Minggu, Juli 5MAU INSTITUTE
Shadow

Aqidah

MENGHIMPUN YANG TERSERAK MENGOKOHKAN PEMAHAMAN ‘AQIDAH (Istifâdah dari Bedah Buku “Risalah ‘Aqidah”)

MENGHIMPUN YANG TERSERAK MENGOKOHKAN PEMAHAMAN ‘AQIDAH (Istifâdah dari Bedah Buku “Risalah ‘Aqidah”)

AKHBAR NEWS!, Aqidah, Buku, Uncategorized
MENGHIMPUN YANG TERSERAK MENGOKOHKAN PEMAHAMAN 'AQIDAH (Istifâdah dari Bedah Buku "Risalah 'Aqidah") Oleh: Teten Romly Qomaruddien Berpijak pada ungkapan seorang filosof berkebangsaan Prancis Henry Louis Bergson (1859-1941) yang menuturkan: "Seni dan budaya akan sirna dari jiwa seseorang, seiring perjalanan waktu. Yang tidak akan lenyap dari jiwa seseorang itu, adalah keyakinan terhadap agama". Sedemikian pentingnya menghadirkan "Tuhan" dalam kehidupan manusia siapa pun ia, sampai-sampai seorang tokoh Atheis basteran Inggris-Polandia itu pun, pada akhirnya tidak dapat menyembunyikan pandangan terpendamnya. Bagi kita yang meyakini bahwa Iman, Islam dan Ihsan sebagai rukun agama ini, merupakan anugerah yang paling berharga dalam mengawal manusia untuk menjadi insan bertauhid. D
BERDAMAI DENGAN QADHA QADAR; TERAPI IDEAL MEMBANGUN NARASI OPTIMIS

BERDAMAI DENGAN QADHA QADAR; TERAPI IDEAL MEMBANGUN NARASI OPTIMIS

Aqidah, Uncategorized
BERDAMAI DENGAN QADHA QADAR; TERAPI IDEAL MEMBANGUN NARASI OPTIMIS Oleh: Teten Romly Qomaruddien Sungguh mengharukan, sebuah goresan kata tak bertuan ini. Terlepas siapa yang menulisnya, namun substansinya adalah sebuah kebenaran yang dapat dirasakan. Yakni ungkapan bahasa penuh makna yang mengajak siapa pun yang membacanya lebih merasa berharga dan mulia di hadapan yang Maha kuasa. Sebuah narasi apik, jauh dari ketakabburan diri. Di dalamnya ada kepasrahan, di dalamnya pula ada ketundukkan. Bukan sekedar memotivasi diri, namun lebih jauh dari sekedar itu semua; harapan membentang dan tak mudah berputus asa, itulah pesan yang disampaikannya. Di antara goresan kata dimaksud adalah: "Kadang kita terlalu memaksakan kehendak; Menurut kita, kita ini lebih pantas bekerja ini, lebih pa...
SALING MENGHARGAI TIDAK BERARTI HARUS SALING MEMBENARKAN

SALING MENGHARGAI TIDAK BERARTI HARUS SALING MEMBENARKAN

Aqidah, Uncategorized
SALING MENGHARGAI TIDAK BERARTI HARUS SALING MEMBENARKAN Oleh: Teten Romly Qomaruddien Sumringah, berbinar, berencana, bahagia dan optimis. Itulah salah satu nuansa batin yang muncul pada sebahagian kita, bahkan sebahagian saudara-saudara kita setiap datang bulan Desember dan pergantian tahun turut ambil bagian dalam pesta pora tahunan dengan segala tradisi yang sudah mulai mengakar; mulai dari begadang hingga larut malam, bermain mercon sampai puas dengan segala jenisnya hingga lengkingan bunyi tiupan terompet yang saling bersahutan di tengah malam. Dengan segala hiruk pikuk yang terjadi, didukung oleh pandangan akan keragaman tanpa batas sering kali melahirkan pandangan turunannya, yakni harus "saling menghargai" di mana sisi kemanusiaan (insâniyah) harus lebih didahulukan ketimb
PETAKA AKHIR ZAMAN (Bencana Global, Krisis Teluk, Hingga Perang Armageddon)

PETAKA AKHIR ZAMAN (Bencana Global, Krisis Teluk, Hingga Perang Armageddon)

Aqidah
PETAKA AKHIR ZAMAN (Bencana Global, Krisis Teluk, Hingga Perang Armageddon) Oleh: Teten Romly Qomaruddien Sebagaimana dimaklumi, dalam Kitâbullah dan Sunnah nabiNya terdapat ayat dan hadits-hadits Rasûlullâh shalallâhu 'alaihi wa sallam yang cukup banyak mengenai berita fitnah atau “petaka akhir zaman.” Hal ini dapat dilihat dalam sejumlah karya para ulama ahli tafsir dan ahli hadits seperti An-Nihâyah fil Fitan wal Malâhim (Fitnah dan Bencana Akhir Zaman karya Imam Ibnu Katsîr), Imam Al-Bukhâri dan Muslim dalam Kitab Al-Fitnah, Imam Abu Dâwud dalam Al-Fitan wal Malâhim, Ibnu Mâjah dalam Ats-Tsawâbit fil Fitnah dan sejumlah kitab lainnya. Dari semuanya itu, para ulama memahami bahwa pengertian “fitnah” adalah: malapetaka, huru-hara, kekacauan, chaos, peperangan dan bencana, di samping
MEMAKNAI FANATISME BERAGAMA

MEMAKNAI FANATISME BERAGAMA

Aqidah, Manhaj
MEMAKNAI FANATISME BERAGAMA Oleh: Teten Romly Qomaruddien Membaca liputan Beritaislam.org (8 Oktober 2019) di mana Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, agama hadir untuk memanusiakan manusia dan menjaga harkat martabat manusia. Namun, kata Menag, agama dapat melahirkan fanatisme yang berlebihan jika tidak dibarengi dengan pemahaman agama yang baik. “Nah, dari fanatisme ini dapat melahirkan sikap ekstremisme,” kata Lukman dalam diskusi dan peluncuran buku "Moderasi Beragama" di kantor Kemenag, Jakarta Pusat, Selasa (8/10). Pernyataan tersebut, mengingatkan penulis pada kumpulan tulisan yang disebut-sebut M. Dawam Rahardjo sebagai Nurcholish Madjid Memorial (dalam Pengantar). Tulisan yang terdiri dari 24 artikel itu, berkenaan dengan bahasan Islam peradaban, fanatisisme d
MULHIDÛN DAN DAHRIYYÛN; AKAR IDEOLOGI KAUM ANTI TUHAN

MULHIDÛN DAN DAHRIYYÛN; AKAR IDEOLOGI KAUM ANTI TUHAN

Aqidah
MULHIDÛN DAN DAHRIYYÛN; AKAR IDEOLOGI KAUM ANTI TUHAN Oleh: Teten Romly Qomaruddien Pertanyaan besar yang sering muncul di tengah-tengah kita, mengapa manusia bisa membelot dari jalan Tuhan? Bila dikatakan sebabnya karena kurang pengetahuan agama, bukankah belakangan gelombang demikian banyak diteriakkan oleh orang-orang yang mengaku beragama. Bila dikatakan karena kurangnya ilmu, justeru belakangan paham ini banyak didukung kalangan orang yang memiliki ilmu. Semua itu tentunya, tidak dapat dilepaskan dari cara pandang seseorang terhadap sesuatu yang wajib dipahaminya. Mengapa manusia ada, siapa yang mengadakan. Mengapa alam dicipta, siapa yang mencipta dan untuk apa diciptakan. Lalu apa kewajiban manusia bagi Penciptanya, kewajiban sesama manusia dan bagaimana memperlakukan alam aga
Kuliah Pengantar Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran)

Kuliah Pengantar Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran)

Aqidah
Kuliah Pengantar Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran) Oleh : Teten Romly Qomaruddien Di antara tantangan kekinian yang sangat penting untuk dicermati adalah perang pemikiran. Peringatan dini, sebenarnya sudah diisyaratkan wahyu akan bahayanya perang ini. Segala usaha yang dikerahkan oleh mereka yang memusuhi Allah 'azza wa jalla dan rasulNya akan selalu ada di setiap zaman sebagai ujian dalam menakar laju dan mundurnya da'wah. Munculnya generasi yang sadar akan bahayanya, merupakan sebuah keniscayaan. Maka sebagai langkah awal, mengetahui apa dan bagaimana arus-arus perang pemikiran (tayyâr al-ghawil fikri) ini menjadi sebuah kemestian. Materi selengkapnya dapat di lihat di Kuliah Pengantar ghazwul fikri
FITNAH DAJJAL; PETAKA TERBESAR KEKISRUHAN ZAMAN AKHIR

FITNAH DAJJAL; PETAKA TERBESAR KEKISRUHAN ZAMAN AKHIR

Aqidah, Uncategorized
FITNAH DAJJAL; PETAKA TERBESAR KEKISRUHAN ZAMAN AKHIR Oleh: Teten Romly Qomaruddien Membaca kembali literatur para ahli ilmu, terkait petaka terbesar zaman akhir (fitnatul kubrâ). Maka kita akan menemukan beragam berita kenabian yang cukup mengerikan; sebuah huru-hara yang tidak pernah terjadi sebelumnya, petaka terdahsyat sepanjang sejarah yang akan melanda ummat manusia. Jika dibandingkan dengan berbagai kekisruhan yang pernah terjadi di muka bumi, semua itu belumlah sebanding dengan fitnah yang satu ini. Itulah fitnah kemunculan dajjal. Ada ragam sikap dan pandangan mengenai peristiwa tidak lazim ini, tidak kurang berbagai interpretasi (tafsîr, ta'wîl) pun bermunculan, termasuk pandangan-pandangan di luar Islam. Artikel yang cukup menarik dari Hendra Saputra yang diedit Yunan
KAJIAN ZHUHUR MASJID WADHHAH ABDURRAHMAN AL-BAHR PUSDIKLAT DEWAN DA’WAH

KAJIAN ZHUHUR MASJID WADHHAH ABDURRAHMAN AL-BAHR PUSDIKLAT DEWAN DA’WAH

Aqidah, Manhaj
KAJIAN ZHUHUR MASJID WADHHAH ABDURRAHMAN AL-BAHR PUSDIKLAT DEWAN DA'WAH KUTAIBAT: Ad-Dînus Samâwy Huwal Islâm Karya Dr. Abdul Azîz bin Abdillâh al-Humaidy (Bagian 1) Oleh: Teten Romly Qomaruddien Bahaya Seruan Taqrîb Bakda tahmid, Dr. Abdul Azîz bin Abdillah al-Humaidy hafizhahullâh menjelaskan beberapa point penting dalam kutaibatnya yang berjudul: "Ad-Dînus Samawy Huwal Islâm; Agama Langit itu adalah Islam" sebagai berikut: Pertama; Islam sebagai agama langit merupakan perkara yang sudah jelas (amrun wâdhihun lidzâtihi) dalam kitâbullâh dan bentangan sunnahNya. Kedua; Adanya berbagai upaya dengan melakukan pendekatan-pendekatan (bias ilmiah) yang menggiring pada "perbandingan agama-agama" antara Islam dengan agama lainnya. Ketiga; Agama Allah adalah agama yang sat
MA’RAKAH MUSTHALAHÂT; MENYOAL KEGADUHAN TEOLOGIS HINGGA “KEKAFIRAN” BERFIKIR

MA’RAKAH MUSTHALAHÂT; MENYOAL KEGADUHAN TEOLOGIS HINGGA “KEKAFIRAN” BERFIKIR

Aqidah, Manhaj
MA'RAKAH MUSTHALAHÂT; MENYOAL KEGADUHAN TEOLOGIS HINGGA "KEKAFIRAN" BERFIKIR Oleh: Teten Romly Qomaruddien Ada banyak pertempuran yang kita kenal akhir-akhir ini, di antaranya: perang opini, perang proxy, perang cyber dan perang terminologi (ma'rakah musthalahât). Perang opini; Lebih pada bagaimana menciptakan gambaran (tashawwur) sesuatu, baik berupa kesan (image) atau pencitraan dalam mengunggulkan satu kelompok dan memojokkan kelompok lain. Perang proxy;  Lebih pada peperangan dengan penggunaan pihak lain (biasa disebut pihak ketiga) untuk menghancurkan lawannya dengan berbagai cara yang mungkin dan tidak diketahui secara terbuka. Perang cyber; Lebih pada peperangan yang "tidak kentara" kerusakannya secara fisik, namun bisa dirasakan lebih pada pengrusakkan sistem dan data
TERPAPAR AKAL LIAR TERHEMPAS TANPA BIMBINGAN WAHYU

TERPAPAR AKAL LIAR TERHEMPAS TANPA BIMBINGAN WAHYU

Aqidah, Manhaj
TERPAPAR AKAL LIAR TERHEMPAS TANPA BIMBINGAN WAHYU Oleh: Teten Romly Qomaruddien Ada banyak hal yang menjadi sebab, mengapa akal bisa menyimpang dan hati bisa berpaling. Siapa pun orangnya dapat terpapar akal fikirannya (termasuk kita) apabila akal dibiarkan liar. Bukan sekedar dapat merusak orang lain, melainkan dirinya pun bisa hancur dan binasa karenanya. Sebagaimana disimpulkan para ulama Rabbani yang mu'tabar, bahwa "Pandangan yang benar dipengaruhi cara berfikir yang lurus dan berfikir yang lurus dipengaruhi akal yang sehat dan selamat, demikian pula pandangan yang salah dipengaruhi cara berfikir yang keliru dan cara berfikir yang keliru dipengaruhi oleh akal yang rusak". Karena itulah, liarnya berfikir dan binalnya intelektual bisa saja terjadi pada siapa pun apabila akalnya dib...
HUBUNGAN ILMU, AGAMA DAN FILSAFAT

HUBUNGAN ILMU, AGAMA DAN FILSAFAT

Aqidah, Manhaj
HUBUNGAN ILMU, AGAMA DAN FILSAFAT Oleh: Teten Romly Qomaruddien Ada yang mengatakan bahwa antara ilmu, filsafat, dan agama memiliki hubungan. Namun demikian, tidak menafikan terhadap pandangan bahwa satu sama lain merupakan "sesuatu" yang terpisah; di mana ilmu lebih bersifat empiris, filsafat lebih bersifat ide, dan agama lebih bersifat keyakinan. Menurut Muhammad Iqbal dalam Recontruction of Religious Thought in Islam sebagaimana dikutip Asif Iqbal Khan (2002), “Agama bukan hanya usaha untuk mencapai kesempurnaan, bukan pula moralitas yang tersentuh emosi. Bagi Iqbal, "Agama dalam bentuk yang lebih modern, letaknya lebih tinggi dibandingkan puisi. Agama bergerak dari individu ke masyarakat. Dalam geraknya menuju pada realitas penting yang berlawanan dengan keterbatasan manusia. A
KEMBALI KEPADA AQIDAH TAUHID

KEMBALI KEPADA AQIDAH TAUHID

Aqidah, Uncategorized
KEMBALI KEPADA AQIDAH TAUHID Oleh: H.T. Romly Qomaruddien, MA. Allah 'azza wa jalla berfirman dalam kalamNya: ... يَقَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُه ُ... "Wahai kaumku, sembahlah Allah! Sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selainNya." (QS. Al-A'raaf/ 7: 59, 65, 73, 85) Seruan tersebut disampaikan oleh Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shalih, Nabi Syu'aib dan para Nabi 'alaihimussalaam lainnya kepada kaumnya masing-masing. Demikian pula Rasulullaah shalallaahu 'alaihi wa sallam; 13 tahun lamanya menyeru kaumnya di Makkah, mengajak bertauhid dan meluruskan aqiedah mereka. Hal ini dilakukan semata-mata karena tauhid merupakan asas utama dalam menegakkan agama (iqaamatud dien). Sungguh para penyeru da'wah (du'aat) hendaknya mengutamakan "da'wah Tauhid" dan membenahi
MENGAWALI DAN MENGAKHIRI HIDUP DENGAN LAA ILAAHA ILLALLAAH

MENGAWALI DAN MENGAKHIRI HIDUP DENGAN LAA ILAAHA ILLALLAAH

Aqidah
MENGAWALI DAN MENGAKHIRI HIDUP DENGAN LAA ILAAHA ILLALLAAH Oleh: H.T. Romly Qomaruddien, MA. Tauhied dan Alam Rahim Sejak anak manusia diproses dan dicipta; mulai dari air hina yang memancar, kental dan bercampur (maain mahienin, maniyyin tumnaa, nuthfatin amsyaajin), berproses menjadi segumpal darah ('alaqah), berubah menjadi daging (mudhghah), lalu Allah 'azza wa jalla menjadikan daging membungkus tulang (fakasaunaal 'izhaama lahman), dan berlanjut diciptakan yang lainnya teriring ditiupkannya ruh di alam rahim seraya menyodorkan pertanyaan tauhied "Apakah Aku ini Tuhan kalian?" Semua manusia (di alam rahim) menjawabnya: "Benar, Engkau adalah Tuhan kami." Firman Allah 'azza wa jalla dalam QS. Al-A'raaf/ 7: 172 وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُ
KEHARUSAN BERJAMAA’AH DAN LARANGAN ‘ASHABIYYAH

KEHARUSAN BERJAMAA’AH DAN LARANGAN ‘ASHABIYYAH

Aqidah
KEHARUSAN BERJAMAA’AH DAN LARANGAN ‘ASHABIYYAH Oleh: H.T. Romly Qomaruddien, MA. Di antara penggalan wasiat Rasulullaah shalallaahu 'alaihi wa sallam kepada para shahabatnya adalah: “Aku wasiatkan untuk kalian, agar bertaqwa kepada Allah, patuh dan taat. Jika seorang budak sahaya memerintahkan kalian, hendaklah mengikutinya. Siapa saja di antara kalian masih hidup (nanti), kalian akan menyaksikan perbedaan yang banyak.” Wasiat ini hakikatnya berlaku untuk semua umatnya. Isyarat Rasulullaah tentang akan munculnya beragam perbedaan, menunjukkan bahwa perbedaan itu sudah merupakan sunnatullaah yang tak dapat dipungkiri akan terjadinya. Demikian halnya lahirnya pemimpin yang dipatuhi, merupakan sesuatu yang harus diusahakan dalam rangka menjalankan dan memelihara ajaran agama serta men

This site is protected by wp-copyrightpro.com