Kamis, Juni 17MAU INSTITUTE
Shadow

Tag: TAZKIYATUN NAFS; MENUJU HAKIKAT KEBERSIHAN JIWA

QAD AFLAHA MAN ZAKKAAHAA WA QAD KHAABA MAN DASSAAHAA

QAD AFLAHA MAN ZAKKAAHAA WA QAD KHAABA MAN DASSAAHAA

Tarbiyah
QAD AFLAHA MAN ZAKKAAHAA WA QAD KHAABA MAN DASSAAHAA Oleh: H.T. Romly Qomaruddien, MA. Melanjutkan pembahasan hakikat tazkiyatun nafs, berikutnya kita perhatikan beberapa pandangan para ulama, di antaranya: 1. Syaikh Muhammad bin Sa’ied bin Salim al-Qahthani, ketika mentahqiq kitab Tazkiyatun Nafs Ibnu Taimiyyah menjelaskan: “Tidak akan bisa merasakan keagungan dan kedalaman tazkiyah imaniyah melainkan orang yang mengetahui kejahiliyahan. Karena itu, generasi awwal merupakan generasi yang paling baik ditaqdirkan mendapatkan nikmat ini dengan sebaik-baiknya. Mereka mendapatkan pemisah yang dapat menjauhkan antara iman dan kufar, antara ibadah kepada Allah dengan ibadah kepada taghut, dan antara kebebasan dalam mensucikan jiwa kepada Rabb dan kekakuan antara rabb-rabb yang menghinaka
TAZKIYATUN NAFS; MENUJU HAKIKAT KEBERSIHAN JIWA

TAZKIYATUN NAFS; MENUJU HAKIKAT KEBERSIHAN JIWA

Tarbiyah
TAZKIYATUN NAFS; MENUJU HAKIKAT KEBERSIHAN JIWA Oleh: H.T. Romly Qomaruddien, MA. Di antara tugas para Nabi selain membacakan ayat-ayat Allah (tilaawah) dan mengajarkan kitab serta hikmah (ta'liem) adalah membimbing agar manusia membersihkan jiwa (tazkiyah) dari kotoran-kotoran jahiliyyah. Banyak ayat Al-Qur'an menjelaskan makna tazkiyah dan fungsi kerasulan itu ada pada diri para Nabi, tidak terkecuali Nabi akhir zaman Muhammad shalallaahu 'alaihi wa sallam. Hal ini dapat kita renungkan dalam beberapa firmanNya: 1. Kisah Nabiyullaah Ibrahim 'alaihis salaam yang mendo'akan anak cucunya "Yaa Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, mengajarkan Al-Kitab dan Al-Hikmah, serta mensucikan mereka. Sesun...
error: Content is protected !!