Oleh: Teten Romly Qomaruddien

Waktu terus melaju, roda zaman kian berputar. Musim terus berganti, cuaca pun berubah-ubah dan terkadang mengalami pancaroba sesuai kehendak Dzat Maha kuasa. Perguliran siang menjadi malam dan malam menjadi siang, semua itu selaras dengan skenario yang telah ditetapkan-Nya [miqdaarullaah]. Demikian kabar langit mewartakan kepada umat manusia, agar mereka yang diberi akal pikiran mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran-Nya [QS. 3: 190]. Gumpalan awan yang menggunung, lalu digiring angin dan ditiupnya hingga menyebar menjadi butiran-butiran air hujan yang diturunkan ke permukaan bumi. Menyirami bukit-bukit, mengisi sungai-sungai, memenuhi danau dan membasahi lembah, serta memenuhi sumur-sumur, juga membuat sawah ladang bisa melahirkan kebahagiaan bagi para penggarapnya.
Bagaimana Allah ‘azza wa jalla menata proses turunnya hujan, hal ini digambarkan dengan indah dalam ayat berikut:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُزْجِى سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُۥ ثُمَّ يَجْعَلُهُۥ رُكَامًا فَتَرَى ٱلْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَٰلِهِۦ وَيُنَزِّلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن جِبَالٍ فِيهَا مِنۢ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ وَيَصْرِفُهُۥ عَن مَّن يَشَآءُ ۖ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِۦ يَذْهَبُ بِٱلْأَبْصَٰرِ
“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara [bagian-bagiannya], kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka terlihatlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah juga menurunkan butiran-butiran es dari langit, yaitu dari gumpalan gunung awan, maka ditimpakan-Nya [butiran-butiran es itu] kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan dari siapa yang dikehendaki-Nya pula. Kilauan kilat awan itu hampir menghilangkan penglihatan.” (QS. An-Nuur/ 24: 43)

Namun proses alami yang begitu teratur bisa berubah dalam sekejap, apabila Dzat yang Maha kuasa berkehendak lain. Di antaranya dengan menjadikan curah hujan yang sangat ekstrem dan sangat berlebih, serta terus mengalami peningkatan dari biasanya yang menyebabkan perubahan iklim global yang sangat berdampak. Penyebutan ekstrem di sini mengacu kepada bahasa yang biasa digunakan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika [BMKG] untuk menyebut cuaca yang sangat rawan, tidak bersahabat dan memerlukan kewaspadaan [bukan untuk sabbud dahr, yakni memaki angin atau cuaca yang dilarang dalam agama]. Secara saintific, berkumpulnya curah hujan pada titik-titik tertentu disertai angin kencang atau topan [thypoon], disebut juga “badai tropis” yang disusul dengan “banjir bandang” bukanlah tanpa sebab. Mayoritas para ahli percaya, bahwa jutaan hektar hutan tanah air lenyap menghilang seiring dengan terjadinya alih fungsi lahan hutan [deforestasi] menjadi perkebunan, pertambangan dan pembangunan yang merusak ekosistem dan semakin meningkatnya bencana.
Di satu sisi, atas kuasa Dzat Maha berkehendak petaka apa pun [fitnah], bisa terjadi kapan saja dan di mana saja tanpa bisa terdeteksi sebelumnya. Namun di sisi lain, bisa jadi peristiwa yang terjadi itu bukanlah atas iraadah Allah ‘azza wa jalla semata, melainkan ada sebab yang melatar belakanginya; Apakah peristiwa tersebut murni ujian yang sengaja diberikan [mushiibah] atau lebih merupakan diturunkan karena sebab keburukan dan kedurhakaan manusia [balaa’], juga bisa jadi diturunkannya itu merupakan peringatan keras dengan munculnya ujian berupa wabah [wabaa’].
Apabila yang terjadi itu murni berupa mushibah atau wabah, maka yang bisa menghentikannya adalah Allah ‘azza wa jalla. Namun apabila yang terjadi itu berupa balaa’, tentu bukan sekadar Allah ‘azza wa jalla yang menghentikannya, melainkan manusia wajib terlibat dan pro aktif langsung dalam upaya pencegahannya. Karenanya apa yang diceritakan Ummu Salamah radhiyallaahu ‘anh terkait dialognya bersama Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam benar adanya:
سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: إذا ظهرت المعاصي في أمتي عمهم الله عز وجل بعذاب من عنده. فقلت: يا رسول الله، أما فيهم يومئذ أناس صالحون. قال: بلى. قالت: فكيف يصنع أولئك؟ قال: يصيبهم ما أصاب الناس، ثم يصيرون إلى مغفرة من الله ورضوان
Aku mendengar Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bertutur: “Apabila kedurhakaan telah merajalela di tengah-tengah umatku, maka Allah ‘azza wa jalla akan menimpakan adzab pada umat yang ada di sekelilingnya”. Lalu aku pun [Ummu Salamah] menyangkalnya: “Bukankah di saat itu masih ada di antara mereka orang-orang baik?” Rasul pun menjawab: “Benar”. Lalu Ummu Salamah menyangkal lagi: “Mengapa bisa terjadi pada mereka?”. Maka Rasulullaah menjawab: “Mushibah yang terjadi pada orang banyak menimpa pula pada mereka [orang-orang baik], namun mereka bersabar dan segera memohon ampunan Allah dan ridha-Nya.” (HR. Ahmad no. 26596, Syaikh Nashiruddin al-Albani menilai hadits ini shahih).

Apabila dihubungkan dengan peristiwa demi peristiwa yang akhir-akhir ini melanda kawasan negeri yang dicintai [pergerakan lempengan bumi, longsor hebat, banjir bandang, atau pun angin kencang dan lain sebagainya], tentu mengambil pelajaran dari semua peristiwa yang terjadi adalah lebih baik sebagai bahan introspeksi [muhaasabah] semua pihak [termasuk kita]. Semua ini bisa terjadi disebabkan banyak hal; merebaknya kemungkaran yang tidak dapat ditolerir, pelanggaran dan abainya penegakan hukum, kesewenang-wenangan orang-orang kuat terhadap orang-orang lemah, kemewahan yang dipertontonkan di tengah penderitaan orang banyak, juga termasuk diamnya orang-orang baik dan berilmu [baik para pemimpin atau pun orang biasa] yang tidak menjalankan al-amru bil ma’ruuf wan nahyu ‘anil munkar. Dalam bahasa yang disampaikan Syaikh Muhammad ‘Ali as-Shaabuuni rahimahullaah [Pakar Tafsir Madinah asal Syria]: “Orang zhalim diadzab karena kezhalimannya, sementara orang baik teradzab dan terdampak pula karena diamnya tidak mencegah kemungkaran yang dilakukannya”. Demikian dipaparkan dalam kitabnya Shafwatut Tafaasir, ketika menjelaskan QS. Al-Anfal/ 8 ayat 35.
Laksana pepatah Arab yang menyebutkan: Mahmaa tubthinu tuzhhirhul ayyaamu, “Sekalipun telah berusaha untuk disembunyikan, akhirnya tampak juga belangnya”. Itulah kalimat yang mungkin bisa dijadikan pegangan; Tanpa bermaksud menuduh atau mendakwa langsung pelaku sebenarnya, siapakah orang-orang yang menyebabkan kerusakan semua ini [hancurnya ekosistem, hilangnya fungsi hutan dan semua kerusakan yang terjadi? Hanya “saksi bisu” yang berbicara sendiri. Hamparan tumpukan kayu gelondongan besar yang terpotong rapih itulah di antaranya seakan ingin bersaksi namun tidak mampu.
Agar selalu mendapatkan hikmah di balik semua kejadian, maka pendekatan ilmiah sebagai protokoler bumi tidaklah cukup manakala tidak diiringi pendekatan protokoler langit. Bukan hanya mengetahui sebab-sebab fenomena alam semata, melainkan fenomena moral manusianya yang perlu dicermati. Al-Jazaau min jinsil ‘amali, “Balasan itu seiring dengan jenis amal perbuatan”. Shahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anh pernah mengingatkan akan nasihat indah Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang perkara ini:
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ
“Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya ujian yang dialami. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai sebuah kaum, niscaya Allah akan memberikan ujian kepada mereka. Siapa yang ridha [dengan ketetapan-Nya], maka Allah akan ridha kepadanya. Dan siapa yang tidak ridha, maka Allah pun tidak akan ridha kepadanya.” (HR. At-Turmudzi no. 2320 dan Ibnu Majah no. 4021 dengan sanad yang hasan).

Sembari terus membantu mereka semampu yang kita bisa, semoga saudara-saudara yang tengah tertimpa cobaan mendapatkan ganti yang berlipat ganda. Lebih dari itu, pertaubatan kolektif dan berbuat amal nyata yang dihiasi permohonan ampun atas segala kesalahan dan kesewenang-wenangan menjadi konsentrasi nyata kita semua. Dengan segala yang telah terjadi, maka di penghujung tahun ini, layaklah semua kita merenungkan kembali pertanyaan Allah ‘azza wa jalla [QS. 82: 6] kepada manusia: Yaa ayyuhal insaanu maa gharraka bi-Rabbikal kariim, “Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakanmu [sehingga berbuat durhaka] kepada Tuhanmu yang Maha mulia?”. O people what has led you astray [so that you disobey] your Almighty God
