DARI BEDAH BUKU “SETENGAH ABAD DEWAN DA’WAH” UNTUK UMMAT DAN BANGSA

DARI BEDAH BUKU “SETENGAH ABAD DEWAN DA’WAH” UNTUK UMMAT DAN BANGSA
Moderator:
H.T. Romly Qomaruddien, MA.

Bedah buku bertajukkan “Setengah Abad Dewan Da’wah Berkiprah Mengokohkan NKRI” digelar di aula Asrama Haji Pondok Gede Jakarta Timur.

Tiar Anwar Bachtiar, (Doktor sejarah UI, PP. Persatuan Islam) sebagai penulis buku tersebut menuturkan: “untuk meluruskan sejarah di tanah air, perlu adanya penulisan historiografi dakwah” agar ummat dan bangsa mengenal peran dan sepak terjang para pendahulu yang sesungguhnya agar tidak menciderai sejarah, di mana perjuangan mereka sangat nyata dalam “memperkasakan” NKRI.

Menurut H. M. Fu’ad Nasar (pemerhati dakwah Baznas), “gerak dakwah Dewan Da’wah tidak bisa dilepaskan dari tokoh-tokoh pendirinya yang Masyumi”, yang dengan gigih dan cerdasnya melahirkan model “da’wah ilallaah” menjadi sangat populer. Dakwah yang menjunjung tinggi bina kemanusiaan, partisipatif yang melibatkan semua kalangan, seruan persatuan ummat Islam dalam satu bingkai siyaasah (baca: politik Islam) menjadi karakternya.

Sementara H. Lukman Hakiem (penulis buku-buku tokoh Masyumi) menuturkan: “inti ajaran yang selalu diwanti-wantikan Allaahu yarhamh Pak Natsir dalam mengemban dakwah adalah bagaimana meluruskan niat dan mampu meresapi hati ummat”. Dengan modal inilah, kita tetap menjadi orang yang pandai bersyukur dalam mengarungi berbagai tantangan dakwah di negeri ini, seraya menukil ungkapan Pak Natsir: “kita harus bersyukur dengan Republik ini, walaupun banyak cacat dan ketidak sempurnaan, karena bersyukur dalam Islam itu merupakan kewajiban”.

Sedangkan Dato’ H. Ahmad Abdurrahman (Presiden WADAH Malaysia yang mewakili ABIM), beliau menegaskan: “Malaysia banyak belajar kepada Dewan Da’wah, khusususnya Dr. Mohammad Natsir dan tokoh-tokoh dakwah lainnya di tanah air”. Menurutnya, Gerakan “berpolitik melalui jalur dakwah” dan “meng-ulamakan intellektual, meng-intellektualkan ulama” menjadi pelajaran berharga yang sangat dikenang oleh tokoh-tokoh negeri jiran.

Sebagai kritikannya, Dato’ menyarankan, agar masyarakat tanah air lebih “pandai menghargai” jasa-jasa tokoh pendahulunya. Dan ke depan beliau berharap, Dewan Da’wah sebagai “bapak dan sekaligus guru dakwah” bisa tampil lebih semarak dengan program-program unggulannya.

Sebagai kata akhir, Ten Romly Qomaruddien (Pusat Kajian Dewan Da’wah, sebagai moderator), menutup seminar ini dengan menukil ungkapan Musthafa as-Siba’i dalam Min Waraa’i Hadhaaratinaa berikut ini: “Bernostalgia secara berlebihan terhadap kebaikan masa lalu, merupakan tanda orang pemalas. Sebaliknya, meremehkan masa lalu dengan segala plus minusnya, merupakan tanda orang bodoh”.

Dengan segala ikhtiar dan tawakkal, semoga seminar ini dapat memantikkan api sejarah yang terkandung di dalamnya, yaitu:

1. Mampu mensosialisasikan dan melestarikan model dakwah yang khas yang tidak digarap oleh yang lain.

2. Mampu meluruskan berbagai “fitnah akademik” yang banyak memposisikan gerakan dakwah, khususnya Dewan Da’wah dengan menampilkan historiografi yang mumpuni dan penuh tanggung jawab.

3. Menjadikan Dewan Da’wah, tetap istiqamah sebagai gerakan pemantik dakwah (generator)

4. Sebagai gerakan dakwah modernis, Dewan Da’wah senantiasa cerdas dalam menangkap “jiwa zaman”, sehingga gerakannya selalu mendapatkan momentum yang tepat.

5. Dalam konteks kebangsaan, semoga Dewan Da’wah tetap kokoh menjadi gerakan dakwah yang mampu “merajut benang iman dan merawat tenun kebangsaan”.

Selamat berjuang … “Mengawal ‘Aqidah, Merawat Ukhuwwah dan Menjaga NKRI”

(#TRQ pada 26/02/ 2017, Aula Asrama Haji Pondok Gede Jakarta …πŸŒ™πŸ•‹πŸ•ŒπŸ“šπŸ‡²πŸ‡¨#)

Print Friendly, PDF & Email
News Reporter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by wp-copyrightpro.com