sebagai teman dekatku. Namun ini lebih dari sekadar teman, melainkan saudaraku dan sahabatku.” (HR. Muslim no. 2383 dari shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anh). Wallaahu yahdiinaa ilaa sawaa`is sabiil

Alhamdulillãh sae Tadz. Jazãkumullãhu khair. Mohon izin share.