Senin, Oktober 18MAU INSTITUTE
Shadow

Tokoh

KANG ASEP DI ANTARA SINGA PODIUM DAN AHLI RISET …

KANG ASEP DI ANTARA SINGA PODIUM DAN AHLI RISET …

Tokoh, Uncategorized
KANG ASEP DI ANTARA SINGA PODIUM DAN AHLI RISET … Seperti disampaikan Ust. H. Mazni Yunus (dosen Wawasan Dunia Islam LPDI), juga Ust. Muksin MK. (dosen Psikologi LPDI), Ust. Dr. H. Asep Jayanegara memang orangnya tampak tulus. Alfaqir mengenalnya sejak LPDI tempo doeloe. Bahkan masih "ngantongin" dokumen uminya anak-anak, ketika bagi-bagi karangan bunga dalam aksi "Solidaritas Bosnia" bersama KISDI yang Kang Asep ada di dalamnya, demikian pula ketika awal-awal beraksinya KOMPAK. Dalam gambar ini, alfaqir merasakan denyut hamasah pidatonya Bang H. Husein Umar (singa podium Kramat), Bang Ramly Hutabarat (peneliti LIPPM/ Guru Besar dan ex Rektor UIKA Bogor) yang pernah jadi dosen Riset LPDI juga. Dari generasi ke generasi sangat dirasakan, betapa kesederhanaan para pendahulu begitu domin
Selamat Jalan Sang Pengawal Ulama

Selamat Jalan Sang Pengawal Ulama

AKHBAR NEWS!, Tokoh, Uncategorized
INNAA LILLAAHI WA INNAA ILAIHI RAAJI'UUN; ​Terlepas dengan cara apa Allah jalla jalaaluh​ menjemputmu kawan, handai taulan tahu dedikasimu terhadap Islam, terhadap dakwah dan khidmatmu terhadap jam'yyah​ yang engkau cintai. Banyak santri yang telah merasakan faidah hidupmu, banyak pemuda yang tersalurkan dengan bakatmu. Jum'at lalu dirimu sempat berpesan sebelum riyadhah: "pang nyumangetankeun barudak pamuda ngarah reug-reug ari rame mah ...", itulah kata-katamu yang sempat kucatat. Kini pria Palembang yang sudah nyunda dan sempat nyantri di Pesantren Persatuan Islam Bangil (sebentar), lalu pindah ke Pesantren Persatuan Islam Garut ini telah tiada. Ustadz yang sering ngawal asatidz sepuh ini meninggalkan dunia untuk selamanya, dan menuju ke-haribaanNya yang in syaa Allah ditempa
MAKHTHUTHAH SYAIKH AHMAD HASSAN

MAKHTHUTHAH SYAIKH AHMAD HASSAN

Tokoh, Uncategorized
MAKHTHUTHAH SYAIKH AHMAD HASSAN; Sebuah naskhah ditemukan di perpustakaan Ustadz Ahmad Hassan di Bangil. Secarik kertas tulisan tangan yang khas dikirimkan kepada koleganya bernama Bahruddin Al-Falimbani sebagai surat balasan atas dihadiahkannya sebuah kitab fiqih dengan tulisan tangan pula.   Kitab dengan bahasa Arab-Melayu ini, tidak kurang dari 500 halaman tebalnya. Ini menunjukkan, betapa kegigihan, ketekunan, wawasan dan jalinan komunikasi yang melampaui zamannya benar-benar telah dilakukannya. Sungguh kita yang hidup hari ini dengan segala fasilitas dan alat bantu yang tersedia belum mampu melahirkan karya-karya briliant seperti mereka. Tuan A. Hassan, hanya dengan mengandalkan flat yang digunakannya, mampu menuliskan dan menggandakan karya-karyanya. Dari situlah...
error: Content is protected !!