Kamis, Juni 17MAU INSTITUTE
Shadow

Tag: syiah

AGAR BERSIKAP ADIL MENILAI DAKWAH SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHÂB

AGAR BERSIKAP ADIL MENILAI DAKWAH SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHÂB

Da'wah
AGAR BERSIKAP ADIL MENILAI DAKWAH SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHÂB Oleh: Teten Romly Qomaruddien Bahaya faham "Wahabiyyah" kembali muncul ke permukaan; Hal ini lebih disebabkan pada semakin kuatnya dorongan dari luar yang tidak menginginkan dakwah tauhid ini ada, juga disebabkan biasnya sejarah sosok Syaikh Muhammad bin Abdul Wahâb sebagai tokoh pemula yang sudah banyak dikaburkan. Tidak terkecuali, perilaku dakwah di lapangan yang kurang bijak, seringkali menisbatkan dengan membawa nama besar tokoh tauhid tersebut. Agar kita bersikap adil dalam menilainya, maka mengetahui kembali selayang pandang hidupnya, adalah sebuah keniscayaan. Kondisi Nejd Abad XII H./ XVIII M. Nejd adalah daerah terpencil di pedalaman Arab Saudi, daerahnya tandus dan tidak banyak diperhatikan orang. Walau
REVOLUSI SYI’AH; DARI IMÂMAH HINGGA WILÂYATUL FAQÎH

REVOLUSI SYI’AH; DARI IMÂMAH HINGGA WILÂYATUL FAQÎH

Diraasatul Adyaan wal Firaq, Uncategorized
REVOLUSI SYI’AH; DARI IMÂMAH HINGGA WILÂYATUL FAQÎH Oleh: Teten Romly Qomaruddien Definisi Imâmah Menurut bahasa, imâmah berasal dari kata Arab amma, yang menurut Ibnu Manzhur artinya sesuatu yang berada di depan atau ketua. (Lihat: Ibnu Manzhûr, Lisânul ‘Arab, 1990: hlm. 12 dan 26) Sedangkan menurut istilah, adalah "Kepemimpinan dalam mengurus ummat (baik urusan agama atau pun urusan dunia sekaligus)." (Lihat: Al-Jarjâni, At-Ta’rîfât, tp. tahun: hlm. 35) Imâmah Menurut Ahlus Sunnah dan Syi'ah Dalam pandangan Ahlus sunnah, di antaranya adalah: "Imâmah merupakan pimpinan tertinggi dalam sebuah negara sebagai khilafah keNabian untuk mengawal agama dan siasat keduniaan (hirâsatud dîn wa siyâsatud dunyâ)." (Lihat: Al-Mawardi, Al-Ahkâm as-Sulthâniyyah, tp. tahun: hlm. 5). Se
MENCINTAI NABI SHALALLAAHU ‘ALAIHI WASALLAM DAN AHLUL BAITNYA TIDAK HARUS MENJADI SYI’AH

MENCINTAI NABI SHALALLAAHU ‘ALAIHI WASALLAM DAN AHLUL BAITNYA TIDAK HARUS MENJADI SYI’AH

Aqidah, Diraasatul Adyaan wal Firaq
MENCINTAI NABI SHALALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM DAN AHLUL BAITNYA TIDAK HARUS MENJADI SYI'AH Oleh: H.T. Romly Qomaruddien, MA. Belakangan ini, muncul anggapan kalau ingin sempurna mencintai Nabi dan keluarganya (ahlul bait) harus seperti cintanya orang syi'ah terhadap mereka. Buktinya, hanya kaum syi'ahlah yang benar-benar perhatian dan menunjukkan gelora rasa cinta dan rindunya. Berdirinya komunitas ahlul bait atau dalam bentuk ikatan jamaah ahlul bait, itulah wujud nyatanya. Tentu anggapan itu, tidak dapat dibenarkan dan mengandung kekeliruan. Mengapa demikian? Hal ini dapat diperhatikan dari beberapa persoalan berikut ini: 1. Kedustaan belaka, andaikan mereka dikatakan senagai kaum yang sangat mencintai Nabi dan keluarganya. Bagaimana mereka dikatakan cinta, apabila mereka send...
error: Content is protected !!