Selasa, Desember 9MAU INSTITUTE
Shadow

MEMAKNAI SUNNATULLAH SALAH DAN LUPA PADA DIRI MANUSIA

Oleh: Teten Romly Qomaruddien

Sudah menjadi kebiasaan umum manusia, apabila melakukan suatu kesalahan atau lupa dan lalai terhadap suatu yang diamanahkan, maka orang tersebut akan memberikan pembelaan diri dengan mengatakan al-insaanu mahallul khatha’ wan nisyaan. Narasi ini merupakan gugusan kalimat popular bagi siapa pun yang melakukan kesalahan dan mengharapkan pemaafan. “Manusia itu tempatnya salah dan lupa”, sungguh untaian indah yang mengandung simpatik tinggi dan sangat menggugah bagi siapa pun yang mendengarnya.

Minimalnya, ada dua sandaran dalil yang dapat membenarkan kalimat yang mengandung pelajaran [‘ibaarat] ini; Yang pertama bersandar pada petikan ayat Al-Qur’an. Sekalipun ayat tersebut secara umum menguraikan tentang sikap saling memaafkan di antara pasangan suami isteri itu lebih baik dan lebih mendekatkan diri kepada ketakwaan dari pada harus bercerai dengan saling “tidak melupakan” keutamaan masing-masing. Sedangkan yang kedua, bersandar kepada hadits Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa anak cucu Adam ‘alaihis salaam tidak bisa lepas dari kesalahan. Namun ditegaskan pula bahwa sebaik-baiknya manusia yang bersalah, adalah mereka yang mau bertaubat.

Kalam Allah ‘azza wa jalla yang dimaksud adalah sebagai berikut:

وَإِن طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِن قَبْلِ أَن تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ إِلَّآ أَن يَعْفُونَ أَوْ يَعْفُوَا۟ ٱلَّذِى بِيَدِهِۦ عُقْدَةُ ٱلنِّكَاحِ ۚ وَأَن تَعْفُوٓا۟ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۚ وَلَا تَنسَوُا۟ ٱلْفَضْلَ بَيْنَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika isteri-isterimu itu memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah, dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha melihat segala apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah/ 2: 237)

Kalimat Wa laa tansawul fadhla bainakum; “Janganlah kamu saling melupakan keutamaan masing-masing”. Menurut Imam Muhammad ‘Ali as-Syaukani [w. 1250 H.] dalam ringkasan Tafsir Fathul Qadiir karya Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al-Asyqar dijelaskan: “Hal itu dilakukan, agar keduanya tidak lupa terhadap keutamaan yang telah diberikan masing-masing supaya menjadi penyambung kembali atas apa yang pernah terjadi pada diri mereka”. Sementara Syaikh ‘Abdurrahman Nashir Sa’di [w. 1376 H.] memaparkan dalam tafsir ringkasnya Taiysiirul Kariimir Rahmaan Fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan berikut ini: “Tidaklah sepatutnya melalaikan diri untuk berbuat kebaikan dan mengerjakan perkara yang pantas, karena pergaulan merupakan setinggi-tingginya derajat. Di dalamnya terdapat dua tingkatan penting; Keadilan dan kejujuran yang wajib, yakni mengambil yang wajib dan memberikan yang wajib. Berikutnya, keutamaan dan kebaikan, yakni memberikan sesuatu yang lebih dari yang wajib dan berlapang dalam meminta hak, serta mengendalikan apa yang ada dalam nafsu pribadi”.

Sedangkan hadits Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang berkaitan dengan narasi yang kita bahas, sebagaimana diriwayatkan shahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anh berikut ini:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang mau bertaubat.” (HR. Tirmidzi no. 2499, Shahiihut Targhiib, no. 3139)

Sebagai keturunan Adam ‘alaihis salaam dan Bunda Hawa’, manusia seperti halnya ayah dan bundanya yang juga pernah berbuat salah dan dosa. Mereka diuji, mereka tergoda dan mereka pun terjerumus. Namun karena mereka menyadari akan kesalahannya, Adam dan Hawa’ pun segera bertaubat, maka selamatlah diri keduanya dari kerugian dan kezhaliman. Siapa di antara manusia yang menyerupai sikap ayah Adam dan bundanya Hawa’ dalam bersegera menggapai pintu taubat, maka tidaklah mereka termasuk orang-orang yang berbuat zhalim. Sebagai makhluk yang lemah, manusia diingatkan oleh Dzat Penciptanya agar senantiasa “mohon ampun” kepada-Nya [istighfaar]. Dalam hadits Qudsi dijelaskan:

يا عبادي إنكم تخطئون في الليل والنهار وأنا أغفر الذنوب جميعاً فاستغفروني أغفر لكم

“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat salah pada malam dan siang hari, dan Aku senantiasa mengampuni semua dosa, maka minta ampunlah kepada-Ku niscaya Aku akan mengampuni kalian.” (Lihat: Shahih Muslim, no. 4674)

Merenungkan kembali dua sifat yang telah menjadi karakter manusia [thabii’atul basyariyyah], sudah tentu bukan tanpa alasan di balik kehendak-Nya. Ada banyak hikmah yang terkandung di dalamnya; Mengapa Allah ‘azza wa jalla menjadikan sifat salah dan lupa pada diri manusia?, apa hubungannya dengan fasilitas “taubat” yang telah disiapkannya?, usaha manusia yang mana yang bisa membuka dan mempercepat untuk mendekat pintu taubatnya? Dan sejumlah bilangan pertanyaan lainnya yang patut dicarikan jawabannya.

Di antara jawaban yang bisa ditemukan, selain sifat salah dan lupa merupakan kealamian penciptaan-Nya [sunnatullaah, sunnatul khalq, sunnatul kauwn], juga mengisyaratkan bahwa manusia bukanlah makhluk yang terpelihara dari kekurangan dan kesalahan [ghair ma’shuum], kecuali para Nabi Allah.

Dalam pemahaman aqidah Ahlus Sunnah wal Jamâ’ah, “Kemakshuman merupakan sifat para Nabi, yaitu mereka terjaga dari kesalahan dalam menyampaikan agama. Mereka juga terjaga dari dosa-dosa besar. Adapun dosa-dosa kecil semisal lupa atau keliru, maka para Nabi terkadang mengalaminya pula. Dan jika mereka berbuat kesalahan, maka Allah ‘azza wa jalla segera meluruskannya. Mereka tidak dibiarkan ada dalam kesalahan, bahkan Allah menjelaskan kesalahan mereka, karena kasih sayang-Nya terhadap mereka dan umatnya. Dan Allah pun memaafkan ketergelinciran mereka dan menerima taubat mereka, karena karunia dan rahmat dari-Nya. Allah itu Maha pengampun dan Maha pengasih.” (Lihat: Fatawaa al-Lajnah ad-Daaimah lil Buhuuts al-‘Ilmiyyah wal Iftaa’, 3/ 264, Fatwa no. 6290)

Selain alasan teologis kenabian [nubuwwah], ada pelajaran lainnya yang bisa diambil sebagai kemuliaan akhlak dan upaya pembersihan jiwa manusia [tazkiyatun nafs]. Di antara rahasia yang paling penting untuk diperhatikan adalah:

Pertama; Sifat salah dan lupa yang ada pada diri manusia, bisa mendorong manusia itu sendiri senantiasa memelihara sifat rendah hati [tawaadhu’] dan tidak tertipu [maghruur] dengan apa yang dimilikinya [baik kedudukan, keilmuan, kesempatan, dan lain-lain], juga menyadari bahwa -selain para Nabi- tidak ada manusia yang sempurna.

Kedua; Adanya sifat salah dan lupa pada diri manusia, bisa memberikan semangat untuk bersegera menuju pintu taubat sebelum matahari terbit dari tempat terbenamnya, karena hanya dengan bertaubatlah pengampunan itu segera bisa didapatkan selain terus menerus beramal shalih.

Ketiga; Dengan diberikannya sifat salah dan lupa pada diri manusia, akan semakin meyakini betapa Allah ‘azza wa jalla itu Maha pemberi kasih sayang dan menerima kekurangan hamba-Nya selama mereka berusaha untuk kembali ke jalan-Nya dan meninggalkan kesalahan dan kekurangannya.

Semoga Rabbul ‘Aalamiin menjaga dan memelihara kesungguhan setiap manusia, yang berusaha keras untuk tampil menjadi pribadi yang lebih baik dihadapan-Nya. Allaahumma aatii nafsii taqwaahaa wa zakkaahaa Anta khairun man zakkaahaa Anta waliyyuhaa wa mauwlaahaa.

Print Friendly, PDF & Email

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!